
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Zoya. Dia bahkan sudah bangun pagi pagi sekali demi untuk membantu bibi Nor memasak makanan kesukaan pangeran Erlangga. Ikan kuah pedas. Hari ini mereka akan pergi kebalai desa, tepatnya ketempat pelatihan prajurit, dimana kata bibi Nor pangeran Erlangga ada disana untuk mengawasi pelatihan orang orang itu.
Zoya benar benar tidak sabar untuk bertemu dengan pangeran Erlangga. Dan dia juga sangat penasaran bagaimana bentuk istana kerajaan. Apa seperti yang ada dibuku dan di film film??? Para prajurit, dayang, dan juga raja dan seluruh penghuninya. Zoya benar benar begitu penasaran.
Meski dia rindu zaman nya, namun tidak bisa dipungkiri, jika semakin hari disini, dan semakin dia mengetahui cerita tentang kerajaan, Zoya semakin tertarik untuk mengetahui semua nya. Padahal saat sekolah Zoya benar benar tidak menyukai cerita sejarah, yang menurutnya terlalu melegenda dan seperti dongeng. Zoya hanya suka cerita yang ada pangeran berkuda putih nya saja. Ya, dia begitu mengidolakan sosok tak nyata itu. Seperti anak anak memang. Tapi siapa yang menyangka jika sekarang dia malah masuk kedalam dunia kerajaan, dan bertemu dengan pangeran yang sesungguhnya.
Jika difikir fikir, hidupnya memang aneh dan lucu.
"Ana, ayo pakai selendang mu dulu" perkataan bibi Nor membuat Zoya yang sedang memakai sendal nya sedikit terkesiap
"Ah iya bibi, terimakasih" jawab Zoya yang langsung meraih selendang itu dan memakai nya untuk menutupi wajahnya.
"Aku ingin becermin bibi. Aku penasaran dengan rupaku sekarang. Apa begitu aneh?" tanya Zoya.
Bibi Nor yang sedang membungkus bekal mereka langsung tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kau bisa bercermin di air yang jernih nanti" jawab bibi Nor.
"Kenapa di air, apa disini tidak ada cermin?" tanya Zoya begitu aneh.
"Cermin hanya digunakan oleh putri kerajaan saja Ana. Diluar kerajaan tidak ada yang boleh memilikinya" jawab bibi Nor.
Zoya langsung menjelekkan ekspresi wajahnya. Apa apaan itu. Kenapa tidak adil sekali. Itu seperti mereka yang ingin terlihat cantik sendiri. Zoya jadi semakin bertambah penasaran dengan kecantikan para putri kerajaan. Apa mereka secantik Nia ramadani? Atau mungkin seanggun Jasmine Tookes, atau bahkan seseksi Beyonce???
Ya ampun, fikiran Zoya semakin bertambah gila tinggal dikerajaan ini.
"Ayo kita pergi" ajak bibi Nor yang lagi lagi mengejutkan Zoya.
"Ah iya bibi. tapi ngomong ngomong, apa aku tidak terlihat aneh dengan selendang ini?" tanya Zoya sedikit ragu. Pasalnya sudah lama disini Zoya bahkan hampir melupakan wajahnya sendiri.
Bibi Nor tertawa kecil memandang Zoya. Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan setapak sekarang.
"Kau terlihat bersemangat sekali Ana" kata bibi Nor.
Zoya langsung tersenyum malu mendengar itu.
"Aku sudah merindukan tempat ramai bibi. Jika penampilan ku aneh, aku takut orang orang disana akan lari karena takut padaku" jawab Zoya seraya tertawa lucu
"Mau ditutupi bagaimana pun, kau masih saja kelihatan cantik Ana. Aku bahkan takut jika kecantikan mu dilihat oleh para putri kerajaan" ungkap bibi Nor
"Kenapa memang nya?" tanya Zoya seraya membenarkan selendang nya. Ada untung nya dia memakai selendang, cuaca hari ini cukup cerah dan panas.
__ADS_1
"Mereka menaruh rasa iri yang besar. Mereka tidak suka ada yang menyaingi kecantikan mereka. Apalagi jika orang itu adalah kasta bawah seperti kita.
"Kenapa begitu? Aneh sekali. Bukankah paras seseorang itu tidak bisa ditentukan bagaimana dia di ciptakan. Kalau memang cantik ya cantik saja kan" protes Zoya
Bibi Nor kembali tertawa melihat wajah kesal Zoya dibalik selendang.
"Ya seharusnya begitu. Namun apa boleh buat. Putri kerajaan memiliki hak yang tinggi untuk diri mereka masing masing" jawab bibi Nor
"Apa yang akan mereka lakukan jika melihat gadis yang lebih cantik dari mereka?" tanya Zoya
"Biasanya akan dihukum atau dimasukkan menjadi dayang, atau jika mereka tidak suka, mereka akan memenjarakan orang itu" jawab bibi Nor.
"Astaga... keterlaluan" gumam Zoya tidak habis fikir
"Sudah lah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Semoga saja tidak akan ada yang menyadari kecantikan mu nanti" ungkap bibi Nor.
"Aku ini tidak cantik bibi. Bahkan tidak ada anggung anggun nya sedikitpun. Seharusnya bukan ancaman untuk mereka" jawab Zoya.
Bibi Nor tersenyum tipis seraya memandang Zoya.
"Jika kau memakai pakaian dari sutra, aku bisa memastikan jika kau memang lebih cantik dari mereka" ujar bibi Nor.
Mereka berjalan menyusuri hutan dengan jalanan setapak yang memanjang mengantar mereka untuk kebalai desa. Cukup jauh mereka berjalan. Mungkin jika ada jam, mereka berjalan hampir tiga jam. Kaki Zoya bahkan sudah sangat pegal. Mereka hanya berhenti beberapa kali. Dan itupun karena Zoya yang meminta. Sungguh hebat orang orang zaman ini, bisa bisanya berjalan kesuatu tempat sejauh ini. Astaga, jika seperti ini setiap hari mungkin kaki Zoya bisa berorot seperti Ade Ray.
Namun perjalanan yang melelahkan itu tidak terlalu membosankan, karena mereka melewati beberapa desa dan juga kebun kebun warga desa yang menghijau dan sangat asri. Sungguh pemandangan yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota. Semua dikerjakan secara manual disini. Bahkan beberapa kali Zoya bisa melihat mereka yang sedang menumbuk beras dan juga singkong.
Hingga tidak lama kemudian, Zoya dan bibi Nor sudah tiba digerbang balai desa. Bukan gerbang sebenarnya, melainkan seperti sebuah gapura yang terbuat dari bata merah. Wah, ternyata batu bata sudah ada sejak zaman ini.
"Kita kearah sini untuk ketempat pelatihan prajurit. Yang sebelah kanan itu kebalai desa" ungkap bibi Nor.
"Oh, berbeda ya. Apa masih jauh lagi bibi?" tanya Zoya yang benar benar sudah lelah. Bahkan keringat sudah mengering kembali dibaju kayu nya
"Tidak, sebentar lagi" jawab bibi Nor.
Zoya hanya mengangguk saja dan terus mengikuti langkah kaki bibi Nor.
Namun mereka langsung berhenti saat berada didepan gapura itu, yang dijaga oleh dua orang prajurit mungkin.
"Apa kau mau menemui Juna?" tanya orang itu.
"Ya, aku membawakan makanan untuknya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan nya" jawab bibi Nor.
__ADS_1
"Siapa gadis ini. Bukankah kau tahu jika tak boleh membawa orang asing jika masuk kedalam" kata prajurit itu lagi
"Ini putri ku, adik Juna. Dia bukan orang asing" jawab bibi Nor. Lagi lagi Zoya tersenyum mendengar itu.
"Lalu kenapa wajahnya ditutupi?" tanya prajurit itu lagi
"Kau ini banyak sekali bertanya, apa kau tak tahu rumor yang sedang beredar. Aku hanya takut anak gadis ku diculik orang orang itu" gerutu bibi Nor. Sepertinya dia tidak takut dengan dua lelaki ini.
"Sudahlah, masuk sana. Terlalu lama berdebat dengan nya kita bisa dipenggal pangeran nanti" ucap teman lelaki itu.
Mereka langsung mempersilahkan Zoya dan bibi Nor pergi, namun mata mereka tidak lepas dari Zoya.
"Apa memang tidak sembarangan orang bisa masuk bibi?" tanya Zoya setelah berada jauh dari penjaga itu.
"Ya, ini area terlarang untuk didatangi. Namun karena pangeran Erlangga, aku bisa masuk sesuka ku kapan pun aku mau" jawab bibi Nor
"Wah... pangeran memang baik" puji Zoya
Bibi Nor hanya tersenyum saja mendengar itu.
Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba ditempat pelatihan para prajurit.
Zoya terperangah takjub melihat ini. Tempat pelatihan itu hanya dibatasi oleh tali tali yang saling terpaut dari ujung ke ujung. Dan ditengah tengah nya terdapat ratusan prajurit dengan pakaian yang cukup aneh namun sangat unik. Ditengah tengah lapangan ada seperti aula tempat berteduh. Dan disana duduk beberapa orang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian yang lebih unik lagi. Seperti yang pernah dipakai oleh pangeran Erlangga. Apa itu pakaian jenderal???
Zoya terkesiap saat mendengar bibi Nor berbicara dengan salah satu prajurit.
"Aku ingin bertemu putra ku" ucap bibi Nor.
"Juna?" tanya prajurit itu
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia" jawab bibi Nor.
"Baiklah, tunggu disini" ujar prajurit itu yang langsung berlari ketengah lapangan mencari putra bibi Nor.
Zoya masih memandang takjub tempat pelatihan yang begitu luas itu.
Hingga tiba tiba dia terkesiap saat mendengar suara langkah kaki kuda yang berlari saling mengejar baru memasuki lapangan itu.
Dan mata Zoya semakin melebar saat melihat seorang lelaki muda yang sangat gagah menunggangi kuda putih nya.
"Pangeran Erlangga???????
__ADS_1