Real Dad

Real Dad
Salah Paham


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya ....


“Yes! Yes! Yes!” sorak seorang gadis muda di depan laptopnya.


“Kenapa? Ada apa? Kau menang lotre?” cecar seorang rekan yang keheranan mendapati gadis itu begitu girang.


“Tidak! Ini lebih dari lotre, mungkin setelah ini aku akan naik jabatan dan menjadi atasanmu, hahahaha,” selorohnya seraya bangkit dari duduk.


“Kau membuat rencana gila lagi?” Sang rekan yang curiga ikut bangkit dari duduk.


”Ya, dua juta dollar untuk cokelat batangan, cochochips, dan gula-gula,” jelasnya seraya tersenyum misterius.


“Mika! Kau sudah gila?” sentak si rekan.


“Hmm, kau tau aku memang wanita gila, begitu gila untuk menangkap para bedebah itu!” geram gadis bergaya rambut bob nungging tersebut.


“Waah, kau ini benar-benar—”


“Apa? Kenapa?”


“Mika, dari mana kau akan mendapatkan dua juta dollar itu? Kau akan mengorbankan uang pribadimu lagi, ini bukan jumlah yang sedikit,” cegah rekan seperjuangan Mika.


“Tenanglah, Ji, aku sudah memikirkannya,” ujar Mika.


Sementara Ji masih terpaku, Mika berlalu meninggalkan meja kerja. Dia menuju dapur untuk membuat kopi. Ji masih termangu, Mika benar-benar terlalu berani untuk ukuran seorang wanita. Meskipun dia seorang detektif satuan reserse narkoba, tetapi terkadang dia gegabah dalam melakukan suatu hal.


“Mika!” teriak Ji, lantas bergegas menyusul Mika.


“Apa?” Mika menghentikan langkah, dan menoleh.


“Kau sudah dapatkan surat perintah?” tanya Ji.


“Itu tugasmu!” celetuk Mika.


Lagi-lagi, ucapan Mika membuat Ji terpaku dan tak bisa berkata-kata. Gadis itu benar-benar membuatnya mati gaya. Apalagi, Ji tahu sendiri jika Mika adalah manusia tersulit yang pernah dia temui.


Wajahnya yang manis dan lugu tidak semanis hatinya. Dia akan melakukan apa pun untuk menyelesaikan sesuatu yang dia mau. Meskipun hal itu mendapatkan penolakan dari orang-orang sekitar.


“Firasatku buruk tentang ini,” lirih Ji, seraya mengembuskan napas kasar.


***


Hari ini ...


“Bang, Bang, Bang, bangun woi, makan dulu!” Andra membangunkan Lam yang tertidur pulas di sofa.


“Eumh, hoam,” Lam menggeliat meregangkan otot-ototnya.


Lantas, pria tampan itu merasa ada sesuatu yang basah di pipi, spontan dia mengelap dengan lengan kemeja.


“Iuh,” ledek Andra.


“Apa? Kenapa?” protes Lam.


“Tampan-tampan, kok, ileran!” seloroh Andra seraya menahan tawa.


“Berisik, tidak usah rese, bocah tengil,” hardik Lam dengan wajah tanpa ekspresi.

__ADS_1


“Cih, bela diri terus, memangnya ini perguruan silat, apa?” gerundel Andra.


“Aku lapar, mana makanannya, apa mie gelas atau mie rebus?” cecar Lam.


Andra mendengkus, “Cuci muka dulu sana! Kalau perlu, mandi dulu, ada air hangat, kok!” tutur Andra kemudian.


“Sekarang kau berubah menjadi sosok istri yang cerewet, rupanya!” ucap Lam seraya bangkit dan hendak menuju kamar mandi.


Dia tidak ingin terus mendengarkan ocehan Andra yang begitu mengganggu tersebut. Ya, Andra memang pria muda yang selalu mementingkan kerapian dan kebersihan, berbeda dengan Lam. Bukan, Lam bukan pria yang jorok, tetapi dia lebih fleksibel tergantung mood yang dimiliki.


Akan tetapi, tepat saat Lam akan melangkah. Dia yang baru saja terbangun dari tidur, hingga nyawanya belum terkumpul, sontak kehilangan keseimbangan, langkahnya tersandung lipatan karpet yang belum dibenarkan setelah sebelumnya dibersihkan. Sontak tubuh tinggi tegap itu roboh dan menabrak Andra. Andra yang tidak fokus pun terkejut lantas menahan tubuh Lam, hingga membuat keduanya berpelukan.


Wajah keduanya berdekatan, hingga nyaris bersentuhan. Untuk beberapa saat keduanya larut dalam posisi seperti itu, sampai suatu ketika Imah yang hendak berpamitan untuk pulang, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kantung kresek yang dibawanya. Entah apa isi kresek itu, tetapi isi di dalamnya membuat suara bising yang membuat Andra dan Lam tersadar dari posisi gila yang sedang terjadi.


“Wuaa!” teriak keduanya bersamaan.


Lalu dengan cepat melepaskan pelukan satu sama lain. Sementara Imah ikut terhenyak ketika mendengar teriakan kedua pria itu, dengan kikuk dia mengambil kembali kantong kresek yang dibawanya. Sejurus kemudian, dia teringat tentang kata-kata Andra tentang Lam.


“Ma–af, Tu–an, sa–ya meng–ganggu, sa–ya ha–nya lewat se–kadar un–tuk mem–buang sam–pah,” tutur Imah terbata.


Jarak antara dia dan Lam terlalu jauh hingga membuatnya tidak mengenali wajah mantan menantunya tersebut. Sementara Lam tidak sempat melihat wajah Imah, karena Imah langsung tertunduk saat melihat keduanya berpelukan.


“Tenang, Bu, ini tidak seperti yang–yang An–da pi–kirkan,” ucap Lam kikuk mencoba menjelaskan semua yang terjadi.


“Ma-af, Tuan,” Imah yang mendengar suara Lam langsung gemetar ketakutan.


Tanpa menghiraukan Lam, perempuan tua itu bergegas pergi dari ruangan tersebut. Cepat-cepat melangkah menuju ke luar rumah.


“Bu!”


“Bu!”


Lam mencoba menghampiri seraya memanggil perempuan tua itu yang tergopoh tanpa mengindahkannya. Bukannya Imah acuh, langkahnya justru semakin cepat dan jaraknya semakin jauh. Imah menutup pintu utama rapat-rapat dengan tergesa. Membuat Lam mati gaya, dan ragu untuk bertindak.


“Andra!” seru Lam.


“Ya, Bos!” sahut Andra, yang terlihat masih termenung.


Lam berbalik badan, lantas menatap Andra lekat-lekat.


“Woi, sadarlah, tadi hanya kecelakaan!” teriak Lam yang mendapati wajah Andra bersemu merah.


Andra pun terhenyak, lantas menepuk wajah beberapa kali.


“Waah, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padamu, Bang!” ungkap Andra seenaknya.


”Ssh, dasar bocah tengil! Aku masih normal!” tolak Lam, “lagipula, aku tidak mungkin menyukaimu, kalaupun aku menyimpang!” lanjutnya.


“Kenapa? Apa kurangku?” cecar Andra tidak terima, ”aku tampan, tubuhku juga bagus, dan aku bersih!” jelasnya kemudian.


Lam bergidik geli mendengar celotehan Andra, “Berhentilah berbicara irasional, atau aku kutuk kau jadi kadal!” sentak Lam.


Lantas pria itu berlalu menuju dapur dan mengurungkan niat untuk mandi.


“Apa? Kadal? Kenapa kadal?” gumam Andra.


“Mau sampai kapan kau berdiri di situ? Cepat kita makan!” ajak Lam yang mendapati Andra masih mematung di tempat yang sama.

__ADS_1


“Cih, dasar Bunglon!” decih Andra.


Bagaimana ini, kadal dan bunglon akan makan di meja yang sama.


“Omong-omong, siapa wanita tua tadi?” tanya Lam seraya menarik kursi yang berada tepat di sisi meja makan.


“Jangan bicara padaku, aku sedang ngambek!” rengek Andra seraya menghampiri Lam dan duduk di sisi lainnya.


“Aish,” geram Lam, lalu memelototi Andra.


“Iya, iya, dia nenek yang membantu membersihkan dan memasak di sini, Bang!” tutur Andra.


Lam mengangguk tanda mengerti, tetapi ada yang membuatnya sedikit penasaran. Pikirannya masih melayang memikirkan hal memalukan tadi. Lam berpikir Imah pasti salah paham tentang kejadian tersebut, itu sangat mengganggunya.


Lam menyendok nasi dan lauk pauk yang tersedia, rasa lapar sekaligus rindu dengan makanan rumahan membuatnya begitu bersemangat dan menyantap makanan tersebut dengan lahap. Demikian pula dengan Andra, dia begitu menyukai masakan rumahan seperti itu. Semenjak kehilangan keluarganya, dia yang hidup bergantung pada Lam, sangat jarang menemukan makanan seperti saat ini.


“Heh Bocah, kenapa ibu tadi terlihat begitu ketakutan saat aku mencoba mendekatinya?” selidik Lam tiba-tiba saja.


“Eumh, mungkin karena kau menyeramkan dan tahu kalau kita gangster!” seloroh Andra.


“Tidak mungkin, aku rasa ada yang janggal tentang ini,” ungkap Lam seraya melanjutkan suapannya.


Diam-diam Andra mencuri pandang pada Lam, terbersit rasa takut dalam benaknya kalau-kalau Lam tahu apa yang dikatakannya pada Imah. Dia menjadi sedikit gugup karena pertanyaan Lam tadi. Akan tetapi, saat melihat Lam percaya ucapannya, dia pun merasa sedikit lega.


***


“Dra, David mengirimkan orangnya untuk misi kali ini, bukan orang Lam,” desis Andra yang baru saja membuka mata dari tidur lelapnya.


Dia mendapatkan pesan singkat dari seorang yang dinamai 'Musang' dalam kontaknya.


“Apa-apaan ini?” gerundel Andra.


Sontak pesan singkat itu membuatnya kaget, karena rencana tiba-tiba saja berubah. Tanpa menunggu lagi dia mencoba memanggil Musang, untuk memperjelas semuanya. Akan tetapi, nomor Musang tidak dapat dihubungi dan membuatnya gelisah.


Sejurus kemudian, dia berlari menuju kamar Lam dan berusaha memberitahu bosnya, apa yang terjadi.


“Bang!”


“Bang!”


“Bang Lam!”


Andra berteriak memanggil Lam, sembari menerobos kamar Lam yang memang tidak dikunci.


“Bang Laaam!” Sekali lagi Andra berteriak memanggil Lam yang tak kunjung menyahutinya.


“Apa? Kenapa?” Lam yang mendengar teriakan Andra sontak terbangun.


“Kenapa kau berteriak di pagi buta seperti ini, kadal!” hardiknya penuh kekesalan.


“David tidak mengirim orang kita, tapi mengirim orang-orangnya!” ucap Andra.


Lam membelalakkan mata seraya berteriak, “Apa?!”


“David tidak mengirim orang kita, tapi mengirim orang-orangnya!” teriak Andra lebih kencang mengulangi perkataannya.


“Kenapa kau berteriak, Bocah! Aku tadi kaget, bukan tidak mendengar!” Lam tak kalah berteriak.

__ADS_1


Pagi yang mengesankan, kedua pria itu saling meneriaki seperti orang gila.


***


__ADS_2