Real Dad

Real Dad
Bab 33


__ADS_3

“Kenapa kau?” tanya Steve yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Lam.


Lam yang sedang berselonjor di kursi kayu setengah lapuk itu pun terperanjat.


“Hidungku gatal, kata orang zaman dulu ada yang sedang membicarakan keburukan kita, makanya aku kesal,” jelas Lam.


“Cih! Pemikiranmu kolot sekali, di sini banyak debu. Wajar kalau kau bersin,” sahut Steve.


“Wah, kau cerdas sekali, Bung!” kata Lam seraya merebahkan tubuhnya ke kursi reot itu.


“Kau sudah mempersiapkan diri untuk besok?” tanya Steve.


Lam yang hampir memejamkan mata pun membukanya kembali, lantas dia menjawab, “Apa yabg harus aku siapkan, aku hanya tinggal ikuti perintahmu, bukan?”


“Ternyata kau memang profesional, aku sempat kesal mendengar David terus saja memujimu, tapi kurasa saat ini aku mengerti alasannya,” tutur David.


“Wah, apakah kau juga memujiku?” celetuk Lam.


“Cih!” Alih-alih menjawab, Steve justru berdecih seraya berbalik badan dan meninggalkan Lam yang terlihat memang asyik menyendiri.


“Sssh, ternyata banyak pria yang menyukaiku, sayang sekali aku masih menyukai wanita,” racau Lam seraya melipat tangan ke belakang kepala dan menjadikannya bantalan.


Namun, matanya tak kunjung mau tertidur meski sudah berusaha memaksanya untuk terpejam. Perutnya yang lapar menjadi alasan untuk itu. Steve memang sedikit aneh, dia tidak menyediakan bahan makanan di gedung itu. Padahal, mereka tinggal sudah beberapa hari lamanya.


“Ah, aku lapar,” keluh Lam.


Dia bangkit kembali dari tidurnya, lalu berjalan menuju ke luar gedung. Akan tetapi, kawasan itu cukup jauh dari permukiman atau perkantoran. Tempat yang cukup sepi hingg tak didapatinya seorang pun yang menjajakan makanan.


Beberapa saat Lam berdiri di luar gedung itu, dia mendengkus kesal seraya menggerutu. Lantas, karena udara semakin dingin dia bergegas masuk kembali. Didatanginya Steve, untuk memprotes keadaan tersebut.


“Woi, Bung! Apa kau itu tentara Jepang?” cecar Lam seraya berkacak pinggang.


“Kenapa? Apa maumu?” sahut Steve.


“Apa kau akan membuatku kelaparan seperti ini?” protesnya.


“Kau ini, begitu saja dipermasalahkan, gunakan ponsel pintarmu, pesan kan bisa!” seloroh Steve.


“Aku tidak terbiasa dengan hal itu, aku tidak ingin sembarangan orang tahu keberadaanku, bukankah kau tahu sendiri pekerjaan kita itu apa?” sanggah Lam, menolak untuk memesan makanan.


“Baiklah, baiklah, ayok kita pergi makan ke tempat terdekat!” Steve tak ingin Lam terus-terusan merengek.


“Gitu donk!” ujar Lam.


Akhirnya merek memutuskan untuk keluar gedung dan mencari makanan, hanya menyisakan dua orang penjaga di gedung itu untuk menjaga barang yang akan ditransaksikan keesokan harinya.


Beberapa orang yang ikut dengan Steve dan Lam bergegas menaiki Van hitam. Dari kejauhan ternyata Andra dan Musang sudah tiba di sana. Keduanya melihat Lam naik Van tersebut.

__ADS_1


“Bang Lam, kan?” tanya Andra memastikan penglihatannya tidak salah.


“Iya, itu Lam,” jawab Musang.


“Kira-kira mereka akan ke mana?” tanya Andra.


“Entahlah, tapi tidak mungkin jika untuk transaksi, mereka sudah memutuskan gedung ini tempatnya,” tutur Musang.


“Kau benar,” komentar Andra.


“Jadi, apa kita akan menunggu di sini semalaman?” tanya Musang.


“Tidak, kita cari motel terdekat saja, besok malam kita kembali ke sini,” jelas Andra.


“Baiklah!” patuh Musang.


Musang memutar balik kemudi untuk mencari motel terdekat dari area tersebut. Setelah beberapa lama melaju, akhirnya mereka menemukan motel yang pas untuk menginap. Dengan jarak yang tak terlalu jauh dan sangat kondusif.


Musang masuk ke area motel itu dan memarkirkan mobilnya di sana. Lekas, dia turun setelah mendapat tempat parkir yang tidak begitu terekspos. Dia pun bergegas menuju lobi untuk memesan kamar tidur. Andra menyusul tak lama setelahnya.


“Pesan dua kamar, Mbak!” ucap Musang pada resepsionis yang berada di meja penerima tamu.


“Tolong KTP-nya, Pak!” pinta petugas tersebut.


Musang menyodorkan KTP-nya tanpa ragu. Kali ini dia tidak berniat untuk bergurau dengan menyebutkan silsilah keluarganya. Dia pun menahan Andra untuk mengolok-oloknya di depan gadis muda yang sedang berusaha melayani keduanya.


“Pak Mus, maaf ternyata kamarnya hanya tinggal satu saja? Bagaimana?” ujar petugas yang mengenakan setelan merah muda dan pas di badan itu.


“Apa?” Musang dan Andra terkejut, lalu mereka bergidik ngeri saat memikirkan harus tidur seranjang.


“Ya sudah jika begitu kasurnya saja yang ditambah,” tawar Musang, yang tak memiliki pilihan lain.


Malam pun sudah sangat larut, tidak mungkin keduanya harus terus menerus menyusuri kota C.


“Maaf, Pak, ekstra kasur sudah terpakai semua, hanya tersisa kamar dengan bed ukuran sedang, tanpa sofa. Bagaimana?” tutur si petugas itu.


“Aish!” Andra dan Musang mendengkus kesal.


Keduanya tak sanggup menyetujui maupun menolaknya. Ini benar-benar hal gila. Memikirkannya saja membuat kedua pria itu berkali-kali mengela napas dan meracau tidak jelas.


“Apa di-cancel saja?” desak di petugas yang tak kunjung mendapat jawaban.


Tanpa kata, Musang menengadahkan telapak tangan, keempat jarinya bergerak keatas memberikan isyarat jika dia tak memiliki pilihan lain. Petugas pun mengerti kode yang diberikan Musang. Gegas dia memberikan kunci kamar kosong yang dimaksud. Setelah itu, dia meminta roomboy untuk mengantarkan keduanya.


Di koridor keduanya terus berseteru saling menyalahkan, pencinta Bang Haji Rhoma itu terus saja memperebutkan kasur yang hanya satu-satunya.


“Aku senior!”

__ADS_1


“Tapi, sewa kamar ini atas namaku!”


Terus saja ucapan itu terlontar silih bergantian sembari saling sikut. Hingga tak terasa keduanya sampai di kamar yang dimaksud. Setelah petugas roomboy menyelesaikan tugasnya. Tinggallah kedua pria tampan itu di mulut pintu.


Awalnya mereka saling menoleh satu sama lain dengan pandangan tajam, bagai sinar biru memancar dari kedua pasang mata itu, dan saling melawan.


Keduanya mengambil napas secara bersamaan, lantas berteriak bersama-sama pula.


“Hiiiyaaa!”


Kemudian keduanya berlari menuju kasur yang terlihat begitu menggoda, lebih menggoda dibandingkan dengan gadis seksi di mata keduanya. Andra dan Musang berlomba untuk siapa yang lebih dulu mencapai kasur lebih dulu dan siapa pun itu berhak untuk menidurinya.


Akan tetapi, lagi-lagi secara bersamaan keduanya mendarat di kasur tersebut. Hingga hasil berakhir imbang. Sontak, itu membuat mereka kesal.


Andra menggerutu, begitupun dengan Musang. Sungguh jauh dari kata dewasa. Padahal keduanya bukan anak kecil lagi. Namun, kelakuannya sungguh membuat orang-orang menggeleng keheranan.


Pada akhirnya, mau tidak mau keduanya harus tidur berdua di kasur tersebut. Meski terasa aneh dan tidak nyaman, tetapi tidak ada solusi lain.


“Benar-benar motel terkutuk,” gerutu Musang.


“Jangan pernah berharap kau bisa menyentuhku, Bung!” ujar Andra seraya melilitkan selimut ke seluruh tubuh kemudian berbalik membelakangi Musang.


Musang yang masih terlentang menimpali, “Kau pikir aku sudi bersentuhan denganmu! Tidak, Bung!”


“Sudahlah tidur saja, aku lelah!” ucap Andra yang kemudian menguap dan tertidur.


Musang masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya masih tersita oleh sang istri yang tak kunjung menghubunginya kembali. Helaan napas penuh beban berat kembali terdengar oleh Andra.


“Hubungi lagi saja, pastikan dia baik-baik, lalu istirahat,” ujar Andra dengan nada bicara yang sudah melemah karena menahan kantuk.


“Jangan pedulikan aku, hubungi istrimu, agar kau tenang dalam menjalankan misi, dan bilang padanya semoga misi ini yang terakhir untuk kita,” lanjutnya.


“Besok pagi sajalah, aku sudah mengirimkannya pesan,” jawab Musang seraya memiringkan tubuhnya menghadap Andra.


Hembusan napasnya menyibak tengkuk Andra, rasa dingin itu begitu mengganggu. Seketika Andra yang hampir tertidur pun kembali terperanjat bangun.


“Haish, kumohon jangan lakukan itu padaku!” rengek Andra.


“Apaan sih?” geram Musang.


“Kau mengendus-endus leherku bodoh!” teriak Andra kekesalan.


“Itu alami, Bodoh! Aku hanya bernapas, tidak mungkin aku bernapas tapi tidak mengeluarkannya lagi!” seloroh Musang.


“Alibi! Kau kan bisa berbalik badan!” Andra masih tidak terima.


***

__ADS_1


__ADS_2