Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Tragedi Di Hutan


__ADS_3

Saat ini Zoya dan pangeran Erlangga sudah berada ditengah hutan yang cukup rimbun. Bahkan Zoya benar benar ngerih dan takut berada disini. Bagaimana jika ada binatang buas yang datang dan memangsa mereka. Mereka pasti akan mati tanpa ada orang yang tahu.


Zoya memandangi pangeran Erlangga yang sedang mengintip dari sebalik pohon besar. Zoya ada dibelakang pangeran Erlangga sekarang. Sejak tadi dia tidak berani untuk jauh dari pangeran itu, kemana pun pangeran Erlangga pergi, Zoya pasti mengikutinya. Dan itu juga pesan pangeran Erlangga pada Zoya. Dia takut Zoya akan tersesat dihutan ini.


"Hewan apa pangeran?" tanya Zoya begitu pelan.


Namun pangeran Erlangga hanya berdesis saja. Matanya masih fokus kearah depan.


Zoya mengerucutkan bibirnya sekilas dan ikut mengintip disebalik tubuh pangeran Erlangga, dan bisa dia lihat jika didepan sana, dibalik semak ada hewan berkaki empat, seperti kijang atau rusa ya? Zoya juga tidak mengerti.


"Apa itu?" bisik Zoya


"Kancil" jawab pangeran Erlangga


Zoya langsung mengerjapkan matanya sekilas. Lihatlah, bahkan untuk membedakan ketiga jenis hewan itu saja dia tidak bisa. Dasar!


"Mundur sedikit" ujar pangeran Erlangga seraya mengangkat tangan nya dan mengambil ancang ancang untuk menombak buruan itu.


Zoya langsung mundur kebelakang membiarkan pangeran Erlangga berburu. Hingga....


buk


Meleset..


"Yah tidak kena" gumam Zoya seraya memandangi kancil itu yang berlari begitu cepat masuk kedalam hutan.


"Lebih enak berburu dengan menggunakan panah, jadi dari jarak jauh bisa membidik buruan. Jika memakai tombak agak susah, luka ku juga masih sakit untuk dibawa bergerak terdesak" ungkap pangeran Erlangga seraya berjalan menuju tombak nya yang tertancap ditanah.


"Lalu kenapa kau malah ingin berburu. Itu sama saja memperburuk keadaan mu" sahut Zoya.


"Aku bosan berdiam diri. lagipula aku harus menikmati waktu bebas ku ini. Besok aku sudah harus kembali ke istana" ungkap pangeran Erlangga lagi.


Zoya langsung mematung mendengar itu.


"Kau akan kembali, kenapa cepat sekali?" tanya Zoya begitu lirih. Bahkan wajahnya sudah berubah sedih sekarang. Jika pangeran Erlangga kembali, dia pasti akan kesepian, apalagi jika bibi Nor pergi bekerja atau kepasar.


"Aku tidak bisa terlalu lama berada diluar istana. Ini saja aku sudah lewat masa yang telah ditentukan oleh ayahanda" jawab Pangeran Erlangga.


"Aku sendirian disini" gumam Zoya.


Pangeran Erlangga langsung memandang Zoya yang nampak bersedih, dia tersenyum tipis dan menggeleng.


"Bukankah ada bibi Nor, dia juga sendirian disini." ujar pangeran Erlangga.

__ADS_1


"Tapi jika dia kepasar aku akan kesepian" kata Zoya lagi. Dia seperti sedang merengek pada kakak lelaki nya sekarang.


"Aku pasti akan datang mengunjungi mu sesekali" kata pangeran Erlangga.


"Benarkah?" tanya Zoya, bahkan wajahnya sudah terlihat senang kembali.


"Ya" jawab pangeran Erlangga yang langsung memalingkan wajahnya, namun Zoya sempat melihat jika pangeran Erlangga seperti ternyum tipis sebelum beralih. Ah, pangeran ini pemalu rupanya.


"Ayo kesana" ajak pangeran Erlangga seraya menunjuk sebuah jalan setapak diujung pandangan mata Zoya.


Zoya tersenyum dan mengangguk memandangi punggung kekar itu. Tapi ketika ingat jika pangeran Erlangga akan kembali, dia menjadi sedih lagi. Dia tidak mempunyai siapapun disini selain bibi Nor dan pangeran Erlangga, dan sekarang dia harus berpisah dengan pangeran ini. Menyebalkan.


"Tunggulah disini, aku kesana sebentar, sepertinya ada kijang dibalik semak berduri itu" ujar pangeran Erlangga.


"Tapi aku takut" sahut Zoya.


"Tidak jauh, kau masih bisa melihatku. Jangan kemana mana" ujar pangeran Erlangga yang langsung berlari membawa tombak nya.


Zoya langsung mendengus kesal melihat itu. Untung saja tempat ini terang, jika tidak, dia pasti sudah gemetar ketakutan sekarang. Entah kenapa, padahal dizamannya Zoya senang masuk keluar hutan, naik gunung dan mendaki bukit bukit ekstrem, tapi kenapa disini dia menjadi penakut. Apa karena dia masih belum bisa merelakan hatinya? Atau karena hutan dan daerah ini yang masih begitu asri dan lebat???? Entahlah.


Tiba tiba Zoya melihat sesuatu yang bergerak dibalik semak. Meski ragu, namun dia begitu penasaran. Ya, dia tidak bisa menahan rasa penasaran nya, hingga akhirnya Zoya memberanikan diri untuk mendekat kearah semak itu. Dia langsung tersenyum saat melihat seekor kelinci yang kaki nya tersangkut diakar yang menjuntai panjang.


"Hei, kau tersangkut ya. Sini aku lepasin" ucap Zoya seraya meraih kelinci itu dengan lembut dan melepaskan jeratan dikakinya.


Kelinci putih itu cukup lucu dan menggemaskan. Bulunya sangat tebal dan juga panjang. Jika bisa, Zoya ingin sekali membawanya pulang.


Oh ya, ngomong ngomong tentang pangeran Erlangga, dimana dia???


Zoya langsung menoleh kearah dimana pangeran Erlangga tadi berada, namun dia langsung mengernyit saat tidak mendapati pangeran itu ditempatnya.


"Dimana dia?" gumam Zoya memandangi sekitarnya. Tangan nya masih memegangi kelinci yang dia peluk didadanya.


Zoya mulai takut, apa dia ditinggal sendiri disini????


"Pangeran!!!" panggil Zoya seraya berjalan menuu tempat pangeran Erlangga berada.


"Masak gue ditinggal sih" gumam Zoya yang mulai takut dan panik.


Namun tiba tiba dia terkesiap kaget, saat tiba tiba dari arah belakang nya berdatangan beberapa orang dengan pakaian hitam dan penutup wajah.


Zoya memandang orang itu dengan takut, bahkan kelinci yang dia dekap juga langsung melompat dan berlari menjauh.


"Si...siapa kalian??" tanya Zoya seraya terus mundur kebelakang.

__ADS_1


"Ini cocok untuk tuan kita bukan" gumam salah seorang dari mereka.


"ya, bahkan sangat cantik. Tuan pasti sangat senang. Ayo kita bawa" ujar teman nya pula.


Zoya semakin bergetar takut, dia langsung menoleh kesana dan kemari berharap pangeran Erlangga datang dan menolong nya. Apalagi orang orang ini mulai mendekat kearahnya dengan pandangan mata yang begitu penuh nafsu untuk menangkap Zoya. Ya Tuhan, jangan sampai dia mati dizaman ini. Zoya masih ingin pulang.


"Ayo ikut kami gadis cantik. Kenapa ku berkeliaran dihutan sendirian ha?" ucap salah seorang dari mereka.


"Enggak, pergi!!!" teriak Zoya yang sudah benar benar ketakutan. Wajahnya sudah memucat bahkan nafasnya mulai bergemuruh dan sesak. Dia benar benar takut sekarang.


"Tolong!!!!! Pangeran!!!!" teriak Zoya saat orang orang itu langsung meraih dan mencengkram tangan nya dengan kuat.


"Jangan lepasin!!!" teriak Zoya begitu kuat, dia mencoba memberontak, namun sungguh kekuatan nya sama sekali tidak sebanding dengan kelima orang ini.


Zoya menangis ketakutan saat dia diseret oleh orang orang itu dengan paksa, bahkan kakinya tersandung dan tergores akar pohon yang cukup tajam.


"Pangeran tolong!!!" seru Zoya lagi, suara nya benar benar bergetar dan penuh. Air mata sudah mengalir diwajah cantik nya.


"Diam atau kau mau kami bunuh ha" ancam salah seorang dari mereka


"Tolong lepasin" pinta Zoya yang masih berusaha untuk memberontak.


"Diam" bentak orang orang itu lagi.


Zoya benar benar ketakutan, dia begitu takut jika dia akan mati. Namun tiba tiba salah seorang dari mereka langsung jatuh tersungkur dengan punggung yang tertancap sebuah tombak.


"Lepaskan dia" ucap pangeran Erlangga yang baru datang ketempat itu. Mata tajam itu memandang geram pada orang orang itu, apalagi melihat Zoya yang begitu ketakutan.


"Jangan ikut campur" teriak mereka.


Namun pangeran Erlangga langsung menghajar mereka satu persatu. Orang orang ini hanyalah para tikus pesuruh orang orang kelas atas yang suka sekali mengumpulkan gadis gadis cantik untuk dijadikan budak atau pemuas nafsu. Pangeran Erlangga benar benar jijik melihat mereka.


Dia bahkan langsung membunuh mereka berlima tanpa ampun. Zoya bahkan sampai terperangah ngerih melihat kelima orang yang langsung terkapar tidak berdaya diatas tanah itu.


Setelah membereskan mereka tanpa sisa, pangeran Erlangga langsung mendekat kearah Zoya yang masih menangis sesunggukan.


"Maaf aku..." perkataan pangeran Erlangga langsung terhenti saat tiba tiba Zoya memeluk tubuhnya dengan erat dan menangis mendekap tubuhnya.


"Aku takut" ucap Zoya dengan isak tangis yang masih tersisa. Dia benar benar takut, bahkan pangeran Erlangga bisa merasakan jika tubuh Zoya juga masih sedikit bergetar.


Tangan yang tadi nya masih menggantung karena terkejut, kini dengan ragu langsung membalas pelukan Zoya. Mengusap punggung Zoya dengan lembut, hingga membuat Zoya merasa jauh lebih aman. Dia kira pangeran Erlangga memang sengaja meninggalkan nya dihutan ini.


"Maafkan aku, aku telah lalai dan meninggalkan mu disini" ucap pangeran Erlangga

__ADS_1


"Jangan pergi lagi" pinta Zoya


"Tidak" jawab pangeran Erlangga seraya terus mengusap pundak Ana nya.


__ADS_2