Real Dad

Real Dad
Konsekuensi


__ADS_3

“Jangan bercanda, Pak? Skors?” bantah Mika, dia mencoba membela diri.


“Ya, kenapa? Kau menolaknya? Mau aku pecat sekalian?” seloroh Darma dengan wajah memerah.


“Tapi, Pak ...,” rengek Mika.


“Dengar! Renungkan perbuatanmu saat kau istirahat nanti, gunakan waktumu sebaik-baiknya. Jangan pernah berpikir untuk melakukan operasi itu diam-diam. Saat kau kembali nanti, aku harap sikapmu akan membaik,” kelakar Darma.


“Yang benar saja, Pak kumohon, kurasa ini tidak setimpal,” protes Mika.


“Serahkan senjatamu, pulanglah dan istirahat dengan baik!” ujar Darma tanpa memedulikan keluhan Mika.


Dengan kesal Mika pun menyerahkan apa yang Darma minta, terlihat jelas Darma sudah bulat dalam mengambil keputusan. Akan percuma saja dia terus merengek dan membantah, hanya akan membuang energi saja.


Mika meletakkan senjata api itu dengan kasar, tanpa kata lagi dia keluar dari ruangan tersebut. Tak cukup di situ saja, Mika membanting pintu dengan kencang. Raut wajah ditekuk menjadi pelengkap pagi yang mengesalkan.


Jian memberi hormat pada Darma, berbeda dengan Mika yang menanggapi hukumannya dengan emosi. Jian tetap tenang dan santai. Setelah berpamitan, Jian menyusul Mika.


“Kapten! Kapten!” seru Jian.


Mika yang sudah sampai di depan kantor, menghentikan langkah. Dia menunggu Jian yang didapati menyusulnya tanpa ragu.


“Maaf, semua jadi kacau, karenaku,” ucap Jian.


“Sudahlah, tak apa!” sahut Mika.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya? Jika kau butuh bantuan, hubungi aku!” tanya Jian sekaligus menawarkan diri.


“Tentu saja, akan kupikirkan nanti. Aku pasti menghubungimu. Jadi, jangan abaikan panggilanku, oke?” cetus Mika.


“Siap, Kapten!” seru Jian.


“Ah, tak apa, aku bisa santai di rumah selama beberapa hari,” ucap Mika dengN senyum semringah.

__ADS_1


“Lantas, tentang surel itu bagaimana?” tanya Andra.


“Biar kuurus nanti, aku pulang dulu,” pamit Mika seraya melenggang pergi menuju mobil yang terparkir di ujung parkiran.


“Hati-hati dan jaga diri, Kapten!” pesan Andra.


“Tentu!” sahut Mika seraya mengacungkan tangan tanpa menoleh ke arah Jian.


***


Di ruang sempit dan lembab itu, sudah beberapa waktu berlalu. Pria-pria berpakaian senada menyusun rencana dengan dipimpin oleh Steve. Tak jauh dari dugaan Lam, misi kali ini benar-benar memprioritaskan uang. Tak ada sedikit pun membahasa rute pelarian.


Lam ditugaskan untuk berhadapan langsung dengan klien yang diberi kode alfa. Dia harus mengambil uang yang diberi kode sebagai target. Tak ada yang lebih penting dari uang tersebut, tidak ada penjemputan untuk anggota jika suasana memburuk. Akan tetapi ada tempat khusus untuk menyembunyikan target dan itu hanya diketahui Steve.


Selain itu, Lam tidak dikawal siapapun karena alfa menginginkan dia terjun sendiri. Alfa tidak menginginkan manipulasi. Tentu saja, sebagai David bukan sebagai dirinya.


Lam memperhatikan dengan saksama, beberapa kali dia mendengkus dan tersenyum simpul, senyum tumpul yang menyiratkan kekesalan. Namun, dia tidak ingin terlihat mencolok. Apa pun yang Steve katakan dia setuju dengan mudah.


“Tak ada, aku sudah paham,” jawab Lam sekenanya.


“Tentu saja, misi ini akan membuatmu kaya, jika kau berhasil lolos dari Alfa,” ujar Steve.


“Aku hanya heran, kenapa harus memerintahkan orang sebanyak ini, jika yang bekerja secara langsung, hanya aku,” seloroh Lam seraya beringsut dari duduk.


“Tunggu Bung!” cegah Steve.


Sontak Lam membalikkan badan dan menatap Steve lekat-lekat.


“Apa?”


“Setelah kau berhasil mendapatkan target, kau harus keluar dalam lima belas menit. Gedung ini akan diledakkan untuk menghilangkan jejak,” jelas Steve.


Sontak Lam tercengang, lalu berkata, “Sepertinya kalian memang berniat membunuhku sejak awal.”

__ADS_1


Lagi, Steve menyeringai. Tak menyangka Lam mampu mengatakan hal seperti itu tanpa rasa takut sedikit pun. Setelah melihat reaksi Steve, Lam semakin yakin dengan firasat buruknya.


“Jika memang ini akhir dariku, tak apalah,” batin Lam.


Apa? Benarkah sepasrah itu? Bukankah Lam jagoan? Tidak mungkin begitu saja dia menyerah. Bukan Lam namanya jika tidak memiliki strategi mengejutkan. Namun, kali ini dia sudah dibuat terkejut beberapa kali oleh Steve. Selain membahas sponge bob Lam yang selalu tidur, Lam juga terang-terangan dijadikan tumbal dua juta Dollar tersebut .


Lam beranjak mencari udara segar ke bagian atap gedung, dia merasa sedikit penat sebab tidak Andra yang menghibur. Untuk menemani kegabutannya, Lam merogoh sebuah kotak berlogokan huruf A dari saku blazer, dia mengambil satu stik putih berbahan tembakau dari dalam kotak tersebut. Dia mengimpit stik putih itu di antara bibirnya yang seksi dan tetap merah muda. Lantas, Lam mematik sebuah korek gas dan menyalakan rokoknya, menyesap lintingan rendah nikotin itu. Perlahan, dia mengembuskan asap sisa pembakaran ke udara seraya melepas beban di hati.


***


“Ke mana perginya pria tadi, ya?” gumam Eunsu.


Dia celingukan di balik pohon, manik matanya mencari-cari sosok pria misterius yang kedapatan berkeliaran di sana. Jantung Eunsu berdebar dengan raut wajah yang menjadi tegang.


Sejurus kemudian, karena tidak ingin ada hal bahaya yang menimpa, Eunsu memilih untuk pergi dari rumah itu dan pulang saja ke rumahnya. Kaki mungilnya berlari kencang, seraya sesekali menengok ke belakang. Tentu saja, dia tidak menginginkan seseorang mengejarnya.


Ekor mata Musang, mendapat sekelebat bayangan dari balik jendela. Dia terkesiap, lalu bersiaga. Namun, saat menyadari jika bayangan itu berasal dari Eunsu yang berlari. Musang merasa lega,


“Gadis seksi itu sudah pergi ternyata, syukurlah, aku tak perlu menyentuhnya,” gumamnya seraya mengintip dari balik jendela.


Tak ingin membuang waktu, Musang kembali membersihkan rumah besar itu. Dengan cairan khusus dan beberapa peralatan yang dibawanya. Dia begitu piawai dengan pekerjaannya itu. Terlihat sederhana, tetapi itu merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra.


Jika Steve melakukan pembersihan dengan kasar, berbeda dengan Lam yang memiliki cara halus dan rapi. Meski misi gagal Lam harus membersihkan rekam jejaknya baik langsung maupun jejak tak langsung seperti rekaman CCTV di daerah tersebut.


Sungguh merepotkan, tetapi tidak ada cara lain. Jika dia ingin hidupnya tetap tenang dan damai. Hal itu, tidak ada keterkaitannya dengan David. Lam sengaja tidak pernah mengekspos Musang ke dunia luar, begitupun dengan Andra. Lam tidak ingin David mengetahui dirinya memiliki orang kepercayaan sedekat itu. Sebab jika David tahu itu akan menjadi ancaman baginya. Terlepas dari itu semua, Lam menyewa beberapa preman yang dilatihnya, dan disebar di beberapa daerah sebagai tameng.


Merekalah yang menjadi penghubung Lam dan David selama ini. Sudah lama Lam tidak bertemu langsung dengan pria tinggi besar berperut buncit tersebut. Hanya mendengar teriakannya melalui panggilan udara saja.


Selama ini kerja sama mereka cukup relevan dan saling menguntungkan. Hingga satu kelompok lain muncul yang diketuai oleh Steve. Hal itu menjadikan Lam tenggelam di arena gelap itu. Meskipun masih menjadi kepercayaan David, tetap saja di balik layar gangguan dan persaingan kerap terjadi. Tak jarang Steve melakukan hal kotor untuk mencapai tujuannya.


Hal itu membuat Musang harus bekerja ekstra, selain mode sweeping, Musang juga menjabat sebagai mata-mata.


“Aish, bukankah harusnya bayaranku lebih tinggi, jika rumahnya sebesar ini,” gerundel Musang seraya menggosok meja di ruang utama.

__ADS_1


__ADS_2