
“Kenapa kau mengagetkanku begitu, Bocah!” sentak Lam sesaat setelah dia terhenyak.
“Bang Lam kenapa muncul tiba-tiba, padahal aku baru saja mau buka pintu!” sahut Andra tak mau kalah.
“Ada hantu!” celetuk Lam.
“Hantu? Pagi-pagi begini?” cecar Andra, lantas menautkan sepasang alis simetris seperti semut berbaris itu.
“Iya!” jawab Lam seraya bergidik, kemudian menyela Andra.
Andra masih terpaku memikirkan perkataan Lam. Sejurus kemudian, dia mendengar suara tawa anak kecil dari taman belakang yang membuatnya tersentak kemudian berbalik badan untuk menyusul Lam.
“Ternyata benar ada hantu,” gumamnya.
Saat Lam berjalan menuju ruang utama, penciumannya menghidu aroma masakan yang menguar dan menggugah selera, sudah cukup lama dia tidak mencium aroma rumah seperti ini. Penuh cinta dan kehangatan. Aroma masakan dari dapur baginya bagai semerbak wangi cinta yang berbunga. Hingga kilas balik masa lalu terlintas di pikiran pria tampan kesepian tersebut.
Dia ingat bagaimana setiap pagi saat hendak pergi bekerja Hana selalu menyiapkan isi perutnya, hingga selama satu tahun dalam biduk rumah tangga dapat terhitung jari dia makan mie instan. Meskipun masakan Hana hanya menu sederhana, tetapi Lam dapat merasakan kehangatan cinta yang tertuang di dalamnya.
Wanita yang penuh ketulusan itu merupakan sebuah keberuntungan baginya, dan hingga sampai saat ini, hati pria arogan itu tak dapat tersentuh oleh wanita mana pun.
Lam tiba-tiba saja tersipu saat mengingat semua kenangan manis yang membuat hidupnya begitu berwarna. Suasana seperti itu sangat dia rindukan dan terkadang membuatnya frustrasi.
“Bang? Kau kesurupan?” tanya Andra yang mendapati Lam sedang tersenyum sendiri.
“Ah, anu, itu,” Lam gelagapan menjawab pertanyaan Andra yang sontak membuyarkan lamunan tentang masa lalu tersebut.
“Kau kenapa, Bang? Ada yang tidak beres?” cecar Andra semakin menelisik, rasa khawatir menyeruak.
“Tidak, aku baik-baik saja, aku hanya teringat masa lalu, karena aroma masakan rumah,” jelas Lam, tak ingin membuat Andra khawatir.
“Hana?” tanya Andra memastikan.
“Eumh!” jawab Lam sekenannya.
“Bang, ini sudah lebih dari tujuh tahun loh, mungkin Hana sudah memiliki keluarga lagi, seperti yang kau lihat waktu itu,” tutur Lam.
“Ah, sudahlah, sebenarnya aku juga mau melupakan semua kenangan itu dengan mudah, tapi perpisahan dengan cara yang buruk itu, membuatku sulit memaafkan diri,” seloroh Lam.
__ADS_1
“Maaf, Bang, semua terjadi karena aku ....” sesal Andra kemudian, seraya menunduk.
Lam mendengkus, “Bukan salahmu, jalannya memang harus seperti ini,” ucapnya seraya menepuk bahu Andra, ”aku yang mengambil keputusan, kala itu. Ini sudah jadi konsekuensi.”
Andra yang tersentuh oleh perkataan Lam, tak kuasa menahan perasaan. Pria yang sudah menyelamatkan hidupnya kala itu, begitu tulus hingga mengorbankan keluarga dan menghancurkannya. Sesal yang dirasa sudah tak berguna, andai saja Andra mampu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pernikahan Lam kala itu, sayangnya, tujuh tahun lalu Andra hanya seorang bocah yang belum mampu berpikir matang.
“Bang, hiks!” Andra merangkul Lam dan menangis tersedu.
“Sudahlah, jangan seperti ini, kita ini anggota gangster,” seloroh Lam, sembari membalas pelukan Andra dan menpuk punggungnya.
Saat kejadian itu, seperti hal yang terjadi sebelumnya, Imah memergoki keduanya berpelukan layaknya seorang pasangan. Tentu saja Imah salah paham kembali dengan kejadian itu, dia terkejut hingga menahan napas cukup lama. Malam tadi dia sempat menepis pikiran buruk tentang hubungan keduanya, apalagi saat Andra menanyakan perihal tentang cucunya dan meminta secara terang-terangan.
“Zaman sudah makin edan,” gumam Imah, “cacing zaman sekarang menyukai lubang lain sepertinya,” imbuhnya.
Imah mengelus dada yang terasa amat sesak, setelah melihat kedua pria tampan itu saling merangkul dengan begitu mesra dan penuh perasaan. Pikirannya dijejali dengan pertanyaan-pertanyaan gila. Tak ingin untuk ikut campur, tetapi melihat hal menyimpang–menurutnya–membuat wanita baya itu tak berhenti memikirkan hal gila.
Saat Imah masih asyik memandangi hal tak biasa tersebut, tanpa sengaja ujung kemoceng yang sedang dipegangnya mengarah ke lubang hidung. Beberapa kali bergerak karena embusan napas. Menggelitik hidung hingga membuatnya bersin.
Hacu! Hacu! Hacu!
Sontak hal tersebut membuat Andra dan Lam terkejut dan melerai pelukan masing-masing.
“Nek Imah,” lirih Andra.
Lantas, Andra dan Lam saling beradu pandang. Seketika pikirannya kembali ke sesaat sebelum kejadian itu terjadi, seperti video yang diputar mundur. Sejurus kemudian, Andra dan Lam mengempaskan tubuh masing-masing seraya berteriak kaget. Setelah ingatannya memindai kejadian tadi.
“Kenapa kau memelukku!?” bentak Lam pada Andra.
“Bang Lam yang mulai,” Andra tak kalah berteriak menjawab Lam.
“Dasar bocah gila, kau benar-benar merusak citraku sebagai duda keren sang gangster,” seloroh Lam.
“Kau pikir aku mau, keperjakaanku kau rampas? Cih, bahkan aku belum merasakan pelukan cinta pertamaku, tapi kau telah menjamahku lebih dulu! Dasar bunglon tua!” Andra berdecih seraya memalingkan wajah.
“Aish! Dasar kadal tutul!” geram Lam.
“Bunglon piaraan sponge bob!” Andra tak mau kalah.
__ADS_1
Lam menghentakkan kaki kemudian menuju dapur, dia tidak mempedulikan Andra lagi dan meninggalkannya begitu saja. Begitulah keduanya, saat bertemu selalu saja ada yang diributkan. Walaupun itu hanya sebuah hal kecil. Akan tetapi, keduanya saling peduli.
Lam menuju meja makan yang sudah tersaji semua makanan kesukaannya. Senyum simpul terukir, bahagia dalam hati tak terelakkan bisa menikmati makanan seperti itu, adalah hal yang langka untuknya. Kenapa? Bukankah ada restauran yang menjual makanan tersebut? Hal itu tentu berbeda, menu sederhana dengan ketulusan lebih menyentuh hati seorang Lam.
“Andra!” teriaknya memanggil asisten yang sudah dianggap keluarga sendiri itu.
Andra tidak menyahuti panggilan Lam.
“Apalagi dia panggil-panggil, mau ledek kadal tutul lagi,” desisnya seraya memajukan bibirnya yang seksi.
“Berhenti mengumpat! Cepat kemari, kita makan!” teriak Lam sekali lagi seolah dia mendengar apa yang baru saja Andra katakan.
Imah yang mendengar Lam berteriak, tidak berani sedikit pun untuk menampakkan diri. Dia yang berada di ruangan dekat dapur pun memilih untuk keluar melalui pintu belakang dan menemui Eunsu.
Sementara Andra dengan malas menghampiri Lam yang sudah duduk bersiap untuk makan.
“Apa? Kenapa?” ketus Andra setelah dia tepat berada di hadapan Lam.
“Sudah jangan merajuk terus, makanlah, ternyata ibu itu tahu seleraku,” ucap Lam.
Baru kali ini setelah bertahun-tahun lamanya Andra melihat senyum semringah dari Lam.
“Jelas saja Nek Imah tahu, kan aku yang reques, Bang!” ungkap Andra, lantas melipat kedua tangan di depan dada.
“Ya sudah ajak dia makan sekalian, biar suasana lebih hangat juga,” ucap Lam.
“Kau serius? Bukankah kau paling tidak suka makan dengan orang lain, selain aku?” cecar Andra.
“Dasar cerewet! Aku juga ingin bertemu dengan orang yang akan membantuku selama dua minggu ke depan, apa itu salah?” kelakar Lam dengan nada sedikit menekan.
“Baiklah, baiklah, jangan marah-marah terus, atau kau akan berubah menjadi duda tua dengan cepat!” ledek Andra seraya berbalik, kemudian mengambil langkah untuk mencari Imah.
“Cih, kau ini!” Lam berdecih.
Akankah mantan mertua dan menantu itu bertemu dalam satu meja. Sepertinya itu akan menjadi sebuah luka yang kembali menganga setelah sekian lama berusaha disembuhkan. Akan tetapi, tidak mungkin juga keduanya untuk tidak bertemu, ketika berada di rumah yang sama.
“Oh, Paman Bunglon!” Seru seorang gadis dari arah belakang rumah saat mendapati Lam duduk di meja makan.
__ADS_1
Lam mendongak lantas mendelik ke arah sumber suara.
“Kau!” seru Lam dengan penuh rasa heran.