Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Kecemasan Juna


__ADS_3

Zoya duduk disebuah tempat tidur yang sudah usang dan sedikit berdebu. Bahkan barang barang dan pajangan yang ada didalam kamar ini juga terlihat usang dan sangat tidak terawat. Hanya saja masih dikatakan bagus. Kamar ini juga sangat luas dan pasti begitu megah dulu nya.


Kamar ibunda ratu...


Pangeran Erlangga membawa Zoya ketempat ini setelah drama panjang yang membuat mereka sampai ketempat ini dengan aman.


"Untuk sementara waktu kau bisa tinggal disini dulu. Tapi kau harus ingat, jangan pernah sekalipun keluar atau bahkan membuka kain yang ada disini" ujar pangeran Erlangga yang berdiri didepan Zoya.


"Kenapa?" tanya Zoya.


"Takut ada orang yang melihat. Sebab selama ini tidak pernah ada yang menjamah kamar ibunda ratu" jawab pangeran Erlangga.


Zoya mengangguk mengerti.


"Tapi bagaimana jika ada yang tahu aku disini pangeran" tanya Zoya. Dia masih takut berada disini. Walau bagaimanapun ini adalah kamar ratu terdahulu. Bagaimana jika ada yang tahu, Zoya bisa bisa dipenggal atau mungkin dipenjara seumur hidup nya setelah ini.


"Kau tenang saja. Hukuman mu hanya seminggu. Begitu pula dengan Adipati. Jadi tidak akan ada yang mencari mu. Dan tidak akan ada yang tahu kau disini jika kau tidak merubah apapun yang ada didalam sini. Bahkan untuk penerangan juga jangan nyalakan apapun, selain lentera kecil ini" ujar pangeran Erlangga.


Zoya menghela nafas dan mengangguk pelan.


"Maafkan aku. Bukan maksudku untuk menyusahkan mu. Hanya saja aku...."


"Aku mengerti pangeran. Tidak apa apa. Aku akan menuruti perkataan mu. Dan aku senang disini, setidaknya, tempat ini tidak terlalu menyeramkan " sahut Zoya dengan cepat. Bahkan dia langsung mematahkan perkataan pangeran Erlangga.


Dalam kegelapan, pangeran Erlangga tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kau tenang saja, aku sudah membersihkan tempat ini beberapa hari yang lalu. Jika kau membutuhkan kain untuk selimut. Kau bisa mengambil di lemari ibunda. Meski sedikit berbau, namun masih layak untuk dipakai" ungkap pangeran Erlangga lagi.


"Iya baiklah" jawab Zoya.


"Hari sudah hampir pagi, aku harus kembali. Besok aku akan datang lagi, mungkin sedikit terlambat karena aku harus menghadiri acara pertarungan itu" kata pangeran lagi.


"Aku tidak bisa melihat mu pangeran" ucap Zoya, terdengar begitu sedih.


"Aku berjanji akan membawa mu keluar istana besok" kata pangeran Erlangga lagi.


"Benarkah?" tanya Zoya yang kembali tersenyum.


"Tentu saja." jawab pangeran Erlangga.


"Aku akan menunggu mu disini" kata Zoya lagi.


Pangeran Erlangga mendengus senyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku pergi " pamit nya.


Zoya beranjak dan berjalan mengikuti pangeran Erlangga yang keluar dari kamar itu. Kawasan kamar ibunda ratu cukup gelap, jadi tidak akan ada yang tahu jika pangeran Erlangga keluar masuk disini.


Zoya memandang kepergian pangeran Erlangga dengan wajah sedih. Namun dia tersenyum saat sebelum menutup pintu, pangeran Erlangga berbalik pada nya dan tersenyum. Meski dalam gelap, tapi entah kenapa Zoya tahu jika pangeran itu tersenyum padanya.


Pintu tertutup, meninggalkan Zoya dalam kesendirian. Dalam kegelapan yang membuat nya kembali sepi.


Gerimis diluar masih terus merinyai menambah suasana menjadi terasa sepi dan sedikit mencekam.


Kamar ini gelap, karena hanya ada lentera kecil yang menemani kegelapan Zoya. Hingga pandangan matanya juga terbatas.


Semoga saja tidak ada tikus atau kecoa maupun binatang binatang lain disini. Zoya benar benar ngerih. Dan lagi, dia juga sedikit seram sebenarnya berada disini. Apalagi ketika mengingat jika kamar ini adalah kamar milik orang yang sudah meninggal.


Ah... bulu kuduk Zoya jadi meremang jika mengenangkan itu.


Zoya duduk kembali ditempat tidur, meraba bantal yang baru dikeluarkan pangeran Erlangga dari dalam lemari. Dia merebahkan tubuhnya dengan ragu di atas ranjang itu. Bagaimanapun Zoya benar benar lelah dan sangat mengantuk. Sudah sejak kemarin dia benar benar kekurangan tidur.


Ada saja yang mengganggu waktu istirahat nya.


"Ibunda ratu, saya numpang tidur disini ya. Tolong jangan muncul. Ini permintaan putra mu yang meminta saya untuk tidur disini" gumam Zoya dengan tubuh yang langsung meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri.


Entah apa saja yang dia gumamkan sebelum tidur. Hingga akhirnya karena lelah, Zoya langsung tertidur dengan cepat. Tanpa memikirkan apapun lagi yang membuat hatinya resah.


...


Keesokan paginya....


Dikamar putri Cendana, mereka semua nampak sudah heboh tentang kabar Zoya yang di hukum dan dipenjara diruang bawah tanah.


Bahkan Gendis benar benar panik dan bersedih. Karena teman dekatnya dihukum hanya karena bertemu dengan pangeran Adipati.


"Putri... apa putri tidak bisa merayu pangeran Erlangga agar tidak mengurung Ana disana?" tanya Gendis.


Putri Cendana menggeleng pelan.


"Tidak bisa Gendis. Itu sudah menjadi peraturan dikerajaan ini. Dan hukuman penjara adalah hukuman yang ringan. Aku tak bisa merayu kakanda. Apalagi pangeran Erlangga, tak ada yang berani menentang perintah nya" jawab Putri Cendana


Gendis terduduk dengan wajah sedihnya.


"Ana pasti ketakutan disana. Lagi pula saya yakin jika dia pasti tidak sengaja bertemu dengan pangeran Adipati " gumam Gendis.


"Sengaja atau tidak, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Semoga saja hukuman yang diterima Ana tidak berat" jawab Putri Cendana.

__ADS_1


Gendis hanya mengangguk. Namun tiba tiba dia terkesiap karena mengingat sesuatu.


"Putri, bolehkah saya pamit sebentar. Saya ingin bertemu dengan Juna, kakak Ana. Dia pasti mengkhawatirkan adik nya sekarang" ucap Gendis


"Baiklah, tapi jangan lama. Karena setelah ini kita harus pergi ke aula untuk melihat pertarungan para jenderal" ujar Putri Cendana.


Gendis mengangguk cepat. Bahkan dia langsung berlari keluar kamar putri Cendana. Berlari menyusuri gedung gedung para bangsawan menuju gedung prajurit.


Juna harus tahu ini. Gendis benar benar tidak tega jika Ana dipenjara disana. Dan lagi, dia sebenarnya curiga, kenapa pangeran Erlangga memenjarakan Ana?


Selama ini yang Gendis tahu, Ana begitu menggilai pangeran itu. Tapi kenapa sekarang malah dia dipenjara oleh pangeran Erlangga, hanya karena bertemu dengan pangeran Adipati?


Gendis yakin, jika ini bukan kesalahan Ana. Pangeran Adipati pasti yang menemui nya. Dan pangeran Erlangga menjadi salah paham. Ya, sepertinya begitu.


Gendis berlari cukup cepat, seraya sesekali mengangkat rok kain yang menghalangi jalan nya. Dia langsung tersenyum saat melihat Juna dan Yuda yang baru keluar dari dalam kamar mereka. Sepertinya mereka akan pergi ke aula.


"Kak Juna!!!" teriak Gendis dengan lantang. Membuat Juna dan Yuda langsung menghentikan langkah mereka dan berbalik arah.


"Heh kenapa kau berlari seperti itu Gendis. Kalau kau jatuh bagaimana" gerutu Yuda.


Gendis mengatur nafasnya yang memburu. Benar benar lelah berlari dari gedung bangsawan kegedung prajurit yang cukup jauh.


"Kak, apa kalian sudah tahu jika Ana dipenjara?" tanya Gendis.


Juna dan Yuda langsung terkesiap kaget mendengar itu.


"Benarkah itu?" tanya Juna


"Jangan bercanda Gendis" sahut Yuda pula.


"Aku serius kak. Aku juga baru mendengar berita nya pagi ini. Setelah sejak semalam Ana menghilang, ternyata dia dipenjara diruang bawah tanah" ungkap Gendis.


"Astaga, apa yang dia lakukan hingga dia dipenjara. Apa dia melakukan kesalahan fatal?" tanya Juna. Wajahnya benar benar panik dan cemas .


"Dia tidak sengaja bertemu dengan pangeran Adipati. Dan pangeran Erlangga yang memenjarakan nya" jawab Gendis.


Juna terdiam. Pangeran Erlangga????


Kenapa bisa???


Bukan kah mereka?????


"Tidak mungkin, aku harus mencari tahu ini" ungkap Juna. Bahkan tanpa berkata apapun dia langsung berlari meninggalkan Yuda dan Gendis.

__ADS_1


"Hei kau mau kemana?" seru Yuda. Namun Juna sama sekali tidak mengindahkan seruan nya.


__ADS_2