
Keduanya memutuskan untuk membeli sarapan terlebih dulu, sebelum ke tempat Hana. Di perjalanan keduanya saling memperkenalkan diri. Andra masih tampak malu-malu meskipun dirinya seorang pria, sementara Hana cukup lugas dan berani, mungkin karena merasa usianya lebih tua.
Akan tetapi, dari obrolan mereka. Didapati jika Andra seumuran dengannya meskipun saat ini masih berstatus sebagai siswa SMA.
“Waaah, wajahmu terlalu imut untuk usiamu, aku hampir tertipu,” seloroh Hana seraya menyikut lengan Andra yang berjalan di sampingnya.
“Kau sudah lama bekerja di sini, maksudku di salah satu pabrik di sini?” tanya Andra mencoba menjadi lebih akrab dengan Hana.
“Baru enam bulan,” jawab Hana, ”kau orang asli sini,” lanjutnya.
“Hmm, kebetulan semalam aku lihat kau dan pria itu ke tempat pembuangan sampah,” jelas Andra.
“Kenapa kau tidak membantu?”
“Aku terlalu takut, mungkin itu pula yang menyebabkan anak-anak itu membenciku,” tutur Andra.
“Kadang pembenci tidak perlu alasan untuk menyakiti kita, kau tidak bersalah dengan menjadi diri sendiri, mereka hanya terlalu peduli dengan perasaan mereka sendiri, kau harus kuat, lain waktu harus kau lawan atau pergi saja jauhi mereka,” seloroh Hana panjang lebar.
Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan warung yang menjajakan makanan khas pagi hari, gorengan, bubur ayam, nasi kuning, kue basah, dan banyak lagi. Sementara Hana dan Andra memilih bubur ayam saja. Itu lebih nyaman untuk keduanya bersantap pagi.
Setelah Hana memesan tiga bungkus bubur ayam lengkap dengan berbagai macam toping, keduanya bermaksud untuk kembali ke kosan Hana dan menemui Lam yang ditinggalkan.
Sembari berjalan, keduanya kembali mengobrol. Menceritakan hal-hal ringan untuk mencairkan suasana. Jalanan sudah mulai ramai, lalu lalang para buruh pabrik mulai memadati jalanan kecil di area itu. Tak jarang kendaraan roda dua pun memaksa lewat menerobos padatnya orang-orang yang berjalan.
Hana yang kehilangan fokus hampir saja terserempet motor, tetapi beruntung Andra merangkul dan menariknya ke tepi hingga dirinya selamat. Jantung Hana bergetar hebat karena kejadian itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Andra tanpa melepaskan rangkulannya.
Hana terkesiap, lantas membenarkan posisi, dia berdekham untuk menurunkan ritme jantungnya yang tiba-tiba saja melonjak.
“I–ya,” jawab Hana singkat.
Setelah melihat Hana baik-baik saja, Andra melepas rangkulannya dan mengalihkan posisi berjalan. Kini Hana berada di posisi Andra. Keduanya melanjutkan perjalanan kembali. Entah mengapa, Hana merasa Andra begitu keren saat menyelamatkannya tadi. Meski wajahnya terlihat lebih muda dari usianya, tetapi kepekaannya begitu membuat Hana terpesona.
Rasa canggung mulai dirasakan Hana, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hana yang awalnya terkesan ceriwis dan bawel, kini membisu. Membuat suasana semakin kikuk saja.
__ADS_1
Wajah Andra bersemu saat mengingat tatapannya dan tatapan Hana bertaut saat tadi. Sesekali dia mendengkus kemudian mengusap wajah kasar. Ini kali pertama keduanya bertemu, tetapi hal aneh dirasakan keduanya.
Selang beberapa saat Hana dan Andra sudah sampai di kosan. Hana membuka pintu perlahan yang sengaja tidak dikunci itu. Dia takut tidur Lam terusik, hingga berusaha untuk tidak membuat suara bising. Akan tetapi, saat dia masuk ke kamar kosnya, didapatinya Lam sudah tidak ada di kasur.
Sontak Hana kebingungan dan merasa khawatir. Dia menoleh ke arah Andra dengan raut wajah yang tegang, membuat Andra yang berada tepat di belakangnya tersentak dan ikut tegang.
“Ada apa, Han?” selidik Andra cemas.
“Pria itu enggak ada,” ucap Hana dengan nada sedikit tercekat.
“Cari dulu, mungkin di kamar mandi,” saran Andra.
Hana bergegas menuju kamar mandi yang berada lebih dalam dibandingkan kamar tidurnya itu. Dia mengedarkan pandangan seraya menelisik semua keadaan di sana. Pintu kamar mandi tertutup rapat, Hana mencoba membukanya, tetapi ternyata pintu terkunci dari dalam.
“Bang! Kamu di dalam?” panggil Hana.
Kemudian Hana menoleh ke arah Andra lagi, mengisyaratkan ada yang tidak beres di kamar mandi itu. Dengan sigap Andra memeriksa keadaan sekitar, kemudian menutup pintu kamar kos Hana dan menguncinya rapat-rapat.
Setelah pintu terkunci, Andra menghampiri Hana.
Hana mengangguk, mengutarakan pemikirannya. Lantas Andra mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi yang terbuat dari baja ringan itu.
“Aku dengar ada suara pria? Benarkah?” sahut Lam dari dalam sana.
“Kau kenapa? Ada yang bisa kubantu?” selidik Andra sedikit menaikan volume suaranya.
“Biarkan gadis itu menjauh dulu!” tukas Lam dari celah pintu.
“Baiklah,” sahut Andra seraya mendelik ke arah Hana.
Hana yang mengerti keadaan itu pun lekas menjauh dari sana. Dia memilih untuk menyiapkan sarapan yang beberapa saat lalu dia beli, saat mengetahui Lam baik-baik saja.
Setelah Hana memindahkan bubur dan toping ke dalam piring, kedua pria itu pun muncul dari balik pintu kamar mandi. Terdengar keduanya tengah mengobrol begitu asyiknya. Entah apa yang mereka bicarakan, Hana pun tak mengerti.
Ekor mata Hana menangkap Andra yang merangkul pria yang belum dikenalinya tersebut dengan begitu akrab seolah mereka telah menjadi teman yang cukup lama. Sorot mata Andra pun memancarkan binar aneh yang seharusnya tidak ada di antara sesama pria.
__ADS_1
Merasa tidak nyaman dengan tingkah keduanya, lantas Hana memprotes, “Apa kalian berdua homo?”
Pertanyaan yang sekaligus menjadi tuduhan dari Hana sontak membuat keduanya membelalakkan mata.
“Apa maksudmu?” teriak keduanya yang otomatis menjadi penolakan tuduhan Hana.
“Ah, syukurlah, kalian tak semesum itu,” ungkap Hana.
Gadis berponi pagar itu dapat menyimpulkan bahwa keduanya tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya.
Hana menyiapkan meja lipat kecil di dekat kasur tanpa ranjang itu, sementara Andra yang sudah memapah Lam dan membantunya duduk di kasur, ikut duduk di dekat Lam. Hana pun menyusul dengan sarapan yang disajikannya untuk kedua pria tampan itu.
“Bagaimana keadaanmu, Bang?” tanya Hana.
“Berkatmu, aku jadi lebih baik,” jawab Lam, “terima kasih.”
Hana mengangguk seraya menyodorkan sepiring bubur untuk Lam. Tanpa ragu Lam pun menerima bubur itu. Hana melakukan hal yang sama pada Andra yang berada tepat di samping Lam. Ketiganya pun sarapan bersama seperti rencana.
Usai sarapan Lam memperkenalkan diri dan dibalas oleh Hana juga Andra. Pertemuan itu membuat mereka merasakan kepedihan serupa. Ternyata malam itu, Lam baru saja diusir oleh pemilik kosan karena dia tidak mampu membayar sewa sudah menunggak selama tiga bulan.
Lam menjelaskan jika Bosnya terlambat mengirimkan bonus untuknya, hingga dia terpaksa harus meninggalkan rumah kontrakannya sampai bonus itu diterima. Sementara Andra, beberapa bulan yang lalu kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil, orang tuanya tewas di tempat. Nahas, dia tidak memiliki sanak saudara yang harus membuatnya bisa menghidupi diri sendiri. Malam itu Andra baru saja pulang dari pekerjaan paruh waktunya, dengan berjualan martabak.
Lain halnya dengan bocah kepalang tanggung berbadan besar itu, mereka putra dari orang-orang kaya yang kerap merundungnya. Merek merupakan anak orang kaya yang bosan dengan kehidupan mereka, hingga mencari masalah dengan orang lain. Andra dijadikan obyek karena melihat kegigihan Andra untuk menjalani hidup membuat mereka tidak suka.
Hana yang mendengar cerita pelik dari kedua pria tersebut, hany bisa melongo. Tak pernah terpikirkan sebelumnya–jika hidup yang dijalani terasa cukup berat, masih ada mereka yang kehidupannya justru lebih berat dari pada kita.
Beberapa kali Hana mengembuskan napas berat seraya bergantian menatapi wajah-wajah kesengsaraan itu.
“Terkadang kita hanya sibuk memikirkan diri, tanpa peduli pada kisah orang sekitar,” lirih Hana, lantas melipat kedua tangan di atas meja dan menelungkupkan wajahnya.
“Menangislah jika itu sulit, kau tidak perlu berpura-pura kuat,” celetuk Lam saat mendapati Andra tersenyum palsu seraya menceritakan kisah hidupnya.
Sontak tangis Andra pecah. Hana terperanjat, matanya mengarah pada Andra.
***
__ADS_1