
Lam sudah sampai di gedung kosong yang dijadikan markas kedua oleh David, sekaligus menjadi tempat mereka melakukan transaksi. Di sana semuanya telah diatur oleh Steve dan kawan-kawannya. Sementara Lam hanya mengikuti arahan saja.
Lam menyusuri gedung dengan langkah tegap. Hentakan telapak sepatu kulit menggema bagai ketukan irama ritmis yang mengiringi kedatangannya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh gedung kosong yang sudah lama terbengkalai itu. Sarang laba-laba seolah menjadi tirai di setiap sudutnya, cahya remang tanpa lampu maupun sinar matahari yang menembus sempurna menjadi pelengkap suasana mencekam gedung tersebut.
“Yang benar saja, bisa-bisanya gedung lapuk dijadikan medan, ini benar-benar seperti misi bunuh diri,” gerutu Lam.
Tak mendapati seorang pun di dalam gedung itu, Lam sedikit kesal. Dia benar-benar diremehkan kali ini, tak ada penyambutan seperti biasanya. Mungkin seperti itulah resiko yang dihadapi saat mengambil keputusan bergabung dengan aliansi lain. Seolah terasingkan. Padahal, perannya kali ini merupakan peran paling penting.
“Sialan!” umpatnya yang sudah jengah menyusuri tiap lantai gedung tersebut, tetapi belum menemukan siapapun.
Ekor matanya menangkap sebuah kaleng bekas tergeletak di lantai yang sudah dipenuhi debu itu. Ditendangnya kencang hingga menimbulkan suara bising. Sengaja dia melakukan hal tersebut sebagai aksi protes pada orang yang akan menjadi kaptennya nanti.
Tak lama kemudian, setelah suara bising itu hilang, Lam mematung menunggu kelompok itu datang padanya. Tentu saja dia tidak ingin harga dirinya terus dipermainkan.
Prok! Prok! Prok!
Seruan tepuk tangan menjadi sambutan yang membuat Lam kesal. Lam mengerti sambutan yang dilakukan Steve padanya, hanya perbuatan sarkastik bertujuan untuk menjatuhkan. Dengan segenap keangkuhan Lam memasukan kedua tangan ke saku celana. Kaca mata hitam menambah aksen maskulin pria tampan itu, rambutnya yang tertata rapi dengan sedikit pomed membuatnya tampil fresh, senyum miring tersungging.
Bukan untuk sebuah kesenangan atau kegirangan, sebab disambut meriah oleh kubu yang terpaksa dia masuki. Namun, senyum sinis karena perbuatan Steve terlihat kekanak-kanakan baginya.
“Sudah kuduga kau akan datang, Lam!” sambut Steve sembari terus bertepuk tangan disertai senyum lebar.
“Aku bukan datang untukmu, jangan terlalu percaya diri!” sahut Lam dengan ketus.
“Cih!” Steve berdecih.
Kedua pria yang sama kuatnya itu saling memandang, dengan sorot mata tajam seperti tersirat kebencian antara satu dengan yang lainnya.
“Jangan terlalu angkuh di rumah orang lain, Bung! Kau hanya tamu, dan aku tuan rumahnya,” ledek Lam.
“Hahaha,” gelak Lam, “kau tahu, ada pepatah yang mengatakan tamu adalah raja, lantas siapa yang menjadi pelayan? Tuan rumah!” pekik Lam.
“Ternyata selain kau pintar berkelahi, kau juga pintar bermain kata,” sahut Steve.
“Berhentilah basa-basi, lakukan apa yang menjadi pekerjaan kita, dan selesaikan dengan cepat, aku tidak ingin berlama-lama berada bersama kalian,” ungkap Lam masih dengan gaya keren ala mafia-mafia di drama.
Steve memberikan kode pada anak buahnya untuk mengantar Lam ke ruangan yang telah disediakan. Ruangan berlumut dengan udara lembab yang menjadi tempat mereka merencanakan misi itu. Tanpa peduli lagi Lam mengikuti mereka.
“Tunggu Lam!” cegah Steve sejurus saat Lam mengambil langkah.
Refleks Lam menoleh ke arah Steve, alisnya bertaut keheranan.
__ADS_1
“Apakah kau senang menjadi anjing pemburu?” Lagi-lagi Steve melontarkan kata-kata untuk menyulut emosi Lam.
“Apa?” sentak Lam, mencoba memberi tahu jika dirinya tak sudi menjawab pertanyaan itu.
“Jangan pura-pura menjadi orang penting, kau hanya figuran yang disetir sana-sini oleh telunjuk David, kau juga kehilangan wanitamu karena kau memilih menyelamatkan hidup David, bukan?” Steve terus berusaha memojokkan Lam.
Lam membuka kacamata seraya membenarkan posisi berdiri, agar berhadapan kembali dengan Steve.
“Tunggu sebentar, bukankah kita berada di pihak yang sama, apa hubungannya kehidupanku dengan misi ini, Bung?” cecar Lam, dengan nada tertahan.
“Jangan terlalu naif, Bung. Kau tahu misi ini bernilai tinggi, kau pun tahu resiko di dalamnya, jadi mana mungkin kau tidak tahu alasan David mengirimmu untuk menggantikannya,” seloroh Steve.
“Lantas?” tanya Lam, inginkan Steve membeberkan apa maksudnya.
“Wah, wah, wah, kau pura-pura bodoh atau kau memang seputus asa itu? Oh ya, aku baru ingat jika kau sudah tak memiliki kejantananmu, makanya kau dianggap remeh oleh David,” kelakar Steve.
Lam geram mendengar semua itu, urat-urat di wajahnya terbentuk seiring dengan rahang yang dikeratkan disertai gemeletuk gigi.
“Lalu apa bedanya dengan si jantan yang hanya bertemu dengan sabun, dan tidak menyukai wanita? Huh!” balas Lam tak mau kalah.
Sontak Steve emosi, dia tidak menyangka Lam mengetahui rahasia tentangnya.
“Aish, sial!” umpatnya seraya melangkah pergi.
Lam menyeringai, “Thanks, Musang!” lirihnya kemudian.
***
Beberapa saat sebelumnya ...
Saat dalam perjalanan menuju gedung terbengkalai yang akan menjadi medan misi. Andra meminta Musang mencari informasi tentang Steve. Lam sudah menduga sebelumnya, jika Steve akan berusaha menghancurkan kepercayaan dirinya. Oleh sebab itu, dia harus memiliki senjata untuk membuat lawannya mati kutu.
“Apa? Hahaha!”
Sesaat setelah Andra mendapat informasi dari Musang, dia terbahak puas.
“Bang, benar katamu, dia memiliki kebiasaan aneh, dia tidak menyukai wanita dan lebih suka berfantasi,” tutur Andra.
“Baiklah, terima kasih atas kerja keras kalian,” ucap Lam.
“Bang, lantas bagaimana denganmu, apa sponge bob benar-benar tidur?” selidik Andra.
__ADS_1
“Diam kau!” bentak Lam.
“Bang? Kau serius?” desak Andra.
“Kubilang diam! Tetap saja aku menyukai wanita, dan sempat membuatnya hamil,” seloroh Lam.
“Maksudmu Hana? Lalu sejak kapan itu bermula? Kau harus mengobatinya, Bang!” kelakar Andra.
“Berhentilah mengoceh dan mengemudi dengan baik,” kilah Lam karen tak ingin menjelaskan hal tersebut.
“Memangnya ada apa dengan kemudiku, ini baik-baik saja, aku mengemudi dengan baik selama ini,” seloroh Andra.
“Perhatikan jalan, jangan sampai kau menabrak tiang, kasian tiangnya,” ucap Lam semaunya.
“Aish, tiangmu Bang yang kasian, itu kayaknya karatan, makanya gak bangun-bangun!” ledek Andra.
Lam memukul kepala Andra dengan peta yang sedang ditandainya untuk membuat rute pelarian.
“Berisik!” bentak Lam sekali lagi.
Andra mengelus kepalanya, “Sakit Bang!” keluhnya.
“Makanya diam!” tukas Lam, “omong-omong, sebelum kembali ke K, tolong tepati janjiku pada Eunsu.”
“Memang kau berjanji seperti apa?” tanya Andra.
“Aku janji membelikannya eskrim, nanti kau mampir di toserba tempat kita bertemu dengannya, dia bilang tiap Kamis sore pasti ke sana, titipkan saja. Sekalian berikan gaji neneknya,” jelas Lam.
“Baik, Bang!” sahut Andra.
“Kau punya uang tunai bukan?” tanya Lam.
“Ada Bang, tapi enggak banyak,” jawab Andra.
“Berapa?”
“Sekitar dua juta lebih,”
“Tak apa itu cukup, belikan Eunsu makanan, sisanya kau berikan pada si nenek, titipkan saja di kasir kalau kau tak bisa menemuinya langsung. Uangnya aku transfer sekarang, ke rekeningmu,” titah Lam.
“Baik, Bang!” ucap Andra mematuhi perkataan Lam.
__ADS_1
***