Real Dad

Real Dad
Bab 38


__ADS_3

“Hahaha!” tawa renyah terdengar meledek kedua pria itu dari arah belakang.


Seketika emosi Andra tersulut. Dia murka dengan apa yang dilakukan Steve pada Lam. Sejurus kemudian Andra berlari menuju gerombolan orang-orang itu. Dikeluarkannya sebuah belati dari balik blazer yang dikenakan. Dengan amarah yang memuncak Andra melawan para pria itu.


Steve membiarkan beberapa orang anak buahnya melawan Andra, sementara di tengah kekacauan Musang menyelinap ke dalam mobil dan mengambil konektor. Setelah konektor di tangan, Musang lantas membawanya pergi ke sisi lain mobil. Nahas, ternyata konektor itu harus diakses oleh sebuah kode.


“Sialan!” umpat Musang.


Di tengah kepanikan, dia juga dituntut untuk berkonsentrasi dan memecahkan kode tersebut. Itu membuatnya sedikit putus asa.


Duar!


Ledakan kembali terdengar, tak ada waktu lagi satu sisi gedung itu sudah hampir rata dengan tanah. Musang menutup telinga seraya memejamkan mata. Dia menarik napas membayangkan kondisi Lam saat ini.


Lantas dia mengembuskan napas seraya membuka mata perlahan, tiba-tiba saja di udara terlihat bayangan kordinat kode-kode yang secara visualisasi terbayang olehnya. Dengan cepat Musang mengaplikasikan kode itu. Pertama kali dia mencoba gagal, hingga waktu hampir habis dan menuju ke ledakan berikutnya, jeda antara ledakan itu sekitar sepuluh menit. Tersisa tiga ledakan lagi yang berarti tiga puluh menit waktu untuk menyelamatkan Lam.


Andra pun susah mulai kewalahan, dia hampir kehabisan tenaga melawan berandal-berandal itu. Tepat pada waktunya Andra terhempas ke arah Musang, di waktu itu Andra sempat-sempatnya menanyakan perkembangan pekerjaan Musang.


“Bertarung sajalah, biar ini aku yang usrus!” teriak Musang.


Andra kembali bangkit dan melawan pria-pria itu. Namun, dia benar-benar sudah lemah. Hingga beberapa kali dia tersungkur. Seorang pria melayangkan sebuah kayu besar saat Andra lengah dan hampir memukul kepala Andra dari belakang. Namun, Musang dengan cepat mencegah itu. Dia berlari cepat dari kejauhan, lalu melompat dan memberikan tendangan tepat pada muka pria itu. Pria itu pun terhuyung dan ambruk.


Sejurus kemudian sirine polisi terdengar, sontak semua gangster itu berhamburan membubarkan diri. Ledakan kembali terjadi, membuat Andra dan Musang semakin panik.


“Gimana? Kenapa masih saja meledak?” cecar Andra.


“Kodenya bekerja, aku harap itu ledakan terakhir, butuh waktu beberapa menit untuk nonaktif, kita tidak boleh buang waktu, ayok evakuasi Lam!” jelas Musang.


Andra mengangguk, lantas keduanya berlari beriringan menuju gedung yang nyaris ambruk itu.


“Bang Lam! Bang Lam!” teriak Andra.


“Lam! Lam! Kau di mana?” sahut Musang.


Keduanya tak mendapatkan jawaban dari Lam. Namun, hal itu tak menyurutkan niat kedua pria itu.


Brugh!


Puing-puing beton kembali terjatuh tepat berada di sekitar mereka.


“Waspada, Bung!” teriak Musang pada Andra.


“Ya, kau juga!” sahut Andra.


“Lam!” teriak Musang sekali lagi.


“Kapten!” sahut seseorang dari belakang.


Andra dan Musang celingukan, keduanya kemudian beradu pandang.


“Kapten?” gumam keduanya.


Lantas, mereka berbalik arah dan mencari tahu siapa yang ada di belakangnya. Ternyata, seorang pria tinggi tegap dengan sebuah pistol ditodongkan ke arah mereka.


“Siapa kalian?” tanyanya seraya menghentikan langkah.

__ADS_1


“Siapa kau?” sahut Andra, lalu membenarkan posisi berdirinya.


“Petugas kepolisian, Detektif Jian!” jawab Jian.


“Aish, kami tidak mau berurusan dengan polisi, kami hanya sedang mencari teman kami yang terjebak di sini!” jelas Musang.


“Teman kalian? David? Apa yang terjadi?” cecar Jian.


“Tak ada waktu untuk itu, Bung. Jika kau ke sini untuk menyelamatkan kaptenmu yang gegabah itu, kau harus bergerak cepat!” sergah Andra.


“Baiklah, tunjukan jalan, atau kutembak!” kecam Jian.


“Tembak apanya, itu hanya berisi peluru kosong!” ledek Musang.


“Aish, kalian terlalu pintar untuk seorang penjahat,” umpat Jian.


Andra mendengkus lalu membalikkan badan, dan berjalan kembali untuk mencari Lam di antara reruntuhan gedung.


“Bang Lam!”


“Kapten!”


“Lam!”


Ketiganya saling bersahutan memanggil orang-orang yang mereka cari, di tengah ketakutan akan runtuhnya gedung itu.


“Woi, di sini!”


Terdengar samar, sahutan dari seseorang. Andra yang pertama kali mendengar suara itu langsung terperanjat dengan sedikit rasa senang.


“Kadal! Tolong ...,” teriak Lam dengan sisa tenaganya.


Ketiga pria itu berlari menuju sumber suara.


“Apakah kapten bersamamu?” teriak Jian.


“Siapa itu?” sahut Lam.


“Wanita gila!” teriak Jian menimpali.


“Ah, di sini, ada di sini,” racau Lam.


Semuanya pun merasa lega dengan jawaban Lam. Mereka melakukan penyelamatan yang cukup dramatis.


Akhirnya Lam dan Mika mereka temukan di dalam sebuah refrigrator,


“Bang, kau baik-baik saja?” tanya Andra.


Dibukanya pintu refrigrator tersebut Sungguh pemandangan di dalamnya membuat ketiga pria yang mencarinya sedikit kesal. Dengan posisi berpelukan mesra di ruang sempit itu, Lam dan Mika berada.


Pikiran negatif mulai menjejali anak buah Lam itu, wajah kesal Andra tunjukan terang-terangan.


“Kau membiarkanku khawatir setengah mati dan kau di sini memeluk wanita?” cecar Andra seraya menatap Lam di refrigrator yang terjungkal itu.


“Dasar gila! Otakmu saja yang mesum, memangnya aku ada pilihan lain? Huh!” sentak Lam.

__ADS_1


“Sudah-sudah, nanti saja bertengkarnya, kalian ini!” sela Musang.


“Kapten? Kau baik-baik saja?” Jian mencoba mengeluarkan Mika.


“Woi, kau anak buahnya, buka ini dulu,” ucap Lam seraya mengacungkan pergelangan tangannya.


“Apa yang kalian lakukan sebenarnya?” selidik Jian seraya menghampiri Lam dan Mika.


“Wanita gila ini yang membuat semuanya kacau!” rutuk Lam, “omong-omong cepat angkat dia, aku pengap!”


Posisi Lam berada tepat di bawah tubuh Mika, sementara Mika tidak sadarkan diri dan Lam tersadar lebih dulu saat mendengar teriakan Andra dan Musang.


“Waktu kita tidak banyak, cepat keluar saja dulu!” tukas Musang.


“Celaka, borgol dan kuncinya ada di mobil,” ujar Jian sedikit kebingungan.


“Aish!”


Cepat-cepat ketiganya membantu Mika dan Lam secara bersamaan. Tak butuh waktu lama Lam dan Mika pun berhasil keluar dari mesin pendingin rusak tersebut. Mika yang tak sadarkan diri membuat mereka cukup kesulitan, tetapi semua bisa diatasi.


“Kau masih kuat kan, Bos?” tanya Musang yang berjongkok di samping Lam.


“Apa maksudmu berandal? Siapa kau?” cecar Lam dengan nada tinggi seperti biasa.


“Kau harus menggendong wanita ini keluar, Bos. Tidak ada cara lain," usul Musang.


“Apa? Kenapa aku?” cecar Lam emosi.


“Bang tidak ada pilihan, dia pingsan,” dukung Andra.


Lam mendelik ke arah Mika yang masih terkulai di bahu Jian, tidak memiliki pilihan lain. Dia menuruti apa yang diusulkan kawan-kawannya itu.


Tepat saat Lam menggendong Mika dengan sempoyongan, rambut Mika yang awalnya menutupi wajah, sontak tersingkab seiring terkulai kepalanya di lengan kekar Lam. Tangan kanannya yang terborgol itu menjadi penyangga di bagian kaki.


Ekor mata Musang tidak sengaja melihat wajah Mika. Sontak dia terkejut bukan main.


“Adik ipar!” desis Musang.


“Apa kau? Kenapa?” cecar Lam yang mendengar bisikan Musang.


“Tidak, hanya saja aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi,” celoteh Musang.


“Ada apa dengan kau ini?” Melihat Musang putus Asa, Andra pun ikut angkat suara.


“Tidak, ini hanya masalah pribadi,” ucap Musang seraya mengela napas.


“Dasar gila!” umpat Lam.


Setelah perdebatan itu, akhirnya mereka keluar dari gedung. Dengan setengah berlari kelimanya berhasil keluar di detik-detik terakhir.


“Tiarap!” teriak Musang.


Tepat beberapa saat setelah mereka sampai di area parkir, ledakan inti terjadi.


Bum! Duar!

__ADS_1


***


__ADS_2