
Akan tetapi, poto di tangannya telah hilang entah ke mana. Eunsu terperanjat membuat Lam ikut kaget karenanya.
“Ada apa? Kenapa?” selidik Lam.
Eunsu belum menjawab, dia sibuk sendiri mencari selembar potret yang menjadi bukti keterikatannya dengan sang ayah. Bukti satu-satunya itu, kini telah menghilang. Derai air mata terus meluruh, lagi-lagi bocah itu dilanda kesialan.
“Apa yang kau cari sebenarnya?” Lam yang bingung sekaligus kesal mencoba mencari tahu.
Eunsu masih membisu, tetapi dia terus kebingungan dan tak berhenti bertingkah, mengedarkan pandangan ke setiap sudut, mencari hal paling berharga dalam hidupnya.
Lam yang tidak tahan melihat tangisan dan tingkah Eunsu, menarik lengannya dengan kasar. Diremasnya pundak mungil dan digoyangkannya beberapa kali. Seketika tubuh mungil itu bergetar, isak tangis masih terlontar, fokusnya tertuju pada Lam.
“Apa yang kau cari, hingga kau tak peduli padaku dan nyawamu?” teriak Lam.
“Po-to!” jawab Eunsu terbata seraya menyeka wajahnya dengan telapak tangan.
“Sepenting itukah sebuah poto, hingga kau kehilangan fokus dan hampir tertabrak?” hardik Lam yang tersulut amarah.
“Po-to a-yah i-bu,” tangis pilu itu membuatnya sulit untuk bicara dengan benar.
Lam termenung, melihat wajah mungil yang begitu ceria kini basah oleh bukti dari rasa sakit. Dia menatap gadis mungil di hadapannya dengan saksama, hatinya terenyuh oleh rasa iba. Tak tega melihatnya sesenggukan tanpa henti.
Lam berjongkok menyetarakan diri dengan gadis berambut sebahu itu, dengan lembut Lam mengelus kedua pipi Eunsu yang ranum. Seketika dia mengingat akan cerita tentang kedua orang tua si gadis yang berpisah. Kini, Lam paham betapa berharganya poto tersebut.
Lam memeluk Eunsu dengan erat, mencoba menenangkan tangisannya seraya berkata, “Maaf ....”
Tangis Eunsu semakin pecah saat tangan kekar itu kembali memeluknya. Saat ini, bukti untuk menunjukkan kebenaran telah raib entah ke mana. Hati Eunsu bergejolak ingin sekali mengatakan hal itu, tetapi pikiran polosnya menyadari itu akan menjadi sesuatu yang begitu mengejutkan, bahkan terkesan mengada-ada.
Lam semakin kebingungan, dia tak tahu harus berbuat apa. Sebab semakin dia mencoba menenangkan Eunsu, semakin kencang tangisannya. Tentu saja, hal itu membuat Lam merasa tidak tenang.
“Andra!” teriak Lam memanggil tangan kanannya.
“Ya, Bos!” sahut Andra dari kejauhan.
“Kemari!” teriak Lam lagi.
“Ayok lari-lari!” timpal Andra seraya cengengesan.
Langkah tegapnya terdengar, tak lama kemudian pria muda tampan yang masih mengenakan topeng itu muncul entah dari mana. Seperti telepati, teriakan Lam akan dengan cepat memberinya sinyal untuk muncul. Padahal, sedari tadi tak terlihat batang hidung Andra, hanya Lam dan Eunsu di tempat itu.
“Jangan bercanda!” tepis Lam, ”ini serius!”
“Ada apa? Kenapa dia menangis?” cecar Andra yang mendapati wajah Lam penuh kekhawatiran dan ketakutan saat memeluk Eunsu.
__ADS_1
“Aku berusaha menenangkannya, tapi tangisnya malah makin kenceng,” desis Lam cemas.
”Ppft!” Andra menahan tawa seraya menutup mulut dengan telapak tangan.
“Kenapa kau menutupnya, kau sudah pakai masker!” umpat Lam, “lakukan sesuatu, Bocah!”
“Aish, kau memang payah soal wanita!” ledek Andra seraya menghampiri Lam yang terlihat mati gaya.
Andra menggoyang tangan memberi isyarat pada Lam untuk melepaskan pelukannya. Lantas, Andra meraih tubuh mungil Eunsu yang masih bergetar karena isak tangis.
“Ada apa gadis cantik? Kenapa kau menangis?” tanya Andra dengan lembut, dielusnya pucuk kepala Eunsu.
Lam hanya menyimak seraya mengerutkan dahi, dia berdecih mencibir Andra yang menurutnya terlalu klasik dan lebay.
Andra tak mendapatkan sambutan dari Eunsu–yang justru memilih terdiam dan mencuri pandang pada Lam. Masih, dalam isak tangis yang bertambah dengan rasa bingung.
“Sukurin!” ledek Lam.
Andra pun terkesiap dan menoleh ke arah pria setengah matang yang kerap berseteru dengannya itu. Tiba-tiba Lam menyadari jika Eunsu terganggu oleh masker dan topeng yang dikenakan Andra, mungkin Eunsu merasa tidak yakin jika itu Andra. Oleh sebab itu, Lam mengisyaratkan pada Andra untuk membuka atributnya. Andra pun segera menanggapi dan membuka kedua hal yang menjadi ciri khasnya.
“Nah, sekarang bagaimana, paman tampan ini sudah menampakkan wajah dengan jelas,” seloroh Andra seraya memegang wajah Eunsu dengan gemas.
“Paman Kadal,” ucap Eunsu lantas menghambur ke pelukan Andra.
“Ada apa? Apa Paman Bunglon menyakitimu?” cecar Andra seraya menepuk-nepuk halus punggung Eunsu.
“Lalu kenapa kau menangis, tahu enggak kalau menangis itu bikin cantikmu luntur,” goda Andra mencoba merayu Eunsu.
“Bukan, tadi aku hampir tertabrak mobil, terus potoku hilang,” ucap Eunsu sembari bangkit dari pelukan Andra, tangisnya mulai mereda.
“Oya? Apa itu penting?” cecar Andra.
“Poto, ayah ibu,” sahut Eunsu.
“Baiklah, aku paham. Jadi, kau akan terus menangis tanpa mencarinya?” Lagi, Andra berusaha merayunya.
Eunsu seketika terdiam, lalu menatap ke arah Andra seolah mendapatkan harapan.
“Berhenti menangis dan kita cari sama-sama, bagaimana?” tawar Andra.
Sontak hal itu membuat semangat Eunsu yang hampir redup mencuat kembali, Andra berhasil merayu gadis kecil itu. Lam seketika membelalakkan mata, melihat Andra dengan mudah menenangkan Eunsu. Sementara dirinya justru membuat Eunsu menangis sesenggukan.
“Waah,” decak Lam seraya memberikan tepuk tangan.
__ADS_1
Keduanya lega karena telah berhasil menenangkan Eunsu. Mereka pun mulai mencari poto yang Eunsu maksud, untuk membuat hati Eunsu lega. Meskipun setelah beberapa saat hasilnya tetap nihil. Selain itu hari juga semakin sore, sementara malam nanti Lam dan Andra akan melakukan pertemuan kembali guna membahas pekerjaan mereka.
“Apa kita ada waktu untuk ini?” celetuk Andra yang tiba-tiba datang menghampiri Lam.
“Sstt! Bukankah ini idemu?” desis Lam, seolah takut percakapannya di dengar Eunsu.
Mendengar itu, Andra cengengesan yang ditimpali satu pukulan kecil di bahunya. Lam mendengkus, dia merasa bosan karena apa yang dicari tak kunjung didapatkan. Namun, melihat Eunsu yang masih gigih dan belum menyerah membuatnya tidak tega untuk membiarkan bocah itu berusaha sendiri.
“Apa kau menemukannya, Bocah?” tanya Lam.
Eunsu menengadah, lantas menoleh ke arah La. Tatapannya begitu memprihatinkan dengan wajah sendu dan pilu, tak lama sebuah gelengan kepala menjadi sebuah penegasan bahwa usahanya belum membuahkan hasil.
“Semangat!” dukung Lam pada Eunsu.
Eunsu tersenyum, tatapannya kini berubah. Ada makna tersembunyi dari tatapan itu. Sorotnya menembus hingga jantung pria tinggi tegap tersebut. Membuatnya merasa tidak nyaman. Terlintas di benak Lam, pikiran gila yang merasuki otaknya.
“Apa mungkin aku jatuh hati pada gadis kecil itu?” gumamnya saat merasakan debaran aneh yang sudah lama tak dirasakannya.
Sayang, Andra mendengar gumamannya, sontak hal itu membuat suasana kisruh kembali terjadi.
“Bang!” sentak Andra.
Lantas dia menoleh ke arah Eunsu, dilanjutkan menoleh ke arah Lam.
“Jangan gila!” lanjutnya.
“Apa yang gila?” tanya Lam yang lupa akan ucapannya barusan.
“Kau jatuh cinta pada gadis kecil itu? Kau jadi pedofil?” seloroh Andra.
Lam melotot, nyaris bola matanya keluar. Tak lama setelah itu, Lam mengembuskan napas kasar.
“Kadal tutul!” bentaknya pada Andra.
“Apa, bunglon piaraan sponge bob?” sahut Andra tidak mau kalah.
Eunsu bergeming, lalu menepuk dahi.
“Payah!” umpatnya.
Sontak Lam dan Andra menoleh bersamaan ke arah Eunsu.
“Apa? Kenapa? cecar Eunsu.
__ADS_1
“Kau–”
***