Real Dad

Real Dad
Bab 34


__ADS_3

Keesokan harinya, dunia masih berputar dengan kendali sang Mahakuasa. Para wayang di muka bumi sibuk dengan urusan masing-masing. Pemandangan kota C uang identik dengan penghasil udang dan olahan terbaik di Indonesia, sudah ramai. Apalagi, suasana pasar di dekat laut.


Bersamaan dengan hal itu, sayur menjadi sebuah makanan yang jarang dijumpai. Beberapa pelanggan berbondong datang ke rumah Imah untuk membeli sayur mayur yang biasanya dijajakan. Memang, sudah beberapa hari terakhir, Imah tidak menjajakan hasil kebun tersebut.


Bukan tidak ingin, tetapi kebetulan sayurnya belum ada yang cukup umur untuk dipanen.


Beberapa orang yang datang pun kembali dengan kecewa, mereka tidak berhasil mendapatkan apa yang dimau. Sementara Imah menghela napas perlahan mengikhlaskan jalan rezeki yang belum untuknya itu.


Tak seperti biasanya, Eunsu masih asyik di kamar. Dia memandangi poto kedua orang tuanya tanpa merasa puas. Rindu yang dimiliki lebih dari yang orang kira. Dengan menceritakan kesehariannya pada selembar poto, mampu mengobati kekosongan dalam relung hatinya.


Imah perlahan menghampiri Eunsu yang enggan beranjak dari kamarnya. Dia mengintip dari sela gorden yang tidak tertutup sempurna. Dilihatnya senyum semringah di wajah sang cucu. Hingga dia pun tak berani untuk mengganggunya. Imah memilih berbalik badan meski dengan perasaan gusar.


Wajahnya mulai memanas, hingga matanya mengembun. Setitik air meluruh di sudut mata dan terasa hangat saat mengaliri wajah keriputnya. Buru-buru dia menyeka tangisnya. Tak lam setelah itu, Imah menarik napas panjang. Entah apa yang dia tangisi, hanya saja perasaannya sungguh bingung dan merasa tidak tenang.


***


Di sisi lain semua orang bersiap untuk misi kali ini, baik dari pihak David maupun pihak Mika. Mika yang awalnya akan datang berkomplot dengan timnya. Kini, dia harus melakukan itu sendiri. Mik benar-benar meremehkan masalah yang akan dihadapinya kali ini.


Dia hanya memiliki sebuah belati untuk berjaga-jaga. Sungguh situasi yang cukup sulit sebetulnya. Namun, Mika akan menghadapi apa pun demi tujuannya. Setelah itu, Mika membuka brangkas yang berisi uang jutaan Dollar itu. Dia memasukan ke dalam tas hitam-hitam besar, lantas segera menyimpannya ke dalam bagasi mobil.


“Kusia-siakan hidupku, semoga ini tidak membuatku kecewa,” gumam Mika saat hendak menutup pintu bagasi.


Dengan berat dia harus melepaskan uang tabungannya selama bertahun-tahun itu. Terpaksa dia melakukan tindakan dengan resiko maksimal, demi mengungkap sindikat para bedebah yang selama amat meresahkan.


Sorot mata itu begitu sendu saat menatapi sekantong besar uang yang harus direlakan. Namun, tekadnya menepiskan segala keresahan tersebut seiring dengan embusan napas yang dilepaskan.


“Tidak, ini kesempatan besar yang tak boleh kusia-siakan,” gumamnya.


Lantas dia menutup bagasi mobil dan kembali ke apartemennya. Dia bermaksud untuk kembali beristirahat. Akan tetapi, tepat saat dia hendak masuk ke lift. Ponselnya berdering.


Dengan malas Mika menjawab panggilan masuk yang menjeda langkahnya. Di berangsur dari depan lift dan menuju tempat tenang untuk berbicara dengan seorang di seberang sana.


“Halo!” seru Mika.


Didapatinya nomor yang meneleponnya itu bernama. Dia sempat urung menjawab panggilan itu. Namun, saat mengingat dirinya tengah bertansaksi dengan gembong narkoba dan beberapa saat lagi akan sampai pada waktunya. Dia berpikiran jika si penelepon adalah seorang yang dinantikannya.

__ADS_1


“Halo!” Sekali lagi Mika menyerukan sapaannya.


“Jangan pergi, dua juta dollar, jangan pergi malam ini!”


Tut! Tut! Tut!


Suara dengan resonansi itu, tidak begitu jelas terdengar oleh Mika. Saat dia mencoba bertanya kembali, sambungan telepon telah terputus. Kedua alis yang terbentuk sempurna bagai lukisan artistik itu bertaut, dalam hatinya bertanya-tanya.


Beberapa saat dia termenung memikirkan telepon misterius yang baru saja didapatinya. Pandangannya masih terarah pada ponsel yang digenggam, berharap telepon itu kembali masuk dan berbicara dengan jelas.


Namun, setelah beberapa menit dia menunggu, tak kunjung ponselnya berdering lagi. Mika pun melanjutkan langkah, tetapi kali ini arahnya berbeda. Dia berbalik arah menuju mobilnya terparkir, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya dia memutuskan untuk bertemu seseorang.


Setengah berlari gadis tinggi semampai itu menuju mobil. Rambut bobnya melambai-lambai seiring gerakan ritmis hentakan kaki jenjangnya. Deru napas yang teratur seolah memberi tahukan jika dia bukan gadis biasa. Sesampainya di mobil. Mika menyalakan mesin mobil itu. Sesaat setelah mobil menyala, dia merogoh saku jaket dan mengambil ponselnya kembali.


Dia menekan angka dua di layar yang menampilkan panggilan pintas itu.


Tuut! Tuut!


“Halo!” Tak lama setelah nada sambung berbunyi, seorang di seberang sana menjawab teleponnya.


“Kau di mana, Mbak? Apa kau sedang bekerja?” cecarnya tanpa menjawab sapa dari seorang yang dia telepon.


“Apa Kakak Ipar ada di rumah?” tanyanya tanpa basa-basi.


“Ada apa? Apa ada hal mendesak?” tanya seorang itu, ”dia bilang padaku, besok baru kembali,” lanjutnya.


“Aish, tadinya aku akan ke sana, tapi sudahlah jika dia tak ada,” dengkus Mika.


“Woi, kakakmu itu aku, kenapa yang kau cari justru suamiku!” geram wanita di balik telepon.


“Hehe, bye, Mbak,” kekeh Mika seraya menutup kembali teleponnya.


“Enggak ada waktu ...,” lanjtnya.


***

__ADS_1


Sementara di motel, meski hari suah sangat siang, udara pun juga mulai terasa panas. Di kasur ukuran sedang dengan motif kotak itu, dua pria masih terbuai mimpi indah dengan posisi tidur yang begitu mesra.


Andra menyusupkan wajah di balik dada Musang yang bidang, dia meringkuk bagai kucing kedinginan dan berlindung di pelukan sang tuan. Sementara Musang dengan nyaman dia mendekap tubuh Andra. Sungguh pemandangan yang absurd untuk dilihat.


Pada saat yang sama ponsel hitam di nakas tiba-tiba bergetar. Suara getarannya mengusik mimpi indah kedua pria tersebut. Secara bersamaan keduanya mulai membuka mata. Diawali dengan Andra yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak beres.


Dia mengendus-endus, sesuatu di hadapannya yang terasa hangat dengan debaran di dalam rongga.


“Wanginya kayak kenal,” batinnya.


Lalu.


“Siapa sih yang nelepon, ganggu orang molor aja!”


Sontak umpatan itu, benar-benar menyadarkan Andra. Dia menengadah menelisik wajah yang memeluknya itu. Saat dia merasa ada kejanggalan dan nyawanya mulai terkumpul. Andra pun menghempaskan diri kemudian berteriak dan disusul oleh teriakan Musang.


“Dasar pria gila!” teriak keduanya bersamaan.


Andra nyaris terjengkang karena musang menendangnya dengan kencang.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memelukku?” cecar Andra kesetanan.


“Kau yang lebih dulu menempel, Bego!” umpat Musang.


Dia menarik tubuhnya ke atas kemudian duduk menyandar pada kepala dipan. Dia memijat keningnya yang terasa masih pusing, karena terkejut.


Lantas, Musang tak mengindahkan Andra dan berpaling pada ponselnya yang beberapa kali bergetar itu. Ekor matanya menangkap nama kontak yang sudah tak asing baginya.


“Apa?!” Musang terperanjat dari tempat tidur saat mendapati dua puluh panggilan tak terjawab dari seseorang yang diberi nama 'Nyonya besar'.


“Apa? Kenapa?” Andra yang sedari tadi nyerocos pun seketika berhenti saat melihat tingkah Musang.


Musang bergeming, dengan mulut menganga dan mata melotot.


“Mampus,” desisnya.

__ADS_1


“Kenapa, woi?” teriak Andra.


***


__ADS_2