Real Dad

Real Dad
Tercekal


__ADS_3

Pagi menjelang, dunia masih berputar pada porosnya. Ada harapan di setiap pemikiran. Dunia memang hanya satu, tetapi di dalamnya tercipta dunia-dunia baru yang saling bertolak belakang. Dunia kriminal yang dicekal oleh dunia hukum dan keadilan.


Mika masih berusaha menunjukkan etos kerja untuk mendapatkan persetujuan Darma. Bukan sekali dua kali dia memohon agar operasinya disetujui. Akan tetapi, Darma masih keukeuh pada pendiriannya. Tak sedikit pun hatinya tergerak oleh usaha Mika. Sementara Ji, dia hanya bisa mendukung sang kapten, meski nantinya dia harus membantunya melakukan operasi ilegal.


Keras kepala Mika dan sikap bebalnya merupakan hal terburuk yang dimiliki gadis yang pandai bela diri itu. Apalagi, kebenciannya terhadap gangster dan gembong narkoba, menjadi alasan utama gadis bermata sipit, yang kerap dipanggil harimau betina itu.


Julukannya tercipta oleh rekan-rekannya, karena dia sangat pemberani dalam resiko apa pun. Namun, di sisi lain tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti hal itu yang akan membuatnya terpojok.


“Pak, kumohon tandatangani surat perintahnya saja, Pak.” Mika mengejar Darma yang baru saja turun dari sedan hitamnya.


Darma tak mengindahkan Mika, dengan berpura-pura tak melihatnya.


Mika yang bebal tak menyerah begitu saja, dia terus membujuk Darma dengan segala hal yang dia bisa. Hingga, aksinya terhenti saat Darma sampai di ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat. Sontak Mika kesal, dia melayangkan tinju ke udara kemudian memutarkan badan seraya berteriak.


“Argh!”


Setelah itu Mika menghentakkan kaki dan melenggang pergi keluar kantor dengan penuh rasa kesal. Rekan-rekannya hanya mampu menghela napas saat melihat gadis itu bertingkah gila.


Tak lama kemudian, Darma yang menyadari Mika keluar dari kantor, dia pun keluar dari ruangannya. Dari mulut pintu Darma mencoba memberi atensi pada bawahannya.


“Jika salah satu dari kalian ada yang membantu Mika, surat peringatan akan menjadi imbalannya!” kecam Darma.


Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lantas fokusnya tersita pada pemuda yang posisinya tepat dibawah Mika.


“Kau, opsir Jian, berhenti memanjakan Mika. Sekalipun dia kaptenmu! Jangan pernah kau mendengarkan ocehannya tentang misi dua juta Dollar ini, paham!” teriak Darma tanpa segan.


Ji terkesiap, tafakur beberapa saat. Sampai pada akhirnya dia menjawab, meski dengan penuh keraguan.


“Si-si-ap, laksanakan!”


“Seperti itukah hormatmu padaku?” Mendapati Ji tidak tegas dalam menjawab perintahnya, Darma pun sedikit kesal.


Tak butuh waktu lama, Ji peka, dengan cepat dia berdiri dan menjawab sekali lagi perintah Darma dengan penuh hormat. Setelah puas, Darma membalikkan badan dan kembali ke ruangannya.


“Hadeuh ...,” gerutu Ji seraya kembali duduk di kursi kejayaannya itu.


Dia meraih ponsel yang ada di meja kerjanya, dia mencoba menghubungi kontak yang bertuliskan 'Harimau Betina’ dipanggilnya kontak tersebut. Akan tetapi, setelah beberapa kali nada sambung terdengar, dia tak kunjung mendapat jawaban dari seberang sana.


Lantas tak kehabisan akal Ji pun mencoba mengirim pesan pada Harimau betina atau Mika.


[Kapten di mana kau? Kau tau pria tua itu memarahiku]


“Selesai, kirim,” gumamnya seraya menekan tombol kirim.

__ADS_1


Nahas, ibu jarinya yang eror justru mengirim pesan tersebut ke ruang obrolan para satuan petugas divisi tersebut, otomatis di ruang grup itu ada Darma. Bodohnya lagi, Ji tidak langsung menyadari.


Tak lama setelah para petugas mendapatkan notifikasi, semua pasang mata tertuju pada Ji. Seolah tak terjadi apa pun Ji bersikap masa bodoh seperti biasanya. Hingga sebuah panggilan telepon mengusik pria tinggi besar itu.


”Kapten,” lirih Ji seraya tersenyum dan menjawab panggilannya.


“Ha–”


“Apa kau bodoh? Kenapa kau mengirim pesan di ruang obrolan divisi? Apa kau sudah gila? Kau mau kehilangan pekerjaanmu?” cerocos Mika dari seberang sana.


Mendengar omelan Mika, Ji terperanjat tanpa menjawab sepatah kata pun. Dengan gemetar dia mencoba mengecek pesannya tadi. Benar saja, pesan umpatannya terkirim di ruang obrolan grup.


Raut wajahnya kini mengerut bagai siput yang menyadari sebuah bahaya. Manik matanya berputar memindai dan menyadari sorot mata tajam dari beberapa satgas tertuju padanya.


“Kapten, bagaimana ini?” rengeknya.


“Dasar bodoh!” pekik Mika, “hapus cepat!”


Ji pun mencoba menghapus pesan itu, tangannya gemetar karena gugup. Jantungnya berdegup kencang disertai rasa takut. Nahas, tepat sebelum dia berhasil menghapus pesan itu. Teriakan dari ruangan kepala divisi terdengar, menggema dan memekakkan telinga.


“Jiaaan!”


“Mampu,” rutuk Jian seraya menepuk kening, lalu menelungkupkan kepala di atas meja.


***


Dia menginjak pedal gas begitu dalam, jalanan masih cukup sepi karena sudah melewati jam-jam sibuk keberangkatan para karyawan. Sepanjang perjalanan dia terus mendengkus dan memaki Ji yang begitu teledor.


Namun, di balik itu semua Mika pun merasa harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Ji. Sebab hal itu terjadi karena Ji begitu loyal padanya. Dia tidak ingin Ji dalam bahaya, terlebih pria muda itu adalah tulang punggung sebuah keluarga.


Tak butuh waktu lama, Mika sudah sampai di kantor. Bergegas dia menuruni mobil dan berlari ke dalam gedung tempatnya melakukan tugas mulia sekaligus mencari nafkah itu. Tanpa menghiraukan apa pun, Mika bergegas ke ruangan Darma yang sudah pasti ada Ji di sana.


Tepat seperti dugaannya, di ruangan itu, Ji sedang diberikan wejangan dengan kata-kata yang cukup menusuk. Bahkan, terdengar nada ancaman dari Darma pada Ji. Terang saja, itu membuat Mika merasa tidak enak hati. Dia merasa sangat bersalah pada Ji.


Sesaat sebelum Darma mengucapkan putusan untuk hukuman Ji, Mika menyela dan menerobos masuk tanpa permisi.


“Hentikan, Pak, saya yang salah bukan Jian, biar saya yang gantikan hukumannya,” celetuk Mika tanpa ragu.


Darma membelalakkan mata, dia memelototi Mika yang benar-benar tak mendengarkan kata-katanya itu.


“Petugas macam apa yang menghina atasannya seperti itu? Huh!” sentak Darma tersulut amarah.


“Maafkan saya, Pak, semua salah saya,” aku Mika.

__ADS_1


Sontak hal tersebut membuat Ji merasa tidak nyaman, dia harus melibatkan Mika karena keteledorannya.


“Maaf kau bilang?” bantah Darma.


“Lalu saya harus bagaimana? Haruskah saya berlutut? Hanya karena masalah sepele yang dibesar-besarkan ini?” seloroh Mika.


Mata Darma semakin melebar, giginya gemeletuk dengan rahang yang mengeras.


“Kau!” geramnya kemudian.


“Apa? Anda tidak terima? Kasus seperti ini saja bisa Anda hiraukan seperti ini, padahal yang diketik Ji tidak ada yang salah, Anda memang pria tua yang memarahinya, lantas apa yang menjadi masalah?” kelakar Mika seraya membalas tatapan Darma.


“Kapten!” bisik Ji seraya memegang pergelangan tangan Mika, berusaha mencegahnya berkata hal lain lagi.


Namun, hal tersebut tak mampu mencegah Mika melakukan niatannya. Dia melanjutkan perkataan yang bertujuan untuk menjatuhkan atasannya tersebut.


“Kau menghiraukan masalah remeh-temeh seperti ini, tapi kau menolakku untuk melakukan operasi penangkapan gembong narkoba yang merusak generasi penerus bangsa ini, yang seharusnya mendapatkan pertanyaan petugas macam apa itu, Anda bukan Jian!” gertak Mika.


Benar saja, kata-kata itu membuat Darma termangu. Dia tidak bisa menjawab ocehan bawahannya. Dia marah dan juga tersinggung dengan kata-kata Mika, tetapi kata-kata itu benar adanya, sehingga Darma memilih diam dan membuang muka saja.


Seolah tak ada yang terjadi, Mika menarik lengan Ji untuk keluar dari ruangan menyesakkan itu. Membiarkan Darma larut dalam pikirannya.


***


Eunsu kini sudah berada di teras rumah, matanya sembab dan bengkak. Wajahnya sayu dan pilu. Sepertinya hati dia masih terluka dan belum bisa membaik akibat omelan sang nenek malam tadi.


Kembali Naya melewati depan rumah Imah untuk berangkat menuju toserba tempatnya mengais rezeki. Rasa bersalah terlintas di benaknya karena semalam dia tak mampu melerai pertengkaran hebat antara nenek dan cucu itu.


“Eunsu,” sapa Naya.


“Eumh,” sahut Eunsu lemas.


Naya mendapati keceriaan anak itu kini pudar, rasa bersalah pada dirinya semakin menjadi.


“Sekarang Kamis loh, Eunsu. Nanti sore datang kan?” Naya mencoba menghibur Eunsu dengan mengingatkan kebiasaannya untuk mencari roti cokelat gratis.


“Eumh,” jawab Eunsu sekenanya.


Naya tahu pasti jawaban itu pertanda jika Eunsu tidak baik-baik saja. Tak ingin mengganggunya lebih lama lagi. Naya pun pamit dan bergegas pergi. Eunsu menjawab dengan nada yang sama.


Gadis itu masih termenung dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas dia tidak baik-baik saja.


***

__ADS_1


__ADS_2