
Suasana menjadi sedikit tegang, pria yang kedudukannya sama kuat di bidang itu kini berhadapan secara langsung. Lam seolah menyimpan dendam pribadi pada pria di hadapannya.
“Bersikaplah lebih dewasa, Lam! Kita di pihak yang sama!” sentak si pria seraya menarik tubuhnya ke belakang.
Dari kejauhan Imah dan Eunsu yang hendak pamit untuk pulang, mengurungkan niat karena mendengar keributan di depan rumah. Imah memilih untuk bersembunyi di balik dinding sekat yang memisahkan antara ruangan di rumah tersebut.
Tubuh Imah bergetar hebat saat mendengar nama pria yang tak asing baginya, seseorang yang telah membuang anak dan cucunya begitu saja. Dadanya seakan sesak oleh amarah yang menjejali, tetapi saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mungkin itu Lam yang lain,” batinnya mencoba menepis segala pikiran yang baru saja singgah dalam benaknya.
“Nek, ayok kita pulang saja lewat belakang, sepertinya Paman Bunglon sibuk,” ajak Eunsu, ”Eunsu juga takut, Nek.”
Sontak perkataan Eunsu membuat Imah tersadar, dia lupa ada seorang gadis kecil yang belum pantas melihat adegan yang baru saja terjadi itu.
“Ayok, Nak, kita pulang!” ujar Imah kemudian, seraya merangkul sang cucu dan mencegahnya untuk menoleh ke arah para pria yang tengah bersitegang itu.
***
“Cih! Jadi kau orang yang David jadikan pengganti orangku?” seloroh Lam dengan tatapan mengejek.
Pria di hadapannya mendelik kasar, tatapan tajam terpancar bagaikan kobaran api yang disiram minyak semakin membara.
“Putuskan saja, kau ikut atau tidak?” Tak ingin suasana semakin kisruh mengingat hari yang terus berjalan hingga mendekati hari H, pria tinggi besar itu mencoba menarik kesimpulan.
“Jika partnerku itu kau, aku enggan untuk meneruskan,” jawab Lam mantap.
“Oke, baiklah! Aku anggap ini sebagai kekalahanmu!” kecam si pria seraya tersenyum sinis.
“Steve!” bentak Lam, matanya membelalak dengan urat leher yang menegang.
“Jika kau bukan pengecut, bersikap profesionallah, Lam,” ledek pria yang dipanggil Steve itu.
“Sialan!” umpat Lam.
Sejurus kemudian Lam menendang pintu dengan kasar, lantas dia membalikkan badan dan beranjak ke dalam rumah. Sementara Steve dan antek-anteknya turut masuk meski tak dipersilakan.
Andra yang mengekori Lam dan nyaris menempel pada tubuh Lam itu mencoba mencari tahu siapa pria yang diutus David tersebut.
“Siapa dia, Bang?” bisik Andra.
Embusan napas Andra tepat mengenai tengkuk Lam dan membuatnya sedikit bergidik.
“Apa yang kau lakukan, itu menggelikan,” desis Lam.
__ADS_1
“Aish, jangan bercanda, tapi parfummu wangi, Bang,” celoteh Andra.
“Kau kan pakai masker, kenapa napasmu masih terasa, hidungmu juga masih mencium,” racau Lam.
“Aku kan pakai masker kain Bang, bukan masker yang terbuat dari kulit macan,” gerundel Andra.
Nyaris saja Lam tertawa mendengar perkataan Andra.
“Macan tutul?” bisik Lam, sengaja dia mendekatkan bibirnya ke telinga Andra.
Kelakuan Lam membuat Andra tafakur, dia mematung seketika. Pikirannya kosong terpancar dari tatapannya. Hingga dia tersadar saat Steve menyeret kursi tempat mereka akan melakukan diskusi.
“Padahal aku masih menyukai wanita, apa yang dia lakukan?” geram Andra.
***
Beberapa saat yang lalu ....
Tepat sebelum Andra membuka pintu untuk orang-orang suruhan David, Lam memanggil Andra. Dia meminta Andra jangan kaget saat dia mencoba berakting seolah melakukan penolakan pada keputusan David.
Firasat Lam sudah merasakan ada sedikit kejanggalan dalam misi kali ini, nilai proyeknya sudah jelas fantastis meski Lam belum mengetahui pasti. Oleh sebab itu, Lam dan Andra mencoba mengikuti ritme permainan David, untuk membuat rencana di dalam rencana.
Dia akan mengecoh dengan berpura-pura tidak menerima rekan se-timnya, agar jalan cerita dapat dikuasai olehnya. Andra pun paham betul apa yang lam tuturkan.
***
Tatapan Mika terus terpusat pada laptop di hadapannya. Pekerjaannya cukup tapi kali ini. Biasanya dia akan mengerjakan sesuatu yang asal-asalan sebab wanita yang berusia akhir dua puluhan itu lebih suka bekerja seraya melakukan permainan tikus dan kucing di lapangan.
“Udah dapat dua juta Dollarnya?” selidik Ji yang menjadi partner setianya.
“Jika kantor tidak membiayai, aku akan mengambil tabunganku, yang artinya mempertaruhkan sisa hidupku, Ji!” jawabnya santai.
Jemari lentiknya masih menari-nari di atas papan ketik, dia sedang menginput beberapa data untuk kepentingan administrasi kantor.
“Bicara lagi aja sama Pak Kepala, siapa tahu hari ini dia berubah pikiran,” saran Ji.
“Mungkin setelah ini, rasanya jantungku berdebar setiap memikirkan aku akan menangkap bedebah itu,” terang Mika dengan bola mata yang berbinar.
“Cih! Kau ini, gadis lain tuh berdebar saat memikirkan pria tampan sepertu aku, bukan mikirin para berengsek!” ledek Ji.
“Itu beda lagi ...," seloroh Mika membela diri.
Akhirnya setelah selesai dengan pekerjaannya, Mika bergegas menemui kepala divisi untuk mengutarakan niatnya yang ke sekian kali. Dia tidak menyerah, walau kepala divisi sudah sempat menolak dan memakinya. Kendatipun begitu, tak mungkin Mika berada di divisi narkoba jika dia adalah seorang gadis yang mudah menyerah.
__ADS_1
Kali ini harapannya begitu besar dan mungkin tidak akan pernah hilang, meski dihancurkan berkali-kali. Dengan keberanian yang masih ful dalam hati dan pikirannya, Mika menghadap sang atasan.
Tok! Tok!
Mika mengetuk pintu sesaat sebelum dia masuk.
“Saya masuk, Pak,” ujar Mika.
Mika menyembulkan kepala dari balik pintu kaca yang menjadi pembatas antara ruangannya dan ruangan kepala divisi. Terlihat seorang pria berperut buncit duduk di altar kejayaannya.
Saat melihat senyum Mika yang mengandung banyak sirat, pria setengah botak itu mendengkus kasar, menampakkan ketidaksukaannya pada Mika. Seolah dia bisa menebak maksud dan tujuan Mika datang menghadapnya.
“Sana! Sana! Pergi!” usir pria setengah baya itu.
Mika tersenyum tak mengindahkan perkataan sang atasan, dia menerobos masuk lantas berdiri tepat di hadapan kepala divisi yang hanya terhalang meja saja.
“Pak, bagaimana dengan permintaan saya?” tanya Mika seolah tak tahu malu.
“Jika maksudmu datang kemari untuk membahas tentang uang itu, pergi saja!” tolak si pria dengan tegas.
“Memangnya apa yang akan aku katakan?” Mika justru balik bertanya untuk menggoda pria di hadapannya itu.
“Dua juta Dollar, bukan?” selidik si pria denga tatapan tajam terarah tepat pada mata Mika.
“Ya, Bos!” jawab Mika dengan yakin.
“Wah, kau memang makhluk tidak tahu diri, berani-beraninya kau memeras uang negara!” maki si pria seraya bangkit dari duduk dan. mengacungkan tangan hendak memukul Mika.
“Aku jelaskan misiku, tolong dengarkan dulu, Pak!” pinta Mika.
“Tidak aku tidak ingin dengar apa pun darimu! Pergi sana!” Sekali lagi pria itu mengusir Mika.
Tak hanya dengan ucapan, kini si pria dengan papan nama bertuliskan 'Darma' di dada sebelah kirinya, mendorong Mika dan memaksanya keluar dari ruangan tersebut.
Mika merengek meminta persetujuan misi dan ARB-nya disetujui, tetapi keputusan sang atasan sudah tak lagi bisa digoyahkan. Sekeras Mika berusaha setegas itu pula penolakan yang didapatkannya.
Mika terpaksa keluar tanpa hasil, wajah manisnya ditekuk. Dengan langkah gontai dia mencoba kembali ke ruangannya. Akan tetapi sejurus kemudian Mika berbalik badan lantas setengah berlari untuk kembali menuju ruangan Darma, tetapi ternyata Darma sudah siap akan hal itu. Darma berdiri di mulut pintu bagian dalam seraya memelototi Mika.
Mika yang ketahuan bertingkah bebal, tersenyum ragu saat mendapati Darma memelototinya, lantas mengunci pintu tepat di hadapannya. Setelah itu Darma menutup tirai jendela kaca yang menjadi pembatas. Kini, Mika tak memiliki akses untuk bertemu Darma.
“Sial!” umapatnya seraya mengeratkan gigi.
***
__ADS_1