Real Dad

Real Dad
Bab 35


__ADS_3

Tepat pukul sebelas siang keduanya terbangun dengan hal mengagetkan. Saat ini Musang masih dengan keadaan uring-uringan dan sesekali mengumpat. Andra pun sangat terganggu dengan tingkah pria berkulit kuning langsat tersebut. Raut wajah pria di hadapannya tidak bisa menyembunyikan emosinya. Dia tahu ada sesuatu yang sangat besar akan terjadi.


Drt! Drrt! Drrt!


Sekali lagi ponselnya bergetar, tetapi alih-alih menjawabnya, Musang justru ikut bergetar, seperti menampakkan rasa takut.


“Woi, Pak Tua!” sentak Andra.


Musang menoleh, “Tolong ...," lirihnya.


Andra bangkit, lantas menghampiri Musang yang tiba-tiba kaku, lantas dengan cepat memeriksa siapa sebenarnya orang yang menelepon, tetapi ditakutinya itu.


“Nyonya besar?” gumam Andra membaca panggilan masuk di layar benda pipih di tangan Andra.


“Istriku,” jawab Musang kikuk.


“Astoge!” Andra menepuk kening.


Ternyata seorang yang membuat Musang gemetaran itu adalah telepon dari istrinya.


“Angkat bego!” sentak Andra.


Musang justru menyodorkan ponselnya pada Andra. Dia benar-benar tidak berani menjawab telepon sang istri, seolah sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan perempuan di seberang sana.


“Aish!” desis Andra.


Tak ingin membuat perasaan Musang semakin kacau, Andra pun membantu Musang untuk menjawab telepon itu.


“Halo, pagi, Kak!” ucap Andra setelah menyentuh ikon hijau di layar.


“Kenapa kamu yang angkat, ke mana Musang?” cecar si wanita dengan nada ketus.


“Bang Musang sedang di kamar mandi, Kak,” jawab Andra berbohong.


“Oh, baiklah, kalian baik-baik saja, bukan?” Suara si wanita mulai melunak.


“Baik, Kak. Maaf ya, Bang Musang belum bisa pulang, mungkin esok hari, doakan kami selamat,” tutur Andra mencoba mengalihkan emosi si wanita.


“Mana ada doa yang ditujukan untuk berandal,” sanggah si wanita.


“Aish, berandal ini juga tidak akan berhasil tanpa doa dari wanita cantik seperti Kakak,” goda Andra.

__ADS_1


Wanita itu terkekeh dan mereda, dia pun lupa jika harus mengumpat pada suaminya karena ocehan Andra. Tak lama setelah obrolan singkat itu berlangsung, Musang menjitak kepala Andra.


“Berani-beraninya kau merayu istriku, tepat di depan mataku! Huh!” gurau Musang.


”Wajahmu saja kayak preman, sama istri gemetaran!” ledek Andra seraya terkekeh kemudian mengusap kepalanya yang dijitak.


“Takutku masih logis, dibandingkan kau yang takut ayam berbayi!” ledeknya.


“Sudah kukatakan, ayam itu bertelur bukan berbayi!” seloroh Andra.


“Lah, trus yang kau takuti itu apa kalau dalam bahasa daerah?” cecar Musang tak mau kalah.


“Hayam orokan!” jawab Andra cepat.


“Hayam itu ayan, orok itu bayi, bukan?” desak Musang, lantas mengambil ponsel yang masih di tangan Andra.


“Iya,” jawab Andra dengan wajah yang mendadak polos.


“Ya sudah, berarti emang ayam berbayi," keukeuh Musang sembari nyelonong menuju kamar mandi.


Andra tertegun, bibirnya terus bergumam mengulangi perkataan Musang. Lalu menggaruk tengkuk dilanjut pada kepala yang tidak gatal.


“Ternyata benar, ayam berbayi,” gumamnya seraya menjentikkan telunjuk.


***


Ternyata benar dugaannya, ruang tempatnya bertransaksi nanti dikelilingi oleh peledak yang mustahil buatnya untuk selamat.


“David benar-benar ingin membunuhku,” batinnya.


Saat dia masih dengan serius mempelajari peta itu. Terdengar suara langkah Steve yang menuju ke arahnya. Cepat-cepat Lam bersembunyi di kolong meja, karena tak mungkin untuk keluar. Pintu yang menjadi akses keluar-masuk ruangan tersebut hanya ada satu.


Steve sedang bersua telepon dengan seseorang, sepertinya dia tahu itu David dari percakapan yang samar terdengar. Lambat laun Steve sampai di mejanya. Dia bermaksud untuk mengambil sebuah barang yang tertinggal. Tanpa diduga, dia mendapati peta yang dirahasiakannya dari Lam tergeletak begitu saja.


Umpatan pun terlontar, dia merutuk orang-orangnya yang begitu ceroboh. Seolah menampakkan kekesalan berlebihan. Sepertinya benar kali ini misi bukan tentang uang. Ada yang Lam tidak ketahui. Setelah mengambil barang dan menyimpan peta dengan baik. Steve pun kembali untuk mengawasi anak buahnya di luar sana. Untungnya Lam tidak ketahuan.


Setelah Lam memastikan langkah Steve semakin menjauh, dia keluar dari persembunyian. Dia berdiri di dekat meja, lantas duduk di kursi kejayaan Steve itu.


“Apakah ini akan menjadi akhirku?” gumamnya seraya menerawang, menatap sendu ke arah langit-langit.


“Setidaknya pertemukan aku sekali lagi dengan Hana, Tuhan. Biarkan aku tahu keadaannya,” gumamnya seolah pasrah dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Lam memejamkan mata mengingat masa-masa indah bersama sang istri lebih dari tujuh tahun lalu. Dia sadar akan kesalahannya–telah menipu–wanita yang begitu tulus menerima keadaannya kala itu. Padahal, tak banyak yang Hana tuntut dari dirinya, Hana hanya menginginkan suami yang baik dan itu tak terwujudkan.


Sesal sudah tak berguna kali ini, saat terlintas kejadian di mana Lam mencoba mencari Hana dan mendapati Hana tengah bersama seorang pria di sebuah kafe. Wajah Hana begitu berbunga dan berbinar, berbeda jauh dengan saat terakhir kali keduanya bertemu.


Waktu itu Lam sempat berjanji pada Hana akan menjemputnya, tetapi Hana tak membalas pesan yang dia kirim. Awalnya Lam pikir dia akan memberi kejutan saja dengan datang Ke C dan menemui Hana ke rumahnya untuk meminta maaf secara resmi.


Akan tetapi, sebelum dia sampai di rumah Hana. Lam ingin membawakan kue kesukaan Hana. Oleh sebab itu, Lam mampir ke sebuah kafe yang tak jauh dari rumah Hana untuk memesan kue. Nahas, di sana justru dia melihat Hana dengan pria lain yang tidak dikenalinya.


Sontak, hal itu membuat Lam urung menjemput Hana seperti apa yang telah direncanakan, dia memilih untuk tidak mencari Hana lagi, meskipun sejuta pertanyaan dan rasa penasaran kerap menjejali benaknya, hingga saat ini.


”Hana ...,” desahnya seraya menutup mata dengan lengan.


Air menggenang di sudut mata pria tampan itu, perlahan menetes seperti terjun bebas menuruni pelipisnya. Cepat-cepat dia menyeka sebelum ada seseorang yang memergoki hal itu.


Sejurus kemudian, Lam bangkit dan pergi untuk menenangkan diri. Tak ayal perasaannya sungguh tidak karuan saat ini. Dia pergi ke atap untuk merokok dan mengeluarkan semua energi negatif nya. Tak ingin ketahuan ternyata dia benar-benar pria yang labil.


***


Beberapa jam sebelumnya ....


“Bos! Bos! Bos!” teriak seseorang dari arah luar menuju ruangan David.


“Apa?” David menyahuti dengan tak kalah berteriak.


“Lihat ini!” titah si pria yang baru saja datang menemuinya itu.


“Apa ini? Jelaskan saja” teriak David yang tak sudi menuruti perintah dari bawahannya itu.


“Ternyata Allen sudah berhasil membobol server klien kita, dan itu berasal dari kepolisian di C, Bos!” jelas si pria dengan saksama.


“Apa?! Kurang ajar!” geram David.


“Ubah misi! Bunuh klien dan Lam di dan bersihkan jejak! Cepat hubungi Steve!” teriak David.


“Baik Bos!” ujar si pria sembari berusaha menelepon Steve.


“Tunggu, kau sudah bereskan bocah kurang ajar itu kan?” selidik David.


“Sudah Bos, kami memastikan bahwa dia tidak akan bisa selamat,” jawab si pria mantap.


David mengangguk tanda percaya pada sang ajudan.

__ADS_1


***


__ADS_2