
Langkah gontai melenggang di koridor sebuah apartemen mewah di kota C. Gadis yang gemar mengenakan jaket kulit itu, dengan malas berjalan seraya mendengkus kesal beberapa kali. Pikirannya kembali tersita pada surel masuk yang belum dibalasnya, serta putusan yang didapat dari atasan.
“Aaa, menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan,” teriaknya sembari mengacak rambut bergaya bob itu.
Dihentak-hentakkannya kaki yang dibalut sepatu kulit bermerk tersebut ke lantai koridor, layaknya anak kecil yang sedang tantrum. Aksinya terhenti saat beberapa orang lewat di koridor dan memandanginya heran.
Orang-orang tersebut bergunjing seraya menatap tajam ke arah Mika, yang ditimpali senyum paksa olehnya. Menyadari diri seperti orang gila, Mika lekas menuju ke unit apartemennya. Setengah berlari dia menuju unit yang disewa dengan harga tidak murah perbulannya itu. Sesampainya di depan pintu, gegas dia menekan sandi untuk membuka pintu. Tak lama setelah sandi ditekan pintu pun terbuka.
Buru-buru Mika masuk dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Kekesalan masih menjejali dirinya. Dia yang sehari-harinya begitu banyak melakukan pekerjaan di luar rumah. Kini, terpaksa harus meringkuk, terpenjara seperti pengangguran sepekan lamanya. Sepekan bukan waktu yang lama, hanya saja itu terjadi saat dia memiliki misi besar yang mungkin akan membantunya untuk naik jabatan.
Gadis yang berasal dari keluarga kaya itu tidak manja seperti orang kebanyakan. Dia menyembunyikan identitas yang sebenarnya agar senior dan atasan di tempatnya bekerja tidak berlaku berlebihan terhadapnya. Akan tetapi, sikap bebal dan keras hati gadis cantik itu tidak dapat dihilangkan. Dia akan sangat ambisius ketika memiliki sebuah tujuan.
Mika menghempaskan tubuh kecil berotot itu, ke atas kasur yang dilapisi sprei motif kotak dengan warna abu muda berkombinasi dengan hitam dan putih. Tak lama setelah itu, dia memainkan ponselnya. Ibu jarinya tiba-tiba mengarah pada aplikasi yang digunakan untuk menyimpan uang dan melakukan transaksi lainnya.
Lagi-lagi dia menghela napas berat, saat nominal di layar ponselnya tertera.
“Masih cukup, sih, tapi apa negara nanti akan menggantinya?” gumamnya.
“Tidak Mika tidak, menangkap penjahat lebih penting dibandingkan uang atau apa pun,” sahutnya menanggapi perkataan sebelumnya.
Sontak Mika teringat lagi dengan surel tersebut, dia belum tahu pasti alasan mengapa misinya harus dipercepat. Mika semakin frustrasi, mengingat diri yang kini sedang dirumahkan. Mika terperanjat dari tidur dan langsung terduduk, menatap nanar sekeliling beberapa saat. Sejurus kemudian, dia menggerakkan seluruh tubuh tak beraturan seraya merutuk dan mengumpat tak karuan.
“Sialan! Sial! Siaaal!” teriaknya setelah merasa puas mengamuk.
“Tidak akan kulepaskan, mereka, tunggu saja, aku pasti akan berhasil,” gumamnya.
__ADS_1
Tak ingin terus berlarut dalam kekesalan, Mika pun beranjak dari kasur. Dia berniat untuk melakukan sesuatu, tidak mungkin dia membiarkan surel itu tanpa balasan untuk waktu lama. Mika akan mencoba memasuki akun ilegalnya menggunakan perangkat yang ada. Meski hasilnya masih diragukan setidaknya dia mencoba.
Mika duduk di depan meja kerja, lantas perlahan membuka laptop, tak ingin berbasa-basi Mika langsung menyalakan perangkat dan mencoba memasuki akun yang digunakannya untuk transaksi itu. Nahas, beberapa kali dia mencoba, beberapa kali juga dia gagal. Hingga akhirnya kekesalan Mika pun semakin bertumpuk.
“Tidaaak! Tidaaak! Tidaaak!” keluhnya seraya beberapa kali merengek.
Dadanya begitu sesak, pikirannya kalut membuat dia ingin menangis, tetapi tidak keluar air mata. Dia ingin menemukan solusi, tetapi tak ada solusi selain menggunakan perangkat di kantornya yang terhubung dengan jaringan luar negeri itu.
Kali ini, Mika benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh seantero jagad dunia maya maupun dunia nyata. Ternyata ambisi saja tidak cukup untuk menaklukan sesuatu. Tetap diperlukan multi talenta dan multi skil agar mampu menghadapi situasi dan kondisi apa pun. Terutama kondisi terburuk, seperti saat ini–yang dia alami.
Tak habis akal, Mika langsung memikirkan ide gila lainnya. Dia berencana untuk menyusup ke kantor tempatnya bekerja dengan bantuan Jian. Sebab, tak ada cara lain. Mika tidak ingin rencana besar kali ini gagal. Setidaknya dia harus mencoba, meski hasilnya kelak tak membahagiakan, setidaknya ada usaha yang telah dilakukan. Itu menjadi prinsip hidupnya.
Gadis satu itu terlalu logis dan tegas dalam melakukan satu hal yang berhubungan dengan menangkap penjahat.
***
Dia ingin pulang dan bercerita tentang apa yang dilihatnya pada orang dewasa. Namun, sang nenek tak lagi menjadi solusi yang tepat. Suasana hati wanita tua itu masih belum stabil. Cukup lama perasaanya yang terluka untuk sembuh. Meski sesungguhnya keduanya saling menyayangi.
Sesampainya di depan rumah, Eunsu yang dibanjiri peluh karena berlari di bawah paparan sinar matahari siang itu. Mencoba mengatur ritme napasnya yang terdengar memburu. Lantas, dia memilih untuk merahasiakan hal yang baru saja dilihat pada sang nenek. Tak ingin kena amuk lagi, tak ingin kena amarah lagi. Eunsu memilih diam dan berpura-pura menurut demi menyenangkan hati orang yang telah merawatnya itu.
“Nek, aku pulang!” sahut Eunsu.
Imah yang sedang menyiangi rumput liar di halaman rumahnya pun seketika terkesiap. Dia menoleh ke sumber suara, lalu menghela napas berat.
“Dari man? Apa kau sudah makan?” cecarnya pada sang cucuk.
__ADS_1
“Main, Nek!” jawab Eunsu singkat.
“Ya sudah, cuci kaki dan tanganmu, lalu makan!” titah Imah.
“Baik, Nek!”
Kali ini Eunsu mencoba bersikap manis seperti biasanya. Dia tidak mau neneknya mengetahui semua beban yang ada dipikiran. Beban yang tak jauh dari rasa rindu akan kasih sayang orang tuanya, yang sempat dekat. Namun, kini menghilang.
Eunsu bergegas menuju rumah, karena rasa panas dan gerah sudah tak tertahan. Gadis kecil itu memilih untuk membersihkan diri terlebih dulu. Dia mencuci wajah dengan sungguh-sungguh karena tidak ingin terlihat lusuh. Setelah itu, dia berganti pakaian dan mengenakan gaun lainnya yang kondisinya nyaris serupa, lusuh dan terlalu ketinggalan mode.
Dia tidak peduli akan hal itu, yang penting untuknya baju itu masih layak dan melindungi tubuhnya dari panas dan dingin cuaca bumi. Sejurus kemudian, Eunsu menyendok nasi dari dalam mejikom usang dekat TV, lalu dia menyalakan TV. Setelah TV menyala, Eunsu mengambil lauk yang Imah simpan di rak reot di ruangan yang disebut dapur.
Setelah makanan siap, Eunsu kembali ke ruangan tempat menonton TV dan makan di tempat itu. Matanya asyik memandangi layar bergambar yang menayangkan serial animasi kesukaannya. Sesekali, alisnya bertaut karena memikirkan alur cerita dalam tontonannya itu, sesekali pula dia tertawa sebab scene lucu di dalamnya.
Mendengar keriangan Eunsu telah kembali, Imah tersenyum tegar. Kini, terbersit sesal dalam hatinya. Tak seharusnya dia menghukum Eunsu begitu keras, yang seharusnya dia lakukan justru memberinya penjelasan agar dia mengerti.
Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada cara lain selain menikmatinya dengan menambahkan toping pelengkap ke dalam mangkuk porsi masing-masing.
“Hahaha!” tawa renyah Eunsu kembali terdengar.
Dunia mungkin tak akan gelap, segelap sebelumnya. Masalah dengan orang terdekat, sebetulnya harus segera diselesaikan. Namun, terkadang, orang dewasa lebih egois dan merasa benar. Bahkan, tak jarang seorang bocah bisa mengajarkan pelajaran berharga yang dilupakan orang dewasa. Memaafkan tanpa membenci dan membuat bekas di hati.
”Maafkan nenek, Nak. Nenek hanya tidak ingin kau mengkhianati ibumu, cukup ayahmu saja.”
Imah berucap lirih seraya menyeka air mata yang menetes dari sudut mata yang terhalang kerutan itu.
__ADS_1
***