
“Kau, apa yang kau lakukan di sini?” selidik Lam pada Eunsu.
“Jadi rumah ini milik, Paman?” Alih-alih menjawab Eunsu justru balik bertanya.
“Ssshh,” desah Lam seraya mengeratkan gigi, “kemarilah, aku yang harusnya bertanya padamu!” tukas Lam kemudian.
Gadis berlesung mata persis seperti sang ibu itu tersenyum manis seraya menghampiri Lam. Manik matanya tidak bisa menolak untuk melihat pemandangan yang jarang dia temukan. Makanan sederhana, tetapi dalam menu yang lengkap. Aroma enak yang tercium pun membuatnya menelan saliva, tanpa kontrol.
Lam yang seolah paham, gadis kecil di hadapannya menginginkan apa yang ada di meja mengulas senyum. Entah perasaan apa itu, tetapi debaran di dalam dadanya selalu saja jauh lebih kencang hingga membuatnya merasa gelisah saat menatap Eunsu.
“Kau mau makan bersamaku?” tawar Lam.
Sontak Eunsu menoleh ke arah Lam, lantas mengangguk bahagia.
“Duduklah!” tukas Lam.
Eunsu pun duduk tepat di kursi yang sudah Andra siapkan untuknya tadi, kebetulan Imah hanya menyediakan dua piring kosong di meja tersebut.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona!" seru Lam pada Eunsu yang akan menyendok nasi.
“Oh, iya, nenekku yang membantu Paman, membersihkan rumah ini, aku ke sini karena merasa bosan di rumah sendiri,” tutur Ensu.
Ditimpali dengan sebuah anggukkan oleh Lam, “Ya sudah, sepertinya kita memang berjodoh sejak awal,” ucap Lam asal.
“Jodoh itu apa, Paman?” tanya Eunsu.
Seketika pertanyaan Eunsu membuat Lam terdiam, dia kebingungan bagaimana menjelaskan semuanya pada gadis kecil itu.
“Eum, anu, itu, eu ...,”
“Bang! Si Nenek, enggak ada!” seru Andra dari arah dapur, ternyata dia tidak berhasil menemukan Imah.
Syukurlah Lam selamat dari pertanyaan Eunsu.
“Ya sudah tak apa, ambil lagi piring untukmu, cepat kita makan!” seru Lam.
“Apa? Bukankah sudah ada?” cecar Andra yang belum menyadari kehadiran Eunsu.
“Sssh ....” greget Lam karena Andra terus saja menjawab ucapannya, “lakuin aja, napa, Ndra! Banyak nanya!” imbuh Lam.
“Apa? Sekali lagi, Bang!” ledek Andra yang cukup jarang disebut nama oleh Lam.
“Andra ... kadal ... tutul ...,” desis Lam.
__ADS_1
“Ih, gak asyik!” rutuk Andra seraya mengambil piring.
Tak lama kemudian Andra bergegas menuju meja makan dan berkumpul dengan Lam. Dia hendak duduk di kursi yang sempat disiapkannya, sementara Lam memperhatikan dengan saksama apa yang Andra lakukan tanpa bertanya. Namun, tepat sebelum Andra mengempaskan tubuh bagian belakangnya ke kursi, seketika itu pula dia tersentak oleh keberadaan Eunsu.
“Bocil!” teriak Andra begitu kaget.
Eunsu tertawa renyah menyaksikan tingkah Andra. Begitupun dengan Lam, dia cekikikan sangat puas karena telah berhasil mengerjai Andra.
“Astaga! Kenapa gak bilang, sih!” umpat Andra seraya mengelus dada yang masih berdebar kencang.
“Emang gak kelihatan?” cecar Lam yang masih berusaha menahan tawa.
Andra menggeleng, “Lagian mana keliatan orang punggung kursi lebih tinggi dari pada tubuh si bocil,” rengek Andra.
Andra pun terus mengumpat yang ditimpali tawa oleh Lam dan Eunsu.
“Maafin Eunsu, Paman Bunglon nyuruh Eunsu untuk diam,” jelas Eunsu begitu polos.
“Aish, kenapa kamu malah mengadu, sih!” geram Lam.
”Omong-omong, kenapa kamu bisa di sini?” tanya Andra seraya duduk di kursi yang bersebelahan dengan Eunsu.
“Nenek kan yang bersih-bersih di sini,” jawab Eunsu.
Eunsu mengangguk, kedua kakinya tak henti berayun, sebab kakinya belum sampai ke lantai saat duduk di kursi tersebut. Andra mengambilkan sepotong ayam goreng untuk Eunsu yabg disambut dengan senyum mengembang oleh gadis kecil berlesung mata itu.
“Mau apa lagi?” tanya Andra penuh perhatian.
“Sayur,” ucap Eunsu sedikit malu-malu.
Mendengar jawaban Eunsu, Andra langsung saja menyendok sayur dan menyiramkan ke atas nasi di piring Eunsu. Sementara Lam masih memperhatikan keduanya. Pemandangan itu begitu menakjubkan untuknya.
“Makan yang banyak!” ujar Andra setelah selesai memberikan lauk dan sayur pada Eunsu.
“Terima kasih, Paman,” ucap Eunsu lantas mengangkat kedua tangan dan berdoa.
Lagi-lagi, Lam dibuat takjub oleh gadis berdagu lancip berpenampilan kumal itu. Dipandanginya Eunsu yang sedang lahap menyantap makanan. Melihatnya makan membuat selera makan Lam bertambah. Ketiganya bersantap seraya bercengkrama penuh kehangatan.
Saat Andra menyendok suapan terakhirnya, tiba-tiba saja dia berhenti. Dia mendelik ke arah Eunsu seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Tunggu dulu, omong-omong jika kau cucu Nek Imah, jadi, gadis yang mau dia jodohkan padaku itu kamu?” selidik Andra seraya menatap Eunsu lekat-lekat.
“Apa, Paman?” sela Eunsu yang benar-benar tidak paham, ”oia jodoh itu apa?” lanjutnya dengan ekspresi wajah menggemaskan.
__ADS_1
Uhuk! Uhuk!
Tiba-tiba Lam terbatuk, sebab mendengar pertanyaan tentang jodoh terlontar lagi dari Eunsu.
“Aish, kenapa kau malah bahas hal yang bukan-bukan di depan anak kecil, Bocah!” sentak Lam.
“Kenapa Paman berteriak?” timpal Eunsu.
“Teriak? Aku tidak teriak,” elak Lam.
“Memang ada apa dengan jodoh? Nek Imah yang mengatakan itu padaku sebelumnya,” kelakar Andra.
“Kenapa Nenek ingin menjodohkanku dengan Paman, kata Paman bunglon aku adalah jodoh dia, jodoh itu apa?” cecar Eunsu yang benar-benar penasaran terus bertanya tentang hal itu.
”Jodoh itu pasangan hidup,” celetuk Andra sekenanya.
Berbeda dengan Andra yang menjawab dengan semestinya, Lam justru masih termenung memikirkan kata-kata apa yang pantas diucapkan untuk menjelaskan makna kata tersebut pada Eunsu.
“Dasar Bocah kadal!” gerundel Lam, memelankan suaranya.
“Pasangan hidup? Bukankah pasangan itu dua orang, tapi kalo aku jodoh Paman Bunglon, lalu aku dijodohkan sama Paman–” Eunsu menghentikan ucapannya saat tidak tahu harus memanggil Andra dengan nama apa.
“Andra, aku Andra,” potong Andra.
“Ya, Paman Andra, aku menjadi pasangan dari dua orang, dong, emang boleh?” lanjut Eunsu.
Seketika ruangan menjadi hening, Andra baru menyadari bahwa penjelasannya tadi menjadi bumerang untuk dirinya. Anak seumuran Eunsu memang sedang masa meningkatnya rasa ingin tahu.
”Kalau aku jadi pasangan mereka, saat usiaku seperti mereka, mereka seusia nenek, dong!” gumam Eunsu.
Perkataan Eunsu yang terdengar oleh Andra pun, membuatnya menelan saliva serta membelalakkan mata. Dia tidak menyangka anak seusianya sudah mampu berpikir sejauh itu.
Meja makan yang isi piringnya hampir tak menyisakan apa pun itu, kini bagaikan menjadi meja hijau pengadilan. Suasana mendadak menjadi menegangkan. Terlebih Eunsu masih saja berpikir keras, sepertinya dia benar-benar ingin tahu tentang kata jodoh tadi.
”Semuanya gara-gara kau!” desis Lam yang tak ingin umpatannya itu terdengar oleh Eunsu.
“Kenapa kau tidak mengingatkanku, Bang!” protes Andra dengan nada yang sama–sedikit berbisik.
“Aku mencobanya, tapi kau terus saja bicara seperti kakek tua!” dengkus Lam.
Andra mendelik dengan tatapan tajam ke arah Lam, sorot matanya itu bagai memancarkan sinar laser.
“Ada apa dengan kalian?” selidik Eunsu menatapi kedua pria yang ada di hadapannya secara bergantian.
__ADS_1
Degh!