Real Dad

Real Dad
Bab 30


__ADS_3

“Musaaang, gimana ini? Itu polisi Rhoma masih ngejar kita,” rengek Andra.


“Suuzhon mulu, siapa tahu aja Rhoma sedang cari Ani-nya,” seloroh Musang dengan wajah tanpa beban.


“Astaga, berhenti bahas itu dulu woi, ini Rhoma beneran!” geram Andra dengan wajah penuh kekesalan.


Dia benar-benar gusar saat ini, seorang polisi menjadi momok yang menakutkan untuknya. Di masa lalu Andra pernah mengalami hal buruk tentang polisi. Oleh sebab itu, ketakutannya saat ini terkesan berlebihan.


“Tenang dulu, Kadal! Semakin kau takut, polisi akan semakin mendekati,” celoteh Musang masih tampak tenang.


“Aku takut, jir! Sama halnya dengan kau yang takut sama ayam punya bayi,” berang Andra pada Musang yang terlihat menyepelekannya.


“Ayam punya bayi?” Musang mengerutkan kening, setelah menyadari Andra memprotes, ”induk ayam, bego! Ribet banget bahasamu!”


“Sama aja, ayam kagak mungkin disebut induk kalau kagak punya bayi!” teriak Andra tidak terima.


“Ya, tapi bayi itu sebutan untuk anak yang dilahirkan bukan ditetaskan!” Musang tak mau kalah.


“Ah, bodo amat, persetan! Trus itu si Rhoma gimana?” Lagi-lagi Andra merasa jiwanya terancam.


“Ya, biarin aja, masa harus dijual ke David!” celetuk Musang.


Andra mendengkus, dia benar-benar ketakutan pada polisi itu. Namun, seiring dengan rasa takutnya dia terus saja memantau pergerakan si polisi dari spion.


“Kau takut atau ngefans, sebetulnya?” cecar Musang keheranan.


“Berisik!” ketus Andra seraya memalingkan wajah.


Musang berdecih seraya tersenyum simpul. Lalu, dia menggeleng merasa heran pada diri sendiri, kenapa bisa terjebak dengan pemuda gila seperti Andra. Setelah Andra tenang dan tak melulu mengacuhkan tentang polisi yang masih ada di belakang itu. Musang kembali memeriksa ponselnya.


Manik matanya tak mendapatkan apa yang diharapkan, layar ponsel itu masih bersih dari notifikasi pesan atau panggilan. Musang mendengkus, melepaskan segala kekhawatirannya.


“Apa? Kenapa?” cecar Andra yang mendengar Musang seolah terbebani sesuatu.


“Apanya?” Alih-alih menjawab, Musang justru balik bertanya.


“Itu, baru saja kau mengela napas,” jawab Andra.

__ADS_1


“Istriku ...,” ucap Musang malas dan tak melanjutkan perkataannya.


“Marah?”


Musang mengangguk, lalu berkata, “Sejak tadi aku telepon enggak jawab, trus enggak ada nelepon balik juga.”


Kali ini Andra yang mengela napas, dia ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Musang dan sang istri.


“Bang Lam juga bilang, katanya wanita memang inginkan pria baik-baik, pria seperti kita hanya disukai di drama saja,” tutur Andra.


“Ya, aku pun paham, tapi kau tahu sendiri, cari kerja baik-baik itu susah, kalau bukan karena Lam, mungkin aku sama dia udah jadi gelandangan,” jelas Musang.


“Tapi, kita juga gak mungkin terus ada di dunia seperti ini ‘kan, Bro? Aku juga ingin hidup lebih baik, menikah, punya anak dan hidup normal,” ujar Andra tampak dewasa.


“Wah, kau tumbuh besar dengan cepat rupanya, hahaha,” ledek Musang.


“Ish, kau ini ... Ck!” gerutu Andra.


Karena asyik mengobrol, keduanya tak menyadari jika polisi yang dianggap mengikuti, sekarang telah hilang tanpa jejak. Entah ke mana perginya perwira itu, mungkin saja memang benar dia sudah menemukan Ani-nya kali ini. Musang terus melaju kencang, perjalanan begitu lancar tanpa hambatan.


Akan tetapi, di tengah perjalanan tiba-tiba suara asing yang berasal dari dalam pabrik penggilingan segala hal yang dilahap mulut pria bermata sipit itu berbunyi kencang. Sontak, Musang menoleh ke arah sumber suara.


“Speaker masjid satu kabupaten, aku makan! Puas?” berang Andra.


“Hahaha! Ya sudah kita cari makan dulu, kasian cacingmu pada demo, udah kayak mahasiswa aja, demo-demoan!” ledek Musang.


“Iyalah cari makan, masa mau ikut-ikutan cari Ani,” seloroh Andra seraya menepuk jidat.


“Ppft!”


***


Di malam harinya, Mika bersiap untuk pergi ke kantor. Sebab, di sedang dalam masa skors, otomatis detektif wanita itu kini tidak memiliki akses untuk memasuki kantornya. Namun, tak habis akal, dia dan Jian bekerja sama. Dimulai dari Jian yang menggantikan seorang petugas pelaksana piket malam ini, sesaat dia mendapat pesan dari Mika.


Dengan begitu, Mika dapat dengan leluasa memasuki gedung kantornya. Sebelum rencana dimulai, Jian menyabotase cctv agar kedatangan Mika tidak ketahuan oleh para atasan. Tak lama, setelah dia selesai menyabotase cctv, deru mobil Mika terdengar.


Padahal, Mika sengaja memarkir mobilnya sedikit jauh dari gedung kantornya itu, agar rencananya benar-benar mulus tanpa cacat sedikit pun. Bagi Mika ini kesempatan besar yang tak ingin disia-siakan. Terlebih jadwal piket hanya dilakukan selama sekali dalam seminggu. Tak ada waktu baginya.

__ADS_1


Mika dengan setelan hitam-hitam lengkap dengan topi yang menutupi wajah, bergegas menuju kantor yabg disambut dengan Jian di ruang kerjanya dan sudah mempersiapkan semua yang diminta.


“Kapten, cepat!” Sedikit berbisik dia memberi kode pada Mika yang baru saja sampai di koridor.


“Ya, kau melakukan tugas dengan baik, Ji, thanks, ya!” puji Mika dengan suara yang sama.


“Oke!” gumam Jian seraya menautkan ibu jari dan telunjuk, serta membiarkan tiga jari lainnya berdiri tegak.


Semua lampu dimatikan untuk meminimalisir risiko ketahuan. Hanya cahaya dari lampu jalanan yang merambat melalui kaca jendela tanpa tirai itu menjadi penerangan. Sedikit terbantu oleh sinar biru dari layar komputer di meja Mika. Setengah berlari Mika menuju komputernya. Sementara Jian pergi berpatroli setelah memastikan Mika sampai di tujuan.


Dengan tergesa Mika membuka akun yang terhubung dengan situs perdagangan gelap itu. Dengan cepat dia mengetik pesan balasan pada si pengirim dengan nama pengguna 'anomaly'.


“Jadi, kapan kau bisa?” Tulis Mika pada pesan balasan.


Pesan sudah terkirim, tetapi tak kunjung dibaca dan dibalas. Mika celingukan takut akan ada seseorang datang memergokinya. Bahkan, dia akan segera menengok ke luar jendela yang ada tepat di belakangnya tatkala mendengar suara mobil terparkir. Padahal, hanya beberapa kendaraan yang singgah untuk memutar arah ataupun kepentingan lainnya.


Sekali lagi, dia memeriksa pesannya. Masih belum ada tanda-tanda pesan masuk untuknya. Mika gemetar, pelipisnya sudah dipenuhi keringat sebesar biji semangka yang keluar dari tiap pori-pori di kulitnya. Meskipun ragu, apakah wajah gadis itu memiliki pori-pori atau tidak. Sebab, kulitnya tampak licin seperti perosotan paud yang disirami minyak goreng.


Ting!


Akhirnya, nada pesan masuk dari perangkatnya pun memberikan angin segar untuk harapannya yang nyaris kandas ditelan bunglon piaraan spongebob. Apa? Bukankah bunglon yang itu hobinya tidur. Ah, entahlah. Setidaknya kini Mika tersenyum simpul.


Ketegangannya seketika menghilang. Dia berkonsentrasi membalas pesan itu, dengan cukup hati-hati agar misinya benar-benar berhasil.


“Besok malam, bagaimana?” gumamnya membaca pesan masuk di surel tersebut.


Mika berpikir sejenak, dia tidak ingin buru-buru dan harus melakukan negosiasi agar terlihat nyata untuk mereka.


“Itu terlalu cepat, Bung, aku harus mempersiapkan segalanya agar tidak mengecewakan,” tulis Mika.


“Baiklah, apakah dua hari setelah ini, cukup?” Pesan dari si Anomaly.


Mika menggaruk dan mengacak rambutnya, dia ragu akan keputusannya, tetapi tidak ada pilihan lain. Namun, dia juga perlu berpikir terlebih dulu.


Di sisi lain, saat Jian berpatroli di pintu belakang. Betapa terkejutnya dia saat ada seseorang yang sangat dikenalinya masuk begitu saja melalui pintu belakang. Alih-alih menyapa, Jian justru bersembunyi di balik dinding. Lantas, mematikan senter.


Dengan cepat dia mencoba mengirim pesan teks pada Mika. Namun, tak kunjung terkirim. Tak habis akal, dia mencoba menelepon Mika. Akan tetapi, tak mendapat jawaban.

__ADS_1


“Gawat,” dengkusnya seraya mematung tanpa tahu harus berbuat apa.


***


__ADS_2