
Kehidupan Zoya sebagai dayang Ana di istana kerjaan Ranula sudah dimulai. Beberapa hari telah berlalu. Dan selama beberapa hari itu pula Zoya sudah mulai terbiasa untuk mendampingi putri Cendana dalam setiap keseharian nya.
Tidak terlalu buruk, dan tidak seperti yang Zoya bayangkan sebelum nya. Jika menjadi dayang adalah sama dengan menjadi pembantu seperti yang ada dikehidupan nya. Namun menjadi dayang tuan putri, Zoya hanya harus mengikuti nya kemana pun putri Cendana pergi, bahkan untuk mandi sekalipun. Tugas nya juga tidak berat, dia hanya kebagian tugas untuk membantu merawat tubuh putri Cendana. Dan tugas yang lain nya dibagi bagi pada Gendis dan dua dayang yang lain. Gendis sendiri kebagian dalam tugas untuk mengurus pakaian putri Cendana, jadi dia dan Zoya bisa selalu bekerja sama.
Sikap putri Cendana yang ramah dan hangat juga membuat Zoya betah dan nyaman. Karena dia bisa menganggap putri Cendana sebagai teman nya.
Hidup didalam istana tidak seperti hidup diluar. Disini Zoya mempunyai kamar sendiri, meski jarang sekali ditempati, hanya ketika malam hari saja. Zoya juga sudah tidak mandi disungai lagi, karena disini dia sudah mempunyai kamar mandi sendiri. Tempat tidur yang nyaman, dan tentunya yang paling penting adalah Zoya kini sudah memakai pakaian yang jauh kebih baik. Pakaian dari kain yang terbuat dari benang sutra.
Meski hanya pakaian dayang, tapi ini sudah sangat nyaman ditubuh Zoya. Ya, meskipun dia merasa ini terlalu terbuka karena harus menampilkan sebagian dadanya. Namun beruntungnya, Zoya membawa selendang merah nya, hingga dia bisa menutupi bagian bahunya yang tebuka dengan selendang ini.
Zoya juga senang tinggal di istana ini, karena setiap hari dia bisa melihat pangeran Erlangga. Meskipun tidak saling bertegur sapa, tapi setidaknya dia masih bisa memandang wajah tampan yang sangat berwibawa itu. Tidak apa, setidaknya mengagumi nya dalam diam memang lebih baik sekarang.
Saat ini, Zoya baru selesai mandi dan memakai pakaian dayang nya. Dan baru disini dia bisa melihat wajahnya setelah sekian lama. Ada seperti cermin kecil disetiap kamar dayang, dan meski tidak sejernih dikamar putri Cendana, tapi setidak nya Zoya bisa memandangi wajah nya sampai puas.
Dia belum bisa menggerai rambutnya, karena hanya putri bangsawan yang boleh melakukan itu. Jadi Zoya hanya bisa menggulung rambut nya setiap hari. Tidak masalah, setidak nya dia masih terlihat cantik dan tidak aneh. Mungkin jika dizaman nya ini akan sangat aneh, tapi dizaman ini, semua sudah terlihat biasa.
Zoya tersenyum seraya menilik wajahnya kembali. Mengoleskan sedikit madu dibibirnya agar tidak terlalu pucat. Madu yang kata Gendis adalah bahan pengganti pewarna bibir. Ada ada saja memang orang zaman dulu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Zoya langsung menoleh, dan dia langsung tersenyum saat ternyata Gendis yang meniliknya dari balik pintu.
"Kenapa kau lama sekali Ana, dayang yang lain bahkan sudah berkumpul dikamar tuan putri" tanya Gendis.
Zoya tersenyum dan kembali menutup tempat madu nya.
"Bukankah hari ini kita akan menemani tuan putri untuk melihat para pangeran berlatih?" tanya Zoya seraya berjalan kearah Gendis. Baju yang dipakai Zoya tampak mengembang dan terseret dengan indah. Seperti gaun balon namun ini terlihat lebih polos dan hanya bewarna putih dan pink.
"Lalu apa hubungan nya dengan kau yang sangat lama berdiri didepan kaca. Kau memang selalu aneh" kata Gendis.
__ADS_1
Zoya tertawa kecil mendengar itu, dia menutup pintu kamarnya dan berjalan bersama Gendis menuju kamar tuan Putri Cendana.
"Aku kan mau terlihat cantik, siapa tahu pangeran Erlangga melihat ku nanti" jawab Zoya.
Gendis langsung terbahak mendengar itu.
"Kau cukup percaya diri. Apa kau tidak tahu jika pangeran Erlangga adalah pangeran yang paling berwibawa dikerjaan ini. Dia itu putra mahkota, dan tidak ada yang bisa menarik hatinya sejak dulu. Bahkan para putri dari negeri seberang sekalipun" ungkap Gendis.
"Benarkah, apa dia tidak pernah pacaran sebelum nya?" tanya Zoya.
Gendis langsung mengernyit bingung mendengar itu.
"Pacaran, apa itu?" tanya Gendis.
Zoya langsung terkesiap dan menepuk mulut nya dengan pelan. Memang kebiasaan sekali. Padahal sudah mau dua bulan dia berada disini.
"Itu maksudku menjalin hubungan dengan seorang wanita" sahut Zoya dengan cepat.
Zoya langsung terdiam mendengar itu. Benarkah begitu? Tapi bersama Zoya dia mau berinteraksi dan mengajari nya berbagai hal. Yah, meskipun Zoya akui jika pangeran Erlangga memang pelit senyum. Tapi jika dingin pada gadis lain, bukankah itu hal yang bagus???
"Hei... kenapa kau malah tersenyum seperti itu Ana?" tanya Gendis.
Zoya langsung menggeleng dengan cepat.
"Sepertinya kau begitu tahu tentang semua cerita di istana ini Gendis" ucap Zoya.
"Tentu saja, kau jangan meremehkan aku. Apa yang tidak aku ketahui" jawab nya dengan begitu sombong.
"Sombong sekali kau" dengus Zoya.
__ADS_1
Gendis langsung terbahak melihat wajah kesal Zoya.
Akhirnya mereka masuk kedalam kamar putri Cendana, dimana sang putri baru saja selesai mandi. Dua Dayang sudah mulai melayani nya. Dan Gendis buru buru berlari untuk menyiapkan pakaian untuk nya. Sedangkan Zoya juga langsung mengeluarkan minyak kasturi untuk dioleskan ketubuh mulus putri Cendana.
"Kau terlambat lagi Ana" ucap putri Cendana seraya menyerahkan tangan nya pada Zoya.
Zoya sedikit membungkuk dan tersenyum memandang putri Cendana.
"Maafkan saya tuan putri. Lagi lagi saya kesulitan untuk bangun pagi" jawab Zoya. Dan memang seperti itulah kenyataan nya.
Putri Cendana mendengus senyum dan menggeleng saja seraya menikmati usapan lembut tangan Zoya dikulitnya.
"Jika lain kali kau terlambat, maka besok lusa aku tidak akan membawa mu keluar istana untuk menyaksikan pertandingan ditempat pelatihan prajurit." uajr putri Cendana.
"Pertandingan apa putri?" tanya Gendis yang sedang memasangkan kain kemben ditubuh putri Cendana.
"Pertandingan antar jenderal dan panglima perang. Tapi besok acara juga akan ramai karena kakanda kakanda ku juga akan ikut ambil bagian" jawab putri Cendana.
"Pangeran Adipati dan pangeran Erlangga?" tanya Zoya.
Putri Cendana langsung mengangguk dengan pelan.
"Waaah pasti seru. Saya pastikan saya tidak akan terlambat putri" sahut Zoya dengan cepat.
"Jika menyangkut tentang pangeran saja kau cepat bangun" dengus Gendis.
Putri Cendana langsung tertawa mendengar nya, apalagi melihat wajah merona Zoya. Yah, siapa yang tidak menyukai dua kakak kebanggan nya itu. Yang hebat dan tentu nya saling bersaing untuk memperebutkan gelar jenderal perang terbaik.
"Yasudah, cepat pasangkan aku baju. Sebentar lagi mereka akan berlatih diaula. Sudah lama sekali aku tidak melihat dua orang itu bertarung" ujar putri Cendana.
__ADS_1
"Baik putri" jawab Zoya dan juga dayang yang lain.
Akhirnya pagi itu Zoya membalurkan minyak kasturi dan juga ekstrat bunga mawar ditubuh putri Cendana sebelum Gendis memasangkan nya baju. Rutinitas yang setiap hari mereka jalani. Terkadang, Zoya merasa aneh melihat putri Cendana. Apa dia tidak merasa risih ketika tubuhnya dilihat oleh mereka dan juga disentuh sentuh seperti ini????