Real Dad

Real Dad
Berseteru


__ADS_3

Pria di depan layar komputer itu masih sibuk memainkan jarinya dia papan ketik. Seolah sedang mencari sesuatu yang tak kunjung ditemukan. Seorang pria lainnya berdiri tepat di sampingnya, menegaskan keinginan agar cepat tercapai dari raut wajah sangar pria berkemeja motif bunga itu.


Plak!


Sebuah pukulan kecil mendarat di kepala pria yang sedang serius menatap layar tersebut. Sepertinya dia baru saja mengecewakan pria di sampingnya.


“Ampun, Bos!” gumamnya.


“Kenapa kau tidak becus seperti ini? Aku membayarmu untuk bekerja sungguh-sungguh, Berengsek!” hardik David dengan bola mata yang hampir lepas dari kelopaknya.


“Aku sudah berusaha, Bos. Namun—” sanggah Allen yang tak ingin terus disalahkan.


“Apa? Huh! Kau membantah?” cecar David, lantas dia memukul wajah Allen cukup kencang beberapa kali.


Kini, Allen hanya mampu terdiam. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sejurus kemudian, David menggebrak meja dan membuatnya terkesiap. Badannya nyaris saja melompat karena kaget.


Suasana menegangkan kerap terjadi disertai dengan penyiksaan yang tak segan David lakukan pada Allen. Hanya dia yang berkemampuan khusus di antara yang lainnya. Walaupun Allen merupakan aset berharga, tetapi David memperlakukan sama buruknya dengan yang lain.


“Ingat, sampah akan tetap tidak berguna jika tidak ada yang memungutnya, lakukan pekerjaanmu dengan baik! Atau kau akan kembali ke tempat menjijikkan lagi! Huh! Paham?” kecam David.


Dia mencengkeram dagu Allen, lalu menariknya ke atas, hingga dia bisa leluasa menatap tajam dan memindai raut wajah remaja tanggung tersebut.


Allen tidak berani menjawab, dia mengedip seraya berusaha mengangguk sebagai jawaban. Suaranya seolah hilang ditelan rasa takut, tercekat dalam tenggorokan dan tak ada tenaga untuk mengeluarkannya.


David menghempas kasar cengkeramannya, hingga membuat kepala Allen tersentak. Tarikan napas panjang yang cukup lama tertahan, terdengar penuh tekanan. Sementara pria-pria lain yang berada di sana, hanya menyaksikan tanpa iba perlakuan pria yang diagungkannya.


“Aku menyelamatkan nyawamu dan kau ingat kau harus membayarnya dengan kesetiaan!” seloroh David seraya berlalu meninggalkan Allen.


Allen menatap nanar punggung David, yang kemudian menghilang di balik pintu dan diiringi suara bantingan daun pintu yang cukup kencang. Sekali lagi, Allen terkesiap. Napasnya, tiba-tiba saja tersenggal-senggal. Dia kesulitan bernapas karena ketegangan yang baru saja dialaminya, tangannya gemetar berusaha meraih laci dan mencari sesuatu.


Wajahnya mulai pucat dengan butiran-butiran keringat dingin yang mulai meluruh, tangannya masih sibuk mencari sesuatu. Dapat, akhirnya dia dapatkan sesuatu yang dicarinya setelah beberapa lama mengacak isi laci. Sebuah inhaler ventolin yang menjadi penyambung hidup.


Masih, dengan gemetar dia mengarahkan ventolin ke mulut untuk diisapnya. Setelah tiga kali dia mengisap ventolin itu, napasnya mulai kembali membaik. Dia menyandarkan tubuh ke punggung kursi, mencoba menenangkan diri.


“Tolonglah, dua juta Dollar, balas surelku ...,” gumamnya.


Dalam kondisi seperti itu pun dia masih memikirkan pekerjaan yang memang membuatnya tertekan. Fisiknya yang lemah untuk baku hantam, hanya mampu mengandalkan otak dan kemampuannya. Ironisnya, tidak ada yang mampu membantunya dalam situasi ini, dia harus menyelesaikan pekerjaannya sendiri, untuk melindungi nyawanya.


***


Setelah puas menghirup angin segar, Lam mecoba mengitari dan memeriksa struktur gedung tua itu. Manik mata hitam legam itu menyisir seluruh area dengan saksama dan teliti. Tak ada celah yang tertinggal oleh mata tajamnya. Disadari, ledakan kecil saja bisa meruntuhkan bangunan yang strukturnya sudah sangat buruk itu.


Lam mencoba mencerna lagi, kata-kata Steve yang merupakan sebuah peringatan untuknya. Alis simestris uang nyaris seperti barisan semut itu bertaut, sesekali dia memijat kening yang terasa begitu penat.

__ADS_1


“Wah, apa David benar-benar akan membuangku, kali ini?” gerundelnya.


“Ssshh,” desisnya kebingungan.


Dia menengadah menatap langit-langit yang sudah bolong dimana-mana.


“Sebenarnya aku masih ingin hidup, aku tidak ingin mati dengan cara tidak keren seperti yang aku pikirkan,” gumamnya masih bermonolog.


“Apa yang harus aku lakukan? Terlebih waktu semakin dekat.” Lam gelisah.


“Aku pun ingin mendapat maaf dari Hana terlebih dulu sebelum aku mati, huuuuaaa.”


Tiba-tiba saja Lam menjadi emosional, perlahan dia menunduk, lalu berjongkok, dan menangis di pojokan gedung. Beruntung, tidak ada siapa pun di tempat itu. Cukup kencang dia meraung, seperti meluapkan emosi yang telah lama tertahan. Memikirkan kematian membuatnya ketakutan.


Takut menghadap Tuhan dalam keadaan terburuknya. Tentu saja, manusia mana pun tidak ada yang menginginkannya.


Drt! Drt! Drt!


Getar ponsel di saku blazernya, membuatnya tersentak. Dia menyeka air mata dengan ujung lengan kemeja sebelum merogoh ponsel. Tak lain dan tak bukan, orang yang meneleponnya adalah Andra.


Sebelum menjawab panggilan tersebut, Lam berdeham beberapa kali untuk mengembalikan suaranya yang parau.


“Apa? Kenapa?” cecarnya tanpa salam terlebih dulu.


“Apa maumu? Jelaskan cepat!” titah Lam seraya sesekali menyeka air mata yang masih terjun bebas.


“Ada apa dengan suaramu? Apa kau menangis?” selidik Andra yang tahu pasti ada yang tidak beras dengan bosnya itu.


“Bersisik!” gerutu Lam.


“Wah, jadi serius kau menangis, ini sesuatu yang langka, Bang. Aku harus abadikan,” ledek Andra diselingi dengan tawa kecil.


“Kau ini bocah tidak tahu diri!” kecam Lam.


“Jangan begitu, Bang. Meski aku tidak tahu diri, kau selalu menginginkanku, bukan?” sungut Andra.


“Hei! Berhenti beromong kosong, kau membuatku ingin mengutukmu jadi kadal,” berang Lam.


“Uuuw, mengerikan,” ledek Andra sekali lagi.


“Kadal tutul!” bentak Lam.


“Apa? Kau merindukanku wahai bunglon piaraan sponge bob?” sahut Andra.

__ADS_1


“Aish, kau memang anak tidak tahu diri!” sembur Lam kesal.


“Hahaha,” tawa Andra pecah lagi, “omong-omong, Bang, setelah misi ini selesai, aku antar kau untuk terapi, ya. Aku sudah mencari beberapa klinik alternatif yang akreditasinya bagus," seloroh Lam.


“Terapi apa maksudmu?” tanya Lam pura-pura tidak mengerti.


“Itu, spongebobmu. Apa kau akan membiarkannya tidur terus, kau juga memiliki masa depan, Bang,” kelakar Andra.


“Apa itu penting untuk dibahas saat ini? Kau sama saja dengan Steve, membahas yang tidak perlu dalam keadaan yang tidak tepat,” sanggah Lam.


“Jadi kau mendapatkan intimidasi di sana, Bang? Waaah, kau benar-benar berada dalam bahaya? Jangan-jangan kau menangis gara-gara hal itu?” cemooh Andra.


“Dan kau memperburuknya!” geram Lam.


“Tidak, Rhoma, Tidak! Setidaknya aku memberimu tujuan untuk keluar hidup-hidup dari tempat itu, mengerti?” terang Andra.


“Kau berisik!” pungkas Lam seraya menyudahi panggilan teleponnya.


Cukup lama mereka berbincang tidak jelas. Membuat Lam semakin kesal saja. Andra selalu membuatnya mati gaya.


***


“Gimana? Sudah kau dapatkan?” tanya Andra pada pria di sampingnya.


“Yosh! Mari kita cari rute aman untuk penyelamatan Bang Lam,” sahut si pria yang tak bukan adalah Musang.


“Ini akan jadi pekerjaan terhebat,” decak Andra dengan angkuhnya.


“Hebat apanya, bukankah selalu ini yang kita lakukan,” sahut Musang.


“Kau akan tahu nanti!” ujar Andra ambigu.


“Ah, sialan, kenapa aku harus terjebak dengan pria-pria gila ini, Tuhan,” keluh Musang seraya meluruhkan tubuhnya di jok mobil dan memejamkan mata.


“Woi, jangan tidur! Gantian nyetir, aku belum tidur dari kemarin!” sentak Andra.


“Apa? Kau ingin kita mati, ya?” amuk Musang.


“Makanya, gantian ...,” kekeh Andra seraya menepikan mobil dan menginjak pedal rem.


“Benar-benar menyusahkan!” umpat Musang.


***

__ADS_1


__ADS_2