
Saat ini Zoya dan Pangeran Erlangga berada disebuah saung yang ada diroof top gedung prajurit. Dimana disana sudah sepi dan tidak ada orang jika malam begini. Pangeran Erlangga sengaja membawa Zoya ketempat ini agar tidak ada yang bisa melihat mereka.
Malam sudah mulai larut, dan mata yang tadinya mengantuk kini sudah tidak lagi terasa. Entah kemana rasa kantuk itu pergi. Zoya bahkan terlihat segar lagi sekarang. Apalagi kini dia bisa duduk berdua bersama dengan pangeran Erlangga. Sudah hampir seminggu disini dan baru hari ini dia bisa bertemu dengan pangeran Erlangga.
"Kenapa pangeran baru menemui ku sekarang?" tanya Zoya seraya memandang pangeran Erlangga dengan lekat. Bahkan malam begini saja dia terlihat begitu gagah dan mempesona. Meski saat ini mereka hanya diterangi dengan cahaya dari beberapa obor saja yang ada dibeberapa sudut roof top ini.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana kerja mu di istana ini terlebih dahulu" jawab pangeran Erlangga. Tatapan nya masih datar kedepan dan tidak memandang Zoya sama sekali.
"Kenapa begitu? Apa hubungan nya?" tanya Zoya dengan bingung. Dia masih memandang pangeran Erlangga. Namun saat pangeran Erlangga menoleh kearah nya, Zoya malah terlihat gugup. Lucu sekali.
"Jika aku mengganggu mu, apa kau akan bisa bekerja dengan baik?" tanya pangeran Erlangga.
"Bisa, kenapa tidak" jawab Zoya tanpa fikir.
Pangeran Erlangga langsung mendengus mendengar itu.
"Bahkan tidak aku datangi saja kau sudah selalu mencuri pandang padaku" ungkap pangeran Erlangga.
Dan kali ini Zoya yang mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Itu karena kau yang sombong pangeran. Lagipula diistana ini aku hanya mengenalmu saja dan juga kak Juna. Selebihnya adalah orang baru. Tentu ketika kau yang mengabaikan ku, membuat aku merasa aneh" ungkap Zoya.
"Kau pasti tahu alasan nya" sahut pangeran Erlangga dengan cepat.
Zoya mengangguk pelan dan menghela nafas yang cukup panjang.
"Bibi Nor berkata jika aku tidak boleh menyapa mu duluan, apalagi menemui mu. Dia berkata jika aku terlalu dekat dengan mu maka aku bisa dihukum" ucap Zoya.
__ADS_1
Dan pangeran Erlangga langsung mengangguk sekali.
"Sebegitu ketat nya status sosial ini" gumam Zoya terdengar sedih. Namun pangeran Erlangga malah tersenyum tipis tanpa dilihat oleh Zoya.
"Selama kau hanya memandang ku saja, maka kau akan tetap aman" ucap pangeran Erlangga.
Zoya langsung memandang pangeran Erlangga dengan bingung.
"Apa maksudnya itu?" tanya Zoya yang tidak mengerti. Memang terkadang bahasa ambigu yang digunakan oleh pangeran Erlangga membuat Zoya pusing sendiri untuk mengartikan nya.
"Tidak ada maksud apa apa. Kau hanya perlu mengingat kata kata ku itu selama kau masih ingin tinggal disini" jawab pangeran Erlangga.
Zoya hanya mendengus dan memandang kesekitar tempat itu. Dimana dari sana, hampir seluruh gedung istana bisa terlihat.
"Tempat ini jika siang hari pasti akan terlihat begitu indah" ucap Zoya.
"Tidak juga" jawab pangeran Erlangga.
"Jika ada waktu nanti aku akan membawamu kesuatu tempat. Disana banyak bunga liar yang tumbuh subur, tepatnya ada dibagian selatan istana ini. Disana ada sebuah bukit yang sering menjadi tempat putri Cendana bermain panah" ungkap pangeran Erlangga.
"Wah...benarkah?" tanya Zoya dan pangeran Erlangga langsung mengangguk dengan cepat.
"Aku ingin kita bermin pedang lagi" pinta Zoya.
"Ya, kita bisa melakukan itu disana nanti" jawab pangeran Erlangga. Membuat Zoya langsung tersenyum dengan lebar.
Namun tiba tiba dia sedih kembali.
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya aku pergi jika siang hari. Setiap saat aku selalu bersama putri Cendana" gumam Zoya terdengar kesal.
"Aku bisa menculikmu lagi" jawab Pangeran Erlangga.
Zoya langsung cemberut mendengar itu.
"Kau itu sebenarnya pangeran atau perompak ha?" tanya Zoya dengan kesal. Namun sedetik kemudian dia langsung menyadari bahasanya yang tidak sopan.
"Eh,,, hehe, maaf pangeran" jawab Zoya seraya memukul mulutnya dengan pelan.
Pangeran Erlangga hanya mendengus saja mendengar itu. Dia sudah terbiasa dengan Zoya yang memang tidak bisa menghormati nya seperti yang lain.
Namun tiba tiba, mereka langsung terdiam saat mendengar suara grasak grusuk dibawah sana. Mata pangeran Erlangga langsung memicing dan mencari arah sumber suara itu.
Dia segera beranjak dari duduk nya dan mengedarkan pandangan nya kesegala arah. Dan saat ingin beranjak, Zoya langsung menahan lengan nya.
"Pangeran mau kemana?" bisik Zoya yang mulai takut. Dia takut jika orang orang kerajaan akan menemukan nya disini bersama dengan pangeran Erlangga.
"Aku ingin melihat siapa disana. Ayo" ajak pangeran Erlangga seraya meraih pedang dibalik punggung nya. Zoya mengangguk dan langsung mengikuti langkah pangeran Erlangga.
Mereka berjalan dengan mengendap endap dan tanpa suara. Menuruni anak tangga dengan begitu pelan. Bahkan karena takutnya, Zoya sedari tadi terus memegangi jubah belakang pangeran Erlangga.
Hingga saat tiba dianak tangga bawah, disebalik dinding mereka mendengar percakapan dua orang lelaki. Sepertinya mereka prajurit., Namun Zoya juga sepertinya mengenal suara ini, begitu pula dengan pangeran Erlangga. Bahkan mereka saling pandang dengan lekat sekarang. Mendengar kan apa yang dibicarakan oleh dua orang itu.
"Hampir saja kita ketahuan. Kenapa lagi lagi kau suka sekali menguping cungkring" desis lelaki yang Zoya kenal itu.
"Aku tidak menguping. Aku hanya tidak sengaja mendengar. Ini benar benar gila Juna, ternyata benar kan, jika dalang dibalik penculikkan gadis desa itu adalah orang dari kerajaan ini sendiri" bisik lelaki yang dipanggil cungkring itu.
__ADS_1
Zoya langsung memandang pangeran Erlangga dengan lekat, rahang tegas nya nampak mengeras dengan genggaman pedang yang semakin erat. Apa pangeran Erlangga marah???
Namun tiba tiba Zoya terkesiap saat pangeran Erlangga dengan cepat keluar dan menyergap kedua lelaki itu dengan pedang nya.