Real Dad

Real Dad
Aku Tak Ingin Kau Terluka


__ADS_3

“Kenapa Bang Lam tidak membiarkanku ikut? Aku tahu ini bahaya buatmu,” ucap Andra masih keukeuh membantah Lam.


“Haruskah aku katakan semua alasan agar kau mengerti? Kenapa tidak berpikir sendiri dan memahaminya, Bocah bebal!” teriak Lam kesal.


“Bang, bagaimana jika aku salah menafsirkan? Bagaimana jika aku berpikir jika kau ingin untung sendiri dan meninggalkan kami!” Andra tidak kalah berteriak pada Lam.


“Pikirkan sesukamu! Kau lebih mengenalku dibandingkan diriku,” geram Lam.


“Sikap seperti inilah yang membuat orang salah paham padamu, Bang. Ini pula yang membuat Hana meninggalkanmu, tak bisakah kau lebih fleksibel? Huh! Aku juga peduli padamu, Bang!” tangkas Andra.


“Jika kau peduli padaku, lakukan saja apa yang aku katakan. Dan kau, jangan bawa Hana dalam masalah ini, paham? Itu di luar konteks!” tekan Lam seraya menunjuk ke wajah Andra.


Wajahnya merah padam, seperti bara api yang menyala. Urat-urat di wajahnya pun tampak jelas, menegaskan emosinya sedang berada di titik puncak.


“Kemarahanmu mengakui, jika kau menyesali apa yang kau lakukan! Berhenti bersembunyi di balik keberengsekanmu itu. Percuma, seperti katamu, aku yang lebih mengenalmu, Bang!” sindir Andra.


“Diam, kau!” Lam berteriak seraya melayangkan tinju ke arah wajah Andra.


Andra bergeming tak melawan, tatapan sendu dengan raut wajah tenang dia lakukan sebagai sambutan kemarahan Lam. Nyaris, tinju itu mendarat di wajah imut Andra. Lam yang menyadari kesalahannya seketika menghentikan itu.


“Argh!” geramnya lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Andra.


Setelah Lam pergi, tiba-tiba Steve datang menghampiri Andra yang masih mematung menatapi punggung Lam yang penuh beban itu.


“Tempramennya masih sama, dia harusnya bersyukur memiliki orang setia di sisinya!” sungut Steve seraya melipat tangan di depan dada dan senyum sinis yang mengembang.


Andra tersentak dan menoleh ke arah pria berambut plontos itu. Setelah menatapnya, Andra menghela napas karena begitu enggan menyahuti ocehan pria arogan di sampingnya.


“Sepertinya hubungan kalian tidak seharmonis itu, datanglah padaku jika suatu saat kau berubah pikiran,” anjur Steve begitu percaya diri.

__ADS_1


Andra mendengkus, sungguh dia ingin tertawa kencang untuk menimpali ocehan Steve. Akan tetapi, dia ingat apa yang dikatakan Lam. 'Tidak perlu reaktif terhadap sainganmu agar kekuatanmu yang sesungguhnya tidak terbaca.'


Andra mendengkus kembali, seraya memalingkan wajah.


“Kau bahkan tidak mengetahui namaku, berani-beraninya mengajakku bergabung, sialan!” batin Andra.


Andra hendak melangkah, tetapi dihentikan oleh teriakan Steve yang kesal karena tak diindahkan olehnya.


“Kau! Siapa namamu? Kenapa kau membisu, padahal tadi kau berteriak pada bosmu itu,” protes steve.


Andra menghentikan langkah lantas menoleh ke arah Steve, tetapi dia masih diam dan hanya mendengkus.


Steve menghampiri Andra seraya menyodorkan selembar kartu nama, lantas berucap, “Hubungi aku, jika kau telah mendapatkan jawaban, Tuan ...,”


“Kadal tutul!” potong Andra lantas meraih kartu nama itu.


“Oke, Kadal tutul, nama yang cukup aneh,” sahutnya.


***


Eunsu menyeka air mata dia tersenyum begitu semringah saat Imah mengizinkannya memiliki poto kedua orang tuanya itu. Lantas, Eunsu berpamitan pada sang nenek untuk pergi bermain. Imah pun menyetujuinya, membiarkan gadis kecil itu melupakan hal pelik yang baru saja terjadi.


Tidak baik baginya jika terus murung dan terkurung, Imah menginginkan Eunsu bisa menyembuhkan luka itu. Walaupun dia merasakan sendiri bahwa luka itu terlalu dalam untuk ditanggungnya. Punggung gadis kecil itu membuat hati Imah terasa diremas. Menyaksikan beban di pundak gadis sekecil Eunsu begitu berat dan menyesakan.


Namun, di sisi lain wajahnya selalu tampak ceria dengan senyum mengembang menegaskan lesung mata yang diwariskan sang ayah. Bibir tipis yang kerap tersungging saat bercerita warisan dari sang ibu. Sikapnya yang peka dan peduli berkat didikan sang nenek.


Kenapa Hana tega meninggalkannya dan tidak kembali, bukankah dia sangat beruntung memiliki gadis cantik yang berbudi baik. Ke mana dan apa yang Hana cari.


Setelah Eunsu pergi bermain, Imah meraung tak tertahan. Dia meluapkan segala hal yang menyesakkan dalam benaknya. Segala sesuatu yang membuat otaknya tak berhenti berputar. Tentang sang cucu, sanga anak, dan juga tentang pria yang baru saja dia ketahui jika pria yang memperkerjakannya adalah mantan menantunya.

__ADS_1


“Jik tahu akan begini, lebih baik aku tidak menerima pekerjaan itu! Kau bodoh Salimah, kau Bodoh!” umpat Imah merutuk diri.


Ternyata, Eunsu masih ada di teras, dia bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan raungan pilu Imah. Sontak itu membuatnya ikut menangis, meski tanpa suara berusaha agar Imah tak mengetahuinya.


Eunsu menatap poto yang masih digenggam erat, pikiran untuk memberitahukan semuanya pada Lam terlintas di benaknya. Tak lama setelah dia merenungkan itu, di menyeka air mata dan berlari menuju rumah besar kembali. Gadis polos itu ingin mengetahui cerita pahit di balik ini semua. Walaupun tahu Lam begitu menakutkan, tetapi tangisan sang nenek membuat keberaniannya mencuat.


“Paman Bunglon harus menceritakan semuanya padaku, aku ingin kami bersatu kembali,” batin Eunsu.


Gadis bergaun lusuh itu berlari menyusuri gang dengan selembar poto digenggam erat di tangan. Sesekali dia mengusap sudut mata yang tidak berhenti meneteskan air mata, meski angin yang berembus saat dia berlari cukup kencang, seolah tak mampu mengeringkan air matanya.


Cukup lama dia berlari hingga saat ini dia telah sampai di ujung gang dan harus menyeberangi jalan untuk sampai di rumah besar itu. Tepat saat Eunsu akan menyeberangi jalan aspal itu, mobil Steve melintas dan hampir menabraknya. Seorang pria yang berada di dekatnya dengan cepat berlari dan menyelamatkan gadis kecil itu.


Eunsu yang fokusnya tersita pada rumah besar dan Lam tidak menyadari bahaya yang akan menimpanya. Dia tersadar seketika setelah merasakan tangan kekar seorang pria memeluknya dan menahannya dari benturan aspal.


“Kau baik-baik saja?” selidik si pria.


Mata Eunsu terbelalak saat menyadari suara itu tak asing di pendengarannya.


“Paman Bunglon?” sahutnya dengan polos yang menyadari pasti itu adalah Lam–pria yang sedang dicarinya.


“Apa yang kau lakukan, kenapa tidak fokus begitu?” sentak Lam seraya membangunkan Eunsu.


“Paman ...,” Eunsu mencoba mengutarakan niatnya tatapannya tepat mengarah pada wajah Lam.


Eunsu terkesima saat melihat wajah sang ayah yang begitu tampan dan berkharisma. Sesaat dia melupakan kejadian mengerikan yang dilihatnya pagi tadi.


“Apa ada yang sakit?” Melihat Eunsu tak melanjutkan perkataanya Lam mencoba menelisik.


Eunsu menggeleng, tetapi air matanya berderai tanpa kontrol. Lantas, dia mengangkat tangan dan berusaha menunjukkan poto itu pada Lam.

__ADS_1


Akan tetapi ....


***


__ADS_2