Real Dad

Real Dad
Belum Saatnya


__ADS_3

“Kau mengumpat? Padaku?” cecar Lam seraya menunjuk dirinya.


“Ups!” Eunsu dengan spontan menutup mulut, dilanjutkan dengan senyum canggung.


“Waah, sepertinya kau akan menjadi gadis berandalan seperti si kadal ini,” ujar Lam seraya mendelik ke arah Andra.


“Apa? Kenapa aku? Huh!” tepis Andra seraya memelototi Lam.


Eunsu melenguh, menghela napas seraya menggeleng, gadis itu sepertinya lebih dewasa dibandingkan dengan kedua pria cukup umur yang berada tepat di hadapannya.


“Paman!” seru Eunsu mencoba menghentikan perdebatan antara Lam dan Andra.


Akan tetapi, suaranya tak mampu melerai pertarungan sengit keduanya. Lam dan Andra terus beradu argumen. Kelakuan mereka membuat Eunsu jengah dan kesal. Wajahnya merengut karena kedua pria itu tak mengindahkannya. Hidung Eunsu kembang kempis dan wajahnya mulai memerah.


Sejurus kemudian, Eunsu meraung menangis kembali. Sungguh suasana yang membuat penat selain teriakan kedua pria arogan itu, ditambah dengan tangis sedu sedan seorang bocah kecil.


Namun, kejadian itu tak berlangsung lama. Lam dan Andra terkesiap saat mendengar tangisan Eunsu begitu memekik dan disahuti erangan gagak di yang melayang di langit senja. Sontak saja hal itu membuat keduanya bungkam.


Lam dan Andra mematung seraya menatap Eunsu yang larut dalam tangis. Tepat ketika keduanya akan menghampiri dan menenangkan Eunsu seperti saat tadi, dengan cepat Eunsu berbalik badan dan berlari tanpa berkata apa pun lagi.


“Hei, Bocah!” teriak Lam memanggil Eunsu.


Eunsu tak mempedulikan panggilan Lam, dan terus berlari. Seolah tak memiliki kesungguhan, langkah kaki Lam mendadak kaku dan mengurungkan niat untuk mengejarnya.


“Eunsu, Bang! Panggillah dia dengan namanya, kau ini tidak bijak!” rutuk Andra.


Wajahnya menyiratkan kekecewaan, karena Lam masih sama seperti biasanya. Dia tidak peka terhadap perasaan seseorang, apalagi perasaan seorang gadis. Cara berpikir Lam terlalu rumit sehingga sulit disentuh oleh sikap manja wanita, sekalipun itu anak kecil.

__ADS_1


“Eunsu ...,” lirih Lam seraya mengembuskan napas.


“Telat, Bang, dia udah lari,” seloroh Andra, kemudian dia berbalik badan dan beranjak meninggalkan Lam yang masih termangu.


Beberapa saat kemudian, Lam menyusul Andra setelah puas memandangi bayangan dan jejak Eunsu. Lagi, perasaan aneh itu kembali hadir dalam benaknya. Dadanya terasa sesak dengan detak jantung yang memburu. Sontak Lam meremas dada bagian kiri, sebab rasanya bagai terhimpit benda berat. Erangan kecil kerap terlontar saat gemuruhnya terasa berlebihan.


Setelah puas meremas dada bidangnya itu, Lam meninju pelan mencoba meredakan ritme jantung yang melonjak sembari menyusul Andra yang sudah hilang ditelan jarak.


***


Eunsu sampai di rumah, didapatinya Imah tengah mondar-mandir di teras menunggu kepulangannya. Eunsu melihat kecemasan sang nenek dari kejauhan, lantas dia mengusap kedua pipi hingga kering dan mencoba menyunggingkan seulas senyum manis pada sang nenek.


“Nenek, aku pulang!” teriaknya sesaat sebelum sampai di depan rumah.


“Dari mana kamu? Nenek cemas!” ucap Imah seraya menyambut sang cucu.


“Kan Eunsu dah izin mau main sebentar,” sahut si Bocah dengan seulas senyum getir.


“Eng-gak-Kok!” Eunsu tergagap seraya memalingkan wajah.


Tentu saja hal itu membuat Imah curiga, dan mengerti jika sang cucu telah berbohong padanya. Dia mendengkus kesal sebab Eunsu sudah pandai berkilah dan membantah. Emosinya mencuat tatkala dia mengingat dengan jelas bagaimana tangisan sang anak saat kabur dari pria yang disebut sebagai suami, tetapi tak pernah berusaha memperjuangkannya kembali.


“Kau mulai berbohong pada nenek?” tanya Imah dengan nada sedikit menekan.


Nada bicara itu membuat Eunsu terperanjat, Imah yang begitu lembut menyikapinya, dirasa berbeda kali ini. Eunsu bergeming seakan tidak percaya atas sikap Imah.


“Aku-aku—”

__ADS_1


Eunsu mencoba mengungkapkan sesuatu, tetapi dia tak kuasa saat melihat wajah Imah yang terasa asing.


“Kau tahu bagaimana pria itu meninggalkan kau dan ibumu dalam kesengsaraan seperti ini? Huh! Membuat nenek tua sepertiku harus berjuang untuk menghidupi dan merawatmu! Sampai ibumu saja pergi karena enggan melihatmu! Tahu tidak?” sungut Imah saat melihat wajah polos itu semakin terlihat mengakui kebohongannya.


“Nenek ...,” lirih Eunsu, tubuhnya sedikit tersentak saat mendengar teriakan sang nenek.


“Kenapa kau tidak mendengarkan, kenapa kau malah pergi padanya? Kau ingin aku mati? Huh!” kelakar Imah yang benar-benar murka.


Wanita tua itu sudah tidak terkendali lagi, dia benar-benar kecewa pada apa yang dilakukan Eunsu. Padahal, itu hanya nalurinya sebagai anak yang merindukan sosok sang ayah. Imah ketakutan, jika Eunsu lebih memilih bersama Lam dan meninggalkannya. Lantas, suatu hari Eunsu akan ditinggalkan oleh Lam–seperti Hana kala itu.


Eunsu tak mengerti pasti apa yang Imah katakan, tetapi dia tahu jika Imah benar-benar telah murka padanya. Eunsu menangis lagi, bahkan saat dia berpura-pura baik-baik saja setelah kehilangan satu-satunya kenangan dari orang tuanya itu. Tak banyak yang diinginkan gadis kecil bermata bulat tersebut, dia hanya ingin memiliki sebuah memori hangat antaranya dan sang ayah meskipun nantinya tak bisa bersama.


Tidak pernah terbersit sedikit pun untuk menyakiti sang nenek yang sudah bersusah payah membesarkannya sejak dia masih bayi. Namun, pemikiran orang tua terkadang sedikit berlebihan dan membawa masalah menjadi lebih besar dari pada semestinya.


“Maaf nenek ....” Begitu ringan ucapan itu keluar dari bibir mungil merah muda tersebut.


Dia tidak menyangka jika tindakannya akan berdampak seburuk itu. Terkadang orang dewasalah yang harus belajar pada anak-anak yang tidak pernah berpikir buruk dan melakukan apa pun yang mereka mau, mencobanya, lantas melupakan dengan cepat meski hasil yang didapat mengecewakan.


Imah masih terhanyut dalam emosi, dia dijejali amarah yang meluap-luap hingga kata-kata kasar pun kerap menghujani Eunsu. Raung tangisan Eunsu tak menghentikannya untuk terus meluapkan kekesalan. Sampai pada akhirnya, Naya melewat tepat di depan rumah tua itu. Pendengarannya menangkap sesuatu yang tidak biasa.


Sontak hal itu membuat langkahnya terhenti, hatinya tergerak untuk masuk ke rumah itu dan mencari tahu apa yang terjadi. Akan tetapi, sesaat sebelum dia melangkah lebih jauh, pemikiran lain mengusiknya, hingga dia pun mengurungkan niat dan berbalik arah. Mencoba acuh tak acuh dengan apa yang didengarnya.


Naya pun telah sampai di rumahnya yang tidak jauh dengan rumah Imah. Pikirannya masih semrawut menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya. Namun, yang mengusiknya bukanlah hal tersebut. Akan tetapi, ada suatu hal yang menjadi beban untuknya.


Naya membanting tubuh ke atas kasur, melepaskan penat setelah seharian bekerja di toserba. Gadis seusia Hana yang masih terlihat seperti gadis belia itu memilih untuk melajang dan menunda niat untuk menikah. Dia ketakutan kegagalan yang terjadi pada sahabatnya terulang padanya.


Dia mendengkus beberapa kali sembari mengusap wajah guna menghilangkan penat. Entah kenapa teriakan Imah saat tadi masih terdengar jelas di telinganya.

__ADS_1


“Hana kembalilah, berhenti egois, keadaan sudah tidak stabil lagi,” gumamnya, lantas memejamkan mata.


***


__ADS_2