
Sudah hampir satu jam Zoya menunggu ditengah hutan yang sudah dijanjikan oleh pangeran Erlangga. Ini adalah hutan tempat dia menemani pangeran Erlangga berburu waktu itu. Untung saja Zoya masih ingat jalan nya, jika tidak entah kemana dia akan pergi.
Zoya menggaruk kaki nya yang terasa gatal karena terkena duri dan rumput semak. Entah sudah bagaimana bentuk kulit kakinya ketika berada dizaman ini. Setiap hari harus berkutat dengan semak dan juga panas. Ah, Zoya tidak bisa membayangkan. Apalagi dengan wajahnya, wajah yang selalu dia rawat dengan baik ketika dizaman nya, namun kini malah tidak bisa dia lihat sama sekali.
Ck..... kenapa jadi membahas kulit.
Zoya menghela nafasnya dengan berat, mencebikkan bibinya dan memandang kesana kemari menanti kedatangan pangeran Erlangga.
Apa pangeran Erlangga lupa janji nya sendiri???
Apa dia hanya bercanda saja semalam??
Atau dia ada keperluan lain di istana??
Atau tidak bisa keluar karena dilarang raja???
Ya ampun,..
Jika saja ada ponsel dijaman ini, mungkin Zoya tidak akan menunggu seperti ini. Untuk seumur hidupnya, ini adalah pertama kali dia menunggu seseorang sampai seperti ini. Mana harus ditengah hutan dan juga sepi.
Entah sudah yang keberapa kali dia menarik nafas dan memutar tubuhnya memandangi hutan itu. Zoya benar benar takut jika perompak itu datang lagi dan menangkapnya. Apalagi bibi Nor sudah berulang kali mengingatkan nya tadi.
Hingga tiba tiba suara derap langkah kaki kuda dari kejauhan terdengar.
Jantung Zoya mulai bergemuruh, dan dia segera berlari menuju sebuah pohon besar. Dia sangat berharap itu pangeran Erlangga, dan bukan para perompak ataupun pangeran Adipati semalam.
Zoya mengintip dari sebalik pohon, dan dia langsung tersenyum saat melihat kuda putih yang nampak begitu gagah mulai muncul dan berlari kearah nya. Dan yang membuat Zoya lagi lagi terpana adalah sosok yang menunggangi kuda itu. Meski wajahnya ditutupi oleh kain, namun Zoya kenal siapa orang itu.
"Pangeran Erlangga" gumam Zoya yang langsung berjalan kearah jalanan setapak menanti kedatang pangeran Erlangga.
Senyum langsung mengembang dibalik selendang merahnya saat melihat pangeran Erlangga sudah mendekat. Namun dia langsung terpekik kaget saat tiba tiba pangeran Erlangga malah menarik tubuhnya dengan kuat, hingga Zoya langsung terduduk diatas kuda. Bahkan sebelum Zoya bernafas, Kureta sudah melaju dengan kencang membawa dia pergi.
"Aaaahhh pangeran kita mau kemana???" teriak Zoya seraya memegang tengkuk kureta dengan erat.
"Kesuatu tempat, berpeganglah yang kuat" jawab pangeran Erlangga.
Zoya memandang pangeran Erlangga sejenak dan mengangguk pelan seiring tubuh mereka yang terhentak hentak mengikuti langkah kureta.
Mata mereka saling bertatapan dengan lekat beberapa saat, hingga akhirnya Zoya kembali memandang kedepan memutuskan pandangan pangeran Erlangga.
Ya ampun....
__ADS_1
Bahkan hanya dengan berkuda seperti ini saja Zoya sudah sangat bahagia. Berada sedekat ini dengan pangeran Erlangga membuat jantung nya selalu berdebar dengan kencang.
Zoya menikmati setiap perjalanan yang mereka lalui, meski lelah karena berada diatas kuda dan dengan posisi yang kurang nyaman, namun Zoya menikmatinya.
Apa lagi saat kureta berlari menuju kesebuah perbukitan. Jalanan yang cukup tinggi membuat tubuh Zoya merosot dan langsung bersandar didada pangeran Erlangga.
Pangeran Erlangga menoleh pada Zoya. Memandangi wajah Zoya yang berada begitu dekat. Bahkan detak jantung Zoya juga bisa dia rasakan.
Apa gadis ini takut ???
Atau kelelahan???
Namun senyum Zoya yang tidak lepas dibalik selendang nya membuat pangeran Erlangga begitu betah memandangi nya.
"Pangeran kita mau kemana?" tanya Zoya seraya mendongak dan memandang pangeran Erlangga.
Pangeran Erlangga mengerjapkan matanya dan kembali memandang wajah Zoya yang begitu teduh dibalik selendangnya.
"Kesuatu tempat yang belum pernah kau datangi" jawab pangeran Erlangga
Zoya kembali memandang kedepan. Dimana mereka sudah berada dipuncak bukit itu. Kureta membawa mereka sedikit kepinggir tebing. Dimana hamparan lautan yang begitu luas langsung nampak dimata bening Zoya.
Pangeran Erlangga turun dari atas kuda dan langsung memabantu Zoya untuk turun.
Bahkan ketika menginjakkan kaki di atas tanah, Zoya langsung berlari kepinggir tebing.
Benar benar pemandangan yang begitu menakjubkan.
Lautan lepas bewarna biru dan masih sangat asri nampak begitu memukau dari atas sini. Meski siang ini cukup terik, namun karena hempasan angin yang melambai membuat Zoya tidak merasa kepanasan.
Zoya merentangkan tangan nya, memejamkan mata seraya menikmati hempasan angin laut yang begitu menenangkan hatinya. Bahkan tanpa sadar selendang merah nya malah terbuka dan menampakkan wajah cantik Zoya yang nampak berseri karena terpaan angin dan juga rasa bahagia.
Pangeran Erlangga kembali terpaku melihat wajah cantik itu. Wajah cantik yang benar benar membuat hatinya terpikat.
Wajah cantik yang tanpa sadar memang sudah menjadi pengisi hatinya yang kosong selama ini.
"Ana..." suara pangeran Erlangga langsung membuat Zoya tersadar dari kenikmatan nya. Dia memandang pangeran Erlangga masih dengan binar bahagia nya. Namun Zoya mengernyit saat pangeran Erlangga malah menyerahkan sebilah pedang padanya.
"Pedang" gumam Zoya seraya meraih pedang yang kelihatan begitu tajam.
"Aku sudah berjanji untuk mengajari mu sedikit cara untuk menjaga diri bukan" ucap pangeran Erlangga.
__ADS_1
"Langsung bermain pedang?" tanya Zoya tidak percaya.
Pangeran Erlangga mengangguk dan meraih pedang yang dia selipkan dipingggangnya.
"Aku ingin kau menjadi gadis tangguh yang tidak terkalahkan" ujar pangeran Erlangga.
Zoya langsung mendengus senyum mendengar itu. Dia membenarkan kembali selendang nya dan melilitkan diwajahnya.
"Apa itu seperti seorang pendekar berselendang merah" tanya Zoya dengan kerlingan matanya.
"Tentu saja. Itu julukan yang harus kau dapatkan" jawab pangeran Erlangga. Dia berharap Zoya bisa melindungi dirinya sendiri. Karena sungguh pangeran Erlangga tidak akan membiarkan siapapun melukai Zoya, apalagi menculiknya.
Benar perkataan beberapa prajurit malam tadi, jika hari ini para perompak suruhan Adipati sudah berkeliling desa Baloko dan mencari seorang gadis berselendang merah. Dan untung saja pangeran Erlangga bisa cepat keluar dari istana, jika tidak, mungkin dia tidak akan bisa membawa Zoya pergi dari sana.
"Apa yang aku dapatkan jika aku bisa meraih julukan itu?" tanya Zoya seraya memegang pedang nya dengan erat. Jangan ragukan kemampuan nya, sewaktu SMA Zoya sudah pernah ikut pelatihan bela diri dan juga beberapa alat alat seperti panah dan pedang. Dan untuk ilmu dasar, tentu Zoya sudah bisa melakukan nya.
"Apapun yang kau mau akan aku berikan" jawab pangeran Erlangga dengan yakin, seraya dia juga yang mulai mengambil aba aba.
"Baiklah, hanya satu yang aku inginkan saat ini pangeran" ucap Zoya
"Apa?" tanya pangeran Erlangga
"Masuk dan melihat bagaimana indah nya kerajaan Ranula" jawab Zoya.
"Aku akan membawamu jika kamu sudah bisa menggunakan pedang itu dengan baik" jawab pangeran Erlangga.
"Baiklah, sekarang ayo kita mulai" ajak Zoya
Pangeran Erlangga mengangguk dan langsung mengayunkan pedang nya, begitu juga dengan Zoya.
Ting
Dentingan suara pedang mulai terdengar, dan pangeran Erlangga cukup takjub melihat kemampuan Zoya. Dia sudah bisa memegang pedang dengan baik, bahkan untuk ilmu dasar dan teknik awal bermain pedang dia sudah sedikit bisa. Dan sepertinya tidak akan sulit untuk mengajari Zoya.
"Kau sepertinya memang sudah pernah memainkan pedang" ucap pangeran Erlangga
"Entahlah" jawab Zoya seraya mulai menyerang pangeran Erlangga
Pangeran Erlangga tersenyum dan mulai melayani serangan Zoya.
Hal yang paling Zoya sukai dizaman ini adalah dengan kebersamaan nya bersama pangeran Erlangga.
__ADS_1