
Degup jantung bagai genderang perang. Malam yang ditunggu kini sudah tiba, tepat pukul 22.00 nanti semuanya akan menjadi jawaban bagi masa depan beberapa orang.
Lam masih pura-pura tidak mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi. Dengan patuh dia menuruti apa yang diintruksikan Steve. Semua orang bergegas menuju mobil, mereka mengawasi dari jauh transaksi itu. Lam dengan tenang menunggu kedatangan Mika. Tanpa ada yang menyadari ternyata Andra dan Musang sudah mengawasi tempat itu sejak beberapa jam lalu.
Keduanya merasa heran ketika menyaksikan beberapa orang berbondong menuju mobil sementara dia tak mendapati Lam di antaranya. Andra mulai gusar dan ingin mencari tahu. Akan tetapi, Musang mencegahnya. Tidak baik bertindak ceroboh dalam situasi seperti ini.
“Tunggu sebentar!” cegah Musang.
“Kenapa?” tanya Andra.
“Kau di sini saja! Biar aku yang menyelinap ke dalam, kau terlalu ceroboh untuk itu,” usul Musang.
Setelah beberapa saat tafakur, Andra akhirnya menerima usul Musang. Tak ada salahnya, selama ini Musang memang cukup piawai untuk mengendap-endap ke tempat baru. Andra mengangguk sebagai isyarat persetujuan. Tanpa banyak ba-bi-bu Musang bergegas masuk ke kedung tersebut melewati bagian samping.
Mobil Van yang terparkir dan memiliki banyak orang itu begitu tenang, bahkan nyaris terlihat tanpa seorang pun di dalamnya. Andra merasa benar-benar ada yang tidak beres di mobil tersebut.
Tak lama setelah memastikan Musang aman. Terdengar deru mobil yang mendekati mereka, lantas berhenti tepat di depan gedung tersebut. Lalu, fokusnya teralihkan pada seseorang yang turun dari sedan silver yang baru saja berhenti itu.
Dalam kegelapan Andra berusaha memindai dan menerka siapa dia sebenarnya. Namun, sosok tersebut tak mampu dia kenali, pandangan beserta ingatannya merasa asing. Pandangannya tak lepas dari gerak-gerik orang itu.
“Sepertinya dia wanita,” gumam Andra masih menatap orang tersebut dengan saksama.
Terlihat olehnya, samar-samar rambutnya tergerai. Meski penampilannya cukup menyamarkan , tetapi Andra tahu pasti dia wanita. Ya, memang dia wanita, jelas-jelas dia adalah Mika.
Sejurus kemudian, setelah Mika mengambil kantong besar dari bagasi. Dia melenggang ke dalam gedung. Di sanalah Andra baru menyadari jika dia adalah klien yang dimaksud oleh David selama ini.
“Wah, dia si dua juta Dollar,” decak Andra seraya menunjuk ke arah Mika.
Mika pun menghilang ditelan kegelapan mulut gedung tua yang memang tanpa pencahayaan bagus itu. Andra lantas turun untuk menyelidiki lebih lanjut. Namun, yang dia selidiki bukan gadis yang dilihatnya melainkan mobil van yang terparkir di depan gedung.
Andra perlahan menghampiri van itu. Dari bali kaca jendela dia mencoba mengintip ke kedalaman mobil. Manik matanya menangkap beberapa orang sedang memogram sebuah konektor. Hal yang dilihatnya membuat dia mengernyitkan dahi. Berusaha menyelami apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Sejurus kemudian dia mencoba kembali ke van miliknya, berjalan mengendap-endap dalam kegelapan berusaha tidak ketahuan. Lantas, dia mencoba menghubungi Musang yang tak kunjung memberi kabar. Panggilannya tak juga mendapat jawaban.
Tepat saat Andra sampai di pintu mobil, seseorang menepuk pundaknya. Hingga membuat pria berwajah tirus itu kaget bukan main. Dengan refleks dia melakukan gerakan pertahanan. Namun, ternyata, orang yang dilawannya itu adalah Musang.
Musang sengaja tak bersuara dan melakukan gerakan senyap, karena dia mendapati ternyata orang-orang di sana lebih banyak dari perkiraan mereka berdua.
“Ssstt!" desis Musang seraya membekap mulut Andra.
“Aiu au ai aw aiai awu awuao,” racau Andra tidak jelas apa yanh diucapkan karena mulutnya tertutup.
__ADS_1
“Diam dulu, dan masuk!” tukas Musang.
Setelah mendengkus, Andra pun menuruti perintah Musang. Dia kembali masuk van dan menunggu penjelasan Musang.
“Ada apa?” cecar Andra tidak sabar.
“Sepertinya ini misi pembersihan, kau tahu gedung ini milik siapa?” Musang menjawab rancu.
“Yang aku tahu ini milik seseorang yang berpengaruh di kota ini, ada apa? jelaskan yang benar!” desak Andra.
“Begini, aku melihat peledak di sekitaran gedung tempat transaksi, peledak jarak jauh. Ruangan yang menjadi pusat adalah ruangan yang kini menjadi tempat transaksi,” jelas Musang.
“Jadi, Bang Lam dalam bahaya, dong?” Andra terperanjat.
“Dia bisa hancur berkeping-keping, jika tidak tahu hal itu. Sepertinya Lam memang tidak diberi tahu. Seandainya dia tahu, bukankah harusnya dia memberi tahu kita? Atau mungkin Lam ingin bunuh diri?” seloroh Musang.
“Jangan ngaco!” sanggah Andra, “kau tahu Bang Lam begitu loyal pada David, jadi dia akan lakukan apa pun untuk David,” lanjutnya.
“Itulah kelemahannya, makanya dia diperalat, sampai-sampai dia tak memiliki siapa pun kali ini,” gerundel Musang.
“Sudah itu enggak penting, yang terpenting, bagaimana kita bisa menyelamatkan Bang Lam?” tepis Andra khawatir.
“Kita harus menemukan konektornya dan menonaktifkannya,” jelas Musang.
“Karena ini peledak cukup banyak, mungkin menggunakan kendali otomatis. Bisa seperti sebuah koper kecil dengan berbagai tuas,” tutur Musang.
“Kurasa aku tahu di mana benda itu berada,” jawab Andra seraya menatap lekat ke pandangan Musang.
“Di mana?” tanya Musang penasaran.
Andra menunjuk van yang ada di depan mobil mereka. Musang pun berpikir bagaimana cara untuk mematikan konektor tersebut.
***
Sementara di dalam gedung, Lam yang sudah menunggu cukup lama akhirnya bertemu dengan Mika. Akan tetapi, wajah Mika tak tampak jelas. Dia mengenakan topi dan kaca mata hitam hingga wajahnya tak terekspos. Sementara Lam sesuai anjuran Steve dia tak mengenakan penutup wajah apa pun. Sehingga Mika mampu dengan leluasa melihat wajah Lam.
“David?” tanya Mika.
“Ya!” sahut Lam singkat.
“Apa kodenya?” tanya Mika menanyakan sesuatu yang memang hanya David dan dirinya yang tahu.
__ADS_1
“Gula-gula, cokelat batangan, dua juta dollar!” jawab Lam dengan tepat.
“Oke, kartu identitas?” kata Mika masih meragukan Lam.
Tanpa basa-basi Lam pun merogoh saku celana, dia mengambil benda persegi panjang yang bisa dilipat, kemudian dia mengambil sebuah kartu biru muda dan menunjukannya pada gadis di hadapannya.
Kartu tanda penduduk itu merupakan kartu palsu untuk mengelabui dan meyakinkan Mika. Setelah melihatnya Mika pun tersenyum miring seolah mendapat kepuasan.
”Oke, mana barangnya?” tanya Mika.
Lam pun memberi isyarat dengan bertepuk tangan dua kali. Tak lama setelah itu seorang pria ajudan Steve datang membawa sebuah koper yang berisi apa yang Mika mau.
Lam menerima koper itu kemudian membukanya dan Menunjukkan pada Mika. Setelah yakin dengan barang yang dipintanya tidak mengecwakan. Mika membuka resleting tas besarnya dan menunjukan uang yang dibawa.
“Dua juta dollar!” ujar Mika mencoba memberi tahu pada relasi sekaligus mangsanya itu.
Seketika mata Lam membelalak, melihat uang yang begitu banyak, Dia tak habis pikir sedikit pun alasan Mika untuk membeli barang haram itu.
“Oke, Deal!” ucap Mika.
Lam menyodorkan tangannya untuk bersalaman sebagai tanda kesepakatan telah sampai pada mufakat. Perlahan Mik menghampiri Lam untuk meraih lengannya. Bersamaan dengan itu dia mengeluarkan borgol.
“David, kau ditangkap atas tuduhan pengedaran obat-obat terlarang,” ujar Mika seraya mengenakan borgol di lengan Lam.
“Apa?!” Lam terkaget.
“Kau ditangkap!” geram Mika.
“Cih, ternyata karena ini.” Lam tetap tenang meski kini sebelah tangannya terborgol.
“Kau berhak untuk diam atau memanggil pengacara pribadimu dan berbicara di kantor!” ucap Mika penuh percaya diri.
Pria yang membawa koper tadi kaget, karena Mika telah menampakkan identitasnya, dia bergegas mengambil barang kembali berlari sekencang-kencangnya. Tak lama kemudian, seorang lainnya datang mengambil tas hitam yang berisi jutaan dollar tersebut.
Jika dirupiahkan uang itu akan mencapai nilai yang fantastis. Tentu saja, Mika tidak terima. Dia lantas bergegas mengejar pria-pria tadi. Mika yang tak ingin Lam kabur, dia memikirkan ide gila untuk memborgol Lam dengannya. Jadi, mau tidak mau Lam harus ikut berlari mengejar pria-pria itu.
“Percuma ini jebakan!” ujar Lam.
“Apa maksudmu, David?” selidik Mika.
Tibalah keduanya di ambang pintu ruangan. Nahas, pintu itu terkunci rapat.
__ADS_1
***