Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Kembali Ke Istana


__ADS_3

Zoya memandangi bibi Nor yang sedang membersihkan luka sayatan dilengan pangeran Erlangga. Mereka masih berada didalam gua saat ini. Keadaan yang gelap dan suara suara aneh membuat Zoya takut. Namun dia hanya bisa diam tanpa ingin mengeluh.


Zoya tidak ingin menyusahkan pangeran Erlangga.


Tapi meskipun begitu, pangeran Erlangga tetap tahu jika sebenarnya Zoya memang sedang ketakutan.


"Malam ini kita beristirahat disini. Besok pagi kita kembali ke istana" ujar pangeran Erlangga.


"Lalu bagaimana dengan bibi Nor?" tanya Zoya


"Aku akan membawa bibi Nor ke balai desa. Disana dia bisa tinggal dirumah seorang pandai besi. Bibi tak mengapa kan? aku takut orang orang itu menjadikan mu tawanan mereka untuk menangkap ku" tanya pangeran Erlangga pada bibi Nor.


"Tidak apa apa pangeran. Bibi dimana saja tak masalah" jawab bibi Nor.


Pangeran Erlangga mengangguk pelan.


Dan akhirnya, malam itu mereka tidur didalam goa. Tidak tidur, bahkan Zoya juga tidak bisa memejamkan matanya walau sebentar. Dia takut, tempat itu benar benar gelap. Bayangan bayangan sesuatu seperti binatang binatang malam membuat goa itu benar benar menyeramkan. Sungguh, ini adalah pengalaman yang paling menakutkan. Dan beruntungnya ada pangeran Erlangga disini.


Terjebak didalam goa bersama dengan seorang pangeran. Keren sekali bukan.


Meskipun dia harus kecewa karena niat mereka untuk berlatih pedang harus dilupakan karena penyerangan ini. Entah siapa orang orang itu, sepertinya mereka menginginkan nyawa pangeran Erlangga.


Yah, wajar saja karena dia merupakan seorang putra mahkota.


..


Keesokan paginya ...


Zoya membuka mata saat samar samar dia melihat cahaya masuk kedalam gua. Tidak bisa terpejam malam tadi, tapi akhirnya saat hari menjelang dini hari, Zoya malah bisa tertidur dipangkuan bibi Nor. Usapan tangan kasar itu bisa membuat Zoya sedikit tenang. Apalagi pangeran Erlangga yang duduk didekat kakinya. Jadi Zoya cukup merasa aman.


"Sebaiknya kita keluar dari sini" ujar pangeran Erlangga. Entah datang dari mana dia. Celananya sudah basah.


Apa dia buang air?


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya pangeran Erlangga


Zoya terkesiap dan langsung beranjak duduk.


"Kau dari mana pangeran? kenapa basah?" tanya Zoya. Suaranya masih terdengar serak.

__ADS_1


"Aku dari luar, mengamati keadaan. Sepertinya mereka sudah pergi dan tidak mendapatkan kita disini" jawab pangeran Erlangga.


Zoya langsung tersenyum masam mendengar itu. Fikiran nya benar benar melayang jauh.


"Ayo Ana, kita keluar" ajak bibi Nor.


Zoya mengangguk pelan. Dia langsung melompat turun dari atas batu.


Dingin air yang merendam kakinya langsung membuat pandangan mata Zoya menjadi segar kembali. Bahkan sesekali dia menadahkan tangan nya dan mengusap wajahnya dengan lembut.


Cahaya matahari mulai nampak sempurna. Bahkan suasana yang mencekam malam tadi kini sudah berganti dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata.


Bentuk gua ini semakin jelas terlihat. Sangat cantik dengan batu batu yang menggantung diatasnya. Ditambah dengan lumut lumut yang hijau dan mengkilat terkena percikan air.


Sungguh indah, tapi kenapa malam tadi sangat menyeramkan???


"Auh" Zoya meringis saat kakinya malah tersandung batu yang sedikit besar.


"Hati hati Ana" ujar bibi Nor


Zoya hanya tertawa kecil. Karena keasikan memandang keatas Zoya jadi tidak melihat jalan didepan nya.


Zoya melirik pangeran Erlangga, lelaki gagah ini hanya diam dan memandang kedepan dengan wajah datar. Entah apa yang sedang dia fikirkan.


"Ah pangeran, dimana kureta. Apa dia kau tinggal dirumah bibi?" tanya Zoya yang tiba tiba mengingat tentang kureta, kuda putih gagah yang membuat dia jatuh cinta.


"Kureta sudah pergi dahulu pergi ke istana" jawab pangeran Erlangga


Zoya mengernyit bingung.


"Dia tahu jalan?" tanya Zoya dengan heran.


Dan kini pangeran Erlangga yang bingung memandang Zoya.


"Apa kau kira dia seperti dirimu yang tidak tahu apa apa?" tanya pangeran Erlangga pula


Zoya langsung mendengus kesal mendengar itu.


"Sembarang, enak saja kau menyamakan aku dengan kuda" gerutu Zoya.

__ADS_1


Pangeran Erlangga hanya mengendikan bahunya saja. Sedangkan bibi Nor yang sudah menahan tawa.


Cukup lama mereka berjalan menyusuri hutan menuju balai desa. Dan sekitar tiga jam kemudian barulah mereka tiba diperbatasan.


Kaki Zoya sudah benar benar ingin patah sekarang.


"Bibi pergilah ke balai desa dan bawa ini. Tunjukkan pada pandai besi itu. Dia tahu ini adalah barang milikku. Dan katakan jika aku meminta mu untuk tinggal ditempat nya untuk beberapa waktu" ujar pangeran Erlangga seraya menyerahkan sebuah ikat kepala pada bibi Nor.


"Baik pangeran" jawab bibi Nor dengan patuh.


"Bibi hati hati" ujar Zoya pula


"Ya, kau juga hati hati Ana. Sampai bertemu lagi" pamit bibi Nor.


Zoya tersenyum dan melambaikan tangan nya pada bibi Nor. Dan setelah itu mereka juga kembali berjalan menuju belakang istana dimana disana mereka bisa masuk tanpa tahu siapapun.


Masuk melalui lorong rahasia. Tidak tahu untuk apa lorong itu, tapi pangeran Erlangga berkata jika lorong itu adalah lorong rahasia untuk raja dan para pangeran pergi jika ada musuh yang menyerang istana.


Menyeramkan sekali. Berarti perang perang didalam buku sejarah yang pernah Zoya baca memang benar nyata. Semoga saja dia tidak mengalami hal itu disini.


"Pangeran, apa aku akan kembali kekamar ibunda ratu?" tanya Zoya.


"Ya, waktu mu sekitar dua malam lagi. Setelah itu kau sudah harus kembali kepenjara bawah tanah untuk aku lepaskan" jawab pangeran Erlangga


"Baiklah, tapi selama dikamar ibunda ratu kau tidak akan meninggalkan aku begitu saja kan?" tanya Zoya


Mereka berjalan beriringan dilorong gelap itu. Berbicara dengan sedikit berbisik karena suara mereka cukup menggema.


"Tidak akan. Sepertinya aku akan terus berada di istana untuk beberapa hari ini. Ada yang harus aku urus. Aku mencurigai sesuatu tentang penyerangan kita malam tadi" ungkap pangeran Erlangga


"Curiga apa? apa ada musuh yang ingin menyerang mu lagi?" tanya Zoya.


"Bukan hanya aku, tapi sepertinya kerajaan ini juga" jawab pangeran Erlangga


Zoya langsung terdiam mendengar itu.


"Hari ini beristirahat lah dikamar. Juna yang akan mengantarkan makanan untuk mu. Besok aku akan membawamu ke atas bukit untuk melihat taman bunga disana, sekaligus untuk berlatih pedang" ujar pangeran Erlangga lagi.


"Benarkah?" tanya Zoya. Dia tidak ingin berharap lagi sebenarnya, takut kecewa lagi seperti semalam.

__ADS_1


"Ya, anggap saja sebagai ganti untuk waktu kita yang terbuang" jawab pangeran Erlangga


Zoya memandang pangeran Erlangga dengan senyum simpulnya. Setiap perkataan pangeran Erlangga selalu mampu membuat hatinya terasa berdesir hangat.


__ADS_2