Real Dad

Real Dad
Bab 39


__ADS_3

Gedung tua itu hancur dan rata dengan tanah. Semua jejak menghilang melebur dengan puing-puing reruntuhan. Hanya tersisa debu-debu yang beterbangan di udara malam yang menusuk.


Uhuk! Uhuk!


Secara bergantian keempat pria itu bangkit sembari sesekali terbatuk karena debu mengganggu pernapasan dan penglihatan mereka. Baiknya, mereka selamat tanpa adanya cidera atau luka parah.


Jian lebih dulu bangkit, dia berniat untuk mengambil kunci borgol yang berada di mobil. Disaksikan oleh ketiga pria itu, meskipun keadaan Lam begitu menyiksa, tetapi dia terlihat begitu nyaman dengan hal tersebut. Seolah tak merasa risi atau merasa kesulitan. Padahal biasanya dia akan galak pada wanita berusaha mendekati dan menggodanya. Pemandangan kali ini, begitu mencengangkan.


Andra masih menatap heran pada Lam meski beberapa kali Musang mengingatkan agar tak melakukannya. Namun, Andra tidak bisa menerima itu. Dia menginginkan penjelasan Lam tentang semuanya dan gadis tersebut.


“Ini kuncinya." Dengan langkah terburu Jian datang membawa sebuah kunci.


“Baiklah, lepaskan cepat!” tukas Lam, “bawa dia ke rumah sakit, lakukan pemeriksaan menyeluruh,” lanjutnya.


“Baik, Anda jangan khawatir," jawab Jian.


Jian mengangkat Mika perlahan dan membawanya ke mobil. Sesaat kemudian setelah dia membaringkan Mika di jok mobil miliknya, dia berbalik dan kembali pada ketiga pria itu.


“Permisi, begini ... mobil Kapten Mika, bisakah, ada yang membawakannya?” pinta Jian dengan ragu.


Jiwa Musang sebagai kakak ipar yang baik dan budiman langsung terpanggil.


“Biar aku saja,” tawarnya.


“Hoy! Kau siapa? Kenapa kau menyela perintah?” geram Lam.


“Dia Musang, Bang!” timpal Andra.


“Jadi kau–” Lam tidak meneruskan perkataannya.


“Ya, Bos. Jadi gimana, bolehkah saya membawakan mobil inspektur Mika?” tanya Musang.


“Ya sudah sana, antar dia ke rumah sakit sekalian periksakan dirimu juga, terima kasih telah menyelamatkanku,” tutur Lam.


“Siap, Bos!” ucap Musang.


Setelah mendapat persetujuan Lam, Musang dan Jian bergegas menuju mobil masing-masing. Mereka pergi menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaan Mika yang masih tak sadarkan diri.


Sementara Lam dan Andra naik ke van mereka, Andra menyetir seperti biasa. Setelah duduk berdampingan keduanya pun merasakan ada yang tidak beres antara satu sama lain.


Suasana menjadi canggung, karena Andra yang biasanya berceloteh. Kini, hanya berdiam diri seperti patung. Dia hanya fokus mengemudi dan jauh dibandingkan kebiasaannya.


Lam yang tak terbiasa dengan keadaan tersebut, tidak tahan lagi. Setelah beberapa kali menoleh ke arah Andra yang tak mengacuhkannya, Lam pun angkat suara.

__ADS_1


“Apa? Kenapa?” cecar Lam.


“Apanya yang kenapa?” Andra balik menanyai Lam.


“Kenapa dengan sikapmu, kenapa kau seperti seorang istri yang sedang cemburu?" cecar Lam sekali lagi.


“Aku butuh penjelasanmu, Rhoma! Kau menyukai gadis itu?” canda Andra.


“Mana bisa aku menyukai orang yang baru saja kutemui dan hampir membunuhku,” kilah Lam, tampak ragu.


“Kalau gitu, jelaskan apa yang terjadi hingga kalian bisa di kulkas sambil pelukan!” titah Andra.


“Apa itu penting? Kau terlalu posesif, Ani!” kelakar Lam.


“Hei, Rhoma! Aku tak butuh pendapat gilamu tentangku, aku butuh kau menceritakan semuanya! Mengerti?” seloroh Andra.


“Baiklah! Baiklah, kau cerewet sekali!” geram Lam.


Lam pun menerawang ke kejadian beberapa saat lalu, saat ledakan ketiga hampir melenyapkan nyawanya.


“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan berdiam diri di sini seperti ini?” cecar Mika yang baru saja saling meriaki karena kunci borgol yang hilang.


“Ikut aku, aku pernah melihat sebuah kulkas rusak, tapi aku tidak yakin kulkas itu masih aman,” sahut Lam.


“Kulkas? Untuk apa?” cecar Mika keheranan.


“Memangnya ada apa dengan kulkas?” selidik Mika.


“Kulkas itu salah satu benda yang tahan ledakan, Inspektur!” tegas Lam.


Mika mengangguk dan menerima saran Lam. Tak ada pilihan lain, jika dia tidak mencoba mengikuti saran Lam. Bisa saja mereka berdua terbunuh dengan cara bodoh seperti itu. Namun, saat dia sadar jika kulkas itu kecil dan mustahil untuk dimasuki keduanya, sontak langkahnya terhenti.


Langkah Mika yang terhenti, otomatis menghambat langkah Lam dan membuat Lam juga berhenti mendadak.


“Apa yang terjadi? Jangan buang waktu?” bentak Lam.


“Kulkas itu kecil, Brengsek! Bagaimana kita bisa masuk bersamaan?” keluh Mika.


“Jika kau tidak menghilangkan kuncinya, kau bisa masuk sendiri! Ini salahmu!” rutuk Lam.


“Astaga! Pria macam apa kau ini?” gerutu Mika kesal dengan tingkah Lam yang tidak ada lembut-lembutnya.


Setiap berbicara Lam pasti dengan nada setengah berteriak.

__ADS_1


“Cepatlah, kita tidak ada waktu, kita bukan Romeo dan Juliet yang harus mati bersama!” kelakar Lam.


“Baiklah-baiklah!” Akhirnya mau tidak mau Mika menuruti Lam.


Keduanya mencari kulkas yang Lam maksud. Tak lama kemudian, di detik-detik terakhir menuju ledakan selanjutnya, ekor mata Lam menangkap kulkas rusak yang sudah dimodifikasi tersebut. Ternyata kulkas yang dimaksud oleh Lam adalah frizer minuman ukuran besar.


“Syukurlah itu agak melegakan,” ucap Mika, saat melihat ukuran frizer tak sesempit apa yang dibayangkan.


Keduanya berlari menuju benda yang berbentuk kotak itu. Lam menyuruh Mika masuk lebih dulu. Mika pun masuk dengan hati. Setelah itu dilanjut dengan Lam. Akan tetapi, sebelum Lam masuk dengan sempurna, ledakan kembali terjadi.


Sontak benda itu ikut terguncang hebat. lam berusaha memegangi pintu untuk menutupnya. Namun, guncangan hebat menghambat. Mika membantu dengan memegangi Lam erat-erat.


“Woi, berthanlah, aku gak mau mati sia-sia!” teriak Mika.


Dugh! Bum! Jebred!


Kulkas itu terbentur beberapa kali, hingga akhirnya tergeletak di lantai diiringi dengan teriakan Lam dan Mika secara bersamaan. Setelah teriakan itu, suasana menjadi hening seiring dengan tertutupnya pintu kulkas tersebut. Pada akhirnya Mika dan Lam saling melindungi di dalam lemari pendingin itu.


***


“Gitu ceritanya!” jelas Lam.


Andra manggut-manggut dengan bibir yang maju.


“Haruskah kita ke rumah sakit, Bang?” tanya Andra.


“Gak usah, aku ingin ke K saja, aku rindu Hana ...,” ungkap Lam.


“Apa?” tanya Andra, untuk memastikan dia tidak salah dengar.


“Eh, rindu rumah,” ralat Lam kemudian.


“Dasar pria tua gagal mup on!” cela Andra.


“Berhenti memakiku!" geram Lam, “omong-omong tempat terapi yang kau ceritakan itu di mana?” imbuh Lam.


“Terapi spongebob?” tanya Andra.


Sontak pertanyaan itu membuat Lam malu, lalu berkata, “Sudah lupakan saja!”


Andra mendelik, lalu mendengkus. Benar, ada yang tidak aneh dengan Lam. Bagaimana bisa dia yang menolak mentah-mentah saran tersebut. Kini, tiba-tiba saja menanyakan perihal itu. Apa dia mulai merasakan sesuatu. Apa wanita yang baru saja ditemuinya berhasil mengetuk hatinya yang keras seperti cangkang penyu itu.


”Wah, benar-benar sebuah keajaiban. Dia inginkan terapi,” batin Andra dengan masih menatap Lam lekat.

__ADS_1


“Berhenti menatapku dan lihat jalan dengan baik!” sentak Lam, padahal matanya terpejam.


***


__ADS_2