
Saat Ini ....
Eunsu masih meringkuk memeluk lutut seraya menangis sesenggukan, di pojokan halaman rumah besar itu. Besar pula harapan si bocah untuk bertemu sang ayah. Terus saja dia menyebut nama Lam, dalam setiap helaan napas saat sesak dalam dada terasa begitu menghimpit. Derai air mata tidak tertahan. Terus meluruh di pipi gembilnya. Hingga wajahnya menjadi sembab kemerahan, dengan kelopak mata yang bengkak.
“Paman Lam, Paman Andra, kalian di mana?” gumam Eunsu masih dalam isak tangis.
Sudah cukup lama dia di sana, sepertinya enggan untuk beranjak. Hati kecilnya masih mengharapkan kedua pria itu kembali menemuinya.
“Kenapa Tuhan begitu tega padaku,” isaknya lagi.
“Ibu hilang, ayah yang baru saja ingin kutemui juga pergi, nenek selalu marah-marah, lalu kenapa aku harus ada di dunia ini, jika aku tak diinginkan ...,” racaunya di sela tangis yang belum berakhir.
“Paman Lam ...," teriaknya.
“Paman Andra ....” imbuhnya.
Drap! Drap! Drap!
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah depan, tepat menuju ke arahnya. Sontak Eunsu merasa senang, dia terkejut dengan raut wajah semringah. Dia menduga Lam atau Andra kembali ke rumah itu.
Semakin lama langkah itu semakin dekat padanya dan terdengar jelas. Tak lama kemudian, suara pria yang sedang bersua telepon itu sayup-sayup sampai pada pendengaran Eunsu.
Eunsu terperanjat, dia menyadari bahwa suara itu bukan milik kedua pria yang diharapkan datang padanya. Cepat-cepat Eunsu bersembunyi ke balik pohon besar yang ada di taman rumah itu. Sembari sesekali mengintip untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang datang ke rumah tersebut.
Besar dugaannya tertuju pada orang-orang yang pagi itu mendatangi Lam dan meninjunya. Namun, meski benar adanya, tak ada hal yang mampu dilakukan selain bersembunyi.
Eunsu menutup mulut dan menahan napas saat manik matanya melihat seorang pria tinggi semampai berpakaian serba hitam, dengan tudung yang menutupi kepala, kaca mata hitam pun melekat hingga Eunsu benar-benar tidak bisa mengenali wajah si pria. Suaranya pun tampak asing. Dia merasa sedikit ketakutan.
Akan tetapi, Eunsu hanya mampu menahan diri, seraya sesekali terus mengikuti pergerakan si pria. Sontak dia terkejut, saat mendapati pria itu tiba-tiba hilang. Padahal, beberapa detik lalu dia masih ada di dekat jendela bekasnya menangis tadi. Namun, sedikit saja Eunsu lengah, pria itu menghilang entah ke mana.
“Bro, ada seseorang di sini? Haruskah aku lenyapkan?” ucapnya berbicara pada seorang di balik telepon.
“Sebutkan ciri-cirinya!” jawab seseorang itu.
“Seorang gadis, cantik, rambut lurus sebahu, mata besar manik cokelat, pipinya tembem, tubuhnya seksi, putih, sayang bajunya lusuh, ah satu lagi, wajahnya sembab seperti tiga hari tiga malam menangis, atau mungkin sedang berkabung,” selorohnya.
“Woi, kau ini menyebutkan ciri-ciri penyusup atau sedang menaksir seorang wanita!” hardik pria di seberang sana.
__ADS_1
“Kau yang menyuruhku menyebutkan ciri-ciri.” Pria bermata tajam itu masih menatap ke arah Eunsu.
“Berapa usianya?” tanya seorang yang masih dalam panggilan telepon itu.
“Mungkin enam atau tujuh tahun,” jawab si pria sangat tepat.
“Dasar gila! Jangan sentuh gadis itu, biarkan dia dewasa, siapa tahu bisa jadi jodohku,” racau pria di seberang sana.
“Dasar kadal!” rutuknya sembari tersenyum geli.
“Kau lebih binal, masa anak enam tahun kau sebut seksi!” pekik seorang yang disebutnya kadal.
“Woi, Andra! Jangan berkata kasar, walaupun aku juniormu, usiaku lebih tua!” selorohnya.
“Baiklah, baiklah, lakukan tugasmu dengan benar, Pak tua, jangan sampai Bang Lam memecatmu, kau tidak mau kembali ke jalanan, bukan?” sahut Andra.
Ternyata pria itu adalah orang Lam yang sengaja ditugaskan ke rumah tersebut untuk melakukan sesuatu.
Tak lama setelah itu, pria berkumis tipis tersebut memalingkan pandangan dari Eunsu dan mengakhiri panggilannya. Namun, earphone masih menempel lekat di telinga. Dengan saksama pria itu menyusuri isi rumah, dia bermaksud untuk mencari sesuatu di rumah itu. Tentu saja sesuai perintah.
***
Sengaja dia menugaskan seseorang ke rumah itu untuk membersihkan jejak mereka di sana. Ya, Lam memang selalu berhati-hati, dia tidak ingin terlibat dengan polisi. Oleh karena itu setiap tempat yang dikunjunginya selalu dia membersihkan dengan menghapus semua hal yang terjadi padanya di sana. Entah itu sidik jari, jejak kaki, bau parfumnya atau bahkan sehelai rambut yang tertinggal di tempat dia singgah.
Karena semua itu adalah hal kecil yang bisa saja suatu waktu menjadi bukti yang kuat untuk polisi dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dia pria penakut, tetapi belum mau bertaubat.
“Biarkan saja, karena akan lebih menyakitkan baginya, jika aku menemui tanpa Bang Lam,” gumam Andra.
“Musang bilang Eunsu seksi, mata dia kenapa? Apa pria-pria tua di sampingku sudah tidak waras? Mereka membuatku bergidik.” Andra terus berbicara sendiri, berkomentar tentang dua rekannya.
***
Mika mendapatkan sebuah surel yang berisi jika misi dua juta dollar ingin dipercepat, seminggu sudah berlalu dari hari kesepakatan antaranya dan David yang diwakilkan Allen.
David sengaja memerintahkan Allen untuk terus menghubungi klien yang tak lain adalah Mika, agar mampu melacak sinyal itu. Namun, server yang digunakan Mika cukup tangguh setangguh orangnya. Allen masih tidak mampu meretas sistem tersebut. Hingga akhirnya David pun berkesimpulan jika Mika benar-benar klien sesungguhnya.
“Kapten Mika, bisa kau ke ruanganku sebentar,” tukas Darma.
__ADS_1
Mika yang hendak membalas surel yang masuk di portalnya pun, mengurungkan niat dan bergegas menemui Darma. Mika khawatir jika bosnya kembali mengamuk karena ulahnya.
“Opsir Jian, kau ikut juga!” sambung Darma seraya mengalihkan pandangan pada Jian.
Jian yang memang menunggu kata-kata itu pun segera beranjak dari duduk, lantas menyusul Mika yang sudah lebih dulu menghampiri sang atasan.
Kini mereka sudah sampai di ruangan yang terasa lebih mencekam bahkan mencekik sikap mereka. Seperti hewan buas yang terkena obat bius, tak ada kata yang terlontar dari mulut kedua serangkai itu. Kepalanya terus menunduk mencoba bersikap baik.
Darma menutup tirai jendela, tak lama kemudian dia tersenyum miring saat mendapati kedua detektif bebal itu, kini tertunduk layu.
“Jangan sok jinak! Kau kira aku akan luluh dengan sandiwaramu?” racau Darma.
“Hukum saya saja, Pak, ampuni Jian,” pinta Mika mencoba menyelamatkan juniornya.
“Siapa dan apa pun hukuman yang akan kalian terima, itu ada padaku,” teriak Darma.
“Bukankah itu keputusan komite disiplin?” Jian yang tidak terima dan bersikap naif, melontarkan pertanyaan.
“Dasar Bodoh!” batin Mika, dia mendelik ke arah Jian.
“Kau pikir siapa yang berkuasa di kantor ini? Komite disiplin? Huh!” teriak Darma tidak terima.
“Kenapa kau merusak suasana, Bodoh!” bisik Mika sembari menyikut lengan pria di sampingnya.
“Apa? Memangnya aku salah?” sanggah Jian masih belum mengerti situasinya.
“Berhenti berbisik di depan atasanmu!” hardik Darma mengetahui Mika dan Jian sedang membicarakan sesuatu tanpa melibatkannya.
“Siap!” tegas Mika dan Jian seraya mengubah posisi berdiri.
Keduanya bersikap siap, dengan wajah menatap lurus ke depan.
“Karena kulihat kalian berdua tidak menunjukkan penyesalan atas tindakan buruk yang diperbuat. Kau, Kapten Mika diskors selama satu minggu, dan kau, Opsir Jian, kau dipindahtugaskan ke bagian gudang, paham!” seloroh Darma.
Seketika, keputusan itu membuat keduanya tercengang, mulut keduanya terbuka lebar tanpa mampu mengucapkan kata-kata.
“Sial!” batin Mika.
__ADS_1
***