Real Dad

Real Dad
Kontak Batin


__ADS_3

Lam masuk menuju mini market itu meninggalkan Eunsu begitu saja. Dengan raut wajah penuh amarah dia menerobos kerumunan orang yang sedang mengantri.


Andra yang ada di antara antrian itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan seniornya.


"Bang Lam," desis Andra yang melihat gelagat aneh dari pria maskulin tersebut.


Kasir mini market yang kebetulan seorang gadis belia menatap ke arah Lam dengan sorot tajam, pesona Lam begitu membuatnya terkesima hingga begitu lama matanya tidak berkedip. Sementara orang-orang yang sedang mengantre itu sontak melontarkan protes karena Lam menerobos begitu saja.


"Woi Bang, ngantri dong, gak sopan banget!" teriak seorang wanita paruh baya yang menenteng sebuah keranjang penuh dengan belanjaan.


Lam mendelik tanpa berucap, sejurus kemudian Lam melempar pandangan pada gadis muda yang ada di depan mesin penghitung itu.


"Tempat roti dan susu sebelah mana?" tanya Lam.


"Di sana, Bang," jawab si gadis mendayu-dayu seraya menunjuk tempat susu dan roti yang Lam maksud.


Lam menoleh ke arah yang sama dan menuju tempat yang dimaksud.


"Oke!" jawabnya singkat.


“Ternyata hanya mau cari roti?” selidik Andra yang masih keheranan.


Akan tetapi, dia belum juga mendapatkan jawaban pasti dari pria yang sangat dikaguminya itu.


Kedua pria bersetelan ala mafia di drama Korea tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung mini market, yang kebetulan sedang ramai-ramainya. Sementara fokus Lam masih pada gadis kecil yang ditemuinya, setelah dia mengambil beberapa bungkus roti, beberapa kotak susu dan makanan ringan lainnya. Lam bergegas menuju kasir kembali dan membayar semuanya. Wajahnya masih tanpa ekspresi.


“Jika, ingin memberi, beri yang benar! Bukan makanan yang tidak layak!” sentak Lam, usai membayar.


“Maaf?” Gadis muda yang ada di balik meja kasir itu keheranan.


Lam hanya mendengkus, lantas mengambil belanjaan dengan kasar dan berlalu ke luar dari mini market tersebut. Andra yang bagai bayangan pria tinggi besar itu terus membuntuti dan melupakan tugasnya untuk membeli keperluan keduanya.


“Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Lam seraya menghentikan langkah tepat di mulut pintu mini market.


“Kupikir kau sedang tidak baik-baik saja, aku khawatir, Bang,” jelas Andra.


“Apa kau kakek tua yang mengkhawatirkan bocah di bawah umur? Sampai kau melupakan tugasmu?” sindir Lam yang mendapati Andra melupakan tugasnya itu.


Andra pun terkesiap, “Astaga! Sorry, sorry, Bang!” ucap Andra, lantas dia berbalik badan dan kembali ke dalam mini market.


Sementara Andra masuk, Lam kembali menghampiri Eunsu yang masih duduk di bangku tadi seraya menangis sesenggukan.


“Astaga apa yang telah kuperbuat, aku membuat gadis cantik ini menangis,” ucap Lam seraya duduk di dekat Eunsu.


Eunsu menoleh ke arah Lam, kemudian tangisnya semakin pecah.


“Paman jahat!” racau Eunsu.


“Sudah, jangan menangis lagi, nih sebagai gantinya!” ucap Lam seraya menyodorkan satu kantong kresek besar makanan.


Sontak tangisan Eunsu terhenti, “Waaah, ini buatku?” tanya Eunsu seraya menyeka air matanya.


Lam tersenyum simpul, menyaksikan kebahagian di wajah mungil gadis kecil berpakaian lusuh itu.


“Makanlah dengan nenekmu di rumah, dan berhenti makan roti kadaluarsa, itu bahaya untuk kesehatanmu,” tutur Lam seraya menatap hangat wajah Eunsu yang tersenyum bahagia.


“Eumh.” Eunsu mengangguk seraya menyunggingkan bibir imutnya.


“Apa aku juga boleh minta es krim?” tanya Eunsu, tanpa malu-malu.


“Tentu saja, tapi jika cuaca sedang tidak hujan,” sahut Lam.


Keduanya berbicara seolah sudah mengenal satu sama lain, Eunsu yang polos pun sama sekali tidak merasa canggung atau segan terhadap Lam. Meski awalnya Eunsu sempat kaget pada tindakan Lam, saat pria maskulin itu membuang roti yang diberikannya dengan begitu kasar. Namun, perasaan itu menghilang seketika saat gadis kecil itu mendapat hadiah yang begitu banyak dari pria yang baru saja ditemuinya.


“Gadis kecil, kau tidak takut padaku?” tanya Lam, yang mendapati Eunsu begitu santai dekat dengannya.


Eunsu menggeleng, “Paman begitu tampan, untuk apa aku takut,” jawabnya dengan mimik yang polos.


“Bagaimana jika aku seorang penculik?” tanya Lam lagi.

__ADS_1


“Untuk apa menculikku, tidak akan ada tebusan untuk membuat Paman kaya.” Lagi-lagi dengan polosnya Eunsu menyahuti pertanyaan Lam.


“Benar juga, aku akan sangat rugi, makanmu juga banyak,” ledek Lam seraya berdecih.


Eunsu tertawa mendengar gurauan Lam.


“Tapi, lain kali kau harus berhati-hati dengan orang asing, ya, gadis kecil!” ucap Lam seraya beringsut dari duduk.


Ekor matanya menangkap Andra yang hendak keluar dari mini market, dia bergegas menghampiri Andra. Untuk menghindari berbagai macam pertanyaan yang akan dilontarkan dari tangan kanannya itu.


“Kau sudah selesai?” tanya Lam.


“Yes, Bos!” sahut Andra.


”Baiklah, sekarang kita ke tempat tujuan saja!” anjur Lam.


“Tunggu sebentar, kau memberikan makanan tadi pada gadis kecil itu?” selidik Andra seraya mengangkat dagu dan menunjuk ke arah Eunsu.


“Sssh!” desis Lam seraya mendelik kesal, ”Apa sekarang kau juga akan mengurusi yang kulakukan?” lanjutnya.


Andra tersentak, dahinya mengkerut. Seolah mendapatkan suatu yang tidak biasa dari pria dingin yang terkadang arogan itu. Bagai memancarkan sinar X-ray, manik mata Andra terus memindai raut wajah Lam dengan saksama.


Hal itu membuat Lam merasa terganggu, lalu dia menyikut lengan Andra yang masih memandanginya.


“Hentikan, Bodoh! Apa kau benar-benar jatuh cinta padaku?” protes Lam.


Andra mengangkat bibir atasnya, dia berdesis cukup lama menandakan kecurigaannya pada tingkah Lam. Lantas pria yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri itu berlari kecil menuju mobil yang terparkir. Sudah jelas dia menghindari pertanyaan Andra yang pasti akan membabibuta.


Akan tetapi, sesaat sebelum Lam membuka pintu mobil. Eunsu memanggilnya.


“Paman!” Gadis kecil itu berteriak dan berlari menyusulnya menerobos hujan yang masih turun.


Meskipun sudah tidak sederas seperti saat lalu, tetapi rintiknya masih cukup padat. Andra pun sama, dia menyusul Lam. Lam yang mendengar teriakan Eunsu, sontak berbalik badan dan mendapati gadis tersebut sudah berada di dekatnya. Senyumnya lagi-lagi mengembang.


“Apa yang kau lakukan, kau bisa demam jika bermain hujan!” bentak Lam pada Eunsu.


Lam bergeming, menatap lekat-lekat gadis kecil tersebut.


“Untuk apa kau menanyakan namaku, sudah sana kembali berteduh!” Lam sedikit berteriak.


“Katamu, aku tidak boleh akrab dengan orang asing, aku ingin tahu nama Paman. Agar jika kita bertemu, Paman bukan orang asing lagi,” jelasnya dengan mata yang berbinar.


“Dasar bodoh!” hardik Lam.


Sontak Eunsu terkejut mendengar ucapan kasar Lam. Dia tidak mengira dan tidak habis pikir seseorang yang begitu hangat sebelumnya seketika berubah sikap kembali dan berlaku kasar.


“Ya, sudah, jika begitu, aku akan menyebutmu Paman bunglon!” kata Eunsu.


Seketika ucapan gadis polos itu membuat Andra yang berada tepat di belakang Eunsu terkekeh.


“Apa?!” Mata Lam terbelalak.


“Aku, Eunsu! Terima kasih makanannya, Paman Bunglon,” seloroh Eunsu seraya berbalik badan dan berlari menuju gang di samping mini market tersebut.


Lam terperangah, mendengar ucapan Eunsu hingga membuatnya tafakur untuk beberapa lama.


“Dasar gadis bodoh!” teriak Lam.


Andra benar-benar tertawa sekarang, melihat pria tangguh di depannya terusik oleh ucapan seorang gadis kecil.


“Woi, Bang! Nyebut! Masa mau berantem sama anak TK?” ledek Andra.


Tangan kanan Lam itu berlari kecil, menuju pintu mobil sisi lainnya. Sementara Lam yang merasa malu pun terus-terusan mengumpat merutuk Eunsu tak habis-habisnya.


Lam pun masuk ke mobil, lalu duduk dan memasang sabuk pengaman. Namun, bibirnya tak berhenti memaki Eunsu yang sudah berlalu.


“Udahlah, Bang, anak kecil, kok, dilayanin, diambil hati juga,” protes Andra.


“Masa dia bilang aku bunglon? Bunglon apanya coba,” dengkus Lam.

__ADS_1


Hahaha.


Andra lagi-lagi tertawa. Kali ini dia tidak bisa menahan tawanya menyaksikan Lam yang amat kesal hanya karena sebutan bunglon.


“Sssh ....” desis Lam yang mendapati Andra masih tertawa kencang.


***


“Nenek! Nenek!” teriak Eunsu setelah sampai di halaman rumahnya dengan keadaan basah.


Imah yang sedari tadi merasakan kegelisahan sebab mengkhawatirkan sang cucu pun akhirnya merasa lega. Wanita baya berambut abu-abu itu yang sedang mondar-mandir di teras rumahnya itu seketika berhenti, lalu meraih handuk yang tergantung di tali jemuran dan menghampiri cucunya.


“Dari mana kamu, Nak?” tanya Imah penuh kekhawatiran.


“Mini market, Nek!” jawab Eunsu.


“Eunsu, nenek kan sudah bilang, jangan mengemis lagi, kita masih punya makanan di rumah,” ucap Imah.


Imah memang sering menegur Eunsu untuk tidak datang ke mini market tersebut. Hanya saja Eunsu yang sedang dalam masa pertumbuhan selalu menginginkan makanan manis yang jarang didapatinya di rumah. Oleh sebab itu, Eunsu pergi ke mini market itu setiap hari kamis, hari di mana para penjaga toko melakukan pemeriksaan pada produk yang mendekati tanggal kadaluarsa.


“Tapi, Eunsu suka roti cokelat, Nek!” ucap Eunsu seraya menundukkan kepala.


Imah yang melihat sikap sang cucu merasa tidak tega, dengan cepat wanita tua itu merangkul Eunsu, lantas mengeringkan rambut lurus Eunsu dengan handuk.


“Maafkan nenek, ya, Nak, nanti jika kita punya rezeki, kita beli roti kesukaanmu itu,” ujar Imah seraya memeluk cucunya dengan erat.


Tak lama kemudian, keduanya pun memutuskan untuk masuk menuju rumah. Hari pun semakin sore dan rintik hujan masih saja mengguyur Kota C.


“Apa yang kamu bawa, Nak?” selidik Imah saat melihat Eunsu menengteng sebuah kresek putih dengan logo seekor serangga penghisap madu bunga tersebut.


“Ini makanan, tadi Eunsu ketemu paman bunglon, dia membelikan Eunsu ini, Nek,” jelas Eunsu dengan polosnya.


“Paman Bunglon?” Imah mengerutkan dahi, baru kali ini nama itu terdengar olehnya.


“Huum,” jawab Eunsu seraya mengangguk.


“Siapa dia?” cecar Imah yang merasa sedikit curiga.


“Hanya pengunjung baik hati, dia tampan, pakaiannya bagus seperti di film yang sering Teh Naya tonton, Nek,” tutur Eunsu dengan riang dia menceritakan kebaikan Lam.


Senyum semringah lagi-lagi terlukis di wajah gembil gadis berusia tujuh tahun itu.


“Apa ayahku setampan dia ya, Nek?” gumam Eunsu kemudian.


Imah yang tadinya begitu asyik mendengarkan cerita sang cucu, menjadi malas mendengar pertanyaan tersebut. Saat dia mengingat Lam yang telah meninggalkan Hana dan Eunsu, hatinya bagai tersayat-sayat. Perih dan menyesakkan.


“Nak, ganti baju dulu, bajumu basah,” tukas Imah, tanpa menjawab pertanyaan Eunsu.


“Eumh,” sahut Eunsu.


Gadis bermata bulat yang persis seperti Hana itu berlari kecil menuju ke dalam rumah, dia mengambil pakaian ganti yang tertumpuk rapi dalam sebuah keranjang plastik biru di dekat meja televisi. Dia cukup cekatan melucuti pakaiannya sendiri, padahal jika mengingat usianya, harusnya saat ini sedang senang-senangnya bermanja pada ayah ataupun ibu. Sayang, Eunsu hanya memiliki Imah. Imah yang termenung beberapa saat di teras rumah, kini menyusul Eunsu.


“Perlu nenek bantu, Nak?” tanya Imah.


“Enggak, Nek, udah selesai,” jawab Eunsu seraya berlari kecil lagi menuju kamar mandi.


“Simpan saja di ember bajunya, biar nenek yang cuci, nanti!” seru Imah.


“Iya,” jawab Eunsu patuh.


Lagi Eunsu berlari kecil kemudian mendekati Imah yang tengah duduk di tikar depan televisi. Seraya membawa kantong plastik berisi makanan tadi, Eunsu duduk di dekat Imah.


“Nek, ayok, makan ini,” ajak Eunsu, ”boleh kan?”


Imah menatap lekat Eunsu, kemudian mengangguk seraya tersenyum.


“Makan, Nak!”


Imah mengelus rambut Eunsu, lalu mengecup kening gadis kecil yang terlihat begitu bahagia, pertama kalinya dia memiliki jajanan sebanyak itu. Tak mungkin Imah tega untuk menghancurkan kebahagiaan sang cucu, walau dalam hatinya masih bertanya-tanya, tentang paman bunglon yang disebutkan Eunsu.

__ADS_1


__ADS_2