
Mata Zoya benar benar melebar dan bahkan bibirnya sedikit terbuka saat melihat seorang lelaki gagah yang menunggangi kuda putih nya dengan begitu memukau. Kuda putih yang begitu gagah dan terlihat kuat itu berlari mengitari para prajurit yang sedang berlatih. Ditambah dengan penunggang nya yang juga sangat gagah dan mempesona. Sungguh perpaduan yang sangat indah.
Zoya benar benar tidak bisa memalingkan matanya melihat ini.
Pangeran Erlangga dengan kuda putihnya???
Ya Tuhan....
Ini benar benar mirip seperti yang selalu Zoya impikan.
Seorang pangeran berkuda putih. Yang menunggangi kuda dengan gagah dan mempesona. Jubah yang dipakai pangeran Erlangga nampak melambai lambai seiring dengan hentakan kaki kuda yang terus berlari dengan kuat dan pasti.
Bahkan gesekan karena hentakan kaki kuda ditanah itu meninggalkan jejak dan suara yang benar benar menambah kesempurnaan nya. Astaga.... menakjubkan sekali.
Apa ini mimpi????
Ini pasti mimpi kan??
Zoya pasti ada didunia mimpi nya selama ini???
Iya, ini adalah dunia mimpinya.
Ini pangeran nya. Pangeran idaman nya selama ini. Pangeran yang selalu ada didalam mimpi Zoya. Dan ternyata itu adalah pangeran Erlangga???
"Ana...." seruan bibi Nor dan juga tepukan dibahunya langsung membuat Zoya terkesiap kaget. Bahkan dia hampir terlonjak sangking kagetnya.
"Bibi" gumam Zoya seraya memegang dada nya yang bergemuruh.
"Kau melihat apa, ayo kesana" ajak bibi Nor seraya menunjuk kesebuah saung yang berada tidak jauh dari sana.
Zoya mengangguk dan memandang kembali ketempat prajurit berlatih. Namun pangeran Erlangga sudah pergi menjauh. Mungkin dia tidak melihat Zoya.
Dan akhirnya, Zoya memilih ikut bibi Nor untuk duduk disaung. Disana sudah duduk seorang prajurit muda. Mungkin itu putra bibi Nor.
"Ana, ini putraku Juna." kata bibi Nor memperkenalkan Juna.
"Hai Juna, aku Ana" sapa Ana seraya menjulurkan tangan nya.
__ADS_1
"Hai Ana. Terimakasih kau sudah mau menemani ibuku dirumah. Aku sudah tenang sekarang" ucap Juna seraya membalas uluran tangan Zoya.
Ana tersenyum dan mengangguk
"Justru aku yang berterimakasih pada bibi Nor karena dia sudah mau menampung orang asing seperti ku" jawab Zoya seraya memandang Juna. Lelaki ini cukup tampan. Dan pantas saja putri bibi Nor diculik, mungkin juga karena paras nya yang cantik, seperti kata pangeran Erlangga.
"Ana, kau selalu seperti itu" kata bibi Nor terlihat tidak suka.
Zoya tertawa dan mengusap lengan bibi Nor sekilas.
"Aku hanya merasa terharu bibi" ucap Zoya. Juna tersenyum memandang ibunya dan Zoya yang tampak nya memang sudah sangat dekat.
"Ibu, kau membawa banyak makanan hari ini. Ada ikan kuah pedas juga. Apa ini untuk....." perkataan Juna langsung terhenti karena dia begitu ragu untuk melanjutkan nya.
"Ya ini untuk dia. Apa dia tidak bisa keluar hari ini?" tanya bibi Nor.
Zoya terdiam bingung memandangi bibi Nor dan juga Juna. Kenapa mereka tidak berani menyebutkan nama pangeran Erlangga?? Ada apa???
"Cukup sulit bu. Hari ini bukan jadwalnya dia melatih. Dia hanya datang untuk melihat saja. Jadi waktunya diluar istana juga tidak banyak" jawab Juna
Bibi Nor langsung mengangguk dan memandang Zoya dengan sedih.
"Ternyata hari ini bukan jadwal nya melatih Ana, kita tidak bisa mengajak nya makan bersama atau keluar dari laman latihan itu" ungkap bibi Nor.
"Benarkah?" tanya Zoya yang menjadi sedih. Padahal dia sudah begitu ingin bertemu pangeran Erlangga. Apalagi tadi sempat melihatnya menaiki kuda putih itu. Zoya semakin tidak sabar. Ah, rasa lelah nya berjalan setengah harian jadi tidak terobati.
"Apa kau ingin bertemu dengan nya Ana?" tanya Juna
Zoya langsung mengangguk dengan cepat.
"Aku bisa melihat nya dari sini saja tidak apa apa, asalkan aku bisa memandang nya, itu sudah cukup" jawab Zoya. Namun wajahnya merona malu saat mengatakan itu.
Juna langsung tertawa melihat wajah malu Zoya.
"Ya, kau pasti menyukai nya kan" ledek Juna.
Dan kini Zoya yang tertawa seraya meraba wajahnya yang memanas.
__ADS_1
"Aku hanya suka melihat nya menunggang kuda seperti tadi. Dia terlihat sangat keren" puji Zoya.
"Tentu saja, hanya dia pangeran yang berani keluar dan berkuda seperti itu. Dia memang putra mahkota yang sesungguhnya. tapi sayangnya, tadi itu adalah yang terakhir dia berkeliling" ungkap Juna.
"Wah benarkah, kenapa cepat sekali. Padahal aku ingin melihatnya sekali lagi" gerutu Zoya dengan wajah yang cemberut. Kenapa susah sekali untuk bertemu pangeran kuda putih. Bahkan ketika sekarang sudah tahu siapa orang itu, Zoya pun masih sulit untuk menemuinya.
"Apa aku tidak bisa masuk istana?" tanya Zoya lagi.
Bibi Nor dan Zoya langsung terkesiap mendengar itu. Namun tidak lama kemudian mereka berdua tertawa lucu memandang Zoya.
"Ana... kau ini lucu sekali. Aku saja yang seorang prajurit tak bisa masuk dengan bebas ke area istana. Itupun hanya sesekali jika ada pertemuan atau tugas dari jenderal" ungkap Juna.
Zoya langsung menghembuskan nafas nya dengan lemas. Kesal sekali rasanya. Niat hati ingin melihat pangeran Erlangga, malah tidak bisa. Menyebalkan. Sudah berjalan jauh, panas panasan, malah tidak terbayar rasa lelahnya. Rasanya Zoya ingin menangis.
Akhirnya, mereka hanya makan bertiga siang itu. Meski kesal, namun Zoya makan cukup lahap. Perut nya sudah lapar. Bersama bibi Nor dan Juna, dia benar benar merasa memiliki keluarga. Apalagi Juna yang memperlakukan nya seperti adik nya sendiri. Senang sekali rasanya.
Hingga tidak terasa, mereka sudah selesai makan seraya berbincang sedikit tentang tugas Juna di istana.
"Aku sudah harus masuk bu, terimakasih sudah datang dan membawakan makanan" pamit Juna
"Ya, kau harus jaga diri baik baik" ujar bibi Nor.
Juna tersenyum dan mengangguk
"Tolong jaga ibuku dengan baik Ana. Aku janji, jika aku sudah menerima keping emas, aku akan membelikan sebuah selendang sutra untukmu" kata Juna yang kini beralih pada Zoya.
"Kau baik sekali. Tapi jangan khawatir. Aku pasti akan menjaga bibi dengan baik. Ya, meskipun dia yang selalu menjaga ku selama ini" kata Zoya dengan tawanya membuat Juna dan bibi Nor ikut tertawa.
"Ana, kau tunggu disini sebentar, aku akan masuk kedalam untuk membagikan makanan ini pada yang lain seraya mengantar Juna" ujar bibi Nor.
"Baik bibi, aku juga ingin berjalan jalan sebentar disekitar sini" jawab Ana.
Bibi Nor hanya mengangguk, dan setelah itu dia langsung masuk kedalam bersama Juna. Sementara Zoya juga langsung berkeliling tempat itu. Semoga saja dia tidak ditangkap dan dibawa pergi.
Mata Zoya begitu fokus memandangi prajurit yang sedang berlatih. Ada yang berlatih pedang, panah, dan juga berkuda. Bela diri juga ada. Wah sepertinya asik, benar benar sangat mirip dengan yang ada ditv tv.
Namun tiba tiba, saat masih fokus memandang para prajurit, tangan Zoya ditarik oleh seseorang, dan mulutnya juga dibekap hingga dia tidak bisa berteriak minta tolong.
__ADS_1