
Keesokan harinya...
Zoya dan bibi Nor sudah ada didepan pagar istana kerajaan. Hari ini bibi Nor ikut pergi mengantarkan Zoya untuk pergi ke istana. Sebenarnya dia berat ketika harus berpisah dengan Zoya, namun bibi Nor juga tidak bisa membiarkan Zoya terus ada dirumahnya. Karena cepat atau lambat, para perompak maupun rakyat kasta atas atau bangsawan pasti akan datang dan membawa Zoya pergi. Jadi memang lebih baik jika Zoya ada didalam istana dan menjadi dayang. Meski bibi Nor juga cukup khawatir juga jika kecantikan Zoya akan mengancam dirinya sendiri. Bibi Nor sangat berharap, jika pangeran Erlangga bisa menjaga Zoya dengan baik.
"Bibi.... aku pamit, jaga diri bibi baik baik ya. Terimakasih sekali selama sebulan lebih ini bibi sudah begitu baik padaku" ucap Zoya. Dia begitu sedih harus berpisah dari bibi Nor. Bahkan sekarang matanya sudah berkaca kaca.
"Aku akan baik baik saja Ana. Kau juga harus menjaga dirimu baik baik disana. Jika kau kesulitan, kau bisa menemui Juna disana. Biasa para dayang dan prajurit bisa bebas bertemu" jawab bibi Nor.
"Tentu bibi, bukan kah didalam juga ada pangeran Er...."
Perkataan Zoya langsung terhenti saat bibi Nor membungkam mulutnya.
"Ana.... dengarkan aku" pinta bibi Nor seraya memandang kesekitar mereka. Dimana sudah banyak sekali gadis gadis seusia Zoya yang datang dan ingin masuk kedalam istana.
"Jangan sekalipun kau mencari dia didalam sana" ujar bibi Nor terdengar begitu serius. Zoya langsung mengernyit dan memandang bibi Nor dengan heran.
"Kenapa?" tanya Zoya.
"Ana.... kita kasta rendahan sangat dilarang untuk dekat orang orang bangsawan, apalagi dengan dia yang seorang.... putra mahkota" ungkap bibi Nor. Dia berbicara dengan sedikit berbisik.
"Jangan sekalipun kau mencari nya. Dan jika pun tanpa sengaja bertemu kau harus bisa menjaga sikapmu. Jika kau bersikap seperti biasa pada dia, maka kau bisa dalam bahaya Ana" tambah bibi Nor lagi.
"Lalu aku harus pura pura tidak mengenalnya, begitu bibi?" tanya Zoya. Dan bibi Nor langsung mengangguk dengan cepat.
"Kau harus tunduk dan hormat padanya. Kau harus ingat, jangan memandang nya seperti biasa, jika kau bertemu dengan nya kau harus menundukkan pandangan mu seperti yang kau lakukan pada pangeran Adipati. Kau mengerti kan" kata bibi Nor.
"Apa memang seberbahaya itu?" tanya Zoya lagi.
"Ana... jangankan untuk bertemu, kau berani memandang nya saja itu sudah membuat mu dalam bahaya, kau bisa dipenggal dan dipenjara jika kau bersikap lancang. Kau harus bisa menjaga sikap mu disana nanti" bibi Nor berkata dengan begitu serius. Bahkan Zoya sampai merinding mendengar itu. Jika untuk memandang saja tidak boleh, lalu bagaimana caranya dia bisa bertemu pangeran Erlangga.
Sia sia saja kan dia masuk keistana jika tidak bisa bertemu pangeran Erlangga? Jangan kan untuk bermain pedang, untuk sekedar bertemu saja sudah tidak boleh.
"Jangan banyak berfikir yang tidak tidak, cepat lah masuk. Setidak nya jika kau ada didalam istana, kau pasti aman Ana" kata bibi Nor lagi.
Zoya menoleh kearah gerbang masuk istana, dimana puluhan gadis gadis yang sejak tadi mengantri bersama nya sudah mulai masuk kedalam.
"Tapi bibi...." Zoya menjadi ragu sekarang.
"Diluar sangat berbahaya untuk mu. Jika kau bisa menjaga sikapmu, maka aku yakin, kau pasti akan aman didalam sana. Lagi pula, pangeran Erlangga pasti akan menemui mu sesekali. Dia tidak akan mengabaikan mu disana. Kau hanya perlu menunggu dia yang datang, sedangkan kau jangan sekali kali mendatangi nya" ujar bibi Nor.
Zoya menghela nafasnya sejenak, dan langsung tersenyum seraya mengangguk tipis.
"Baiklah, jika begitu aku pergi dulu bibi. Sampai jumpa dilain waktu" pamit Zoya dan dia kembali memeluk bibi Nor.
__ADS_1
"Sampai jumpa Ana...." balas bibi Nor.
Zoya tersenyum, dan untuk yang terakhir kali dia memandang bibi Nor, dan setelah itu dia langsung berjalan masuk kedalam istana. Mengikuti rombongan gadis gadis yang juga ingin melamar menjadi dayang di istana.
Kenapa mereka antusias sekali???
Bukankah dayang sama saja seperti pembantu???
Zoya menghela nafasnya dengan pasrah. Miris sekali kehidupan nya dizaman ini. Dia seperti terlahir kembali dalam kehidupan yang sangat menyedihkan, menjadi kasta rendahan, di incar para perompak yang selalu ingin menculiknya, dan sekarang harus mengantri hanya untuk menjadi dayang istana. Ya ampun....
Tapi yasudah lah, Zoya hanya perlu mengikuti alur nya saja. Bukankah jika didalam istana dia akan selalu bisa melihat pangeran Erlangga? Meski tidak bisa bertemu dan bermain lagi, namun setidak nya dia masih bisa melihat dan memandang pangeran Erlangga meski hanya dari jauh saja.
Zoya mengikuti langkah para gadis yang dibawa masuk kesebuah gedung. Sepertinya ini belum memasuki area istana, masih diluar namun ditempat seperti sebuah gedung dengan bata merah. Didalam nya seperti aula yang sangat luas.
Disana mereka diperiksa satu persatu oleh seorang prajurit... atau jendral? Entah lah Zoya tidak tahu bagaimana membedakan nya. Juga ada beberapa orang pria dan juga beberapa wanita cantik yang memakai seperti kemben namun dengan rok panjang yang mengembang. Cantik sekali pakaian nya.
Antrian gadis ini begitu banyak, dan mereka harus diperiksa satu persatu. Zoya berada dibarisan paling belakang, sudah pasti dia akan menunggu begitu lama.
Zoya menoleh kesamping, memandang seorang gadis cantik yang juga ikut mengantri. Seperti nya dia dari kasta menengah, terbukti dengan pakaian yang dia kenakan. Wajahnya cukup cantik, namun terlihat kering karena tidak terawat. Ya, zaman dulu memang belum ada scincare kan.
Namun tiba tiba gadis itu langsung menoleh kearah Zoya saat merasa diperhatikan. Zoya terkesiap dan langsung tersenyum canggung. Apa gadis ini akan marah???
"Hai... kau mau menjadi dayang juga ya? Hehe" tanya Zoya dengan wajah aneh nya.
"Ya, tentu saja, memang kau fikir untuk apa aku mengantri disini" ucap gadis iu.
Zoya tersenyum dan mengangguk sekilas. Sombong sekali, baru bertanya juga tapi wajahnya ketus begitu.
"Kau cantik sekali, aku baru melihat mu, apa kau dari desa Baloko?" tanya gadis yang ada disamping kiri Zoya.
Zoya terkesiap, dia langsung menoleh keasal suara. Seorang gadis dengan kulit sawo matang, namun cukup manis dan sedap dipandang.
"Oh... terimakasih, tapi kau juga cantik sekali" balas Zoya berbasa basi.
Gadis itu tertawa dan menggeleng pelan
"Kau jangan mengejek ku. Aku bisa melihat kau sangat cantik, kau pasti akan langsung diterima tanpa seleksi lagi" ujar gadis itu.
"Apa seleksi nya begitu ketat?" tanya Zoya
"Entahlah, tapi dari yang kudengar kita hanya ditanya kemampuan dan bakat kita. Dan lagi, paras juga mendukung untuk masuk ke istana" jawab gadis itu.
"Waahh.... cukup sulit. Aku bahkan tidak mempunyai kemampuan apapun" kata Zoya seraya tertawa geli, membuat gadis itu juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Tidak apa apa, kau tidak mempunyai bakat pun, aku yakin kau sudah pasti diterima" jawab gadis itu.
"Kau begitu yakin" sahut Zoya
"Tentu saja, kau cantik sekali. Bahkan sejak tadi hanya kau gadis yang paling cantik diantara kami" ungkap gadis itu lagi.
Zoya kembali tertawa malu mendengar itu.
"Jangan begitu, kau juga cantik dan sangat manis. Siapa namamu?" tanya Zoya
"Aku Gendis" jawab gadis itu.
"Oh hai Gendis, aku Ana" ucap Zoya seraya menjulurkan tangan nya pada Gendis. Yang sepertinya cukup asik untuk dijadikan teman.
"Oh Ana... semoga kita bisa berteman dengan baik ya" harap Gendis.
"Tentu saja, aku begitu senang jika kau mau berteman denganku. Aku tidak punya teman selama disini" kata Zoya.
"Kau dari mana?" tanya Gendis
"Desa Baloko" jawab Zoya.
"Benarkah, aku juga dari desa itu. Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Apa kau tinggal didaerah pesisir dekat hutan?" tanya Gendis.
"Ya, aku tidak pernah keluar dari rumah dan tidak pernah kemana pun. Pergi jauh juga baru kali ini" jawab Zoya.
"Waahh.... ibumu pasti takut kau diculik oleh para perompak bukan" kata Gendis.
Zoya langsung mengangguk dengan cepat.
"Ya, maka dari itu aku disuruh melamar menjadi dayang dan masuk ke istana" jawab Zoya.
"Kau benar, aku juga begitu. Para perompak cukup meresahkan kita kaum kasta rendahan beberapa tahun ini. Aku bahkan harus terus mengurung diri dirumah, dan sama sepertimu. Baru kali ini juga aku keluar" ungkap Gendis.
"Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu tega menculik gadis gadis desa" gumam Zoya.
"Aku dengar, para perompak itu suruhan orang orang bangsawan" bisik Gendis.
"Kau tahu dari mana?" tanya Zoya
"Kakakku, dia salah satu prajurit baru diistana" jawab Gendis.
Zoya langsung mengangguk dengan pelan.
__ADS_1
Ini cukup menarik, bukankah pangeran Erlangga sejak dulu selalu mencari dalang dibalik penculikan para gadis, hingga dia sering keluar istana? Dan jika memang dalang nya adalah para bangsawan, bukankah mereka adalah orang dalam istana sendiri????