
Mika berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu. Dia menendang, mendorong, menggulir gagang pintu dengan sekuat tenaga secara tak beraturan. Namun, pintu itu benar-benar terkunci. Sementara Lam yang terborgol dengannya, tubuhnya ikut terpelanting sana-sini sesuai gerakan Mika.
“Woi, sudah kukatakan ini jebakan!” teriak Lam.
“Diam kau!” bentak Mika.
“Telepon bantuan saja, di sini ada peledak, jangan buang-buang waktu!” usul Lam.
Mika hanya mendelik, tidak mungkin dia mempercayai Lam begitu saja. Terlebih lagi, bagi Mika Lam adalah seorang penjahat yang harus di berantas.
“Woi, Nona!” teriak Lam mencoba memperingatkan Mika untuk kedua kalinya.
“Apa?” ketus Mika.
“Dengarkan saja perkataanku, setelah ini terserah kau mau mengamuk atau tidak!” seloroh Lam.
“Sialan! Padahal pintunya sudah lapuk, kenapa sulit sekali terbuka,” gerundel Mika tanpa mengacuhkan perkataan Lam.
“Dan kau akan merobohkan seluruh gedung jika terus menendangnya seperti itu, Detektif!” teriak Lam, kali ini dia tak mau kalah.
Mika menoleh ke arah Lam, dengan teriakan Lam seperti itu akhirnya Mika menyadari sesuatu.
“Kau bukan David?” selidiknya.
“Memangnya kenapa? Apa bedanya?” Alih-alih menjawab, Lam justru membalikkan pertanyaan.
“Jika kau David, kenapa kau terjebak bersamaku di sini, siapa orang di balik ini semua?” cecar Mika dipenuhi amarah.
“Apa itu penting sekarang? Bukankah lebih baik kau menelepon rekanmu untuk menyelamatkan uang dan nyawamu?” seloroh Lam.
“Aish, sialan!” umpat Mika.
“Ya, mereka memang sialan!” dukung Lam.
Mika terkesiap, mendengar ocehan Lam yang justru membela kata-katanya. Dahinya mengernyit memikirkan siapa sebenarnya pria tampan itu. Tak lama setelah fokusnya tersita pada Lam, dia mengusap wajah dan teringat pada Jian.
Mika bermaksud menerima telepon itu dan meminta bantuan pada Jian. Namun, sejurus kemudian dia mengurungkan niat. Mika merasa sudah cukup membuat Jian terkena imbas akibat ambisinya. Dia tidak ingin melibatkan Jian dalam hal ini.
“Aish, aku tidak bisa menelepon rekanku,” keluh Mika gusar.
“Kenapa?” tanya Lam.
“Aku sedang diskors,” ucap Mika spontan.
“Apa?!” teriak Lam kaget.
__ADS_1
“Aku sedang diskors!” Mika mengulang perkataanya.
“Dasar wanita gila! Jadi apa yang kau lakukan sekarang ilegal? Tanpa surat perintah?” cecar Lam.
”Ya, begitulah.” Begitu cuek Mika menjawab.
“Lalu apa bedanya, kau dan aku? Kita sama-sama penjahat di sini,” seloroh Lam.
“Diam kau!” sentak Mika.
“Ya sudahlah, kita tidak punya waktu untuk membahas itu, kau harus cepat keluar dari gedung ini, lepaskan borgolnya inspektur, dengan begini pergerakan kita terhambat,” tutur Lam.
“Kenapa hanya aku yang harus selamat?” sanggah Mika.
“Ya, karena kau manusia berguna di bumi ini, sementara aku hanya sampah. Tak selamat pun tak masalah,” jawab Lam ringan.
“Perkataanmu seperti pria tua yang sudah tidak jantan saja!” celetuk Mika.
“Sial, apa itu terlihat jelas?” batin Lam, seraya memalingkan wajah.
“Ti-tidak, punyaku masih jantan dan keras,” racaunya.
“Dasar gila, kenapa kau mesum sekali, itu hanya metafora, brengsek!” umpat Mika.
“Apa?” Lam terkena beban mental, dia sangat malu.
“Ppfft ... begini?” ledek Mika seraya menekuk jari telunjuk ke bawah hingga membuat bentuk seperti kail.
Sontak Lam terperanjat, lalu berkata, “Dasar wanita gila!”
Mika terkekeh seraya menutup mulut, dia tidak tahan melihat ekspresi Lam yang tidak bisa menutupi keadaan sebenarnya.
Saat mereka dalam situasi yang begitu memalukan tersebut, sebuah ledakan baru saja terjadi. Sontak, hal itu membuat keduanya terkejut bukan main. Terlebih beberapa puing bangunan mulai rontok dan menimpa keduanya.
“Apa-apaan ini," gerutu Mika.
“Sudah kubilang!” bentak Lam.
Keduanya panik dan mencoba mencari sudut untuk berlindung. Mika mengarah ke sebuah meja yang ada ada di ruang itu. Namun, Lam mencegahnya mengingat meja tersebut juga sudah sama lapuknya dengan gedung itu.
“Itu akan percuma!” teriak Lam seraya menghentakkan lengannya yang otomatis membuat Mika tertarik mundur.
“Lalu bagaimana?” teriak Mika panik.
Lam bergeming, dia memikirkan cara untuk berlindung. Di saat bersamaan ledakan kedua terjadi. Belum sempat mendapatkan cara, tubuh Mika dan Lam terhempas oleh ledakan yang membuat ruangan di sana terguncang hebat lebih dari yang pertama.
__ADS_1
“Wuaa!” teriak mereka bersamaan.
Brugh!
Tubuh keduanya ambruk menghempas dinding beton, sontak tubuh keduanya berhimpitan. Di saat suasana menegangkan tiba-tiba sesuatu yang di luar akal pun terjadi.
Degh!
Tepat saat tubuh Mika menabrak tubuh Lam, topi mika terhempas dan menampakkan wajahnya. Pandangan Lam yang menangkap pemandangan itu, sedikit pub tak melepaskan setiap detai dari wajah inspektur bebal itu.
Dada Lam tiba-tiba saja berdegup kencang, bahkan saat sentuhan dan deru napas Mika terdengar jelas berembus di dekatnya. Sesuatu di balik celana hitam itu menggeliat seolah ingin bangkit dari tidur panjangnya selama ini.
Merasakan ada hal absurd dalam dirinya, Lam refleks mendorong Mika agar menjauh darinya. Akan tetapi, rantai yang membelenggu bagai ikatan takdir yang selama ini dicari. Setelah terhempas menjauh, tubuh Mika kembali tertarik ke pelukan Lam seiring dengan Lam yang menarik tangannya.
Kali ini bagian depan tubuh Mika berhadapan langsung dengan dada Lam yang bidang, dengan otot-otot keras di balik kemeja hitam itu.
Lam menjerit, berteriak panik, lebih panik dari sebelumnya, ternyata spongebob menggeliat lebih kuat hingga sesuatu itu hampir menyembul seolah ingin menampakkan diri dan tebar pesona.
“Menjauh dariku!” teriak Lam.
Mika pun mendorong tubuh Lam, lalu berkata, “Kau yang menarikku, brengsek!”
Wajah Mika memerah, sesuatu itu berhasil menyentuh pahanya, hingga membuat wajah manis itu tersipu. Mika yang merasa risi pun tak ingin terus menempel dengan Lam, lalu dia mencari kunci borgol di sakunya. Nahas, kunci itu tidak di temukan.
“Tidak! Tidak! Tidaaak!” jerit Mika.
“Kau menghilangkan kuncinya?” selidik Lam.
Mika merengut, wajah itu menjadi jawaban untuk pertanyaan Lam.
“Tiiidaak!” teriak Lam.
***
Sementara di Luar sana, Andra dan Musang sedang mencoba merebut konektor yang berada di tangan Steve untuk menghentikan ledakan. Namun, anak buah Steve membuat keduanya cukup kewalahan. Mereka kalah jumlah. Meski ilmu bela diri mereka cukup bagus.
Keduanya mengenakan masker untuk menutupi identitas. Sebab Lam tak ingin keduanya menghadapi bahaya di masa. depan nanti. Sejurus kemudian, beberapa orang dalam gedung mulai keluar dan membawa serta melindungi sebuah tas besar. Saat itulah mereka baru sadar jika Lam dan gadis yang menjadi klien mereka tak ikut keluar.
Pertarungan terjadi cukup sengit, tetapi setelah orang-orang yang membawa tas keluar. Tiba-tiba saj pria-pria gangster itu bergerak mundur. Mereka melambai tangan seolah memberi isyarat jik merek menyerah. Tak ingin menghiraukan hal bodoh itu Andra dan Musang bergegas untuk menuju ke dalam gedung. Nahas, tepat selangkah lagi keduanya kan masuk, ledakan kembali terjadi. Kali ini ledakan begitu besar, hingga merobohkan bangunan itu.
Sontak Musang menarik Andra untuk menjauh dari area itu, meskipun Andra menolak dan bersikeras untuk menyelamatkan Lam. Namun, musang dengan sigap menariknya menjauh.
“Jangan lakukan hal bodoh!” bentak Musang.
“Bang Lam! Bang Lam!” teriak Andra, frustrasi.
__ADS_1
***