Real Dad

Real Dad
Obrolan Kedua Pria Gila


__ADS_3

Lam masih gelisah memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Pikirannya dijejali oleh raut wajah Eunsu yang begitu terluka oleh kelakuannya. Tatapan Eunsu begitu mengusik pikirannya, hingga mampu membuat jantung pria dewasa itu berdebar kencang.


Malam semakin larut, matanya masih terasa licin, tak ada sedikit pun rasa kantuk menyapanya. Batinnya masih berkecamuk di keadaan lain. Padahal, hal lebih penting pun seharusnya dia pikirkan.


Tok! Tok!


“Bang, kau sudah tidur?” Andra mengetuk pintu kamar Lam.


“Belum, ada apa?” sahut Lam dengan suara parau.


“Mau kubuatkan kopi, nggak?” tanya Andra, masih dari balik pintu.


“Sebenarnya aku lebih inginkan bir,” timpal Lam.


“Kau sudah tua, berhenti minum, minuman haram,” celetuk Andra.


“Cih, kau tidak masuk, kenapa kau berteriak dari balik pintu?” protes Lam.


Andra terdiam, tak menyahuti pertanyaan Lam.


“Ah, kau memakai kolor macan tutul itu, kan?” sambung Lam, lantas bangkit dari pembaringan menuju pintu.


“Aish, kenapa kau bahas itu lagi!” gerutu Andra lantas menunduk dan menatapi tubuh bagian bawahnya.


Setelah menyadari, celana pendek yang dikenakan bermotif sama. Andra berlari dari sana menuju kamarnya, untuk memakai celana panjang. Sementara Lam mendengar derap langkah Andra tersenyum geli.


“Padahal aku juga pakai sponge bob,” gumamnya seraya menahan tawa.


Lantas, pria yang sudah lama menduda ini membuka koper dan mencari celana panjang yang akan dikenakan. Sebab tak bisa tidur, dia menerima tawaran Andra untuk minum kopi. Seperti katanya, jika dia sendiri dalam keadaan seperti itu, yang dia cari adalah segelas alkohol untuk menenangkan diri. Akan tetapi, kali ini ada Andra yang menemaninya. Lagi pula, Andra mencegahnya, mengingat Lam terlalu sering minum minuman haram tersebut, Andra khawatir Lam akan mati sia-sia.


Lam menunggu Andra di ruang utama rumah besar itu, dia duduk di sofa bertumpang kaki dengan santainya. Kepalannya menengadah bersandar pada punggung kursi, Lam menatap langit-langit yang terbuat dari kayu jati begitu estetik. Tiba-tiba saja, bayangan Eunsu terlukis di langit-langit itu, tawa renyahnya terdengar, membuat hati Lam tergelitik dan ikut tersenyum.


“Woi, Bang!” tegur Andra.


Andra menghampiri Lam, kemudian meletakkan dua cangkir kopi di meja. Kini, dua cangkir hitam berisi kopi itu menjadi teman keduanya untuk melewati malam tanpa kantuk itu. Hawa dingin dengan aroma kopi yang menguar menjadi sebuah sensasi yang serasi.


“Sejak kapan kau gila seperti itu?” imbuhnya seraya duduk di sofa lainnya.


Lam tersentak, lalu mengangkat kepala dan mengarahkan pandangan pada Andra.


“Ish!” desis Lam.


Tak ada yang keluar dari mulut Lam selain desisan bagai ular kadut yang mendapati bahaya itu. Tanpa basa-basi Lam merogoh cangkir, lalu menghidu aroma kopi tersebut dan menyesapnya perlahan.


Setelah menyesap kopi yang masih mengepul itu, Lam manggut-manggut seolah menikmati dengan tulus kopi buatan Andra itu.


Andra tersenyum simpul, melihat tingkah pria dewasa yang masih labil seperti bunglon, persis seperti apa yang Eunsu katakan itu. Kadang dia begitu dingin, kadang arogan, kadang sangat hangat, dan terkadang dia menjadi kejam seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.

__ADS_1


“Bang, kau tak berniat menikah lagi?” celetuk Andra memulai obrolan.


Uhuk! Uhuk!


Lam tersedak saat mendengar pertanyaan Andra yang mengagetkan itu.


“Sudah kubilang aku masih menyukai wanita!” tegas Lam.


“What? Memangnya kau pikir aku menanyakan hal itu karena ingin melamarmu? Tidak Ani, Tidak!” teriak Andra seraya mengebrak lengan sofa.


“Lantas apa maumu, Rhoma? Kenapa kau menanyakan pertanyaan seperti itu padaku?” timpal Lam menyahuti dialog drama tahun sembilan puluhan itu.


“Aku hanya penasaran bagaimana cara kau menyalurkan hasratmu, Ani, kau kan sudah lama menduda, apa kau suka co ...,” sahut Andra.


“Aish, dasar berandal gila!” hardik Lam.


Andra terbahak telah berhasil menggoda pria yang gemar marah-marah itu.


“Seriusan, Bang, aku penasaran," ucap Andra.


“Diam kau!” titah Lam.


“Ayolah Bang, cerita, aku penasaran karena kau tidak pernah terlihat dengan wanita, apa sponge bobmu tidak bangun?” selidik Andra.


Degh!


Drt! Drrt! Drrrt! Drrrt!


Getar ponsel Lam menyudahi obrolan absurd itu, dilihatnya kontak dalam panggilan masuk itu David. Lam melirik ke arah Andra yang memang sedang memperhatikannya. Dengan cepat Lam memberi isyarat pada Andra. Lam menempelkan jari telunjuk di bibir, lantas dia menjawab telepon tersebut.


“Ya, David!” ketus Lam.


“Ada apa dengamu, kau sepertinya malam menjawab panggilanku?” cecar David dari balik telepon.


“Apa maumu? Memanfaatkanku lagi seperti waktu itu?” cecar Lam.


Mendengar ucapan Lam, Andra pun memperhatikan bosnya itu dengan saksama. Tak ingin tragedi di masa lalu terulang lagi, Andra benar-benar ingin Lam bersikap tegas pada David.


Tawa menggelegar terdengar dari seberang telepon, membuat Lam sedikit geram karenanya dianggap lelucon semata oleh David.


Kata yang bernada ancaman pun terdengar, saat Lam berpura-pura menolak misi itu. Lam mendengkus beberapa kali, dia tahu pasti David adalah orang yang semena-mena. Dia tidak akan ragu menghilangkan nyawa siapa pun saat misinya diabaikan.


Setelah cukup lama bernegosiasi, Lam dan David pun menyudahi obrolannya. Raut wajah Andra sudah menyiratkan penolakan. Dia bersikeras untuk membantu Lam dalam misi kali ini.


“David menyuruhku ke tempat Steve,” ujar Lam.


Lam menoleh ke arah Andra setelah mematikan panggilan teleponnya, lantas meletakkan ponsel itu di meja.

__ADS_1


“Kau antarkan aku, setelah itu pulang dan temui Musang,” tukas Lam.


“Bang, kumohon izinkan aku ikut,” pinta Andra


“Tidak, sudah kutakan tidak!” jawab Lam.


Lam meraih cangkirnya kembali, lalu mereguk kopi hingga tandas. Setelah cangkir kosong, dia beringsut dari duduk untuk mempersiapkan diri.


“Malam ini juga?” tanya Andra penasaran .


“Iya, target bernilai dua juta dollar, tapi klien inginkan David yang turun lapangan,” jelas Lam secara singkat, dia tahu Andra akan terus mengorek informasi.


“Sudah kuduga, ini jebakan, Bang!” ungkap Andra.


Lam pun paham ada yang tidak beres dengan misi kali ini, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerimanya.


“Tak apa, kalaupun aku harus berakhir, kau dan Musang harus lari sejauh mungkin, kau tahu sandi kunci dan brangkasku, gunakan itu untuk kebesanmu dan Musang, kelak,” kelakar Lam.


“Perkataan macam apa itu? Kenapa seperti salam perpisahan?” cecar Andra tidak terima.


“Sudahlah, ayok kita bersiap,” ajak Lam.


“Jadi, kita akan meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan nenek dan gadis itu?” keluh Andra.


“Kupikir David sudah membayarnya,” jawab Lam.


“Entahlah aku tak paham,” sahut Andra.


“Ya sudah kita bersiap saja, nanti aku pikirkan lagi, tentang bayaran si nenek,” ungkap Lam.


Andra pun mengangguk tanda menyetujui, keduanya bergegas menuju kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Selang beberapa saat, mereka pun meninggalkan rumah besar itu, rumah yang tanpa terasa sudah tujuh hari mereka huni.


***


Keadaan Eunsu yang mulai tenang setelah beberapa hari Imah kerap memarahinya. Amarah Imah tak kunjung reda, setiap Eunsu melakukan sedikit kesalahan Imah akan memarahinya habis-habisan. Naya, seringkali mendengar teriakan Imah disertai dengan raungan Eunsu. Namun, dia tidak memiliki nyali untuk melerai itu.


Sampai di suatu pagi, dia mendapati Eunsu yang sedang duduk merenung di teras rumah. Naya yang merasa bersalah karena di malam ketiga mendengar Eunsu dimarahi, dia tidak bisa melakukan apa pun.


Dia menyapa Eunsu dan mengajaknya untuk mendapatkan roti cokelat seperti biasa. Nahas, Eunsu hanya menimpali dengan malas. Benar, tidak ada keceriaan lagi dalam wajahnya. Entah apa yang anak kecil itu pikirkan hingga kehilangan semangat seperti kali ini.


Mendapati Eunsu seolah tak ingin diganggu, Naya pun berlalu. Sepanjang perjalannya, dia berpikir keras dan berjanji pada diri sendiri, untuk membantu Eunsu kelak.


Kembali terlintas dipikirannya pada Hana, sahabatnya yang tak kunjung kembali. Langkahnya terhenti, dia merogoh saku jaket dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya. Dia mengetik beberapa kata, di layar ponsel tersebut, tetapi sejurus kemudian menghapusnya kembali.


Naya termenung beberapa saat, lalu mendengkus. Lalu melanjutkan perjalanannya.


***

__ADS_1


__ADS_2