
Semilir angin berembus menyibak wajah sembab gadis kecil berlesung mata itu. Dia masih termenung dengan kesedihan yang masih menyelimuti dirinya. Imah, sang nenek tidak sehangat dulu semenjak mengetahui cucunya menemui Lam untuk mengungkapkan semuanya.
Imah merasa tak dihargai oleh Eunsu, keegoisan wanita tua itu merasuki hingga dia merasa tak layak untuk memaafkan Eunsu, yang dianggapnya telah mengkhianati dirinya dan Hana. Padahal, Eunsu hanya seorang anak yang merindukan kasih sayang sang ayah yang tidak didapatkannya. Dia menginginkan dekapan hangat Lam selalu membersamai, tanpa harus menyakiti sang nenek.
“Eunsu, makan dulu!” titah Imah.
Meskipun begitu Imah tetap menyayangi Eunsu sepenuh hati.
“Eunsu gak lapar,” sahut Eunsu.
Wajahnya masih merengut menyisakan segala kepahitan.
“Terserah kau saja, jika tak mau makan.“ Alih-alih membujuknya, Imah justru bersikap acuh tak acuh.
Sikap sang nenek masih membuat gadis kecil itu kecewa, dia memutuskan untuk berjalan-jalan saja dan menikmati pagi yang masih sejuk itu. Tanpa sadar langkahnya terarah menuju rumah besar kediaman Lam. Padahal, dia tidak ada niatan sedikit pun dia untuk pergi ke tempat itu.
Eunsu hanya berjalan-jalan mengitari komplek perkampungan tersebut, hingga takdir membawanya ke tempat tersebut.
“Loh, kok aku di sini?” Eunsu bermonolog.
Langkahnya terhenti tepat di depan rumah besar itu, dia mematung beberapa saat seraya menghela napas berkali-kali. Seolah bebannya begitu berat. Lagi, angin pagi itu berembus kencang. Seakan menusuk sampai ke tulang, bulu-buru roma Eunsu berdiri dibuatnya, sampai-sampai gadis berkulit putih itu bergidik kedinginan.
Tak ingin terus di tempat itu dan membuat neneknya khawatir, Eunsu pun berniat untuk kembali ke rumahnya. Namun, ekor matanya menangkap suatu benda yang tidak asing baginya bergerak-gerak tertiup angin. Eunsu memusatkan tatapan pada benda itu. Benar saja, itu poto yang dicari-cari waktu itu.
Senyum semringah terukir, dia berlari untuk mengambil poto tersebut. Sorakan kecil dilontarkannya, seolah sedang menemukan harapan baru. Setelah puas berbahagia sendiri, terlintas dalam pikirannya untuk menemui Lam kembali dan mengatakan semuanya hari ini.
Dia berlari kecil menuju rumah besar itu, napasnya hampir habis karena rasa bahagia bercampur dengan lelah setelah berlari menguras energinya, terlebih lagi belum ada makanan yang masuk pagi ini.
Sesampainya di teras rumah itu, Eunsu masih mengatur napasnya sembari melangkah perlahan menuju pintu.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Tangan mungilnya mulai mengetuk pintu, karena untuk menekan bel tingginya belum sampai. Beberapa kali, Eunsu mengetuk pintu, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
“Paman Lam! Paman Andra!” teriak Eunsu.
Dia berpikir mungkin kedua pria tampan itu masih tidur, lantas memanggil mereka lagi dengan suara lebih kencang.
“Paman Lam, Paman Andra!”
Nihil, lagi-lagi Eunsu tak mendapatkan jawaban. Dia bergegas menuju ke taman belakang rumah untuk mengintip lewat jendela kamar Lam.
Sekali lagi dia harus berlari dengan kaki mungilnya, berharap berhasil menemui Lam. Senyumnya masih mengembang dengan sesekali meneriakan nama Lam dan Andra secara bergantian.
Eunsu sampai di kaca jendela yang tirainya masih terbuka. Dengan debar jantung yang menggebu, dia lekas mengintip, dari jendela tersebut. Namun, sesaat kemudian senyumnya memudar, dilihatnya kamar itu masih tertata rapi. Seorang yang akan dia temui tak ada di sana. Perlahan dia pun menyadari jika rumah itu telah kosong dan ditinggalkan.
“Paman ...,” lirihnya.
Air mata pun berderai seiring kekecewaan yang terus saja menghujaninya. Harapan untuk bertemu sang ayah, benar-benar musnah. Tubuhnya yang bergetar karena isak tangis meluruh dengan kaca jendela yang menjadi sandaran. Ditatapnya potret Lam dan Hana, seraya meraung pilu.
“Ibu ... Paman ....”
***
“Semoga kau baik-baik saja, Bang.” Andra yang tidak tenang terus saja menggumamkan harapan-harapan positif untuk Lam.
Sangat disayangkan dia dilarang untuk membantu Lam, meski sangat menginginkannya. Tidak ada cara lain selain menuruti perkataan Lam, dan membantu Lam dengan cara mendoakannya. Cukup dramatis memang, seorang berandal cukup berani untuk berdoa meminta keselamatan. Padahal dia tahu pekerjaannya itu merupakan sebuah kesalahan. Namun, Tuhan tidak begitu, dia pasti tahu hati manusia mana yang tulus menyembahnya meskipun tak selalu terlihat begitu agamis.
Di tengah perjalanan Andra teringat dengan pesan Lam untuk menitipkan sesuatu di toserba tempat pertama kali dia bertemu Eunsu.
Saat Lam menyadari hari ini Kamis, dia meminta Andra untuk membelikan Eunsu roti cokelat dan eskrim yang telah dijanjikannya. Tak ingin mengecewakan Lam, Andra pun melipir sebentar untuk melakukan tugasnya.
Setelah memarkir mobil di halaman toserba, bergegas dia masuk dan memilih beberapa roti dan beberapa kotak susu. Toserba itu terlihat sepi, padahal hari cukup cerah. Mungkin karena ini bertepatan dengan akhir bulan di kalender, hingga kegiatan orang untuk berbelanja pun sedikit.
__ADS_1
“Mbak, saya bayar yang ini, ya,” ucap Andra saat tepat berada di depan kasir dan meletakkan barang belanjaan.
Kebetulan kasir yang sedang berjaga adalah Naya.
“Ada lagi yang lainnya, Kak?” tanya Naya seraya mulai menghitung belanjaan Andra.
“Ada, Mbak, tolong eskrimnya sekalian ya,” tutur Andra.
Naya pun menyetujui. Setelah selesai menghitung, satu kantong keresek putih itu disodorkan pada Andra. Akan tetapi, Andra tidak menerimanya. Dia berbincang sebentar dengan Naya mengenai Eunsu. Naya terkejut, dia tidak mengerti bagaimana bisa pria di hadapannya itu mengenal Eunsu.
Untuk mengobati rasa penasaran Naya, Andra pun menjelaskan inti dari pertemuannya dengan Eunsu. Betapa senangnya Naya, mendengar penuturan Andra. Tak perlu berpikir banyak, Andra yang kini tahu jika Naya tetangga Eunsu pun langsung menitipkan semuanya. Termasuk uang yang Lam titipkan untuk Imah.
Sebuah amplop cokelat muda, kini berada dalam genggaman Naya. Dia menatap benda itu lekat-lekat. Dari sorot matanya tersirat sesuatu hal misterius.
“Maaf aku sudah dengan lancang meminta bantuan, Mbak," sesal Andra.
“Kau yakin menitipkannya padaku?” Selidik Naya yang ragu-ragu.
“Iya, Mbak, apalagi Mbak mengenal Eunsu dengan baik. Aku bukan tak ingin menunggu, hanya saja aku ada urusan lain yang mendesak, tolong ya, Mbak,” Andra memohon.
Merasa alasan pria itu masuk akal, Eunsu pun menerimanya. Andra pun tidak lupa memberikan kartu nama, agar Naya bisa menghubunginya kapan saja, saat sesuatu terjadi pada Eunsu. Untuk hal ini, di luar tugas yang diberikan Lam. Itu inisiatifnya sendiri untuk melindungi Eunsu.
“Sampai jumpa, ya, Mbak,” ujar Andra seraya berbalik badan dan keluar.
***
“Akhirnya kau bergabung juga,” seloroh Steve, kemudian tertawa renyah.
“Cih! Jangan kau pikir, ini semua aku lakukan karena aku bukan pengecut," tangkas Lam.
Steve berkacak pinggang seraya menatap Lam dengan tajam.
__ADS_1
“Jangan bersikap sombong di rumah orang lain, Tuan. Kau tidak sopan!” hardik Steve.
***