
Malam ini Zoya duduk dikamar ibunda ratu dengan pandangan yang sendu. Dia memandang makanan yang baru saja di antar oleh Juna. Satu hari ini Zoya benar benar hanya terkurung di dalam kamar ini. Tidak ada apapun yang dia lakukan selain makan dan tidur. Bahkan mandi saja tidak, karena tidak ada air disini.
Ah, entah sudah bagaimana daki yang menumpuk ditubuhnya sekarang. Sejak dijaman ini Zoya benar benar jarang mandi. Apalagi sejak terkurung beberapa hari karena ulah pangeran Erlangga.
Semoga saja pangeran Erlangga tidak merasa risih berada didekatnya.
Hoam
Zoya menguap seraya menutup mulutnya sejenak. Padahal siang tadi dia sudah menghabiskan waktu dengan tidur. Tapi kenapa saat ini dia malah mengantuk lagi.
Tempat yang gelap dan hanya diterangi oleh setitik cahaya lilin, itu juga lilin kecil dan hanya ada dibawah kakinya. Karena Zoya takut, kalau ada yang melihat cahaya didalam sini.
Bisa bisa dia bermasalah lagi dan malah dipenjara dibawah tanah.
Ya ampun jangan sampai...
Zoya beranjak, dia berjalan kearah jendela yang tertutupi kain. Mengintip dicelah celah kayu yang menutupi jendela itu. Pemandangan diluar kamar sepi. Apa mungkin para bangsawan disini sudah pada tidur semua???
Dan entah kenapa fikiran Zoya malah ingin berjalan jalan keluar.
"Sepertinya tidak apa apa kan. Tidak ada yang tahu juga" gumam Zoya.
Hari sudah mulai larut, mungkin penghuni di gedung bangsawan ini juga sudah tertidur semua.
Zoya kembali berjalan meraba kearah lemari pakaian. Dia mengambil pakaian dayang nya dari dalam sana. Berganti pakaian dengan cepat, supaya tidak ada yang mencurigainya jika dia berkeliling.
Dan setelah selesai, dengan perlahan Zoya berjalan kearah jendela belakang kamar itu. Keluar dari sana seperti yang sering dilakukan oleh Juna.
Sebelumnya, Zoya mengamati keadaan diluar, setelah dirasa aman barulah Zoya keluar perlahan lahan. Rok panjang itu sedikit membuatnya kesusahan, tapi bukan Zoya namanya jika dia tidak keras kepala. Bahkan dia tidak ingat lagi dengan peringatan pangeran Erlangga.
Zoya menarik rok nya dengan hati hati dan langsung melompat turun keatas tanah. Dia langsung meringis saat kakinya sedikit tergelincir karena menginjak rumput yang basah.
Ternyata malam ini gerimis lagi.
Zoya memandang kesana dan kemari, dirasa tidak ada orang Zoya langsung berlari menuju gedung prajurit. Tidak tahu apa yang ingin dilihat Zoya. Tapi entah kenapa dia sudah rindu suasana istana setelah beberapa hari terpenjara. Semoga saja tidak ada yang mengenali nya.
Dan memang, tidak ada lagi para jenderal ataupun para bangsawan lain yang lewat disekitar sini. Hanya ada beberapa prajurit yang berjaga dan juga dayang yang mulai kembali ke kamar mereka.
Zoya berjalan menuju gedung prajurit, namun baru berjalan beberapa langkah. Matanya memandang sesuatu yang mencurigakan.
"Siapa itu?" gumam Zoya dengan mata yang memicing. Dia langsung bersembunyi di balik pilar besar, dan memandangi seseorang yang berjalan dengan cepat dan sedikit mencurigakan.
__ADS_1
"Siapa ya? prajurit kah? tapi bajunya bukan. Seperti petinggi kerajaan" gumam Zoya
Dan karena penasaran, Zoya langsung berjalan dengan mengendap endap mengikuti orang itu.
Seorang pria paruh baya, dia berjalan cepat menuju belakang gedung bangsawan. Entah mau apa dia ke sana.
Pencuri???
Maling???
Tidak, tidak. Sepertinya bukan. Pria itu adalah seorang bangsawan. Dan Zoya yakin dia merupakan petinggi kerajaan.
Sungguh, meskipun takut tapi Zoya benar benar penasaran. Hingga akhirnya, dia memang mengikuti pria itu yang berjalan ke belakang gedung.
Sesekali Zoya bersembunyi dibalik pilar atau dinding saat pria itu sepertinya mencurigai jika dia sedang di ikuti.
Dan ketika sudah berada di belakang gedung, Zoya langsung terkesiap saat melihat ternyata yang di temui oleh pria itu adalah pangeran Adipati.
'mau apa mereka bertemu disini' batin Zoya benar benar heran.
Zoya bersembunyi disebalik dinding, mengintip kedua orang itu dengan telinga yang langsung dia pasang tajam tajam.
Dan Zoya langsung tertegun saat dia bisa mendengar perkataan mereka.
Ucapan pria itu membuat Zoya mengernyit.
Gadis???
Kerajaan???
Kerajaan mana???
"Kau sudah menyiapkan segalanya? sepertinya kakanda ku sudah mencurigai hal ini" kata pangeran Adipati.
"Sudah pangeran. Semua pasti aman. Jika kita bisa menyerahkan gadis gadis itu, pasti pihak mereka akan membayar mahal dan dengan begitu kita bisa membayar para perompak untuk membunuh pangeran Erlangga"
deg
Zoya langsung terperangah mendengar perkataan pria itu.
"Jaga bicaramu, jangan terlalu kuat. Kita bisa mati jika sampai ada yang mendengar hal ini" ujar pangeran Adipati.
__ADS_1
"Pangeran tenang saja, semua petinggi kerajaan dan juga para jenderal serta panglima sekarang sedang berkumpul di aula" ungkap pria itu
"Apa penyerangan itu memang benar?" tanya pangeran Adipati
"Sepertinya benar. Mata mata kerajaan Ranula sudah mendapat kabar jika penyerangan itu juga akan terjadi sekitar tiga malam lagi" jawab pria itu
Zoya tertunduk.
Penyerangan apa yang mereka maksud???
"Bagus, dengan begitu kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi kakanda tanpa kecurigaan siapapun. Dia terlalu hebat, sudah banyak orang orang kita yang mati karena mencoba untuk menangkapnya" ucap pangeran Adipati.
"Pangeran tenang saja. Jika kita sudah mendapatkan imbalan dari kerajaan ratu Prahari, maka kita bisa menguasai seluruh perompak dan juga para pengkhianat kerajaan untuk menghabisi mereka. Dengan begitu pangeran lah yang akan menjadi pengganti putra mahkota" ungkap pria itu dengan begitu sombong.
Zoya menggeleng pelan. Wajahnya memucat, dia tersandar lemas didinding yang dia sandari.
Kenapa mereka jahat sekali?
Padahal pangeran Erlangga adalah saudara nya sendiri. Tapi kenapa begitu tega ingin menghabisinya???
Tidak... Zoya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pangeran Erlangga harus tahu ini.
brak
Zoya terkesiap saat mendengar suara berisik diseberang sana.
"Siapa itu!!" teriak pria itu.
Zoya yang takut juga langsung berlari. Entah siapa yang membuat suara berisik itu. Yang jelas bukan dia.
"Siapa disana?" panggil pria itu kembali.
"Sudah lah, cepat cari tahu. Bunuh siapapun yang sudah berani menguping pembicaraan kita" titah pangeran Adipati.
Zoya benar benar takut mendengar perkataan itu. Dengan langkah seribu dia berlari tunggang langgang mencari tempat untuk bersembunyi, dan saat melihat gudang penyimpanan senjata. Zoya langsung masuk kedalam sana. Menutup pintu dengan cepat dan mencari tempat untuk bersembunyi.
Sebuah kotak senjata yang besar menjadi tujuan nya. Dia membuka kotak itu, namun dia terkesiap saat melihat dua orang yang juga berada didalam sana. Tubuh mereka gemetar ketakutan, dengan wajah yang juga memucat.
"Kalian... kenapa kalian disini?" tanya Zoya begitu terkejut
"Diamlah" pemuda itu langsung menarik Zoya kedalam dan dengan cepat menutup kotak itu.
__ADS_1
"Kak Juna, kak Yuda, jangan bilang kalian yang menguping tadi" bisik Zoya memandang Juna dan Yuda dengan tajam.
"Sssttt diam" Juna langsung membekap mulut Zoya saat mendengar pintu yang kembali terbuka.