
Terjebak Pada Situasi Sulit
“Di sini, Bang!” ujar Andra seraya menginjak pedal rem.
Van hitam itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Dengan halaman yang cukup luas di sebuah blok perkampungan padat penduduk, rumah itu berada paling ujung di kampung tersebut.
“Tumben si David royal,” decak Lam seraya membuka pintu dan bergegas turun dari mobil.
“Kabarnya ini rumah berhantu, dah lama kosong soalnya penghuninya mati,” jelas Andra.
“Dia pikir kita pemburu hantu?” umpat Lam.
“Ya sudahlah, kita selesaikan misi dengan cepat saja, berdoa juga, Bang, supaya kagak ketemu hantu,” celoteh Andra.
Andra yang sudah lebih dulu turun dari mobil mengeluarkan koper dari bangku belakang. Sejurus kemudian keduanya bergegas masuk untuk memeriksa keadaan rumah yang kali ini menjadi base camp keduanya. Bukan hanya mereka, tetapi akan datang lagi beberapa orang pria menyusul keduanya esok hari. Sepertinya misi kali ini memang bukan misi biasa.
Kring! Kring!
“Ya, Bos!”
Lam mengarahkan gawai ke dekat telinga. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu dengan cat cokelat kayu seperti sengaja dibiarkan alami, pria muda di depannya membukakan pintu itu untuknya. Keduanya terperangah saat seluruh isi dari rumah mewah itu, kini terpampang jelas di hadapan.
Lam yang sedang bersua telepon dengan David pun seketika tafakur.
“Kau tidak bercanda, bukan?” tanyanya keheranan.
“Nikmati saja, dan sukseskan proyek besar kali ini,” sahut pria bersuara serak dari balik telepon.
“Apa sebesar itu?” cecar Lam yang masih belum tahu pasti.
“Lakukan saja tugasmu, kau akan tahu nanti!” timpal David seraya menutup panggilannya.
Andra menyapu seluruh ruangan dengan manik mata yang berbinar, decak kagum sesekali terucap darinya. Dia begitu girang karena tempat yang akan ditempatinya selama empat belas hari ke depan itu sangat mewah dan megah.
“Waah Bang, misi sambil liburan ini namanya,” seloroh Andra.
“Memangnya kau akan terus di dalam rumah, ini hanya tempat untuk tidur, Bro!” beo Lam.
Pria berbadan tegap dengan setelan menawan itu mengambil langkah dan masuk menuju rumah mewah itu, diliriknya tiap sudut ruangan yang sudah tua, tetapi masih terawat dengan segala furniture klasik berbeda dari perabotan masa kini.
“Mencurigakan,” gumamnya.
Dengan manik mata yang terus memindai seisi bangunan kokoh yang nyaris seperti kastil itu, Lam membuka blazer. Tubuh kekarnya kini hanya dibaluti dengan kemeja hitam yang begitu pas dengan bentuk badannya. Menegaskan bentuk tubuh tinggi proposional, mahakarya sang pencipta.
Sejurus kemudian dia membanting badan atletis itu ke sofa yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia bersandar dengan nyaman mengempaskan semua rasa lelah sisa perjalanan seharian tadi.
Dia menutup wajah dengan sebelah tangan, matanya terpejam bertemankan suara rintik hujan yang menimpa dasar bumi. Gemuruhnya membuat hati Lam tenang dan tertidur begitu saja.
Sementara Andra, usai membereskan barang-barangnya ke kamar. Dia mencoba berkeliling memeriksa keadaan rumah tersebut. Tak ingin keselamatan Lam terancam, Andra begitu siaga tanpa perintah dan mengenal lelah.
Sejurus kemudian Andra ingat akan beberapa makanan yang masih tertinggal di mobil, dia pun bergegas mengambil dan berniat untuk menyimpannya di dapur. Seraya mengumpat, merutuk diri yang selalu saja melupakan sesuatu, Andra setengah berlari menuju mobil.
Tepat saat sampai di ruang utama rumah besar itu, ekor mata menangkap pria yang begitu diseganinya sedang mendengkur di sofa. Seketika langkahnya terhenti, lalu badannya berbalik memastikan apa yang dilihatnya bukan khayalan.
“Wah, ternyata seperti itu gaya dia tidur,” desis Andra seraya menahan tawa.
Andra terus mendekat dan memastikan keadaan Lam, dia benar-benar tak kuasa menahan tawa setelah tahu pasti Lam benar-benar mendengkur, dengan iler yang hampir menetes di sudut bibir pria terkeren yang dikaguminya itu.
Nyaris Andra tergelak, tetapi dia berusaha sekuat tenaga menahannya. Tak ingin mengganggu Lam dan meruntuhkan pesonanya, Andra pun memilih membiarkan Lam dan menyimpan pose terjelek Lam hanya untuk diri sendiri.
Andra pun meninggalkan Lam dengan senyap, masih menahan tawa dan menutup mulut yang entah kenapa enggan untuk diam.
“Hahaha!”
Tawa Andra pecah saat dia berada di luar rumah, beruntung gemuruh hujan menyamarkan suaranya. Dia masih menoleh ke arah Lam sembari terus tertawa mengingat keadaan tadi. Hingga pada saat dia berbalik badan.
“Wua!” teriaknya.
“Hantu!” lanjutnya.
__ADS_1
Andra terkejut mendapati sosok yang tidak dikenali tiba-tiba ada di hadapannya.
“Eh, eh! Saya bukan hantu!” teriak seorang perempuan tua yang mengenakan tudung menutupi kepala.
“Waa, hantunya bicara!” racau Andra.
Perempuan itu lantas membuka tudung penutup kepala, untuk memastikan diri pada pemuda berkulit putih yang takut pada dirinya itu.
“Saya, Salimah, Tuan, yang akan membantu membersihkan rumah ini,” jelas Imah.
“Nenek sihir!” teriak Andra yang entah di mana kesadarannya saat ini.
”Nek Imah, bukan nenek sihir!” tegas Imah.
“Tapi, itu–tompel–persis–nenek sihir yang ada di film Nany Mc. Pee,” racau Andra sekali lagi.
Imah nyaris tergelak melihat tingkah Andra, tetapi dia tidak ingin melakukan yang tidak perlu. Sebagaimana perjanjiannya dengan seorang yang diutus David, dia hanya perlu membantu para pria di sana untuk membersihkan rumah tersebut.
“Nek, kau serius akan membersihkan rumah ini, sendiri?” tanya Andra, sesaat setelah menyadari kegilaannya.
“Iya, Tuan,” ucap Imah, “apa ada yang harus saya bantu?” lanjutnya.
Andra berpikir sejenak, lantas berujar, ”Tidak–tidak, posisi kita sama, saya juga pembantu di sini, silakan mulai bekerja saja.”
“Lah, saya pikir Anda tuan mudanya,” decak Imah lantas memindai seluruh badan Andra dari atas hingga bawah yang terlihat berkelas.
Lalu, Andra menghampiri Imah dan kini tepat di sampingnya, dia sedikit membungkuk dan mendekatkan wajah pada telinga perempuan tua itu.
“Tuan mudanya sedang ngorok di sofa, Nenek hati-hati, ya, dia galak dan suka makan orang, jika orang itu melakukan kesalahan,” bisik Andra menggoda Imah.
Mata Imah terbelalak mendengar bisikan menyesatkan dari pria muda yang memiliki wajah bak personil K-pop itu.
“Apa?” gumam Imah.
Andra mengangkat tubuhnya, lalu menatap Imah dalam-dalam melanjutkan sandiwaranya untuk menakut-nakuti wanita berambut abu-abu itu.
”Hati-hati, Nek!” ujarnya, lantas menaik-turunkan alis.
***
Perempuan tua itu benar-benar tidak berani menghampiri sosok yang dibicarakan Andra. Dia memperhatikan dari kejauhan saja, matanya yang sudah mulai rabun tidak mampu melihat sosok kejam yang dikatakan Andra. Imah memilih untuk ke dapur da memasak sesuatu untuk kedua pria itu.
Tanpa banyak bertanya dia melakukan pekerjaannya dengan baik dan rapi. Tidak ada satu hal pun yang membuat Andra kecewa, terlebih lagi pria yang berusia pertengahan dua puluhan itu bersikap baik dan sopan pada Imah. Tidak seperti dugaan Imah yang mendengar simpang siur di luaran sana, jika yang mengisi rumah tersebut adalah gangster terkuat dan tersadis yang menguasai wilayah tiga kota B,K,C.
Akan tetapi, hal itu sangat jauh dari diri Andra. Pria itu begitu baik dan membuat Imah nyaman.
“Nek, masak apa?” tanya Andra seraya menghampiri Imah yang sedang sibuk dengan penggorengan dan sutilnya.
“Saya cuma masak yang ada di belanjaan saja, Mas, ikan sarden sama nuget goreng,” jawab Imah.
“Iya, ya, saya tadi cuma beli itu dari toserba, kalau besok nenek masakin saya sama bos saya masakan rumahan, bisa, enggak?” tanya Andra.
“Bisa, Mas, mau dimasakin apa?” tanya Imah.
“Sayur bening bayam, tempe goreng, ayam goreng, sambel, kerupuk, yang seperti itu saja, Nek, bos saya udah lama gak makan,” tutur Andra.
“Pasti makannya di restaurant saja, ya, Mas,” selidik Imah.
“Bukan, dia bener-bener enggak makan, sejak ditinggal istrinya, dia makan mie gelas aja,” jelas Andra sedikit berbisik.
“Kasihan sekali,” ucap Imah seraya mengelus dada.
“Hihihi.” Andra cekikikan.
“Kenapa, Mas?” tanya Imah.
Andra terus memperhatikan perempuan tua itu, manik matanya terus menelisik.
“Enggak apa-apa, omong-omong nenek kenapa bisa bekerja di sini?” selidik Andra.
__ADS_1
Imah mengangkat masakan yang sudah matang dan menatanya di piring, seraya menceritakan awal mula dia bisa bekerja di rumah besar itu.
Pagi itu usai Imah berjualan keliling kampung, ada seorang pemuda yang menghampirinya dan menawarkan pekerjaan untuknya. Imah yang memang kesulitan finansial, tidak mungkin menolak kesempatan tersebut. Dia menerima tawaran itu sebab merasa mampu melakukannya. Terlebih dia mendapatkan bayaran yang besar untuk pekerjaan paruh waktu yang akan dijalaninya.
Tentu, Imah sangat bersyukur dengan apa yang menjadi jalan rezeki untuknya. Bayangan dan harapan untuk membahagiakan sang cucu–yang tak lain adalah Eunsu–membuatnya begitu semangat menjalani pekerjaannya kali ini.
Namun, tanpa dia sadari, seseorang yang dia layani saat ini adalah pria yang dulu kala telah menelantarkan anak dan cucunya.
***
“Cari wanita tua saja, yang sudah bau tanah! Agar tidak banyak bertanya!” Pria berkacamata hitam itu memberi tugas pada bawahannya.
“Baik, Bos!” sahut pria lainnya yang berdiri setengah membungkuk itu.
Pria perut buncit yang dipanggilnya dengan sebutan bos tersebut, menyesap lintingan tembakau yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengahnya itu. Lalu dia mengembuskan napas seraya membuang asap ke udara di ruangan sempit dan remang yang menjadi singgasana pria yang mengenakan kemeja motif bunga tersebut.
“Jangan lupa cari yang sebatang kara!” tukasnya kemudian.
“Baik, Bos!”
“Persiapkan semuanya, jangan sampai proyek ini gagal! Bunuh saja, siapa saja yang menghalangi misi, sekalipun itu warga sipil,” kelakar si pria buncit yang sedang asyik berputar-putar di kursi kejayaannya.
“Baik, Bos!”
Hanya sahutan persetujuan terlontar dari mulut si pria yang berdiri dengan patuh di hadapannya. Pria bersetelan rapi yang ada di hadapannya tidak berani mendongak barang sekejap saja.
Brak!
Seorang dari arah lain datang tergesa seraya membanting pintu dengan kencang, setengah berlari dia menghampiri pria berkemeja motif bunga itu.
“Bos David! Bos David!” teriak si pria yang baru saja datang.
“Ada apa?” hardik David yang kesal karena ketidaksopanan anak buahnya.
“Tender kita naik, Boos! Klien ingin kita menambah unit barang," teriaknya dengan antusias.
“Apa?” David terbelalak, sesaat kemudian pria buncit itu berteriak girang.
”Tapi ... mereka menginginkan Bos yang bertransaksi langsung,” jelas si pria dengan napas yang terengah-engah.
“Berapa penawaran mereka?” selidik David dengan wajah semringah.
“Dua juta Dollar, Bos!” seru si pria begitu bersemangat.
“Apa?!” David benar-benar kaget, “Lantas apa yang mereka mau?” cecarnya kemudian.
“Cokelat batangan dengan cochochips, gula-gula dan produk baru yang bos punya,” jelas si pria.
”Kau yakin ini bukan jebakan?” David merasa curiga atas penawaran menarik tersebut.
“Dari yang saya pantau, mereka menggunakan jaringan luar negeri untuk menghubungi kita, jadi saya tidak bisa melacak pengguna dengan baik,” jelas si pria berkacamata tersebut.
“Tak apa, kita dapatkan dua juta itu,” cetus David.
“Lantas, kau akan turun gunung?” si pria berkacamata besar tersebut tampak khawatir.
“Tenang Allen, aku memiliki anjing pemburu yang siap dikorbankan dalam kondisi apa pun,” seloroh David dengan tatapan kosong dan senyum sinis yang tersungging.
“Maaf?”
“Kau lupa aku memiliki Lam, tugaskan dia dan orang-orang kepercayaannya, ingat Allen, dua juta dollar jadi misi utama,” tukas David.
“Bukankah Bang Lam hanya mengawal?” cekal Allen.
“Mau kau saja yang aku tugaskan? Huh!” David beranjak dari duduk.
Brak!
David menggebrak meja yang membuat Allen terhenyak, tubuhnya gemetar dengan pandangan yang tidak fokus.
__ADS_1
“Allen!” sentak David.
***