
Lekas, Lam menelepon David setelah mendengar kabar dari Andra. Beberapa kali nada panggilan tersambung berbunyi. Akan tetapi, David belum juga menjawab panggilannya.
“Bang, yang kirim pesan, Musang!” bisik Andra.
“Apa?!” Lam kaget lagi, buru-buru dia mengurungkan panggilannya.
“Sepertinya David tidak menginginkan kita tahu tentang hal ini,” ucap Andra seraya menatap Lam dengan serius.
“Kau benar, kalau begitu kita ikuti saja permainannya,” sahut Lam, lantas mengempaskan selimut putih yang masih membungkus tubuh kekarnya.
“Waaah,” Tiba-tiba saja Andra berdecak kagum saat selimut itu tersingkab.
Mendengar hal itu Lam terkesiap menyadari diri yang bertelanjang dada saat tidur dan hanya mengenakan boxer motif sponge bob kesukaannya.
Setelah berdecak kagum Andra pun tergelak mendapati pria galak itu ternyata memiliki sisi lain. Lagi-lagi dia menemukan sisi buruk Lam. Sejurus kemudian tawa Andra pecah hingga terpingkal-pingkal. Dia memegangi perut yang terasa ngilu seiring dengan tawa yang sulit dikendalikan.
Sementara wajah Lam bersemu merah, dia malu setengah mati kemudian meraih kembali selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang berotot itu.
“Keluar! Berhenti tertawa!” bentak Lam pada Andra.
Andra sudah tidak asing lagi dengan teriakan itu, dia tidak mengambil hati umpatan atau makian yang dilontarkan Lam. Dia sudah lama hidup dengan pria yang sama-sama tak memiliki siapa pun itu. Masa lalu keduanya pun tak jauh berbeda. Masa lalu yang menyakitkan, hingga membuat keduanya terjerembab pada dunia gelap. Dunia yang awalnya dipikir akan menjadi solusi dari semua permasalahan dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, justru menyeret kedua pria tampan yang berbeda usia terbilang jauh itu dalam dalamnya lubang nestapa.
“Baiklah, baiklah!” ucap Andra, kemudian tertawa kembali.
“Heh, bocah kau menertawakanku karena sponge bob ini, dan lihat kau sendiri memakai motif macan tutul seperti itu,” ledek Lam pada Andra yang tidak menyadari dirinya juga hanya mengenakan kaus oblong dan boxer motif macan tutul.
”Apa?” Seketika Andra termangu, saat menyadari ucapan Lam.
Lantas pria tinggi semampai itu menunduk dan mengarahkan pandangan pada tubuh bagian bawahnya. Manik mata dan otaknya seketika singkron dan menyadari suatu hal yang bagaikan aib di antara keduanya.
“Tidaaak!” teriak Andra seraya berbalik badan dan berlari menuju kamarnya.
Sekarang giliran Lam yang tertawa puas. Kejadian pagi hari yang menggelikan, biasanya ketika mereka bertemu memang dengan setelan rapi tanpa menunjukkan kekurangan yang dimiliki. Sementara kali ini, mereka menampakkan seleranya masing-masing meski tanpa disengaja.
Setelah beberapa saat rumah menjadi sepi dan hening, karena keduanya sedang bersiap di kamar masing-masing. Imah yang sudah memiliki akses untuk masuk rumah besar itu datang, dia mengucap salam, tetapi tidak ada yang menyahuti. Mungkin karena jarak antara pintu utama dan kamar begitu jauh hingga kedua pria itu tidak menjawab salamnya. Dia tidak berani berpikir macam-macam lagi setelah kejadian tadi malam.
Perlahan Imah menuju dapur dan mempersiapkan semua pesanan yang Andra sebutkan kemarin sore, dia membeli semua itu saat dalam perjalanan menuju rumah besar.
Kriet! Brugh!
Andra keluar dari balik pintu kamar, kali ini dia sudah rapi mengenakan setelan seperti biasanya, kemeja putih yang dipadukan dengan blazer dan celana hitam, serta sepatu kulit bermerk yang menambah ketampanannya.
Semerbak wangi parfum mengisi ruangan terbawa udara yang bersirkulasi di rumah itu. Rambutnya yang setengah kering disisir rapi dengan diolesi pomed, dan membuat tampilannya begitu menyegarkan pandangan.
Tak lama kemudian dari arah dapur, ada suara yang menyita pendengarannya. Andra pun dengan segera memeriksa dapur dengan mengendap-endap.
Di mengintip dari mulut pintu dapur yang sengaja tidak ditutup itu, didapatinya perempuan tua yang tidak asing lagi tengah sibuk menyiapkan apa yang dirinya pinta. Lantas dia menyembulkan kepala, bermaksud untuk mengganggu Imah.
__ADS_1
“Nek!” tegur Andra.
“Mas Andra sudah bangun?” Ternyata Imah tidak kaget sedikit pun.
“Kok, Nenek enggak kaget?” tanya Andra Heran, seraya masuk dapur.
“Saya tahu Mas Andra akan datang, orang wanginya udah kecium dari beberapa saat tadi,” jelas Imah.
“Waaah, penciuman Nenek masih seperti gadis berusia tujuh belas tahun,” bual Andra seraya menaikturunkan alis simetrisnya.
“Cih, anak muda tak tahu diri,” umpat Imah.
Andra hanya menimpali umpatan Imah dengan senyum simpul, lantas manik mata menyelidik semua belanjaan yang Imah bawa. Dia cukup terkesan pada Imah yang membawakan semua pesanannya tanpa sedikit pun yang ketinggalan. Ingatan wanita tua itu masih bagus, padahal wajahnya sudah dipenuhi keriput tanpa celah.
“Nek, di rumah dengan siapa?” tanya Andra setelah cukup memastikan semua bahan makanan yang disimpan di meja itu.
Imah yang sedang mengupas bawang pun meletakkan pisau dan bawangnya.
“Mas Andra sudah sarapan?” Alih-alih menjawab pertanyaan Andra Imah justru balik bertanya pada Andra.
Andra menggeleng, tanpa berkata, dia pun memilih duduk di kursi tempat biasa mereka makan.
“Mau kopi atau teh?” tawar Imah.
“Kopi hitam saja, Nek,” jawab Andra.
“Nanti saja, bos saya sepertinya masih di kamar dan belum mau keluar,” jelas Andra.
Imah pun mengerti, dia menyeduh satu bungkus kopi instan yang tersedia. Tak menunggu lama, satu cangkir kopi dia suguhkan pada Andra yang sejak tadi menunggu.
“Kopinya, Mas,” ucap Imah, ”saya di rumah dengan cucu perempuan saya, mungkin nanti dia akan menyusul ke sini, apa boleh?” imbuh Imah.
“Benarkah? tentu boleh, Nek. Asalkan cucu Nenek tidak mengganggu ketika bos saya dan rekannya sedang mengadakan pertemuan,” tutur Andra.
Aroma kopi menguar mengalahkan parfum mahal Andra, dia tak tahan dengan aroma kopi yang begitu menggoda, lantas mengangkat cangkir dan mendekatkannya pada indera penghidu, sejurus kemudian dia menyesap perlahan kopi hitam favoritnya.
“Mas Andra sudah punya pacar?” celetuk Imah.
Sontak pertanyaan itu membuat Andra tersedak ampas kopi yang tak sengaja terminum.
Uhuk! Uhuk!
“Nenek naksir saya?” gurau Andra menimpali pertanyaan Imah.
Imah menghela napas panjang, “Mas Andra ini, bercanda terus, ya enggak, cuma bertanya,” jawab Imah.
“Hahaha,”
__ADS_1
Imah menggeleng beberapa kali mendapati pria anggota gangster yang katanya menyeramkan itu begitu humoris dan menghibur.
“Belum, Nek! Apa cucu Nenek seorang gadis?” kelakar Andra lagi-lagi menggoda wanita tua yang mengenakan cardigan rajut cokelat di hadapannya.
“Ya, dia gadis manis dan juga baik,” jawab Imah.
“Waaah, apa boleh dia untuk saya?” celoteh Andra dengan mata berbinar.
Imah tersenyum, “Kalo Mas Andra pria baik-baik, tentu saja boleh, Mas, nanti kita tanya sama-sama pada cucu saya.” Imah balik menggoda Andra yang mulai berharap lebih.
“Wuaah,” decak Andra begitu bahagia, tak mampu lagi berkata.
Percakapan keduanya pun terus berlanjut, hingga Andra yang sudah tampil keren itu merecoki Imah di dapur. Kelakuan Andra memang membuat Imah sedikit penat, tetapi sekaligus menjadi penghibur di balik kesulitan hidup yang sedang dijalani.
***
“Sepertinya hari ini enggak bisa panen sayuran,” gumam gadis kecil bergaun pink seraya mengedarkan pandangan pada polibag-polibag kosong di halaman rumahnya.
”Kasihan Nenek, enggak bisa jualan hari ini,” lanjutnya kemudian mengembuskan napas berat.
Tak lama kemudian datang seorang gadis muda yang mengenakan seragam toserba di depan gang sana. Benar sekali, toserba yang Eunsu datangi tiap Kamis itu.
“Eunsu, sedang apa?” Gadis itu menyapa dari kejauhan.
“Teh Naya mau kerja? Eunsu sedang nunggu nenek,” sahut Eunsu.
“Emang nenek ke mana?” tanya Naya sedikit penasaran.
“Ke rumah besar di ujung kampung, katanya pemiliknya datang dan minta nenek buat bantu bersih-bersih,” jelas Eunsu pada Naya–tetangganya tersebut.
“Oh, gitu, ya udah, Eunsu baik-baik di rumah, ya, teh Naya kerja dulu,” ujar Naya kemudian melanjutkan langkah menuju tempatnya mengais rezeki.
Krubuk! Krubuk!
Perut Eunsu tiba-tiba saja terasa melilit dan sedikit perih, spontan tangan mungil dengan kuku sedikit kotor dan panjang itu mengelusnya perlahan.
“Lapar,” lirihnya.
Dia bangkit dan menuju dapur yang menyatu dengan ruang TV, dia membuka rice coocker usang yang berada tepat di samping TV tabung ketinggalan zaman itu. Benda satu-satunya yang menjadi penghibur dia dan sang nenek.
Sejurus kemudian terdengar helaan napas yang begitu sesak, didapatinya rice coocker itu kosong, hanya tersisa kerak nasi kemarin. Rasa lapar yang tak tertahan membuatnya terpaksa memunguti kerak-kerak itu sebagai pengganjal pagi ini.
Setelah kerak nasi itu habis, Eunsu memilih minum agak banyak, agar rasa kenyangnya sempurna. Ekor matanya menangkap kantong plastik besar bekas bungkus makanan yang lam berikan padanya. Mengingatkannya pada hari kamis yang beruntung itu. Tak terpungkiri benaknya memanjatkan harap agar bisa bertemu dengan Lam lagi.
Bukan karena serakah, tetapi dia memang membutuhkan uluran tangan seseorang, bahkan sekadar untuk isi perut.
“Andai aku bertemu paman bunglon lagi,” harapnya seraya menatap nanar bungkus makanan yang sudah berada di tong sampah itu.
__ADS_1
***