Real Dad

Real Dad
Dua Juta Dollar


__ADS_3

“Apa kamu bilang, dua juta dollar?” sentak pria gendut yang mengenakan jaket kulit itu.


“Itu duit semua?” tanyanya lagi mencoba mencari penjelasan.


“Ini kesempatan kita, Pak, mereka sudah bisa saya genggam kalau rencana ini berhasil,” jelas Mika.


“Jangan ceroboh! Ini terlalu beresiko,” hardik si pria yang menampakkan keraguan pada rencana Mika.


“Saya akan mempertaruhkan semuanya, termasuk pekerjaan ini,” kelakar Mika begitu mantap, tanpa mempedulikan hal lain lagi.


Sepertinya gadis itu memang keras kepala, dia tidak peduli dengan apa pun lagi saat dia menginginkan sesuatu. Memang dia seorang petugas yang berbakat dalam menangkap penjahat. Akan tetapi, rencananya kali ini benar-benar beresiko dengan menggunakan umpan sejumlah uang yang terhitung banyak dan belum tentu negara mampu membiayainya.


Pria paruh baya di hadapannya dengan tegas melakukan penolakan, dia tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan segala sesuatu yang sudah dicapainya. Terdengar sangat pengecut memang, tetapi itu merupakan pilihan yang tepat.


Mika merasa kecewa dengan keputusan sang komandan yang tidak menyetujui rencananya.


“Aish, sial, masa uang segitu saja cukup sayang dipinjam sementara. Sedangkan dimakan tikus berdasi sah-sah saja,” umpatnya penuh kekesalan.


Mika keluar dari ruangan sang komandan, dia beranjak kembali ke ruang kerjanya sembari terus mengumpat guna meluapkan kekesalan.


“Kapten!” seru Ji, yang sudah bisa menebak dari raut wajah seniornya tersebut.


“Apa? Kau mau meledekku?” cecar Mika.


Gadis tinggi semampai itu seperti akan meledak, wajahnya merah padam dengan kedua alis bertaut menandakan ketegangan otak sedang dialaminya.


“Mana berani aku meledekmu. Sejak awal aku sudah memperingatkan, tapi kau acuh tak acuh saja, Kapten,” jawab Ji.


“Argh, ini menyebalkan,” gerundel Mika seraya meremas rambut kasar.

__ADS_1


Lantas dia mengempaskan wajah pada meja kerjanya, sembari terus berteriak meluapkan kekesalan. Sementara Ji hanya bisa menggeleng melihat tingkah atasannya tersebut. Dia sudah menduga akan seperti ini dan sudah pasti Mika tidak akan menyerah begitu saja, drama cukup menegangkan pun akan segera terjadi. Membuatnya merasa sedikit tertekan memikirkan rencana gila yang akan Mika lakukan selanjutnya.


***


Allen masih sibuk memperhatikan perangkat yang ada di hadapannya, dia terus mencari tahu dan melacak klien yang dinamainya dua juta dollar tersebut. Akan tetapi, tidak seperti biasanya, jaringan yang digunakan klien kali ini cukup sulit untuk Allen bobol. Membuat David kesal dan tidak mampu menahan amarahnya. Kata-kata kasar pun terucap, memaki dan menghujat Allen tanpa peduli lagi.


Allen tak berani membantah, dia hanya perlu melakukan tugasnya sebaik mungkin. Patuh adalah pilihan terbaik, sebatang kara menjadi sebuah alasan untuk tetap hidup dalam kenistaan, jika dibandingkan dengan hidup terlunta di jalanan.


David memang sengaja merekrut pria muda tanpa keluarga untuk menjadi pengikutnya termasuk Lam. Kala itu dia menemukan Lam tergeletak di jalanan, dengan wajah babak belur dan masih mengenakan seragam sekolah. David menolongnya, merawatnya hingga di membaik seperti yang Hana lakukan.


Sementara Allen, dia datang sendiri kepada David dan memohon untuk menjadikannya sebagai anggota gangster, dengan dalih menyelamatkan hidupnya dari perundungan yang kerap dia terima saat di sekolah.


David yang mengetahui Allen memiliki kemampuan khusus pun dengan senang hati menerima pria muda berambut plontos itu. Pilihan David tidak sia-sia, setelah hadirnya Allen, misi David pun selalu berjalan lancar dan terhindar dari jebakan polisi.


Setelah puas mengumpat, David meninggalkan Allen sendirian di ruang khusus. Allen tak gentar, mendengar perkataan David yang begitu menyakiti hati. Sebab, baginya bertahan hidup lebih penting dibandingkan dengan sakit hati karena masalah pribadi.


“Dua juta dollar, siapa kau sebenarnya?” gumam Allen.


***


“Lam, ada perubahan rencana, aku kirim beberapa orangku, kerja sama dengan baik dan jangan lupakan prioritas misi!” ujar David seraya menggenggam telepon seluler yang ditempelnya di telinga.


“Sebenarnya misi apa ini?” selidik Lam, “Kau memperkerjakanku tanpa jelas tugasku apa!” lanjut Lam dari balik telepon.


“Lakukan saja sesuai perintah Steve, percayakan semua padanya, kau cukup bawa target untukku, ingat target ini bernilai cukup tinggi,” tukas David.


“Baiklah, terserah kau saja!” Lam mendengkus, karena tidak biasanya David bersikap tidak jelas seperti ini.


“Oke!” pungkas David kemudian mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Dia melipat ponsel jadul tersebut kemudian mengeluarkan kartu SIM di dalamnya lantas mematahkan kartu SIM tersebut. David benar-benar tak ingin kehilangan dua juta dollar. Membayangkan diri akan menjadi kaya raya, David begitu bersemangat dengan misi kali ini. Meski begitu, dia selalu berada di balik layar.


“Steve, pergi ke C sekarang, temui Lam dan lakukan sesuai perintah, ini kesempatan langka yang akan membuat kita kaya raya,” seloroh David kemudian tertawa riang.


“Baik, Bos!” sahut Steve yang masih berdiri tegak di hadapan David.


“Dua juta dollar, papa datang padamu, Nak, hahaha.” David yang begitu gila pada uang itu sangat-sangat menantikan hari yang telah dijanjikan.


Dia benar-benar hilang kewaspadaan saat mendengar jumlah uang tersebut. Yang dia inginkan hanya keberhasilan untuk meraihnya. Pria yang masih tergelak seraya menyesap selinting nikotin bagai hilang kesadaran. Sepertinya uang lebih memabukkannya dibanding dengan alkohol yang kerap menemani malam kelam sang ketua gangster itu.


“Saya permisi untuk mempersiapkan semuanya, Bos!” ucap Steve menyela kegembiraan David.


Tanpa menjawab David mengangguk, dia masih asyik dengan tawa kebahagiannya itu. David menggerakkan tangan sebagai isyarat jika Steve boleh meninggalkannya dan melanjutkan pekerjaannya itu.


Sementara di sisi lain, Lam masih termangu memikirkan apa yang baru saja di dengarnya dari David. Benar-benar tidak seperti biasanya, dia yang selama ini menjadi kepercayaan pria bermata sipit dengan tatapan tajam itu, kini, tak mengetahui apa pun. Apalagi, dia harus bekerja dengan orang-orang kepercayaan David yang kesetiaannya tidak diragukan.


Dahinya berkerut dalam, sesekali pria berotot itu memijat pelipisnya karena tak kunjung mendapat jawaban dari apa yang beberapa hari ini pikirkan. Hingga tanpa disadari suara anak kecil yang tertawa riang berlarian di taman belakang rumah besar–yang tepat berada di balik jendela kamar membuyarkan pikirannya.


“Hantu?” gumamnya seraya celingukan.


Lam mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi tidak didapatinya siapa pun. Membuat pria itu merinding seketika.


“Masa pagi-pagi ada hantu?” lanjutnya bermonolog masih mencari sumber tawa itu.


Lagi, suara tawa yang memekik kembali terdengar dan membuat Lam kembali merinding. Dia bergidik ngeri, kemudian bangkit dari duduk dan hendak keluar dari kamar. Dengan berlari kecil, pria yang sudah bersetelan rapi seperti biasanya menuju pintu kamar, sejurus kemudian.


“Kadal!”


“Bunglon!”

__ADS_1


Secara bersamaan Lam dan Andra berteriak ketika keduanya hampir bertabrakan di mulut pintu.


***


__ADS_2