
Zoya memejamkan matanya dan meringkuk dalam dekapan Juna. Dia benar benar takut saat seseorang masuk kedalam sana dan mencari mereka. Bisa Zoya pastikan jika orang itu adalah pria yang berbicara dengan pangeran Adipati tadi.
Dan sialnya, karena ulah dua orang ini mereka dalam keadaan bahaya seperti ini.
Bagaimana jika mereka tertangkap??
Bisa bisa mereka akan dihukum pancung setelah ini.
Brak..
Satu persatu pintu pintu lemari dan kotak kotak senjata dibuka oleh pria itu. Dan tentu saja itu membuat Zoya, Juna dan juga Yuda semakin bergetar ketakutan. Apalagi Yuda, lelaki penakut ini benar benar gemetar dari pada Zoya dan Juna.
Juna semakin mengeratkan dekapan nya pada tubuh Zoya saat pria itu semakin mendekat kearah kotak dimana mereka berada.
Jantung Zoya benar benar bergemuruh hebat. Bahkan wajahnya juga sudah memucat dengan keringat dingin yang mengalir di tubuhnya.
Sungguh, Zoya benar benar tidak ingin mati sia sia hanya karena hal yang tidak dia perbuat.
Tidak... Zoya tidak ingin mati disini.
Zoya meringkuk dalam dekapan Juna. Apalagi saat mereka merasa jika pria itu sudah berada didepan kotak mereka.
Namun tiba tiba
prank
Suara benda yang pecah diluar sana membuat Zoya terkesiap kaget. Namun Juna dengan cepat kembali membungkam mulut Zoya.
Sedangkan Yuda juga membungkam mulutnya sendiri. Jangan sampai mereka bersuara sedikit saja.
Juna mengintip dari sela sela kotak, dan dia langsung bernafas lega saat melihat pria itu kembali berjalan keluar.
"Sedang apa kau disini?" suara seseorang benar benar membuat mereka bisa bernafas kembali. Setelah sebelumnya udara seperti tidak bisa mereka hirup dengan baik.
"Hormat saya pangeran. Saya sedang memeriksa persediaan senjata disini" jawab pria itu. Zoya memicingkan matanya mendengar perkataan itu.
"Dasar penipu" gumam Yuda.
Juna dan Zoya langsung memelototkan matanya memandang Yuda. Membuat lelaki itu langsung terdiam takut.
"Bukankah itu tugas para prajurit? Kenapa kau yang begitu sibuk?" tanya pangeran Erlangga lagi.
"Maaf pangeran. Saya hanya memastikan semua baik baik saja" jawab pria itu
"Kau sedang tidak berbohong bukan" tuding pangeran Erlangga.
"Tentu tidak pangeran. Saya tidak akan berani untuk berbohong" Jawab pria itu.
"Jika kau melakukan sesuatu maka kau tahu apa hukuman mu" kata pangeran Erlangga lagi.
"Baik pangeran. Saya mengerti" ucapnya seraya menunduk dihadapan pangeran Erlangga
"Aku mendengar dari seorang prajurit jika ada yang masuk kedalam ruang persenjataan. Dan ternyata kau orangnya" kata pangeran Erlangga
"Mohon ampuni saya pangeran. Sungguh, saya tidak melakukan apapun, saya hanya memeriksa tempat ini saja. Bukan kah semua prajurit dan juga jenderal sedang tidak ada ditempat" kilah nya begitu pintar. Dan itu membuat Zoya juga Juna benar benar kesal. Apalagi jika mengingat tentang rencana busuk mereka tadinya.
"Pergi dari sini. Dan jika ada sesuatu yang mencurigakan, aku pastikan kau dalam masalah" ancam pangeran Erlangga.
__ADS_1
"Baik pangeran. Saya mohon undur diri" ucap nya. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan pangeran Erlangga, dan setelah itu dia langsung pergi dari tempat itu. Melupakan niatnya untuk mencari tiga penguping yang sudah berhasil mencuri pembicaraan nya dengan pangeran Adipati.
Beberapa saat setelah dipastikan jika pria itu telah pergi. Pangeran Erlangga kembali menoleh kearah dalam gudang persenjataan.
"Kalian masih ingin bersembunyi, atau mau aku kurung didalam sini?" pertanyaan pangeran Erlangga membuat Zoya dan Yuda langsung membuka kotak itu dengan cepat. Dan karena berdesakan keluar, mereka bertiga langsung terjatuh keatas lantai dengan tubuh yang saling tindih.
"Aahhh kak Yuda sakit" keluh Zoya saat tangan nya tertimpah kaki Yuda.
"Kaki ku juga sakit karena Juna" sahut Yuda tak mau kalah.
"Berisik, kalian yang tidak mau bergantian keluar" gerutu Juna pula.
Pangeran Erlangga menghela nafas jengah dan menggelengkan kepalanya memandang tiga orang itu.
"Cepat keluar dari sana. Dan temui aku diatas. Jika kalian hanya berdebat disana, aku pastikan kalian akan benar benar dipenjara" ucap pangeran Erlangga.
Dan setelah mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan Zoya bersama dengan dua lelaki penguping itu.
"Kalian benar benar keterlaluan. Kenapa juga menguping tapi berisik seperti itu?" tanya Zoya dengan kesal.
"Kau salahkan si cungkring ini. Benar benar menyebalkan" jawab Juna seraya menunjuk Yuda yang mendengus kesal.
"Itu karena aku terkejut saat melihat mu Ana. Kenapa juga kau malah ikut menguping" sahut Yuda
"Jangan tanya kenapa. Jelas saja karena yang mereka bicarakan adalah pangeran ku" jawab Zoya dengan cepat. Dia mengusap tangan nya yang terasa pegal karena tertimpa Yuda.
"Pangeran mu. Jangan bermimpi. Lebih baik kau bermimpi bersamaku saja" ujar Yuda
Zoya langsung memasang wajah jeleknya mendengar penuturan lelaki cungkring ini.
Juna langsung memukul kepala Yuda dengan kesal.
"Sudahlah, ayo kita pergi menyusul pangeran Erlangga. Jangan sampai dia marah karena kita yang lambat" ajak Juna yang langsung berjalan keluar dan diikuti oleh Yuda dan Zoya.
Namun sebelum keluar, mereka memastikan keadaan aman terlebih dahulu barulah mereka berlari secepat kilat menuju rooftop gedung prajurit. Tempat mereka berkumpul dengan pangeran Erlangga disana.
Dan benar saja, ketika sudah berada diatas. Pangeran Erlangga sudah menunggu mereka disana. Berdiri begitu gagah dibawah gerimis yang merinyai tipis.
Ah dia selalu mempesona dalam setiap keadaan. Zoya sampai tidak berkedip memandang nya.
"Hormat kami pangeran Erlangga" ucap Juna dan Yuda bersama sama. Dan mau tidak mau Zoya juga ikut membungkukkan tubuhnya bersama dengan dua orang lelaki itu.
"Apa yang kalian dengar sampai kalian bisa hampir ketahuan seperti tadi?" tanya pangeran Erlangga seraya dia yang membalikkan tubuhnya dan memandang mereka satu persatu. Namun saat pada Zoya, pandangan mata itu nampak berbeda.
Yuda dan Juna saling pandang dengan ragu. Dan beberapa detik kemudian mereka langsung menoleh pada Zoya yang berada di tengah tengah mereka.
Zoya meringis, apalagi saat melihat pandangan memaksa dari kedua orang itu. Benar benar keterlaluan.
"Kalian tidak ingin berbicara?" tanya Pangeran Erlangga lagi.
"Mereka... mereka merencanakan gadis gadis desa yang mereka culik untuk dibawa ke kerajaan pra... pra..." Zoya langsung mengernyit. Dia lupa, kerajaan apa tadi yang mereka bilang.
"Kerjaan Prahari Kahyangan pangeran" sahut Juna
"Nah iya benar, kerajaan itu pangeran. Mereka akan membawa gadis gadis itu tiga hari lagi" ucap Zoya
Pangeran Erlangga mengangguk pelan.
__ADS_1
"Lalu?" tanya nya lagi.
"Mereka menjual gadis desa pada kerajaan itu untuk membayar dan mengumpulkan para perompak dan pengkhianat kerajaan untuk .... untuk menghabisimu" jawab Zoya. Kali ini nada bicaranya terdengar perih. Namun pangeran Erlangga tidak bereaksi sedikitpun. Raut wajahnya hanya datar saja.
"Dan... dan tiga hari lagi, mereka juga menggunakan kesempatan penyerangan untuk mencoba menghabisimu lagi" tambah Zoya.
Pangeran Erlangga mendengus senyum miring dan mengangguk pelan.
"Apa peperangan itu memang akan terjadi pangeran?" tanya Juna pula. Dia benar benar penasaran.
"Ya, kerajaan Ranula akan berperang untuk melawan musuh setelah beberapa tahun berada dalam keadaan damai" jawab pangeran Erlangga
Zoya tertegun mendengar nya.
"Perang????" gumam Zoya
"Ya perang. Dan disaat itu, kita akan tahu siapa pengkhianat yang sesungguhnya" ucap pangeran Erlangga.
"Sekarang kembali lah kekamar kalian. Terus pantau dua orang itu dengan hati hati" ujar pangeran Erlangga pada Juna dan Yuda.
"Baik pangeran" jawab mereka dengan patuh.
Zoya menandang Juna dan Yuda bergantian. Mereka langsung pergi meninggalkan Zoya yang bingung.
Kenapa dia malah ditinggal???
"Dan kau gadis berselendang merah. Kenapa berani sekali keluar dari kamar mu hmm?" tanya pangeran Erlangga yang langsung mendekat kearah Zoya.
Zoya langsung tersenyum getir memandang pangeran Erlangga.
"Ma... maaf pangeran. Aku... aku bosan" jawab Zoya dengan takut takut.
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau membantah perkataan ku?" tanya pangeran Erlangga lagi.
"Apa kau akan menghukumku?" tanya Zoya
"Tentu saja" jawab pangeran Erlangga
"Kenapa kau tega. Jika aku tidak keluar, aku tidak akan tahu rencana mereka" ucap Zoya dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Aku lebih senang bersikap tega padamu daripada harus melihatmu mati ditangan mereka" jawab pangeran Erlangga seraya tangan nya yang menarik selendang merah dari leher Zoya. Selendang yang entah kenapa tidak pernah lepas dari diri Zoya.
"Mulai sekarang kau harus menerima hukuman mu" ujar pangeran Erlangga
"Hukuman apa?" tanya Zoya
"Aku ingin kau menjaga dirimu baik baik untuk ku" ujar pangeran Erlangga seraya melilitkan selendang merah dikepala Zoya.
deg
deg
deg
Perkataan pangeran Erlangga benar benar membuat Zoya tertegun.
Apa maksudnya itu????
__ADS_1