Real Dad

Real Dad
Bab 31


__ADS_3

”Gawat,”


Tiba-tiba saja terdengar langkah mendekati ruangannya. Namun, dia tahu itu bukan suara langkah Jian. Padahal di detik-detik ini, Mika sedang meminta lokasi pertemuan untuk besok malam. Dia kan menyalinnya ke ponsel. Sejurus kemudian, dia terkejut saat melihat begitu banyak notif dari Jian.


Sekilas dibacanya pesan dari Jian, dan membuatnya panik setengah mati.


Ting!


Bunyi pesan diterima terdengar seiring dengan derap langkah yang semakin mendekat. Mika gelagapan, dia benar-benar kebingungan karena panik. Mika nyaris lupa apa yang akan dia lakukan. Jantungnya berdegup tak karuan, seraya celingukan memastikan ke arah pintu.


“Cepat, cepat, cepat,” desisnya seraya menggoyang lutut.


Entah kenapa, loading dalam perangkatnya mendadak menjadi lama. Padahal, situasinya saat ini benar-benar menegangkan.


Ceklek!


Terdengar tuas gagang pintu yang diputar pertanda seseorang akan masuk ke ruangan tersebut. Sementara pesan belum juga terbuka. Di depan sana juga terdengar seseorang berteriak.


“Pak Darma! Anda di sini?” Sengaja Jian melantangkan suaranya.


Sontak Mika semakin panik, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sementara Jian yang berusaha mengalihkan Darma dan mengulur waktu, diantara server yang tiba-tiba down, Mika semakin tegang saja. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Tepat sebelum Darma membuka pintu kembali, pesan terbuka. Cepat-cepat Mika mempoto, karena tidak akan sempat jika mencatat. Dengan cepat pula Mika membalas pesan terakhirnya. Setelah itu dia mematikan komputer dan bersembunyi di bawah meja. Di sisi lain, Jian mengikuti Darma hingga ke dala ruangan, sebetulnya dia hanya ingin memastikan jika Mika sudah tidak ada di ruangan tersebut.


Setelah memastikan Mika tidak ada, Jian mengela napas. Hal itu membuat Darma tersita perhatiannya.


“Ada apa? Kenapa kau menarik napas begitu?” cecarnya.


“Ah, tidak, Pak, anu saya hanya menguap, hooam,” kilah Jian seraya mempraktekkan.


”Dasar bocah tidak sopan! Kau menguap di depan atasanmu?” hardik Darma.


”Maaf, Pak, Maaf, kalau begitu saya ke toilet dulu untuk mencuci muka,” pamit Jian.


Darma menimpali dengan sebuah dengkusan. Memandang kesal ke arah Jian beberapa saat, kemudian dia memalingkan wajah dan meninggalkan Jian lebih dulu menuju ruangannya. Entah apa yang akan dilakukan pria berambut setengah botak itu.


Akan tetapi, bukan hal itu yang menjadi masalah utama saat ini. Melainkan Mika yang belum diketahui keberadaannya oleh Jian. Jian pun mencari-cari Mika, dengan memanjangkan lehernya mencoba melongokkan kepala ke balik meja.

__ADS_1


“Kapten, kau di sana?” desisnya.


Perlahan Mika merangkak dari kolong meja, mendengar Jian memanggilnya dia yakin suasana sudah menjadi kondusif. Setelah berhasil keluar dari kolong meja, Mika bergegas berdiri. Jian pun memberi isyarat pada Mika agar bergegas sebelum Darma kembali ke luar ruangan.


Mika setengah berlari, tetapi berusaha tidak mengeluarkan suara dari langkahnya. Akhirnya, meski penuh ketegangan Mika berhasil keluar kantor tanpa diketahui Darma. Mika mengacungkan dua jempol pada Jian seraya terus berlari menuju mobil.


Saat Jian termenung di mulut pintu, entah sejak kapan Darma berada tepat di sampingnya. Pria itu menepuk bahu Jian. Sontak Jian kaget.


“Apa yang kau lakukan?” tegur Darma.


“Ehbuset, kaget aku, Pak!” sahut Jian.


“Apa yang terjadi, apa kau melihat sesuatu yang bagus, hingga tersenyum sendiri begitu?” selidik Darma.


“Ya? Senyum? Apakah saya tersenyum?” Lagi-lagi Jian berkilah.


“Apa? Kau tidak menyadari senyummu?” kelakar Darma.


“Entahlah ...,” jawab Jian seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Dasar bocah ini, dipikirnya aku tidak tahu apa yang kalian lakukan!” batin Darma seraya memelototi Jian yang terlihat semakin salah tingkah.


***


“Bagus, bagus,” jawab David seraya mengangguk-angguk.


“Tapi, servernya benar-benar tak bisa dibobol,” lanjut Allen ragu-ragu.


Sontak David terperanjat, dia memadamkan rokok yang sedang diisapnya. Dengan kesal, pria berkemeja motif bunga itu menghampiri Allen. Lagi-lagi tanpa segan pria beringas itu memukul wajah Allen beberapa kali.


Allen tak melawan, dia pasrah menerima pukulan tersebut sembari menahannya. Sekali lagi, David memukul Allen cukup kencang kali ini hingga kacamata yang dikenakan pun terpental.


“Untuk apa aku membayarmu, jika kau tidak becus seperti ini! Brengsek!” geram David.


Sejurus kemudian David mendorong tubuh kurus Allen, hingga Allen menabrak dinding dan tersungkur di lantai. Napas Allen mulai tersenggal karena syok yang diterima. Dengan tangan yang tremor karena ketakutan Allen merogoh saku kemeja dan mencoba mengambil ventolin di dalamnya.


Akan tetapi, saat dia berhasil mendapatkan ventolin itu, David dengan murka menendang lengan Allen dan membuat ventolin itu terpelanting, lepas dari genggaman Allen.

__ADS_1


“Bos, kumohon ...,” lirih Allen dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Allen berusaha bergerak untuk mendapatkan ventolinnya kembali. Namun, dia kesulitan karena hampir kehilangan tenaganya. David menyeringai menatap ke arah Allen, seolah menikmati penderitaan pria muda di hadapannya. Lantas, David berhasil lebih dulu menghampiri ventolin itu.


Allen menengadah ke wajah David, wajah Allen yang mulai pucat karena kekurangan oksigen pun terlihat pasrah dan terus memohon agar David mau memberikan penyambung hidupnya itu.


Sekali lagi, David menyeringai. Lalu berkata, “Kau tahu ventolin itu zat adiktif yang membuatmu terus bergantung padanya, cobalah bernapas dengan kemampuanmu sendiri, berandal!”


Sejurus kemudian, David menginjak inhaler itu hingga remuk. Melihatnya, Allen semakin kesulitan bernapas hingga dia kehilangan kesadaran.


“Urus dia!” tukas David pada seseorang yang berdiri tegap di dekat pintu.


“Haruskah kita bawa dia ke rumah sakit, Bos?” tanya si pria.


“Buang saja ke tempat sampah! Aku tidak ingin memperkerjakan orang tidak berguna itu,” berang David seperti orang kesetanan.


“Baik, Bos!” jawab si pria dengan patuh.


“Benar-benar tidak ada yang mampu bekerja dengan baik, selain Lam, sialan!” umpatnya.


“Haaa!” teriaknya kemudian.


Setelah itu, David merogoh ponsel dari saku celananya. Dia menelepon seseorang yang tak lain adalah Steve. Panggilan pun terhubung, David langsung memaki Steve–yang telah mempekerjakan Allen.


Sementara di sisi lain, Steve yang mendapat makian dari David wajahnya mulai berubah. Dia tampak kesal, tetapi tidak mampu melampiaskannya. Apalagi di hadapannya kini ada Lam yang dengan sengaja memerhatikan gerak-geriknya. Semakin membuat Steve kekesalan dan geram.


“Sialan!” umpat Steve, setelah mengakhiri panggilan itu.


“Ppft!” Lam menahan tawa.


Steve mendelik ke arah Lam, seolah tidak terima karena Lam menertawakannya.


“Apa? Kenapa? Kau tidak terima?” cecar Lam.


Steve bergeming, tetapi bahasa tubuhnya benar-benar jelas menyiratkan amarah. Lam yang menyadari hal itu terus saja memancingnya, menyulut api emosi yang sebenarnya sudah membara. Sengaja dia memprovokasi Steve, biasanya seseorang yang akan ceroboh jika keadaan sedang tertekan.


“Kau tahu tidak, menjinakkan David itu bukan perkara mudah, kau hanya pemain baru, jangan coba-coba,” seloroh Lam seraya mengukir senyum misterius.

__ADS_1


Steve mendengkus, memelototi Lam.


***


__ADS_2