
Senyum dibibir Zoya tidak pernah pudar sejak tadi. Senyum lebar yang terlihat samar di balik selendang merah yang menutupi separuh wajahnya.
Tubuh Zoya terhentak hentak, seiring dengan langkah kaki kureta yang berayun dan berlari begitu gagah. Bahkan sesekali tubuhnya terbentur dengan dada bidang pangeran Erlangga yang masih fokus pada tali kureta.
Namun tak jarang, pandangan mata itu juga sesekali nampak melirik Zoya yang terus tersenyum di balik selendang merah nya. Sungguh tidak pernah bosan pangeran Erlangga untuk memandang keindahan itu.
Mereka baru saja keluar dari istana kerajaan. Setelah melalui drama panjang yang harus mengelabui para prajurit dan jenderal dulu tentunya. Namun semua bisa terlalui dengan baik.
Dan kini, Zoya sudah bisa keluar dan menikmati waktu berdua bersama pangeran nya.
Menyenangkan sekali!
"Apa kau begitu bahagia Ana??" tanya pangeran Erlangga yang memandang wajah Zoya.
Zoya langsung menoleh kearahnya, memandang wajah tampan yang juga tertutupi oleh kain untuk menyamarkan wajah nya. Meski tetap saja, siapapun tahu jika dia adalah pangeran Erlangga.
"Ya, sudah lama sekali rasa nya tidak melihat dunia luar" jawab Zoya.
"Kita akan kemana pangeran?" tanya Zoya
"Membawamu kesuatu tempat" jawab pangeran Erlangga
"Ke bukit yang waktu itu?" tanya Zoya
"Kau masih ingat?" tanya Pangeran Erlangga pula.
"Tentu saja. Meski aku bodoh, setidaknya ingatan ku masih berjalan dengan baik" jawab Zoya dengan begitu angkuh.
"Jika ingatan mu baik, kau tidak akan melupakan asal usul mu Ana" ucap pangeran Erlangga.
Zoya langsung tertawa getir mendengar itu. Benar juga, pangeran Erlangga kan hanya tahu jika Zoya sedang lupa ingatan. Astaga, kenapa Zoya bisa lupa. Sepertinya dia memang bodoh.
"Apa kau tidak ingin memberikan ku sedikit makanan dulu pangeran?" tanya Zoya yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
Pangeran Erlangga terdiam beberapa saat, namun beberapa detik kemudian dia langsung mengarahkan kureta untuk masuk kedalam hutan.
Lengkingan suara kureta membuat Zoya selalu berdecak kagum. Dia benar benar jatuh cinta pada kuda gagah ini, apalagi pada sang pemilik nya.
"Mau kemana?" tanya Zoya yang sedikit meringis saat beberapa ranting dan semak yang mereka lalui sedikit mengenai tubuh nya.
"Mencari makanan, biasanya ada buah liar didalam hutan yang bisa dimakan" jawab pangeran Erlangga
Zoya mengernyit. Buah liar??? sudah seperti monyet saja. Ya ampun..
Tapi benar juga, disini kan memang tidak ada rumah makan. Lagi pula siapa yang mau berjualan dihutan rimba seperti ini. Jika pun ada itu pasti hanya dibalai desa atau dipasar.
Langkah kaki kureta begitu lihat melompati batang batang pohon dan juga semak yang belukar. Hingga akhirnya mereka tiba ditengah hutan, tepat dibawah sebuah pohon. Seperti pohon jambu. Ya pohon jambu air.
Ternyata jaman dulu sudah ada jambu ya. Keren. Apa apel dan anggur juga ada???
__ADS_1
Oh ya ampun, kenapa fikiran Zoya malah kesana, kenapa tidak sekalian dia tanya pizza dan hamburger disini. Dasar aneh.
Zoya langsung melompat turun dibantu oleh pangeran Erlangga.
Dan mereka langsung berjalan mendekat kearah pohon jambu yang berbuah cukup rimbun.
"Apa tidak ada monyet disini?" tanya Zoya seraya dia mencari ranting pohon untuk mengambil jambu yang memang tidak terlalu tinggi.
"Ada, tapi bahan makanan dihutan ini cukup banyak. Dan mereka tidak kekurangan. Jika kau mau aku bisa membawamu mencari buah yang lain" ujar pangeran Erlangga yang dengan mudah meraih ranting pohon diatas kepala Zoya dan menarik nya kebawah hingga rimbun jambu itu langsung berada tepat didepan wajah Zoya.
Zoya mendengus sekilas, lalu dengan cepat memilih jambu yang besar dan bewarna cokelat gelap. Ini pasti manis.
"Sudah cukup, ini saja pangeran. Aku tidak terlalu suka makan buah. Sebenarnya aku ingin makan nasi agar rasa kenyang nya bisa bertahan lebih lama" jawab Zoya
"Setelah berlatih, kita akan kerumah bibi Nor. Kita menginap disana malam ini" ucap pangeran Erlangga.
"Wah benarkah?" tanya Zoya dengan pandangan tidak percaya.
"Hmm .. dia pasti merindukan mu" jawab pangeran Erlangga.
"Aku juga merindukan nya pangeran. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan dia" sahut Zoya. Dia membuka selendang merah yang menutupi wajahnya, dan langsung mencicipi jambu yang dia ambil tadi.
Rasa manis dan segar langsung membuat Zoya lebih tenang.
"Manis?" tanya pangeran Erlangga
Zoya mengangguk dan tersenyum lebar. Bahkan dia kembali mengambil jambu diatas pohon dan memakan nya penuh nafsu. Perutnya benar benar lapar, hingga Zoya sudah seperti orang yang kelaparan memang.
jleb
Sebuah anak panah langsung tertancap dibatanv pohon jambu itu.
Zoya menoleh takut, apalagi saat pangeran Erlangga dengan sigap menarik tubuh Zoya kebelakang tubuhnya, seraya dia yang menarik pedang samurai yang terselip di pinggangnya.
Derap langkah kaki kuda terdengar bergemuruh. Membuat buah jambu yang sejak tadi Zoya pegang langsung terjatuh ketanah.
"Siapa mereka pangeran?" tanya Zoya. Dia takut sekarang.
"Para perompak, atau mungkin orang yang mengincar ku. Pegang pedang mu Ana. Kau siap bertarung bukan" ujar Pangeran Erlangga
Zoya mengangguk cepat.
"Tentu, sebuah kehormatan bisa bertarung bersama pangeran" jawab Zoya terdengar begitu mendramatisir.
"Fokus, dan bunuh mereka tanpa ampun" kata Pangeran Erlangga.
"Oke, siap" jawab Zoya dengan bahasa modern nya. Membuat pangeran Erlangga melirik nya sekilas. Membuat Zoya tertawa kecil memandang wajah bingung itu.
"Maksud ku baik pangeran" ralat Zoya
__ADS_1
Pangeran Erlangga mendengus dan menggeleng gerah, dengan matanya yang kembali memandang kearah datang nya empat kuda dengan empat orang yang juga terlihat sangar dan gagah.
Wajah mereka tertutupi kain hitam, namun tetap saja, aura mereka adalah aura kejahatan yang memang harus dihabisi.
"Kita mulai Ana" ucap Pangeran Erlangga
Zoya mengangguk dan langsung memasang aba aba. Meski sedikit bergetar, namun ketika bersama pangeran Erlangga, rasa takut Zoya sudah menghilang.
"Serang!!!" teriak orang orang itu dengan lengkingan kuda yang bersuara begitu kuat. Membuat kureta juga tak kalah bersuara.
Pangeran Erlangga langsung menebas kaki kuda itu hingga terluka dan menyebabkan pria yang menunggangi nya tersungkur ketanah. Sedangkan Zoya lebih memilih menebas langsung pria yang naik diatas kuda.
Pertarungan tidak terelakkan, apalagi ketika orang orang itu turun dari atas kuda dan juga mulai menyerah dengan pedang mereka.
Suara gesekan dan dentingan pedang begitu nyaring.
Dan Zoya, dia benar benar berkonsentrasi agar tubuhnya tidak terkena sayatan pedang lawan.
Benar benar mengerihkan, ini pertarungan kedua Zoya, dan semua terasa menguji adrenalin nya.
craaashh
Dua orang terkapar karena pangeran Erlangga. Hingga dua orang yang lain malah lebih fokus untuk menyerang Zoya, membuat Zoya terlihat kesulitan
Sraaaakk
Berhasil, satu orang jatuh terkapar diatas tanah karena tebasan nya. Dan karena lalai, pria yang lain langsung melayangkan pedang nya kearah Zoya. Namun dengan sigap pangeran Erlangga menarik tubuh Zoya kedalam dekapan nya dan....
sraaak
buk
Pria itu juga ikut terkapar dengan darah yang bersimbah disekujur tubuhnya.
Zoya mendongak memandang pangeran Erlangga yang masih mendekapnya.
"Kau baik baik saja?" tanya pangeran Erlangga
Zoya mengangguk
"Aku membunuh orang lagi" gumam Zoya.
"Kau hebat" puji pangeran Erlangga seraya mengusap wajah Zoya yang terkena cipratan darah orang orang itu.
Zoya mematung, memandang pangeran Erlangga yang kini memandang nya dengan lekat. Sangat dalam dan penuh perasaan, hingga pandangan mata itu membuat mereka sama sama terbuai.
Dan entah karena apa, Zoya langsung memejamkan matanya saat pangeran Erlangga mendekatkan wajahnya pada wajah Zoya.
dan
__ADS_1
cup
satu ciuman hangat mendarat dibibir ranum nya.