Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Bertemu Pangeran Adipati


__ADS_3

Siang ini Zoya baru saja membalurkan lulur ditubuh putri Cendana. Putri Cendana juga baru saja tertidur sekarang. Sejak tadi Zoya sudah menahan kantuk nya yang amat terasa begitu berat. Dia sudah ingin tidur sekarang, tapi bagaimana mungkin. Satu jam lagi dia sudah harus membangunkan putri Cendana untuk membersihkan diri.


Hoam....


Rasanya mengantuk sekali. Malam tadi dia benar benar tidur ketika hari sudah mau beranjak pagi. Keasikan mengobrol bersama pangeran Erlangga membuat nya lupa waktu. Dan alhasil sekarang dia yang jadi tidak fokus lagi dalam melakukan apapun.


"Hei, Ana" panggilan Gendis membuat Zoya yang sedang duduk dimeja dengan menopang dagu membuat nya terkesiap.


Zoya menoleh lesu kearah Gendis, sedangkan dua dayang yang lain terlihat sedang merapikan pakaian putri Cendana.


"Mata mu sudah seperti hantu, apa kau tidak tidur malam tadi?" tanya Gendis.


Zoya melengos.


"Aku tidak bisa tidur" jawab Zoya.


"Memang nya apa yang kau lakukan?" tanya Gendis. Mereka berbicara begitu pelan, takut putri Cendana terbangun.


"Tidak ada" jawab Zoya.


Gendis memasang raut wajah aneh nya. Memandangi Zoya yang memang sudah sangat mengantuk.


"Masih ada waktu sebentar. Kau bisa memejamkan matamu sejenak" ujar Gendis.


Zoya mengangguk.


"Sepertinya kau benar. Aku sungguh tidak tahan lagi. Kau bisa membangunkan ku satu jam lagi" jawab Zoya.


Gendis tertegun dan memandang Zoya dengan bingung.


"Satu jam lagi, apa itu?" tanya Gendis.


Zoya terkesiap. Dia langsung memandang Gendis dengan canggung. Dasar mulut yang tidak bisa di jaga. Zaman ini kan memang belum ada jam. Astaga... memang menyusahkan.


"Bukan apa apa, maksudku jika lulurnya sudah kering kau bisa membangunkan aku" ralat Zoya kembali.


Gendis hanya mengangguk saja, meski terkadang dia memang heran melihat Zoya. Banyak sekali bahasa yang tidak dia mengerti saat Zoya yang terkadang kelepasan berbicara.


Namun baru saja Zoya ingin merebahkan kepala nya diatas meja, lagi lagi panggilan seseorang membuat Zoya terbangun.


"Ana... ada yang mencarimu" ujar salah seorang teman dayang nya.


"Siapa?" tanya Zoya begitu malas.


Dia ingin tidur. Tapi kenapa ada saja yang mengganggu nya sejak semalam.

__ADS_1


"Tidak tahu, ada seorang prajurit yang memberitahukan ku tadi, jika orang itu menunggu di belakang gedung prajurit, di dekat tanaman obat" ungkap teman dayang Zoya.


Belakang gedung prajurit???


Apakan itu pangeran Erlangga.


Senyum langsung terbit diwajah kusut Zoya, bahkan dia langsung beranjak dengan semangat hingga membuat Gendis terlonjak kaget.


"Terimakasih Nur, aku pergi dulu. Bye" seru Zoya yang langsung melupakan jika putri Cendana sedang tertidur.


Gendis dan Nur saling pandang heran melihat Zoya.


"Terkadang dia memang aneh bukan" ucap Nur.


"Bukan terkadang, tapi dia memang aneh" jawab Gendis.


...


Zoya berjalan dan sedikit berlari dengan tangan yang mengangkat sedikit rok dayang nya. Rasa kantuk nya jadi hilang sekarang. Ada apa pangeran Erlangga memanggilnya. Apa dia sudah rindu lagi???


Ah... membayangkan nya saja sudah membuat Zoya tersenyum sendiri.


Dia berjalan dengan semangat, mana perduli dia dengan tatapan para prajurit dan dayang dayang lain nya. Zoya hanya membungkuk hormat saat berselisihan dengan para Jenderal dan Panglima yang berlalu lalang didepan gedung prajurit. Selebihnya dia meneruskan jalan nya dengan cepat.


"Hei Ana, kau itu mau kemana. Pelankan sedikit jalanmu, kau bisa jatuh" seru Juna dari kejauhan.


"Aku ingin berjalan jalan saja kak" seru Zoya seraya melambaikan tangan nya dan kembali berlari riang. Juna hanya bisa menggeleng pasrah melihat sikap Zoya yang selalu saja ceria.


Zoya melompati beberapa batu disamping gedung, dan mata nya langsung menoleh kesegala arah, mencari dimana orang itu.


Bibir Zoya mengerucut sekilas, ketika tidak mendapati sosok pangeran Erlangga nya. Apa dia berada didalam kebun obat obatan itu?


Zoya memutuskan untuk berjalan lebih kedalam sembari memandangi tanaman tanaman obat yang tumbuh subur disini. Tanaman obat yang ditanami oleh tabib istana untuk peranti sebagai bahan pengobatan mereka.


Kaki Zoya terhenti, saat tiba tiba dia melihat sosok gagah berdiri dan sedang menciumi setangkai mawar merah ditangan nya.


Bukan kah itu pangeran Adipati???


Kenapa dia bisa ada disini???


"Akhirnya kau datang juga Ana" ucap pangeran Adipati, yang berbalik badan dan mengahadap kearah Zoya.


Zoya tertegun, berarti yang ingin menemui nya adalah pangeran Adipati, dan bukan pangeran Erlangga???


Ya tuhan.,...

__ADS_1


Kaki Zoya langsung lemas dan rasa kantuk nya kembali datang. Dia sama sekali tidak mengingat tentang perkataan pangeran Adipati malam tadi yang ingin menemui nya lagi.


Menyebalkan. Otak nya memang sudah dipenuhi oleh nama pangeran Erlangga saja.


"Aku kira kau tidak akan datang menemui ku. Namun ternyata...."


"Ah hormat saya pangeran Adipati. Mohon maaf, saya sebenarnya hanya lewat saja disekitar sini" ucap Zoya dengan begitu cepat, bahkan dia langsung memotong perkataan Adipati.


Sialan, jika tahu pangeran Adipati yang memanggilnya, Zoya tidak akan mungkin mau untuk datang.


Pangeran Adipati tersenyum dengan tenang, namun ketenangan nya itu menyimpan makna yang cukup dalam. Zoya sedikit takut melihat nya.


"Tidak masalah. Aku akan mengampuni mu meski aku tahu kau berbohong" jawab pangeran Adipati.


Zoya langsung meringis dan menundukkan kepala nya.


"Dan kau pasti tahu hukuman apa yang akan didapatkan jika seorang dayang menemui seorang pangeran bukan" ujar pangeran Adipati lagi.


Zoya kembali memandang wajah tampan nan tajam itu dengan ragu. Kan dia yang memanggil nya? Lalu kenapa sekarang malah membahas tentang hukuman?


"Saya tahu pangeran, mohon ampuni saya" ucap Zoya dengan pasrah.


"Aku akan mengampuni mu, tapi kau harus menemani ku berkeliling kebun ini" pinta pangeran Adipati.


"Tapi putri Cendana pasti akan mencari saya" sahut Zoya.


"Hanya sebentar, ayo" ajak pangeran Adipati. Bunga ditangan nya sejak tadi tidak terlepas. Bahkan Zoya sempat berfikir jika bunga itu akan diberikan untuk nya. Haha ... ada ada saja.


"Tapi pangeran, bagaimana jika ada yang tahu" kata Zoya lagi. Dia benar benar ragu. Bagaimana jika dia sampai dipenggal. Tamat lah riwayatnya.


"Tidak akan ada yang tahu, bukan kah aku yang memanggil kau kemari" jawab pangeran Adipati.


Zoya tertegun.


"Lalu kenapa membahas hukuman tadi" gerutu Zoya tanpa sadar.


"Itu karena kau bilang kau hanya tidak sengaja lewat" jawab pangeran Adipati dengan santai nya.


Zoya langsung mendengus mendengar itu. Dia jadi bingung sekarang, ikut, atau tidak?


"Ayo, jika kau tidak mau, maka aku akan memberikan hukuman padamu" ancam pangeran Adipati lagi


Dan akhirnya mau tidak mau Zoya terpaksa pergi mengikuti nya. Semoga saja pangeran Adipati tidak berbuat buruk padanya.


..

__ADS_1


Dan tanpa sadar, jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengintai mereka.


__ADS_2