Real Dad

Real Dad
Kebingungan


__ADS_3

“Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan?” batin Lam berkecamuk, dia benar-benar tidak bisa menjelaskan kata tersebut.


“Ah, jodoh itu seperti ayah dan ibumu, bocil!” celetuk Andra.


“Ayah? Ibu?” Eunsu menoleh ke arah Andra dengan cepat.


“Ya, ya seperti itu, tapi ... antara kita itu berbeda, jodoh hanya sebagai, eu, teman, ya, teman ...,” racau Lam mencoba mendukung perkataan Andra.


“Tapi ... nenek bilang, itu takdir, mereka berpisah dan meninggalkanku karena takdir,” ucap Eunsu.


Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, wajah putihnya memerah, menahan luapan air mata yang nyaris tumpah.


“Apa?” Andra terkejut, tidak menyangka ucapannya melukai Eunsu dan mengingatkannya pada kejadian buruk yang menimpanya.


“Maaf, Eunsu,” ucap Lam, “aku membuat kau sedih dan mengingat kejadian tak mengenakan itu.”


Eunsu bergeming, dia menunduk pilu, tak mengindahkan ucapan Lam yang berusaha menarik perkataannya tadi.


“Takdir Eunsu saja yang kurang beruntung, terkadang Eunsu benci si takdir,” seloroh Eunsu, masih mencoba menahan tangis.


“Kalau kamu mau menangis, menangis saja, jangan berpura-pura menjadi kuat seperti itu, bukankah itu sangat menyakitkan?” ujar Lam.


Mendengar ucapan Lam, sontak wajah Andra menegang. Tak habis pikir dengan ucapan pria setengah matang di hadapannya itu. Bukankah seharusnya Lam berkata manis untuk menenangkan Eunsu. Lalu kenapa kata-katanya selalu menusuk dan mengusik, padahal yang dihadapinya kini hanya seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa.


Kenapa kata-kata tersebut terlontar, alih-alih memilih memeluk tubuh mungil itu dan mengelusnya, dasar Lam kejam. Segala hal buruk berkecamuk di benak Andra, kenapa kata-kata itu harus persis dengan kata-kata yang dulu Lam katakan padanya.


***


Remang cahaya lampu jalanan terpantul dari genangan air di atas aspal, pasca hujan yang mengguyur sore tadi, seorang pria sempoyongan berjalan di trotoar. Sesekali dia menengadah ke langit sembari meracau tidak jelas. Tampak jelas dari tingkah laku dan umpatan yang dia lontarkan, sebuah tragedi baru saja terjadi dalam hidupnya.


Setelah puas merutuk, dia tertawa. Entah menertawakan siapa, mungkin tertawa atas tragedi itu. Tak lama kemudian, pria berusia dua puluh lima tahun tersebut bertemu dengan segerombolan bocah nakal yang sedang merundung seorang siswa. Sontak dia menghentikan langkah, embusan napas kasar pun terdengar jelas darinya. Mimik wajah pria berahang tegas itu menjelaskan bahwa; dia tidak menyukai hal yang sedang terjadi tepat di hadapannya.


“Woi, Bocah!” teriak si pria berkemeja hitam tersebut.


Mendengar teriakannya, kelima bocah berandalan itu sontak menghentikan kelakuannya. Lantas, menoleh ke arah pria mabuk yang mengusik kesenangan mereka.


“Apa? Jalan saja sana, tidak usah hiraukan kami!” jawab salah satu anak yang mengenakan celana robek sana-sini.

__ADS_1


“Kau tidak tahu, ya, jika membesarkan anak itu susah payah, lalu kenapa kau menyiksa anak orang seperti itu,” racau pria mabuk tersebut.


“Banyak bacot, kau, Bang! Padahal berdiri saja tidak mampu!” sahut bocah lainnya, melihat pria yang meneriakinya beberapa kali kehilangan keseimbangan.


“Kalian tidak akan menjadi jagoan dengan menyiksa orang!” teriak pria itu dengan geram.


Para remaja tanggung yang sepertinya sedang dalam pengaruh obat-obatan itu, semakin tersulut emosi. Mereka mencoba mengeroyok pria tampan yang baru saja mengganggu kelimanya, dan pria tinggi sembada itu tak lain adalah Lam saat muda.


Dengan mudah mereka melawan Lam yang dalam pengaruh alkohol tersebut. Lam dihajar sana-sini, meskipun Lam cukup mahir bela diri, tetapi keadaannya saat ini membuatnya hilang fokus. Bocah-bocah berandal itu berhasil memukul Lam bertubi secara bergantian.


Hingga, akhirnya Lam menyadari dirinya tidak akan mampu melawan gerombolan bocah berandalan itu. Hingga dia memilih untuk mengalihkan perhatian mereka saja. Untuk menyelamatkan siswa sekolah menengah atas yang sedang dirundung kelimanya, tadi. Setelah dikeroyok, Lam mencoba berlari bermaksud membuat mereka menjauhi siswa itu.


Namun, sesaat sebelum dia mengambil langkah seribu, seorang berandal tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam dari balik jaketnya. Lantas, dia mengarahkannya pada Lam. Tentu saja Lam berusaha melawan dan menghindarinya. Nahas, seorang berandal lain mendorongnya dari belakang yang membuat dia lengah. Dengan mudah si berandal yang memegang pisau itu menusuk Lam tepat di perutnya.


Pergulatan sengit pun sempat terjadi beberapa saat, dalam kondisi terluka Lam masih bisa membuat kelima bocah berandalan itu tersungkur sesaat. Dia pun tak menyia-nyiakan hal itu, secepat kilat dia berlari ke area perumahan yang padat penduduk agar mudah untuk sembunyi. Sementara itu, si siswa yang dirundung masih terpaku. Lam pun meneriakinya agar segera pergi dari tempat itu.


Kejadian itu berlangsung tepat sesaat sebelum buruh pabrik tekstil bubaran shift malam. Membuat keadaan cukup ramai dan itu dimanfaatkan siswa untuk kabur dengan berbaur. Sementara Lam masih dalam aksi kejar-kejaran bersama para berandalan itu. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hana. Gadis yang menyelamatkan hidupnya.


Hana pun berhasil memberikan pertolongan pertama pada Lam dan menyembunyikan Lam di kamar kosnya. Sementara pagi-pagi Hana terbangun dan mendapati diri tertidur lelap di samping pria yang baru saja dijumpainya itu. Sontak Hana terkejut menyadari kelakuannya yang sembrono itu. Lantas, buru-buru dia bangun sebelum pria di sampingnya menyadari.


Dilihatnya wajah pria yang ditolongnya begitu pucat, pelipisnya pun berkeringat. Seperti dugaan Hana. Lam mengalami demam, mungkin karena luka di perutnya. Hana sedikit panik. Dia bergumam sendiri bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Hana perlahan berjalan menyusuri gang menuju tempat pembuangan sampah tempat Lam bersembunyi pada malam itu, dia akan memeriksa jejak Lam. Khawatir para preman yang menganiaya Lam kembali datang. Akan tetapi, betapa terkejutnya Hana, semua jejak Lam sudah bersih tak bersisa. Membuat Hana sedikit kebingungan, sepertinya seseorang telah membersihkannya lebih dulu.


Hana pun bergegas memeriksa tempat pembuangan sampah, lagi-lagi dia dibuat kaget, karena seseorang telah berada di sana, tempat persembunyian Lam. Pria itu sedang memegang jaket Hana yang sebelumnya dia gunakan untuk menyumpal luka Lam.


Hana menghentikan langkah dan tak berani menghampiri pria tersebut, dia takut orang itu adalah salah satu dari berandalan yang tadi malam membuat Lam terluka.


“Siapa dia?” gumam Hana.


Dalam diam Hana masih memperhatikan pria muda yang masih fokus pada jaketnya, sejurus kemudian pria itu menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya pun bersinggungan, membuat pria itu dan Hana sama-sama kaget.


“Siapa kau?” tanya si pria.


“Kau siapa?” Hana balik bertanya.


Hana menatap lekat-lekat pria itu, setelah yakin bahwa di bukan salah satu dari pria tadi malam. Hana pun memberanikan diri untuk menghampirinya.

__ADS_1


“Kenapa kau mendekat?” tanya si pria muda sedikit gemetaran.


Melihat tingkahnya, Hana semakin yakin bahwa pria itu benar-benar tidak ada hubungannya dengan Lam.


“Itu jaketku!” seru Hana, semakin mendekat.


“Apa?” Pria berwajah imut itu kaget saat Hana berkata tentang jaketnya.


“Rogoh sakunya, di sana ada kartu kerjaku!” tukas Hana pada si pria.


Dengan kikuk pria itu melakukan apa yang Hana perintahkan. Benar saja di dalamnya terdapat identitas Hana. Sesekali dia memalingkan pandangan ke arah Hana sekali lagi dia juga mengarahkan pandangan ke kartu, untuk memastikan poto di dalam karti tersebut memang Hana.


Setelah dia yakin, dia pun menyerahkan jaket tersebut pada Hana. Tangannya masih gemetar menyodorkan jaket itu.


“Makasih,” kata Hana.


Setelah jaket itu diterima, Hana melemparkannya ke tumpukan sampah di sana, kemudian Hana berjongkok, lalu mengeluarkan korek dari saku celana lantas membakar jaket tersebut.


“Kau yang menghapus jejak darah di gang?” selidik Hana.


Pria itu kaget bukan main, matanya membelalak seperti akan keluar.


“Ba–Ba–gai–ma–na kau ...,” sahutnya gelagapan.


“Aku akan menyempurnakannya, terima kasih atas apa yang kau lakukan,” tutur Hana.


Api mulai merebak membakar jaket hijau army itu, dipandangi oleh kedua pasang mata di pagi yang masih belum terlalu terang.


“Kau mengenal pria itu?” tanya Hana, lantas menoleh ke arah pria muda yang terlihat polos tersebut.


“Tidak, tapi–tapi– dia sudah menyelamatkanku,” jelasnya.


“Siapa namamu?” tanya Hana, “kau ingin bertemu dengannya? Dia ada bersamaku, aku pun tak mengenalnya, mungkin aku akan butuh bantuanmu,” imbuhnya.


“Andra!” jawabnya singkat.


“Baiklah Andra, sepertinya kalian memang harus bertemu dan menjelaskan semuanya padaku,” timpal Hana.

__ADS_1


***


__ADS_2