
“Andra! Andra! Andra!”
Beberapa kali Lam memanggil Andra yang termenung sejak tadi. Bahkan, Lam dan Eunsu menghampiri Andra yang kedapatan senyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong. Hal itu membuat Lam sedikit cemas.
“Woi kadal! Eling!” sentak Lam.
Akan tetapi teriakannya tak mengusik Andra sekalipun. Oleh sebab itu Lam memilih untuk membiarkannya saja. Sementara Lam mengajak Eunsu pergi dari meja makan.
“Ayok pergi, biarkan saja dia begitu,” ajak Lam.
Eunsu menahan tawa lalu mengangguk, dia mengikuti Lam beranjak dari meja makan setelah sarapannya selesai.
“Paman, Eunsu cari Nenek dulu, biar mejanya dirapikan,” tutur Eunsu.
Lam pun menyetujuinya dengan mengangguk pelan, lalu berkata, ”Oh iya, jika nenekmu mau makan, masak lagi saja, maaf makanannya habis.”
“Masih ada sepotong ayam goreng dan tahu-tempe, sepertinya itu lebih dari cukup,” sahut Eunsu.
“Baiklah, terserah kalian saja, kalaupun ingin masak yang baru, masak saja jangan sungkan,” titah Lam, “oia, sampaikan juga pada nenekmu, nanti malam tidak datang pun tak apa, sepertinya aku dan Andra akan melakukan pertemuan di luar,” lanjutnya.
“Baik, Paman,” jawab Eunsu.
“Kamu akan mengingatnya, bukan?” Lam mencoba meyakinkannya.
“Tentu saja,” jawab Eunsu dengan yakin seraya tersenyum manis.
“Oke!” pungkas Lam kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Eunsu.
Percakapan keduanya pun benar-benar tidak mengusik kelakuan Andra, dia masih terhanyut dalam lamunan masa lalu yang sangat indah hingga membuat wajah imutnya bersemu merah.
Masih, senyum manis tersungging dari bibirnya yang merah muda itu. Meskipun dia seorang perokok, tetapi dia merawat diri dengan baik. Banyak yang menyebutnya bak aktor drama Korea, yang terkadang membuatnya besar kepala.
Setelah agak jauh melangkah, Lam menoleh ke arah Andra yang masih dalam keadaan tersebut. Lam berdecih seraya menggeleng, tak habis pikir Andra akan menjadi seperti itu.
“Sepertinya benar, rumah ini berhantu,” gumam Lam.
Jadi, Lam mengira Andra kerasukan. Sebab tingkah Andra begitu membuatnya merinding. Terbersit rasa takut dalam benaknya jika terus-terusan berada di dekat pria yang sudah menempel dengannya sejak lama itu.
Lam larut dalam pikirannya, dia kembali profesional dengan memikirkan pekerjaan kembali. Akan tetapi, Lam masih kebingungan dengan tugasnya kali ini. Ditambah orang yang David bicarakan tak kunjung datang.
Lam memilih untuk ke taman belakang rumah seraya menyesap selinting tembakau yang dihimpit di kedua jarinya. Dia berdiri seraya menatap kosong ke arah taman, dipindainya pemandangan menyejukkan di hadapannya, seraya mengembuskan napas perlahan seraya membuang kepulan asap sisa pembakaran nikotin yang diisapnya. Asap mengepul ke udara, kemudian membias dan hilang terlerai oleh udara pagi hari.
Lam menikmati suasana itu yang memang jarang dinikmati. Tubuh tegap dengan setelan bermerk itu menambah kesan tersendiri, orang yang melihatnya dari belakang saja akan merasa segan. Kharisma yang dipancarkan pria setengah matang itu, benar-benar mampu meluluh-lantahkan hati seseorang.
__ADS_1
“Bang!” teriakan seorang yang sudah tidak asing lagi, membuyarkan pikiran Lam yang memang sedang tidak terarah.
“Udah sembuh?” ledek Lam seraya membuang puntung rokok ke tong sampah, setelah apinya dipadamkan.
“Ish, tega kau!” umpatnya.
“Lagian kau seperti orang gila, aku jadi takut!” ucap Lam dengan wajah mengejek.
“Mau aku jelaskan?” tanya Andra.
“Tidak usah, aku tidak peduli!” seloroh Lam.
Sontak hal itu membuat Andra kesal, tetapi Andra tidak ingin mengambil hati. Dia tahu persis ada sesuatu yang sedang Lam pikirkan dan hal itu lebih penting dibandingkan dengan alasannya melamun tadi.
“Ada kabar dari David, Bang?” Andra mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Hemh, dia mengabariku tentang orangnya,” jawab Lam.
“Kapan?” selidik Andra.
“Hari ini, tapi ... firasatku benar-benar buruk, hubungi saja orang kita untuk berjaga, jangan lupa pakai topengmu, Bocah!” jelas Lam, yang kedengarannya begitu mengkhawatirkan Andra.
“Baik, Bang, sepertinya saya harus menghubungi Musang terlebih dulu,” usul Andra.
“Tidak jangan libatkan dia dalam hal ini, hubungi yang kemampuan bela dirinya cukup bagus, dan jangan sampai dikenali oleh orang-orang David,” tukas Lam.
Tak lama kemudian Andra pun bergegas menghubungi rekan-rekannya secara diam-diam di kamarnya. Sengaja dia melakukan hal tersebut agar Lam bisa berpikir tenang dan menyusun rencana lainnya.
Seusai bicara dia menarik koper yang disimpan di bawah ranjang, koper itu diangkat kemudian disimpan di atas kasur. Perlahan Andra duduk di tepi kasur sembari membuka sandi koper tersebut. Setelah kopernya terbuka, fokus penglihatannya tertuju pada topeng dan masker yang kerap dia gunakan saat menjalankan misi. Hal itu dilakukan untuk melindungi identitasnya.
Lam menyembunyikan wajah dan identitas Andra sebaik mungkin, karen dia tahu pasti suatu saat David pasti akan mengkhianatinya. Lam tidak peduli dengan diri sendiri, sekalipun dia hancur, tak akan ada orang lain yang ikut hancur karena itu. Sementara Andra, dia masih memiliki masa depan yang panjang–yang jauh lebih baik daripada bersamanya.
“Begitu besar pedulimu, Bang!” gumam Andra.
Andra termenung kembali, dia melanjutkan lamunannya saat di meja makan tadi.
***
Saat Lam yang terlunta-lunta di jalanan karena tidak memiliki tempat tinggal, sebagai ucapan terima kasihnya pada Lam, Andra mengajak Lam untuk tinggal bersamanya. Kebetulan Andra tinggal di rumah orang tuanya dan hanya hidup sendiri. Dengan bertemu Lam yang sudah menyelamatkan hidupnya, dia bertekad untuk mengubah diri menjadi lebih berani, dan melawan perundung yang kerap menyiksanya.
Rumah itu memang tidak mewah, tetapi setidaknya mampu melindungi dari panas dan hujan, juga tidak membiarkan Lam kedinginan saat malam menjelang.
Awalnya Lam menolak karena tidak ingin membebani siapa pun. Akan tetapi Andra terus membujuknya. Akhirnya ketulusan Andra pun meluluhkan Lam. Hingga sampai detik ini keduanya bersama dan saling melindungi satu sama lain.
__ADS_1
Lantas, keberadaan Hana di antara keduanya menjadi pemanis dalam kisah hidup mereka yang pelik. Hana bagai seorang ibu yang mengurus keduanya, dan bagai porselen yang dilindungi keduanya pula. Setiap berangkat dan pulang kerja, Hana diantar oleh kedua pria tampan itu dan ketika pulang pun keduanya akan menjemput Hana. Hubungan itu sudah begitu dekat sejak dulu.
“Kamu ke mana, Han? Kenapa pergi membawa dan meninggalkan luka begini,” lirih Andra.
Dia tahu pasti Hana pasti sangat jengah dengan pekerjaan Lam. Di sisi lain Andra juga tahu risiko terburuk jika Lam keluar dari lingkaran hitam itu. Dia tidak bisa menyalahkan keduanya.
Suasana sudah tidak lagi seperti dulu, kini hanya tersisa dirinya dan Lam. Walau di luar Lam tampak kuat dan kokoh, sejatinya hati itu masih menyimpan luka lama dan penyesalan terberat dalam hidupnya. Maka dari itu, terkadang Lam sudah tidak peduli lagi dengan diri sendiri.
***
Tin! Tin!
Suara klakson terdengar dari arah luar rumah besar itu. Pikiran Lam dan Andra yang sedang melayang jauh akhirnya terfokus pada suara itu. Lantas, Andra bergegas mengenakan topeng dan maskernya. Buru-buru dia keluar kamar dan membuka pintu untuk sekelompok orang yang datang.
Suasana mendadak menjadi menegangkan, sekelompok orang dengan wajah dan perangai sangar berderet di depan pintu.
“Mana Lam?” tanya seorang pria dengan kemeja motiv bunga itu.
Wajah-wajah itu cukup asing untuk Andra. Andra masih membisu, matanya bergulir menatapi satu persatu pria-pria yang baru saja tiba itu.
“Mana Lam?” Sekali lagi pria itu bertanya dengan nada yang lebih tinggi.
Andra yang masih memegang gagang pintu pun terkesiap. Tak lama kemudian suara langkah terdengar mendekat.
“Aku di sini! Kenapa kau berteriak!” sahut Lam dari dalam rumah dengan berani.
Pesonanya kian terpancar, dia dengan wajah lain yang menutupi semua sifat aslinya itu, begitu mengerikan, tetapi juga membuat kagum.
“Kau, Lam?”
“Ya, siapa kau?” selidik Lam.
“Bukankah David sudah memberitahukan, jika aku akan datang!” tegas si pria yang sepertinya tidak terima dengan sikap Lam.
“Lantas?” Lam bertanya dengan setengah mengejek.
“Tunjukan rasa hormatmu, Berandal!” pekik si pria, dia bergerak maju dan hampir menyerang Lam.
Akan tetapi dengan sigap Andra menghalang dan menepis serangan pria itu terhadap Lam. Ditimpali dengan senyum sinis Lam yang membuat pria itu semakin geram.
Lam menepuk bahu Andra, mengisyaratkan untuk membiarkan pria tadi menyerangnya saja.
Bugh!
__ADS_1
Sesaat setelah Andra membiarkan pria itu, sebuah tinju mendarat tepat di wajah tampan Lam.
***