
Setelah kejadian siang tadi, pikiran Imah menjadi tidak fokus. Dijejali berbagai macam dugaan yang membuat dadanya sesak. Tatapannya selalu kosong dan tindakan menjadi tidak terarah. Bahkan, saat Eunsu bertanya pun wanita baya itu mengabaikannya begitu saja.
Eunsu merasa sedikit takut terhadap Lam. Di perjalanan tadi dia sempat mengungkapkan bahwa; tak ingin lagi pergi ke rumah besar itu. Sejujurnya, Eunsu tidak menyangka Lam akan bersikap seperti itu. Meskipun sempat dia mendengar dari sang nenek jika pemilik rumah itu memang seorang gangster yang menakutkan. Namun, Eunsu tidak pernah menyangka jika gangster tersebut adalah 'Paman Bunglon' yang begitu diidolakan.
“Nek, kenapa Nenek diam saja?” celoteh Eunsu yang tidak suka melihat Imah membisu seperti saat ini.
“Apa Nenek masih takut dan memikirkan kejadian tadi?” cecar Eunsu.
Imah terkesiap, lantas menatap sang cucu lekat-lekat. “Iya, nenek cukup kaget, jantung nenek masih berdebar hebat,” jelasnya kemudian.
“Kenapa Paman Bunglon menjadi seperti itu, ya, Nek? Padahal sebelumnya dia sangat baik dan hangat,” kelakar Eunsu.
Degh!
Imah terhenyak beberapa saat, bagai benda tumpul menusuk dadanya. Sebutan Paman Bunglon begitu mengusik pikirannya.
“Tunggu, siapa yang kau maksud Paman Bunglon?” selidik Imah.
“Itu, Nek bosnya Kak Andra, pria tampan yang bertemu Eunsu di toserba tempat Teh Naya kerja,” tutur Eunsu.
“Kau sudah bertemu dengannya hari ini? Kau masih ingat wajahnya?” cecar Imah.
“Tentu saja, Nek. Bahkan, aku, Kak Andra dan Paman Bunglon makan bersama. Katanya, Kak Andra juga mencari Nenek, tapi Nenek enggak ada.” Panjang lebar Eunsu menjelaskan.
“Lantas? Apa dia berlaku buruk padamu?” cecar Imah khawatir.
“Tidak sedikit pun, Nek, makanya Eunsu kaget,” tutur Eunsu.
Mata imah melebar seolah teringat sesuatu, lantas dia beranjak dari duduk dan pergi menuju kamar Hana. Eunsu hanya bisa menatapi neneknya, tanpa berkata apa-apa.
Di dalam kamar Imah mengedarkan pandangan, seolah mencari sesuatu. Lalu, pandangannya terhenti pada satu kotak merah maroon yang terbuat dari kaleng itu. Susah payah Imah menjangkau kotak tersebut, sebab berada dalam tumpukan barang-barang Hana yang lainnya.
Cepat-cepat Imah membuka kotak tersebut dan mengeluarkan semua isinya. Jarinya menyingkab semua benda yang baru saja ditumpahkan ke lantai ubin itu. Seketika pencariannya terhenti saat mendapati sebuah potret pria muda yang cukup tampan berdampingan dengan gadis cantik bermata besar, keduanya berdampingan menunjukan dua buku kecil dengan warna yang berbeda.
Setelah menemukan potret bersejarah itu, Imah bergegas menemui Eunsu kembali. Dengan tatapan polos, gadis kecil itu mengikuti setiap gerakan lambat yang dilakukan Imah.
Imah menyodorkan selembar poto itu pada Eunsu, yang ditanggapi dengan tatapan penuh pertanyaan. Imah mengangkat dagu mencoba memberikan isyarat bahwa itu sesuatu yang penting yang pantas Eunsu ketahui. Entah kenapa, Imah merasa hal buruk akan terjadi pada diri. Sebelum terlambat dia ingin Eunsu tahu siapa ayahnya.
“Ah, ini Ibu, cantiknya,” decak Eunsu.
Eunsu memang tak asing dengan wajah Hana, karena poto-poto Hana terpajang di rumah itu. Bahkan, dulu Hana kerap melakukan panggilan video sebelum di menghilang tanpa kabar.
Sejurus kemudian manik mata cokelat itu tertuju pada poto pria yang berada di samping Hana. Eunsu menatapnya dalam-dalam, hatinya bergetar ketika dia begitu yakin akan sesuatu.
“Apa orang yang kau sebut paman bunglon itu, dia?" tanya Imah yang mendapati sang cucu begitu lama menatapi poto Lam.
Eunsu mengangguk ragu tanpa berucap.
“Kau yakin?” tanya Imah sekali lagi.
__ADS_1
“Aku yakin, Nek, aku juga masih mengingat senyumnya padaku,” tutur Eunsu.
Imah tersentak, seketika tubuhnya lemas mendengar penuturan sang cucu. Dadanya mendadak sesak bagai dihimpit benda berat. Napasnya tersenggal oleh perasaan yang bergejolak hingga dia tak mampu mengucapkan kata apa pun.
“Takdir macam apa ini, Ya Tuhan ...,” batin Imah.
Imah menepuk dada yang sesak berharap sesaknya berkurang, bola matanya mendelik ke arah sang cucu yang masih menunduk menatapi poto tersebut. Tubuh gadis kecil itu bergetar diiringi isak tangis pilu. Imah menyadari bukan hanya dia yang terluka, Eunsu pun sama.
Lantas cepat-cepat wanita baya itu memeluk sang cucu dengan erat. Dia minta maaf atas luka yang mendera saat ini. Raungan pilu Eunsu pun pecah, entah tangisan macam apa itu. Yang jelas kenyataan ini sangat pahit untuk keduanya.
Sesak yang sudah tak tertahan di dada Imah membuatnya ikut menangis tanpa peduli apa pun lagi.
“Haruskah aku memberi tahu Paman Bunglon sekarang, Nek?” tanya Eunsu masih dalam isakkan.
“Kau tidak takut pada dia, pria yang begitu mengerikan itu?” tanya Imah.
“Emmh, aku memang takut saat dia marah, sorot matanya menakutkan, seperti penjahat di film-film,” terang Eunsu.
“Itulah alasan Hana–ibumu meninggalkannya,” jelas Imah.
“Tapi, Nek ...,” Eunsu mencoba membantah kata-kata Imah.
“Jika kau menyayangi Nenek, datanglah padanya saat kau tak memiliki siapa pun, saat ini kau masih memiliki nenek, kau cukup tahu saja, jika Lam ayahmu!” kecam Imah.
Sontak ucapannya membuat bibir mungil, gadis yang beranjak tujuh tahun itu bungkam. Dia menyahuti ucapan sang nenek dengan sebuah anggukan.
“Baiklah, aku tahu kau anak baik dan tidak akan mengecewakan nenek,” ucap Imah seraya mengelus pucuk kepala gadis berponi itu.
Imah menggeleng, bukan tak lain. Imah hanya tidak ingin cucunya terluka sama seperti sang anak yang hingga kini tak kunjung tiba kedatangannya.
“Baiklah,” pasrah Eunsu, dia menuruti semua ucapan Imah karena tak ingin menyakiti wanita baya yang sudah mengurusnya itu.
Dia gadis baik, Imah berhasil mendidiknya. Pribadi yang tertanam pada Eunsu jauh dari kata bebal dan keras kepala seperti sang ayah. Beruntung usia emasnya dirawat oleh sang nenek. Meskipun dalam kesederhanaan, setidaknya itu membuat Eunsu lebih kuat dari anak lain seusianya.
“Tapi Nek, poto ini boleh Eunsu simpan?” Dengan wajah memelas Eunsu meminta selembar kertas bergambarkan orang tuanya tersebut pada Imah.
Imah sedikit termenung, bimbang dalam pikirannya merasuki. Namun, saat melihat wajah Eunsu yang begitu menyedihkan, Imah pun terpaksa menyetujui permintaannya.
Tangis Eunsu pecah kembali, wajah putih nan gembil itu kini berubah merah dan basah oleh air mata. Tak terbayang bagaimana kehancuran yang dia rasakan saat ini. Hal itu membuat Imah benar-benar menyesali keputusannya untuk bekerja di tempat itu.
“Maafkan nenek, Nak, maaf ...,” lirih Imah seraya merangkul Eunsu kemudian memeluknya erat.
***
Setelah sambutan yang diisi dengan perdebatan, ketujuh pria itu kini berkumpul dalam satu meja. Lam dan Steve duduk berhadapan sementara Andra dan keempat pria lainnya berdiri di belakang orang yang diikutinya.
“Apakah ini sepadan, kau lihat aku hanya membawa orang kepercayaanku, tapi kau membawa anak cucumu!” ejek Lam pada Steve.
“Di sini aku yang memimpin misi, kau cukup berpura-pura menjadi David dan temui klien, serahkan barang dan ambil target setelah kau pastikan jumlahnya tepat!” jelas Steve dengan wajah datar.
__ADS_1
“Apa kau bilang?” sanggah Lam.
“Ini proyek besar, Lam!” tegas Steve.
“Lantas, jika ini proyek besar, David bisa mengorbankanku begitu saja, aku dijadikan sebagai umpan, begitu?” cecar Lam yang kesal mendengar tugas yang akan dijalaninya.
“Bukankah kau anjing pemburu yang memang harus ada di garda depan untuk melindungi tuanmu, Lam. Ini kesempatanmu untuk membuktikan kesetiaanmu,” kelakar Steve seolah mengejek Lam.
”Keterlaluan!” batin Andra.
“Persetan!” umpat Lam, dia benar-benar murka.
“Oke, terserah kau saja, masih ada waktu untuk berpikir, pikirkan saja sebaik mungkin, Lam!” tukas Steve.
“Sialan!” Sekali lagi Lam mengumpat, kemudian dia bangkit dari duduk dan memilih pergi meninggalkan pertemuan itu.
Andra menyusul setelah memberi salam pada Steve dan yang lainnya.
“Bang! Are you oke?” tanya Andra khawatir seraya setengah berlari menyusul Lam.
“Edan, pria gila! Apa maunya, coba!” rutuk Lam.
“Kau pernah melakukan ini dulu, Bang, dan itu menghancurkan semua kehidupan bahagiamu, apa kau akan melakukannya lagi?” celoteh Andra.
“Entahlah, aku belum bisa mengambil keputusan,” ujar Lam putus asa.
Sesekali di mengembuskan napas kasar, lalu meremas rambut dan mengempaskannya.
“Kenapa harus kau, Bang?” batin Andra.
“David benar-benar memanfaatkanku dengan sempurna, dasar pria sialan!” umpat Lam.
“Bang, bagaimana jika ini jebakan polisi?” Tiba-tiba saja Andra mengutarakan kekhawatiran yang membuat Lam menjadi semakin frustasi.
“Ah, entahlah, jika aku menolak, dia pasti akan membunuhku juga kalian,” ucap Lam.
“Lantas?”
“Jangan ikut pada misi ini, kau dan musang selamatkan diri dan jauhi David! Aku akan memikirkan cara lain,” jawab Lam.
Degh!
“Bang, biarkan aku membantu!” pinta Andra.
“Tidak!”
“Bang ...,”
“Sssh, kubilang tidak!”
__ADS_1
***