
Musang menggantikan Andra menyetir mobil. Awalnya mereka berencana untuk pulang ke kota K. Akan tetapi, rencana berubah seketika. Mereka berbalik arah menuju tempat Lam menjalankan misi. Hal itu berjalan taktis. Diperkuat dengan keadaan Lam saat dia menelepon dan membuat keduanya khawatir.
Sementara Andra tertidur di sebelah Musang. Wajahnya terlihat begitu lelah membuat Musang tak tega untuk mengusiknya. Dia terus mengemudi melaju di jalanan yang lumayan padat, tetapi tidak sampai macet.
Dengkuran halus terdengar bersahutan dengan deru mobil, tidurnya terlihat nyenyak seperti bayi. Tanpa beban dan pikiran. Sementara Musang yang bosan sebab tak ada yang menemaninya mengobrol. Dia memilih untuk melakukan panggilan video pada sang istri. Ternyata hanya dia yang pantas disebut pria sejati di antara ketiganya.
Tut! Tut! Tut!
Nada sambung pertanda panggilan terhubung pun terdengar. Namun, setelah beberapa kali nada itu berbunyi, panggilan tak kunjung dijawab oleh sang istri. Padahal, Musang ingin memberi tahu jika dia tidak bisa pulang cepat dan dalam misi penting.
“Ke mana dia?” gumamnya.
Merasa panggilannya tidak dijawab, Musang menjadi penasaran. Lantas, dia mencoba menelepon kembali sang istri. Akan tetapi, panggilannya belum juga terjawab. Hal itu membuat Musang gusar, dia khawatir hal buruk menimpa wanita yang dicintainya.
Fokus Musang kini terbagi, hingga membuatnya lengah dan menerobos lampu merah. Dia tidak sadar akan hal tersebut. Ironisnya jalanan saat itu tengah lenggang. Musang masih melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Akan tetapi, pelanggarannya menerobos lampu lalu lintas dan terekam CCTV itu membuat salah satu petugas polisi lalu lintas mengejar mobil mereka.
Awalnya musang masih acuh tak acuh, sampai motor patroli seorang polisi menyalipnya dan memberi kode untuk berhenti. Sontak, Musang menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Andra yang tengah tertidur pulas pun tersentak dan tubuhnya terbanting ke depan hingga nyaris menyentuh dashboard van hitam itu. Untung saja sabuk pengaman berhasil menyelamatkan wajah tampannya dari ciuman mesra dashboard mobil.
“Aish, Berandal ini. Apa yang kau lakukan, Pak tua?” umpat Andra.
“Sorry, sorry ada polisi!” sahut Musang seraya mematikan mesin mobil.
“Apa? Kenapa bisa ada polisi?” cecar Andra yang masih setengah mengantuk.
“Entah, tadi aku lagi fokus ke hape, tiba-tiba polisi udah ada di depan,” tutur Musang seraya mengernyitkan dahi.
“Kau ini ...,” dengkus Andra kesal.
Musang tersenyum kaku, menyiratkan penyesalan.
“Ada apa dengan wajahmu?” cecar Andra saat mendapati wajah musang semrawut.
“Nanti saja aku cerita, sekarang kita harus menghadapi jagoan di depan kita dulu,” jawab Musang mengingatkan Andra.
“Ah, iya, Pak Polisi, hampir lupa,” sahut Andra.
Tak lama kemudian polisi tersebut menghampiri mobil keduanya, lantas mengetuk jendela mobil beberapa kali. Musang menurunkan kaca jendela, kemudian tersenyum ramah.
__ADS_1
“Selamat sore, Pak!” sapa si polisi yang masih mengenakan helm dan kacamata hitam itu.
“Selamat sore, ada yang bisa kami bantu, Pak!” Musang menjawab dengan bahasa lugas dan tenang.
Dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya, bagaimana tidak takut. Secar sesuatu yang dilakukan mereka berdua adalah hal ilegal, tentu saja salah satu yang harus dihindari adalah polisi.
“Boleh, lihat SIM dan STNK-nya, Pak?” pinta si petugas dengan sopan.
“Oh, tentu, Pak!” jawab Musang tanpa berpikir panjang seraya menyodorkan SIM yang dikeluarkan dari dompet berlogo salah satu merek import.
Musang menoleh ke arah Andra, memberikan isyarat untuk mengeluarkan STNK. Tak butuh waktu lama, Andra pun mengerti. Gegas dia merogoh dompet dan mengeluarkan dokumen yang dimaksud.
Setelah menerima dokumen yang dipinta, petugas pun memeriksa dengan saksama, sontak dia terheran saat membaca nama SIM yang dipegangnya.
“Musang?” tanyanya keheranan.
“Ya, itu saya, Pak!” sahut Musang.
“Itu sejarahnya, orang tua pria ini adalah pemburu, Pak, mereka bisa menangkap hewan apa pun kecuali musang, maka dari itu mereka menamai anaknya Musang,” timpal Andra.
“Apa yang Anda tertawakan?” selidik Musang dengan wajah yang serius.
“Maaf?” Polisi itu terkejut, lantas membalas tatapan Andra.
“Anda tidak percaya dengan silsilah keluarga saya? Anda pikir ini lelucon?” cecar Musang mencoba mengelabui petugas di depannya.
“Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu,” ucap polisi itu dengan tulus.
“Tapi Anda sudah berhasil menyinggung perasaan saya,” jawab Musang bersandiwara.
Nyaris, Andra tak mampu menahan tawa. Bisa-bisanya pria berkumis tipis itu mengerjai seorang perwira polisi.
“Tega kau Rhoma, tega!” lanjut Musang dengan nada seperti dialog dalam drama serial yang kerap ketiganya tonton saat kegabutan melanda.
“Bu-bu-kan begi-tu ....” Polisi tersebut mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Akan tetapi, kegilaan musang untuk mengalihkan petugas tersebut lagi-lagi membuat sang perwira kehilangan fokus dan lupa akan tujuannya.
__ADS_1
“Bohong!” sentak Musang, “Pak Rhoma, jahat!” lanjutnya.
Awalnya Andra mengira hanya sedang bermain-main dengan menyebut perwira itu dengan nama Rhoma. Namun, setelah dia menyembulkan kepala dan memeriksa papan nama sang petugas, dia dibuat terkejut sekaligus geli. Namanya benar-benar Rhoma, tetapi petugas tersebut masih terlihat sangat muda.
“Rhoma! Apakah kau akan melakukan ini pada kami? Fans beratmu?” seloroh Andra.
Petugas tersebut semakin kebingungan, karena kedua pria yang dihadapinya benar-benar hilang akal sehat. Tak ingin terus dibuat bingung, petugas itu menyerahkan kembali dokumen yang sebelumnya dia pinta.
“Silakan lanjutkan perjalanan, Pak. Lain kali jangan menerobos lampu merah, ya,” ujar si polisi dengan raut wajah kesal karen telah dipermainkan.
Akan tetapi, melihat kedua pria yang badannya tinggi tegal dengan otot-otot bisep yang tampak di balik lengan kemeja itu, polisi tersebut memilih memberikan peringatan saja pada keduanya.
Seketika senyum keduanya mengembang, jelas saja tipu daya mereka berhasil. Sebuah kebetulan mampu membuat keduanya menghindar dari pemeriksaan lebih lanjut.
“Terima kasih, Rhoma, selamat bertugas kembali, Ani sudah menunggumu,” seloroh Musang dengan gaya jadul itu.
Tak lama setelahnya, dia menutup kembali jendela. Lantas, menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas perlahan. Setelah cukup jauh mobil melaju, tawa keduanya pecah. Mereka terbahak seraya meracau dan sesekali menoleh ke belakang, melihat reaksi si perwira tadi.
“Dosa loh, udah ngisengin polisi," seloroh Andra.
“Ah, kau juga ikut-ikutan!” jawab Musang.
“Gimana kalau dia ngejar kita terus? Bisa brabe,” ujar Andra khawatir.
Dia mendapati motor polisi tersebut masih mengikuti mobilnya. Rasa cemas pun menghampiri keduanya. Terlebih, tujuan mereka adalah tempat di mana akan terjadi transaksi besar.
“Gimana ini?” keluh Andra cemas.
Musang pun terdiam, sesekali dia menengok ke arah spion dashboard, hanya beberapa kali dengkusan yang dilontarkan sebagai jawaban. Andra yang semakin panik karena polisi tersebut masih mengikutinya pun kesal.
“Woi, Musang!” sentak Andra seraya meninju lengannya.
“Apa kadal? Ini aku lagi nyetir, bentar mikir dulu,” sahutnya masih dengan nada tenang.
“Aish ...,” desis Andra.
***
__ADS_1