
Steve mendengkus kesal, dia mendelik kasar ke arah Lam yang masih tersenyum miring padanya. Terlihat jelas pria di hadapannya itu begitu puas mendapati dirinya kena umpatan sang pemimpin.
Tak ingin terus berlarut dalam emosi yang akan mengacaukan segalanya, Steve mencoba menghubungi Allen. Beberapa kali dia mencoba menelepon Allen untuk menanyakan kondisi saat ini. Namun, dia tak mendapatkan jawaban. Steve semakin kesal dibuatnya.
Sejurus kemudian Steve bergegas pergi, meninggalkan Lam yang masih asyik menikmati kemenangan pertarungan tidak langsungnya itu.
***
Di sisi lain ....
Naya kebingungan, saat mendapat titipan untuk Eunsu dan Imah. Dia bertanya-tanya sendiri, hingga membuatnya kehilangan konsentrasi dalam pekerjaannya.
Di samping itu, hari sudah malam. Namun, Eunsu tidak datang hari ini. Tebersit rasa khawatir dalam benaknya, mengingat tak pernah sekalipun Eunsu melewatkan Kamis untuk roti cokelatnya selain hari ini. Lagi-lagi Naya dibebani dengan pertanyaan yang muncul untuk diri sendiri.
Diliriknya benda berbentuk lingkaran dengan tali kulit yabg melingkar di lengan kirinya beberapa kali. Tampak kegelisahan tersurat di wajahnya. Sampai-sampai rekan seprofesinya pun mampu menebak dengan tepat apa yang sedang dialami gadis dengan tinggi sedang itu.
“Nay, lagi mikirin apa?” tegur sang rekan saat mendapati beberapa kali Naya termenung.
“Eunsu, dia gak datang ke sini, padahal biasanya dia gak absen,” jawabnya gusar.
“Mungkin neneknya melarang, Nay,” ujar si rekan mencoba menenangkan Naya.
“Iya, tapi tetep aja gak biasanya, dan ini entah apa ini, aku dapat amanah buat mereka dari pria yang aku pun gak kenal,” jelas Naya.
“Oh, cowok ganteng tadi, Nay. Kamis lalu mereka datang ke sini juga, beliin Eunsu makanan. Aku inget banget ada dua orang, yang satunya malah bentak-bentak aku, karen Eunsu makan roti yang hampir kadaluarsa,” terang rekan kerja Naya panjang lebar.
“Begitukah?” selidik Naya.
“Ya, Nay. Betewe, kalau kamu mau izin dulu buat nyampein itu ke Eunsu, boleh, kok, nanti aku bantu buat ngomong ke atasan,” tawar rekan kerja Naya.
“Makasih, ya, Sita. Kamu baik banget,” ucap Naya dengan senyum semringah.
“Ya sudah pergi sana, keburu Eunsu tidur,” tukas Sita.
Naya pun bergegas untuk memberikan amanah yang dititipkan Andra untuk Eunsu. Setengah berlari dia menyusuri gang untuk menuju rumah Imah yang serah dengan rumahnya itu. Senyum mengembang dari bibirnya, memikirkan keceriaan Eunsu saat mendapatkan apa yang selama ini dia mau.
Sesampainya di depan rumah Imah.
“Eunsu, Nek Imah!” teriak Naya seraya menerobos menuju halaman rumah Imah.
Namun, dia tak mendapatkan sahutan yang berarti.
“Eunsu, Nek!" Sekali lagi dia berteriak seraya memanjangkan leher beberapa kali untuk memeriksa keadaan di dalam rumah.
Tak lama setelah dia berteriak untuk kedua kalinya, suara langkah yang tergopoh terdengar menghampiri ke beranda rumah.
Krieet!
Imah membuka pintu perlahan, die menyembulkan kepala memeriksa siapa yang datang. Cukup lama dia tertegun sebelum mengenali dengan jelas seseorang itu.
“Ini Naya, Nek!” seru Naya, dia mengerti pandangan Imah sudah tak jelas lagi.
Maka dari itu dia menjelaskan keberadaan dirinya. Tentu saja hal itu membuat Imah terkesiap.
“Neng Naya, nenek pikir siapa,” sahut Imah seraya membuka pintu dengan lebar, “masuk, Neng!” lanjutnya.
“Iya, Nek,” jawab Naya.
Lantas, dia membuka sepatu ket yang menjadi alas kaki, dan mengikuti Imah perlahan.
__ADS_1
“Eunsu, ke mana, Nek?” tanya Naya.
“Ada, bentar nenek panggilkan,” sahut Imah seraya menuju kamar.
“Eunsu! Nak! Ada Naya!” seru Imah seraya mendatangi sang cucu yang asyik mendekam di kamar sejak sore tadi.
Sontak Eunsu yang mendengar Naya mampir ke rumahnya, kegirangan. Dia langsung bangkit dari tidur dan berlari kecil menuju Imah.
“Mana, Nek?” tanya Eunsu bersemangat.
“Sini! Sini!” sahut Naya yang melihat tawa Eunsu kembali terukir.
“Teh Nay, kenapa malam-malam main? Bukannya tadi pagi pamit kerja?” celoteh Eunsu seraya menghampiri Naya yang sudah duduk di tikar.
“Aku bawa sesuatu buat Eunsu dan Nenek, Nih!” kata Naya sembari menyodorkan kanton keresek besar itu.
Tak lama Imah pun duduk dekat keduanya. Lantas, dia bertanya, “Apa ini?”
“Ada pria yang datang ke toserba, lalu menitipkan ini untuk Eunsu, dan menitipkan ini juga buat Nenek,” ujar Naya seraya memberikan amplop cokelat berisi beberapa lembar uang.
“Apa ini?” tanya Imah sedikit terkejut.
“Eskrim!” sorak Eunsu.
”Iya, makan cepet, keburu cair,” titah Naya dengan senyum mengembang.
Naya pun lekas membantu Eunsu untuk membuka bungkus eskrim itu. Lalu, membiarkan gadis itu menikmati apa yang jarang dia temui.
“Teh Nay, apa pria itu masih muda? Atau sedikit tua?” Eunsu bertanya seraya memicingkan mata saat mengucapkan kata 'sedikit tua'.
“Kurasa dia seusiaku, putih, bersih, dan matanya sipit, dia juga wangi,” jelas Naya.
“Siapa dia?” selidik Naya.
“Dia temannya Dad ... eh, bukan, Paman Bunglon yang sempat tinggal di rumah besar itu,” tutur Eunsu dengan polos.
“Oh, yang rumahnya sempat Nenek bersihkan itu, ya?” terka Naya.
“Iya, Teh,” sahut Eunsu. “Ternyata, Paman Bunglon, menepati janjinya.”
“Owh, sekarang aku paham kenapa pria itu menitipkan uang untuk Nenek,” ujar Naya seraya menoleh ke arah Imah.
Ternyata, tidak seperti dugaan Naya. Imah tidak sebahagia Eunsu. Wanita berambut abu-abu itu justru terlihat murung dan terbebani. Bahkan, tangannya gemetar saat memegang amplop yang ada di tangannya.
Merasa ada yang tidak beres, Naya mencoba bertanya, “Nek, kenapa?”
Imah hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Naya. Tatapannya kosong dengan fokus yang tak terarah. Namun, Naya tak berani untuk bertanya lagi. Dia memilih untuk berpamitan saja, karena tidak ingin memperkeruh dan terlalu ikut campur dalam masalah Imah.
“Ya sudah, Nek. Naya enggak bisa lama, karena harus kembali bekerja, Naya pamit ya,” ucap Naya.
Kemudian beranjak dari duduk dan berlalu begitu saja. Setelah mendapatkan restu dan ucapan terima kasih dari Eunsu dan Imah–meski Imah hanya memberi isyarat dengan mengangguk saja.
Eunsu pun kembali pamit menuju kamar dan meninggalkan Imah sendirian. Entah kenapa saat ini Eunsu lebih menyukai kamarnya dibandingkan dengan bermanja pada sang nenek.
Imah kembali menatap nanar amplop cokelat muda itu, dia mengela napas yang terdengar begitu berat hingga beberapa kali. Dengan sikap dingin, wanita tua itu bangkit dari duduk setelah beberapa saat merenung. Disimpannya dengan rapi amplop tadi ke sebuah tas berbentuk boneka Spongebob–milik Eunsu–tanpa membukanya sama sekali.
Di dalam tas itu juga ada selembar poto pria yang tak bukan adalah Lam beserta alamat kediaman Lam. Hana meninggalkan itu untuk berjaga-jaga, sebelum dia pergi ke luar negeri.
Imah menangis tak kuasa mengingat saat Hana berpamitan kala itu. Putri semata wayangnya nekat mengambil keputusan dengan menerima tawaran sebuah agensi, dari seorang teman yang baru saja dikenalnya. Himpitan ekonomi membuat Hana merasa terpuruk.
__ADS_1
Imah ingin membesarkan Eunsu dengan segenap kemampuannya tanpa melibatkan Lam pada awalnya. Seperti apa yang diinginkan Hana. Akan tetapi, ternyata Imah merasa belum mampu membahagiakan Eunsu. Saat menyadari, dirinya bahkan tak mampu membelikan sepotong eskrim yang telah lama cucunya idamkan.
Sementara Hana yang menghilang tanpa kabar membuat Imah semakin merana saja. Alih-alih membuat kehidupan menjadi lebih baik, justru dia membuat kekhawatiran baru pada keluarga kecil itu. Ketiga perempuan yang bertahan hidup tanpa bantuan pria.
Sementara suami Imah telah lama meninggal, semenjak itu dia benar-benar bertahan sendiri.
***
“Ini makan malam atau makan siang sebenarnya?" keluh Andra saat dirinya merasa sangat kelaparan.
“Rangkap aja sekalian, tinggal hap, apa susahnya,” sahut Musang.
“Kenapa milih nasi padang? Enggak nasi tutug oncom sebelah sana? Kenapa Ani?” Andra mulai membuat ulah.
“Hei, Rhoma! Saat kutanya kau mau makan apa, kau hanya bilang 'terserah' kau tahu itu membuatku bingung, Ani!” timpal Musang tak mau kalah.
“Ah, tidak Ani, kau hanya membuat alasan!” balas Andra.
“Tidak, Rhoma!” jawab Musang.
“Bohong!” sergah Andra.
“Tidak, Rhoma!” jawab Musang.
“Bo—”
Sebelum Andra menyelesaikan perkataanya, Musang menjejali mulut Andra dengan lalapan daun singkong yang dibubuhi sambal ijo super pedas.
Dengan mulut penuh Andra mencoba memprotes, mukanya mulai memerah karena kepedasan, matanya pun membelalak.
Musang tergelak, tak mampu menahan tawa. Dia sukses mengerjai Andra.
“Lagi?” tawarnya, setelah Andra menghabiskan makanan di mulut.
“Kau ini, pria tua tidak punya akhlak!” umpat Andra.
“Berhenti mengoceh, makanlah dulu, selagi sempat, mungkin besok kita akan sibuk,” seloroh Musang ada benarnya.
“Jika makan enak seperti ini aku jadi teringat Bang Lam, apa dia udah makan atau belum, ya,” desah Andra.
“Aish, Lam sudah bukan anak-anak, dia itu pria tiga puluh lima tahun, kalau lapar dia pasti makan,” kelakar Musang.
“Mana bisa dia makan tanpaku, Rhoma!” Dengan gaya khasnya itu Andra memulai lagi kegilaannya.
“Cukup! Enough! Geumanhae!” sentak Musang, “bisa-bisa aku jadi Rhoma betulan, kalau kau terus seperti itu,” lanjutnya.
Andra tertawa renyah. Seakan ruangan tujuh kali delapan meter itu hanya milik keduanya. Bersenda-gurau tanpa memedulikan orang lain di sekitar.
***
“Hachu!”
“Hachu!”
“Hachu!”
Lam bersin berkali-kali, yang membuatnya kesal.
“Siapa yang berani-beraninya menggibahiku!” rutuknya.
__ADS_1
***