Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Gadis Selendang Merah


__ADS_3

Zoya berjalan beriringan dengan bibi Nor menuju rumah mereka. Hari sudah cukup gelap. Dan mereka hanya berjalan dengan diterangi oleh sebuah obor yang terbuat dari bambu. Bibi Nor mendapatkan ini ketika mereka melewati sebuah desa tadi. Untung saja orang orang desa itu begitu baik ingin memberikan obor ini, jika tidak, dia dan bibi Nor pasti akan kesulitan berjalan ditengah kegelapan.


"Bibi, aku takut" bisik Zoya seraya terus menggandeng tangan bibi Nor.


Entah kenapa dia benar benar ngeri berada ditengah hutan yang jika malam seperti ini benar benar terasa mencekam. Tidak ada lampu dan penerangan, bahkan untuk memandang kemanapun sudah tidak bisa. Zoya benar benar takut jika ada binatang buas atau ular yang terpijak kakinya.


"Tidak apa apa, sebentar lagi kita sampai" jawab bibi Nor.


"Ini gara gara pangeran itu tadi, jika dia tidak menghambat perjalanan kita, kita pasti sudah tiba sejak tadi" gerutu Zoya.


Bibi Nor hanya tersenyum saja menanggapi nya. Namun didalam hati, sebenarnya dia cukup khawatir dengan pandangan kagum pangeran Adipati tadi. Adik dari pangeran Erlangga. Lebih tepat nya adik tiri, karena mereka berbeda ibu.


"Pangeran Adipati dikawal oleh jenderal dan juga prajurit ketika keluar istana, tapi kenapa pangeran Erlangga tidak bibi?" tanya Zoya. Sepertinya mengobrol sepanjang jalan akan sedikit bisa mengurangi rasa takutnya.


"Itu karena pangeran Erlangga yang tidak suka dikawal Ana, dia lebih suka pergi dan keluar sendiri." jawab bibi Nor.


"huh, pantas saja dia bisa terluka parah seperti itu kemarin" gumam Zoya.


"Pangeran Erlangga memang sedikit keras kepala" ucap bibi Nor.


"Benar, bahkan besok dia mengajak ku untuk bertemu" ungap Zoya


Bibi Nor langsung memandang Zoya tidak percaya.


"Dia mengajak mu untuk bertemu?" tanya Bibi Nor.


Zoya langsung mengangguk dengan senang. Bahkan rasanya dia sudah tidak sabar untuk menunggu besok.


Bibi Nor kembali terdiam, dia berfikir jika seperti nya pangeran Erlangga sudah menaruh hati pada Zoya.


...


Sementara di istana kerajaan Ranula...


Pangeran Erlangga sedang duduk disaung tempat biasa dia bersantai dan menyendiri mencari ketenangan. Saung yang berada diatas roof top gedung tempat penyimpanan senjata. Dari atas sana, semua area istana kerajaan bisa dilihat dengan mudah, bahkan aktifitas para prajurit juga bisa dia awasi dari tempatnya.


Malam ini langit cukup cerah, mungkin beberapa hari lagi bulan purnama akan muncul. Pangeran Erlangga duduk bersandar didinding dengan tangan kanan yang dia tumpukan pada lutut nya. Memandang keatas langit yang penuh bintang. Pandangan matanya penuh makna meski wajah nya datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Namun tiba tiba.. senyum tipis langsung terukir diwajah tampan nya saat dia menangkap bayangan keindahan yang membuat hatinya beberapa hari ini terusik.


Bayangan seorang gadis yang baru dia temui lebih dari seminggu yang lalu. Senyum nya yang indah dan tawanya yang merdu sungguh membuat pangeran Erlangga tidak bisa untuk tidak mengingat nya.


Gadis aneh yang selalu berkata tentang sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Ana....."


Tiba tiba bibinya malah bergumam nama itu. Nama yang tanpa sadar memang sudah tumbuh dihatinya.


Pangeran Erlangga mendengus senyum dan menggeleng pelan. Dia langsung terkesiap dan sadar jika apa yang difikirkan nya telah salah. Ana hanyalah seorang gadis biasa dari kasta rendahan, dan tidak sepantasnya dia menyimpan perasaan nya pada gadis itu.


Meski tidak bisa dipungkiri, jika dia memang tidak bisa melepasan wajah cantik itu dari kepalanya.


Tiba tiba pangeran Erlangga terkesiap, saat mendengar suara berisik dibawah sana. Seperti gumaman gumaman beberapa orang yang saling berdebat.


Pangeran Erlangga langsung melompat turun dan berjalan tanpa suara menuju ketempat orang orang itu. Dia langsung bersembunyi disebalik dinding, dan menoleh kebawah, dimana beberapa orang prajurit nampak sedang berdebat dan meributkan suatu hal. Dan ini menyangkut tentang pangeran Adipati, adik tirinya???


"Kau yakin jika pangeran Adipati pelaku nya?" bisik salah seorang dari mereka.


"Ya, aku mendengar dia berbicara pada seorang jenderal tadi. Aku tak mungkin salah dengar. Telinga ku masih berfungsi dengan baik" jawab prajurit itu.


"Aku tidak menguping, aku hanya tidak sengaja mendengar. Samar samar aku dengar jika ternyata selama ini pangeran Adipati dan jenderal itu yang meminta para perompak menculik gadis desa untuk dijual dan dijadikan budak" bisik prajurit itu lagi.


Deg


Jantung pangeran Erlangga seperti terhantam sesuatu mendengar itu.


Jika berita ini benar, berarti selama ini dalang dibalik penculikan para gadis desa adalah orang dalam istana sendiri??? Tapi untuk apa pangeran Adipati melakukan itu? Dia tidak kekurangan harta disini bukan.


"Kau serius?" terdengar kembali gumaman tidak percaya dari teman nya.


"Hei pelankan suaramu itu. Jika ada yang mendengar kita bisa mati cungkring" maki prajurit itu.


"Ya, lalu untuk apa pangeran Adipati melakukan itu? Bukankah dia seorang pangeran yang memiliki kekuasaan. Bahkan dia sangat jarang sekali keluar istana." tanya teman nya.


"Mana aku tahu, tapi yang jelas, tadi aku mendengar jika pangeran Adipati ingin menangkap seorang gadis di desa Baloko" ungkap prajurit itu.

__ADS_1


Pangeran Erlangga menggeram mendengar itu. Tidak akan dia biarkan kejahatan itu terulang lagi.


"Dia ingin menangkap gadis itu namun bukan untuk dijual, melainkan untuk simpanan nya sendiri" tambah prajurit itu lagi.


"Wah.. pangeran Adipati terdengar gila" umpat teman nya.


"Ya, dan yang aku anehkan adalah, dia seperti menyebut tentang gadis berselendang merah"


deg


deg


deg


Jantung pangeran Erlangga seperti terhempas jatuh mendengar kata kata gadis berselendang merah.


Desan baloko


Gadis berselendang merah


Bukankah itu........... Ana????


Tanpa sadar pangeran Erlangga menendang sebuah pot bunga yang ada didekat nya. Hingga membuat kedua prajurit itu langsung terlonjak kaget.


"Gawat, ada yang mendengar" gumam mereka. Dan setelah mengatakan itu, suara langkah kaki seribu langsung terdengar bergemuruh.


Sedangkan pangeran Erlangga, berdiri dengan rahang yang mengeras sempurna. Jika itu benar pangeran Adipati dalang dibalik kejahatan yang sudah terjadi selama bertahun tahun ini, maka tidak akan dia biarkan. Selama ini pangeran Erlangga keluar istana untuk mencari siapa dalang dibalik penculikan para gadis desa. Dan sialnya, ternyata dalang itu adalah orang dalam istana sendiri.


Pangeran Erlangga tidak akan tinggal diam, dia akan mencari bukti kejahatan pangeran Adipati. Cukup sudah selama ini mereka perang dingin dalam memperebutkan tahta putra mahkota. Dan sekarang pangeran Erlangga tidak akan lagi mengalah untuk hal ini. Hidupnya adalah untuk rakyat kerajaan Ranula. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun untuk mengusik ketenangan rakyat nya. Meskipun itu adik nya sendiri.


Sudah cukup dia melihat tangis pilu bibi Nor yang kehilangan putrinya, dan sekarang pangeran Erlangga tidak akan lagi membiarkan bibi Nor menangis karena kehilangan Ana.


Tidak...


Ana....


Dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh gadis itu.

__ADS_1


Tidak akan!


__ADS_2