Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Bertemu Bibi Nor


__ADS_3

Zoya terdiam memandang jauh kedepan, tubuhnya kembali terhentak hentak saat kureta melajukan langkah kakinya. Saat ini mereka kembali menunggangi kuda untuk menuju kerumah bibi Nor. Hari sudah mulai senja, dan gerimis sudah mulai merinyai, jadi pangeran Erlangga memutuskan untuk membatalkan niatnya membawa Zoya ke puncak bukit untuk berlatih pedang.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak tahu apa yang harus dibicarakan, meski didalam hati masing masing tersimpan seribu pertanyaan dan gejolak hati yang tidak menentu.


Ciuman hangat tadi, membuat mereka sama sama canggung. Namun Pangeran Erlangga masih tetap tenang tanpa ingin menunjukkan sikap tidak enak nya. Sedangkan Zoya, dia tidak ingin membahas hal itu. Rasa malu, rasa bahagia, dan perasaan yang tidak menentu membuat jantung nya masih berdebar tidak menentu hingga saat ini.


Perkataan Juna yang mengatakan jika pangeran Erlangga menyukai nya membuat Zoya selalu terbayang.


Dan ciuman tadi... sudah membuktikan semua nya.


Zoya benar benar tidak percaya ini. Seorang pangeran, seorang putera mahkota, jatuh hati pada seorang gadis bodoh sepertinya. Gadis yang bahkan bukan berasal dari kehidupan di zaman ini.


Sungguh, Zoya benar benar tidak bisa berkata apapun lagi.


Tidak lama kemudian, langkah kaki kureta terhenti didepan sebuah gubuk kecil. Rumah bibi Nor.


Zoya langsung turun dengan cepat, namun karena ceroboh, dia malah hampir terjatuh. Untung saja pangeran Erlangga dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Kenapa kau begitu ceroboh" gerutu nya.


Zoya tertawa kecil dan berdiri dengan tegak seraya dia yang membenarkan selendangnya yang hampir terlepas.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu bibi Nor, pangeran" jawab Zoya.


Bahkan tanpa menunggu jawaban dari pangeran Erlangga, Zoya langsung berlari kedalam rumah dengan suara yang begitu girang memanggil bibi Nor.


"Bibi" seru Zoya


Namun tidak ada jawaban.


"Bibi" seru Zoya lagi seraya mengetuk pintu yang tertutup.


Zoya mengintip kedalam. Tidak ada siapapun. Kemana bibi Nor?


Apa dia masih dikebun?


Atau dipasar?


"Apa tidak ada?" tanya pangeran Erlangga yang mendekat kearah Zoya.


Zoya menggeleng dan mengedarkan pandangan matanya kesegala arah.


"Apa masih dikebun ya" gumam Zoya.


"Mustahil, ini sudah senja dan hari mulai gelap. Langit juga gerimis, bibi Nor tidak pernah berada diluar jika saat seperti ini" ucap pangeran Erlangga.

__ADS_1


"Jadi dia kemana" gumam Zoya lagi.


Mereka memandang kearea rumah bibi Nor. Tidak ada yang mencurigakan. Entah kemana wanita tua itu perginya. Zoya benar benar khawatir.


Hingga tiba tiba, mereka dikejutkan dengan suara bibi Nor dari kejauhan.


"Ana, pangeran. Kalian datang" seru bibi Nor terlihat bahagia. Bahkan dia berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati Zoya.


Zoya tersenyum dengan lega ketika melihat wanita baik ini baik baik saja. Dia langsung mendekat kearah bibi Nor dan memeluk nya dengan erat.


"Bibi... aku rindu sekali" ucap Zoya.


"Oh ya ampun. Aku juga merindukan mu Ana." jawab bibi Nor yang juga memeluk Zoya penuh rindu.


" Kau terlihat cantik sekali dengan pakaian ini. Aku jadi mengingat seseorang dengan pakaian ini. Bukankah ini pakaian ..... yang mulia ratu, pangeran?" tanya Bibi Nor yang melepaskan pelukan nya dari Zoya dan memandangi penampilan Zoya, juga menoleh kearah pangeran Erlangga sekilas.


"Ya, ini memang pakaian yang mulia ratu. Tidak tahu kenapa pangeran menyuruhku memakai ini" jawab Zoya dengan tawa kecilnya.


Pangeran Erlangga mendengus sekilas


"Itu karena pakaian mu yang kotor" sahut pangeran Erlangga


"Kau yang membuat kotor, kan kau yang mengurungku dipenjara itu" gerutu Zoya


Zoya tersenyum dan merangkul lengan bibi Nor dengan manja. Dia benar benar merindukan wanita ini. Seperti dia yang merindukan ibunya sendiri.


"Jangan difikirkan bibi. Banyak sekali drama yang harus dibuat untuk membawaku keluar istana" ucap Zoya


Bibi Nor langsung mengangguk dengan cepat. Dia masih memandangi Zoya dengan mata yang terpana. Zoya nampak benar benar berbeda. Dia sudah terlihat seperti seorang putri, bahkan lebih cantik dari pada putri itu sendiri.


"Ya, aku juga heran, bagaimana bisa kau keluar, dan memakai pakaian ini pula" jawab bibi Nor.


"Tak perlu difikirkan bibi. Yang terpenting sekarang Ana sudah bisa bertemu dengan mu" sahut pangeran Erlangga.


Zoya tersenyum dan mengangguk.


"Benar bibi. Sekarang ayo masuk, aku sudah lapar, dan sudah merindukan masakan bibi" ucap Zoya.


"Ya ampun, baiklah, ayo masuk. Kebetulan aku sudah masak tadi. Kita bisa makan bersama sama" jawab bibi Nor yang langsung membuka pintu rumah dan masuk kedalam. Disusul oleh Zoya dan juga pangeran Erlangga.


Mereka berdua duduk dikursi tempat biasa mereka makan dulunya. Tidak ada yang berubah, semua masih sama.


Bibi Nor dengan sigap menyiapkan semua makanan didepan Zoya dan pangeran Erlangga.


Meski menu sederhana, namun Zoya sudah sangat senang. Karena dia benar benar merindukan masakan bibi Nor.

__ADS_1


"Ayo makanlah, makanan ini sudah dingin. Aku memasak nya saat pulang dari kebun. Dan ketika ingin makan, aku malah mendengar keributan yang ada didesa" ungkap bibi Nor


"Keributan apa?" tanya pangeran Erlangga.


Zoya yang sedang mengambil makanan nya juga menoleh kearah bibi Nor.


"Ada gadis yang diculik lagi oleh orang orang jahat itu pangeran" jawab bibi Nor


Zoya langsung tertegun, bahkan dia langsung mengulum makanan yang sudah ada didalam mulutnya dan memandang kearah pangeran Erlangga.


"Bukankah semua gadis sudah masuk ke istana?" tanya pangeran Erlangga.


"Ada seorang gadis, orang tuanya masih belum ingin berpisah dari anak mereka. Dan ini diketahui oleh para perompak, mereka membawa paksa anak gadis itu" ungkap bibi Nor.


"Kurang ajar. Mereka masih saja mencoba untuk mengusik ketenangan desa" geram pangeran Erlangga.


"Apa gadis gadis yang melamar menjadi dayang istana kemarin tidak dipulangkan lagi?" hanya Zoya.


Pangeran Erlangga menggeleng pelan.


"Tidak, mereka ditempatkan dibeberapa rumah petinggi kerajaan untuk menjadi dayang disana. Ada juga yang bekerja ditaman istana. Semua dilakukan untuk mengurangi jumlah gadis yang menghilang" ungkap pangeran Erlangga.


"Jahat sekali yang menculik itu. Pasti para orang tua sangat bersedih kehilangan putri mereka" gumam Zoya terlihat sedih, namun dia terus saja mengunyah singkong rebus dengan cocolan sambal serai.


"Benar.. aku bahkan masih begitu merindukan putri ku yang menghilang. Aku mengerti bagaimana perasaan mereka" ucap bibi Nor.


Pangeran Erlangga dan Zoya langsung memandang iba padanya.


"Tenanglah, aku pasti akan terus berusaha untuk membongkar kasus ini. Semoga saja putrimu masih bisa ditemukan dan baik baik saja" ucap pangeran Erlangga


Bibir Nor hanya mengangguk dengan senyum terpaksa.


"Apa perompak yang menculik gadis itu, bukan kelompok yang sama yang ingin menyerang kita tadi pangeran?" tanya Zoya


Pangeran Erlangga menggeleng.


"Sepertinya berbeda, yang tadi memang orang yang ingin mencelakai ku. Bukan yang bertugas untuk menculik para gadis" jawab pangeran Erlangga


"Aku sedikit mendengar dari beberapa warga, jika penculik itu, seperti menyebutkan sebuah nama kerajaan pangeran" ucap bibi Nor tiba tiba.


"Nama kerajaan?" gumam pangeran Erlangga


bibi Nor mengangguk


"Kerajaan Prahari Kahyangan"

__ADS_1


__ADS_2