Real Dad

Real Dad
Bab 40


__ADS_3

“Dasar tidak becus!” hardik David pada Steve yang sedang melapor.


“Mengurus seorang wanita saja kalian tidak becus!” lanjutnya seraya melayangkan tamparan pada Steve.


Seketika wajahnya menoleh hingga ke arah lain saat tamparan itu mendarat di pipi Steve. Terpampang jelas jejak kemerahan di pipi itu. Pria berkepala plontos tersebut tidak menjawab sepatah kata pun.


“Kita akan hancur jika dia buka mulut! Awasi Lam!” titah David seraya mengeratkan gigi.


“Baik, Bos!” sahut Steve mantap.


"Jika kalian gagal kali ini, kau, kau, kau, dan kau! Jangan harap bisa melihat keluarga kalian hidup-hidup!” kecam David seraya menunjuk satu persatu anak buahnya.


“Baik, Bos!”


Tidak ada kata lain selain patuh dan menuruti apa yang David inginkan. Kini, dia mengejar Lam.


“Satu hal lagi, kau ingat saksi mata kedatangan Lam dan kau ke C di rumah besar kala itu?” tanya David.


“Ya, Bos!” jawab Steve.


“Singkirkan dia, pastikan dia sebatang kara. Jika dia memiliki keluarga, habisi juga. Mulai dari situ saja, setelah itu, kita tunggu pergerakkan Lam. Saat kita tahu dia mengacau habisi dia dan orang-orangnya!” geram David.


***


Sementara di sisi lain Mika masih dalam keadaan pingsan di rumah sakit. Jian yang menungguinya menangis sehari semalam karena sang kapten tak kunjung siuman. Kabar tentang Mika sampai sudah ke telinga Darma.


Darma pun geram mendengar hal bodoh yang telah Mika dan Jian lakukan. Dia tahu pada malam itu mereka benar-benar merencanakan sesuatu. Akan tetapi, Darma membiarkan hal itu terjadi, dalam lubuk hatinya dia ingin melihat bagaimana Mika menyelesaikan itu. Ternyata, dia dibuat kecewa oleh kapten wanita satu-satunya di kantor tersebut.


Darma sedikit kesal, karena Mika ceroboh. Akan tertapi, Darma mencoba menutupi kasus itu agar tidak sampai ke pusat. Namun, Mika tetap harus menerima konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Darma mengunjungi rumah sakit guna menjenguk Mika.


Setibanya di rumah sakit Darma menanyakan keberadaan Mika pada suster yang bertugas di lobi pendaftaran. Dengan sigap suster tersebut mengarahkan pada suster jaga yang ada di kantor bangsal.


Perempuan muda berpakaian putih-putih itu langsung terkesiap saat Darma menyebutkan nama Mika, dia begitu mengingat Mika karena Jian.


“Mari, Pak, saya antar. Saya ingat betul orang yang Bapak cari. Pacarnya menangis semalaman karena inspektur yang kecelakaan tak kunjung siuman,” tutur si perawat.


“Boleh saya tahu apa yang terjadi dengan bawahan saya, Sus?” selidik Darma.


“Sebentar saya bacakan hasil diagnosanya,” jawab suster tersebut seraya membuka lembaran demi lembaran catatan pemeriksaan.


“Oke,” jawab Darma.


“Eumh, jadi, Nona Mika terkena benturan dan ada gegar otak ringan, tapi itu enggak bahaya,” jelas suster.


Darma pun manggut-manggut, lantas dia bergegas menuju kamar Mika yang sebelumnya disebutkan oleh perawat yang ada di hadapannya. Darma memilih pergi sendiri, dia tidak ingin merepotkan suster tersebut.

__ADS_1


Setibanya di depan pintu kamar yang Mika tempati, benar saja dia mendapati Jian sedang menangis sesenggukan. Padahal, jelas-jelas Mika sudah tersadar dan duduk di hadapannya, meski masih belum pulih sepenuhnya.


Terdengar samar, Mika merutuki juniornya itu, entah apa yang membuat Jian menangis hingga sebegitunya. Tanpa peduli pada atensi orang-orang di sekitar.


“Hei, Opsir Ji, apa yang kau lakukan?” sapa Darma seraya masuk.


“Komandan, hor-mat!” Jian langsung berdiri saat mendapati Darma mendatanginya.


“Cukup, cukup,” tepis Darma, “Bagaimana keadaanmu?”


Darma mengalihkan pandangan ke arah Mika, lantas menatapnya tajam.


“Baik,” jawab Mika singkat, sepertinya dia mengerti maksud dan tujuan Darma datang padanya.


“Kau sudah membuktikan ambisimu, Inspektur Mika, dan kegagalanmu ini mencoreng citra kepolisian. Terlebih kau bertidak ketika kau sedang diskors!” tegas Darma.


“Bisakah kita bahas ini setelah aku keluar dari rumah sakit, kepalaku sangat pusing, Pak!" kilah Mika.


“Tentu saja kita harus membahas ini, cepatlah keluar,” tukas Darma seenaknya.


“Astaga, kau memang kejam!” geram Mika seraya memelototi Darma.


Mika tahu dia harus menghadapi hukuman akibat perbuatannya. Kali ini, dia tidak banyak bicara untuk melawan. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk patuh, dia menyadari kegagalannya kali ini, dan tak ingin terus berseteru dengan Darma.


***


Seharian ini dia tak melihat cucunya keluar kamar, tetapi samar terdengar celotehannya begitu riang. Saat Imah mecoba mengintip dari balik tirai ternyata Eunsu sedang menggambar sesuatu seraya berbicara pada poto Lam dan Hana.


Hati Imah sedikit berdesir melihat tingkah cucunya. Dia tak kuasa menahan perasaan yang selama ini telah dicoba untuk ditutupi. Rasa sakit yang selama ini menjadi kekuatan, tak lagi berarti saat melihat senyum semringah Eunsu menatapi poto sang Ayah.


Imah mengela napas berat, dia melirik ke tas spongebob itu. Kemudian dia menghampiri dan mengambilnya. Dia menggenggam erat tas itu, lalu bergegas menuju Eunsu.


“Nak! Eunsu!” seru Imah seraya tergopoh menuju kamar Eunsu.


Eunsu terperanjat dan buru-buru menyembunyikan apa yang sedang asyik dia kerjakan beberapa saat lalu.


“Iya, Nek!” sahutnya.


“Boleh nenek masuk?” tanya Imah.


“Masuk, Nek! Sini, sini!” sahut Eunsu.


Imah menyingkap tirai, kepalanya menyembul dan tersenyum hangat pada gadis kecil di hadapannya itu.


“Kenapa Nek?” tanya Eunsu.

__ADS_1


“Nenek punya sesuatu buat Eunsu,” ujar Imah.


“Apa itu?” Eunsu penasaran dengan apa yang akan Imah berikan.


Perlahan Imah masuk dan duduk di dekat Eunsu.


“Kejutan!” seru Imah seraya terkekeh.


“Waah spongebob!” decak Eunsu, “punya siapa, Nek?” tanya Eunsu kemudian.


“Punyamu waktu kecil, Hana yang titipkan. Nenek rasa ini waktu yang tepat untukmu memilikinya,” tutur Imah.


“Tapi kan, aku enggak sekolah, Nek,” sesal Eunsu.


“Tidak apa, Tahun depan Eunsu kan bisa mendaftar,” bujuk Imah, “coba buka deh, ada apa di dalamnya.”


Eunsu meraih tas itu dengan begitu senang, wajahnya merona dengan sorot mata yang berbinar. Dibukanya resleting tas kuning berbentuk persegi tersebut. Seketika dia tersenyum lebar saat mendapati poto Lam di dalamnya.


“Paman Bunglon,” desis Eunsu.


“Panggil dia ayah, masa paman bunglon," ledek Imah.


“Bolehkah, Nek?” tanya Eunsu, “Nenek gak akan marah sama aku?" sambungnya.


Imah mengangguk tanda setuju, dia mengusap pucuk kepala Eunsu kemudian mengecupnya penuh kasih sayang.


“Maafkan nenek yang sudah terlalu keras padamu, hanya karena perasaan nenek,” ungkap Imah, tak dapat dia tahan lonjakan emosional yang membuat matanya memanas menahan air yang hampir meluap.


“Enggak apa, Eunsu ngerti, nenek marah karena Daddy Lam tidak mengenali kita,” ujar Eunsu yang bersikap sok dewasa.


“Nanti, besok atau lusa kita ke rumah Lam di K, ya, dengan uang itu,” tutur Imah.


“Sungguh, Nek?”


“Eumh!” yakin Imah.


“Nenek tahu alamat Daddy?” selidik Eunsu.


“Ada di balik potonya, coba Eunsu lihat,” anjur Imah.


Eunsu merogoh poto Lam yang ada di dalam tas, dia membaliknya dan memang benar alamat Lam tertera di sana. Senyum mereka tersungging di bibir mungil Eunsu.


“Jaga baik-baik, jangan sampai hilang lagi, mengerti?” ujar Imah.


“Iya, Nek!” jawab Eunsu begitu bersemangat.

__ADS_1


Tak ada yang dapat Imah lakukan selain hal tersebut, dia mencoba berhati besar mengesampingkan apa yang menjadi luka dalam hatinya demi sang cucu. Tak ada yang lebih penting selain kebahagian Eunsu kali ini.


“Semoga Lam menerimamu dengan baik, Nak. Semoga kau tidak kecewa, seperti ibumu. Kau begitu mempercayainya persis seperti ibumu, dulu. Hanya saja Lam pria yang labil, nenek khawatir, itu saja,” batin Imah.


__ADS_2